Zetta Sonic

Zetta Sonic
Ring


__ADS_3

Alex ingat apa yang terjadi minggu lalu, bagaimana dia dan teman-temannya makan malam bersama di rumah. Dia ingat bagaimana akhirnya dia bersyukur pernah kursus piano. Leta bernyanyi selagi dia memainkan musiknya. Mereka bermain sampai larut malam. Hal yang sangat menyenangkan. Di minggu yang sama, dia membuat guru olahraganya terkesan karena menjadi masuk ke final turnamen tinju di kelas. Maksudnya, dia dapat nilai tertinggi kedua setelah Willy.


Guru pelajaran olahraga mereka cukup terbawa suasana. Turnamen tinju itu akan dilangsungkan lagi. Idenya adalah melawan kelas lain. Mereka bahkan mengubah jam pelajaran khusus untuk ini. Sebenarnya, Alex tidak keberatan dengan ide tersebut. Dia cukup suka berada di bawah sorot lampu.


Alex tidak akan melawan Willy. Mereka berdua akan melawan dua orang dari kelas lain. Pemenangnya akan memberikan nilai A untuk pelajaran olahraga satu kelas. Teman-teman sekelas menghujani mereka dengan dukungan moral dan banyak hal lain. Alex bahkan mendapatkan dinner roll buatan Leta. Sesuatu yang tidak pernah dia tahu bisa dia dapatkan. Dia tidak mungkin menginginkan sesuatu yang tidak dia tahu.


Rasanya mungkin biasa saja. Tapi, karena Leta yang membuatnya, Alex entah kenapa merasakan kalau dinner roll tersebut layak disajikan di hotel berbintang. Hari Leta membuatkannya lagi. Alex melahap salah satunya seusai makan siang, sebelum mereka bertanding dengan kelas lain.


“Jadi, hari ini kita akan mendapatkan nilai A untuk seluruh kelas?” Alex menyenggol lengan Willy. “Ini seperti permainan.”


“Ini memang permainan. Tidak akan ada yang terluka.” Willy tergelak.


Mereka ada di ruang ganti, berdua. Siswa lain tidak perlu mengganti baju. Hanya mereka yang akan ikut pelajaran olahraga hari ini. Sementara yang lain hanya akan jadi penonton. Mereka akan duduk di tribun dengan pemandangan sempurna ke arah ring tinju. Ring tinju itu disewa khusus untuk acara hari ini.


Willy dan Alex sama-sama mengenakan celana pendek, pelindung kepala, dan tentu saja sarung tinju. Mereka nampak konyol dan keren di saat bersamaan. Di depan cermin, Alex bisa melihat kalau misinya bersama ICPA tidak banyak membawa dampak bagi tubuhnya. Tidak ada bekas luka atau lecet sama sekali. Dragon Blood seolah memberikan perlindungan ganda bagi tubuhnya.


Alex tidak pernah sekalipun menggunakan Dragon Blood sejak meninggalkan waduk. Dia mendapatkan nilainya minggu lalu dengan jujur dan adil. Begitu pula hari ini. Dia akan mendapatkan kemenangannya dari lawan tanpa kecurangan. Gurunya bilang kalau Alex punya intuisi yang baik. Alex meralatnya, pengetahuan.

__ADS_1


Belajar lebih banyak tidak akan menyakitkan. Selain menembak dan meretas, Alex belajar banyak hal lain. Termasuk bela diri, bahkan tinju. Dia memang tidak menaruh minat besar, tapi dia tahu banyak hal dari gerakan kaki dan sebagainya. Tak ada keraguan atau ketakutan di matanya. Sampai dia sadar kalau lawannya merupakan putra petinju terkenal. Akan jadi keajaiban bila Alex bisa mengalahkannya.


“Kenapa aku, bukan kamu?” Alex berbisik pada Willy sebelum temannya naik ke ring.


“Hei, guru kita mengaturnya sesuai ukuran tubuh. Tenang saja, Al. Tidak ada yang menyuruhmu untuk menang. Kita tetap bisa dapat nilai A dengan jalur biasa. Tapi, tentu saja, Leta mungkin akan melihatmu sebelah mata.”


Lawan Willy memang bertubuh lebih besar dari lawan Alex. Putra petinju itu duduk di kursi di bawah ring berhadapan dengan Alex. Dia sempat melambaikan tangan padanya. Mereka saling kenal. Alex pernah sekelas dengannya tahun lalu. Alex tak berniat menang darinya tapi dia juga tidak berniat membuat Leta kecewa.


Dragon Blood bisa jadi kartu As buatnya.


Alex melepas Zet-Arm. Dia tidak tahu berapa indikator energinya sekarang. Tapi, mengingat kalau dia tidak pernah menggunakan Dragon Blood sama sekali belakangan ini, seharusnya aman. Lagipula, dia tidak butuh banyak. Dia hanya butuh sedikit untuk membuat lawannya K.O. Sesederhana itu dan sesulit itu.


Ketika lawannya membuat gerakan kaki cepat, Alex tahu dirinya tak punya kesempatan besar untuk menang. Dia tidak tahu bagaimana caranya. Setidaknya, dia bisa menghindar ketika lawan mengulurkan tinju. Kadang dia menggerakkan kepalanya terlalu cepat bahkan sebelum tinju itu datang. Sejauh ini, tak satu pun berhasil memasukan pukulan pada lawan.


Alex menanti kesempatannya datang sambil berlindung di balik tangannya. Sesaat, dia berpikir siapa mempermainkan siapa. Alex memberikan pukulan lurus. Ketika tangannya terbuka, lawan justru memberikan pukulan dari bawah sambil menghindar. Alex terhuyung dibuatnya. Sejak itu, pukulan lawan masuk bertubi-tubi. Alex mempertahankan diri sebisanya. Telinganya mendengar sorakan para siswa. Tentu saja sebagian juga mengejeknya.


Ini hanya permainan, kata Alex berulang kali dalam hatinya. Tidak ada gunanya menggunakan Dragon Blood. Sesering Alex mengatakannya, semakin keras pula pukulan lawan padanya. Dalam kebimbangan, gerakannya malah jadi melambat. Pukulan telak mengenai dagunya. Alex merasakan kesakitan sekalipun memakai pelindung.

__ADS_1


Guru mereka membunyikan bel, menyatakan kalau pertandingan sudah usai.


“Apa!?” protes Alex pun spontan keluar. “Aku bahkan belum mulai!”


Dia tidak menyadari berapa lama waktu telah berlalu. Dia sama sekali tak menyadari kalau waktu telah habis. Tapi, dia sadar benar kalau dinyatakan kalah. Guru mereka memberikan kemenangan pertama pada kelasnya lewat Willy. Sementara kemenangan kedua diberikan pada lawan.


“Lihat sisi baiknya, kelas kita tetap dapat nilai A!” Willy melemparkan botol minum pada Alex ketika anak itu keluar dari ring.


“Ini enggak adil. Aku bahkan belum serius.”


“Tenanglah, Al. Akan ada lain waktu.” Willy mengeringai. Dia tak lagi mengenakan pelindung kepala dan sarung tinjunya. “Kupikir guru kita cuma main-main saja, deh. Bagaimana menentukan kemenangan dari dua orang? Kalau kondisinya seperti ini, jadi seimbang, ‘kan? Satu menang, satu kalah.”


Alex tak berminat mendengarkan celotehan temannya. Dia masih kesal karena sepanjang pertandingan, dia hanya bertahan dan bertahan. Paling dia hanya memberikan tiga atau empat serangan, semuanya gagal.


Alex tak berniat melirik Leta. Bersama Willy, keduanya kembali ke ruang ganti.


Mereka mandi dan mengenakan seragam mereka lagi. Ketika Alex mengenakan kembali Zet-Arm, dia memeriksa indikator energinya. Masih sama, masih penuh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena dia sama sekali tidak menggunakannya. Dia justru khawatir kalau kemampuannya kini menurun. Sudah satu minggu berlalu tanpa kabar serius dari ICPA.

__ADS_1


Dia sempat menerima surel beragam informasi mengenai organisasi tersebut dan Dragon Blood. Jayden mengirimkannya padanya agar dia bisa belajar. Dia juga menerima beberapa video latihan bela diri. Hanya itu. Alex berharap sesuatu yang lebih. Dirinya mulai menyesal kenapa tidak menggunakan Dragon Blood di atas ring tadi.


__ADS_2