
Alex tak mengkhawatirkan kehadiran Gavin River di sana. Kemungkinan mereka di sana untuk tujuan yang sama, mencegah si robot pembunuh melukai siapa pun. Dia justru sedikit khawatir pada kehadiran teman baiknya, Willy di sana. Ayah Willy seorang pemilik rumah sakit ternama. Dia memang sering sekali berada di acara-acara semacam ini. Alex hanya tak menyangka kalau keluarga Willy salah satu sponsor utama di sini. Artinya, bukan hanya Willy yang ada di sana, tapi seluruh keluarga Sims akan ada di sana. Topeng tidak akan bekerja untuk teman baik, Alex tahu itu.
Bukan berarti Willy memahami semua tentang Alex. Misalnya, Willy tak pernah tahu cerita soal ICPA. Tapi, topeng dan tuxedo tak akan menghalanginya mengenali kehadiran Alex. Intinya, dia harus menjaga diri agar tak bertemu dengan Willy.
Tak berapa lama setelahnya, mereka kedatangan tamu. Emil masuk ke ruangan. Pemuda berambut cokelat muda itu tak menaruh perhatian pada Alex lebih daripada Alex padanya. Lebih tepatnya, pada alat yang sedang dia bawah. Sebuah benda putih seukuran tas ranselnya. Roketnya datang.
“Kamu butuh ini kalau mau lebih cepat menghabisi lawan.” Jayden mematikan semua fitur pada meja rapat mereka. Dia meletakkan benda tersebut di atas sebagai gantinya. Lalu, dia mulai menjelaskan bagaimana cara mengoperasikan benda tersebut.
Alex mengambil alih roketnya. Benda itu sedikit lebih ringan dari perkiraannya. Dia tak menemukan benda atau tali apa pun yang bisa dia kenakan. Jayden menjelaskan bahan dari roket itu akan secara otomatis menempel pada seragamnya. Daya tempelnya bahkan lebih bisa diandalkan dari tali parasut, menurut Jayden.
Saat ketiga anak lainnya sibuk membahas roket, Tiger menyilangkan tangan di depan dada lalu berdehem keras. “Aku yakin ada bagian yang dilompati di sini.”
Jayden tak perlu diingatkan dua kali. “Alex, Emil. Emil, Alex.”
Tiger mengangkat kedua alisnya. “Cuma itu?”
Jayden melanjutkan, “Emil akan jadi asistenku. Seharusnya dia jadi asisten profesor Otto, tapi selama profesor belum mengakuinya, Emil akan membantuku. Dia yang membuat roket ini selesai lebih cepat.”
“Itu mengingatkanku soal hal lain.” Alex melirik si pemuda bermata sayu. “Bagaimana kamu tahu kalau aku Zetta Sonic? Mereka memberitahumu?” Alex gantian melirik Tiger lalu Jayden. Alex ingat benar kalau tak seorang pun anggota ICPA lain tahu kalau Zetta Sonic bahkan belum mencukupi umur jadi agen atau kalau nama aslinya adalah Alex.
Emil mengedikkan bahu. “Aku tahu karena kamu bilang. Barusan.”
Alex tertegun mendengar hal itu. Kemudian, dia teringat ucapan Tiger soal agen aneh. Menurut Alex, Emil tidak aneh, hanya sedikit berbeda. Justru itu membuatnya menarik. Alex pun mengulurkan tangan. “Alex, si Zetta Sonic.”
Gantian Emil terdiam. Dia mengulurkan kepalan tangan, menanti sampai Alex meninju pelan kepalan tangan. “Orang-orang bilang aku aneh.”
“Jangan khawatir, dunia butuh orang-orang aneh.”
__ADS_1
“Kamu mengingatkanku pada pimpinan ICPA Regis. Namanya Marcus Anthony Hill.”
Balasan santai Emil membuat Alex sungguhan tertegun kali ini.
Tak memedulikan kondisi orang sekitarnya yang terdiam, Emil melanjutkan lagi. “Pak Mark pernah bilang itu juga. Sama persis dengan ucapanmu barusan. Sudah lama, sih. Waktu dia berkunjung ke sini. Berkeliling. Memeriksa peralatan. Mereka menyebutnya studi banding. Kataku, dia hanya cari inspirasi. Ide baru untuk cabangnya Regis.”
Alex masih terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Jayden tersenyum lalu buru-buru mencairkan suasana. “Aku senang kalian bisa cocok. Emil nanti juga akan membantuku jadi operator. Kita akan lihat apakah ini berjalan lancar nanti malam. Nah, kupikir sudah waktunya buat Alex bersiap-siap.
Alex tiba di balai kota sebelum acara dimulai. Dia berbaris rapi di belakang antrean. Para penjaga memeriksa identitas setiap tamu undangan. Mereka cukup menyebutkan nama atau menunjukan barcode untuk di-scan. Alex punya barcode di ponselnya. Dia tinggal menunjukkan pada si penjaga. Setelah penjaga memeriksanya di tablet PC, Alex dipersilahkan masuk.
“Selamat datang, tuan muda Carvello!”
Dirinya berjalan dengan hati-hati agar tak bertemu dengan anggota keluarga Willy apalagi Willy sendiri. Untuk membantu, Alex memakai alat komunikasi yang ditempelkan di balik telinganya. Alat itu berfungsi dua arah. Dia bisa bicara dengan siapa pun yang ada di ruang komando. Selain itu, kancing teratas di tuxedo Alex adalah kamera micro. Alex tak sendirian.
Alex berbelok ke arah camilan di sisi kanan ruangan besar tersebut. Dia sudah terbiasa berada di pesta sendirian. Juga terbiasa mencari camilan favoritnya dan diam-diam mencari cocktail. Hari ini, Alex tak akan mencari cocktail. Dia tak tahu apa yang akan terjadi, jadi lebih baik dia berjaga-jaga. Alex menyahut beberapa canape yang menarik perhatian.
Dia bergeser ke ujung ruangan.
Balai kota itu terasa lebih sempit dibandingkan terakhir kali dia ke sana. Mungkin karena ada panggung besar di sana dan banyaknya orang. Bisa juga karena Alex terakhir kali ke sana dua tahun lalu. Ada beberapa hal tetap sama. Langit-langit tinggi dengan lukisan awan dan malaikat, pilar-pilar bulat dan kokoh, serta ukiran rumit berwarna hitam pada tangga serta balkon lantai dua.
Dari posisinya saat ini, Alex bisa mengenali beberapa orang. Ada artis yang dia tahu sering muncul di televisi, juga politikus yang belakangan naik daun karena mengemukakan pendapat kontroversial, juga keluarga Willy. Saat itu pula, Alex mengenali wajah lain di sana.
__ADS_1
“Apa itu dia?” tanya Alex nyaris tanpa suara.
[Siapa?] Suara Jayden terdengar jelas dan jernih.
“River.”
[Apa? Tunggu sebentar. Benar! Kamu menemukan Gavin River. Bagaimana caranya? Aku bahkan harus menggunakan pemindai dan penyelidikan lewat komputer untuk mengenalinya.]
“Aku mendengarnya bicara saat lewat di belakangnya.”
[Jangan terlalu dekat dengannya. Dia tidak tahu siapa Zetta Sonic. Biarkan seperti itu dulu. Lebih baik kamu naik ke lantai dua. Ada pemandangan lebih bagus dari sana.]
Alex setuju. Tak ada gunanya mengumbar identitasnya terlebih pada anggota ICPA di mana ayahnya bekerja. Dia juga setuju kalau lantai dua membuatnya bisa mengawasi lantai satu dengan lebih mudah. Sejauh ini, dia juga belum melihat Willy. Mungkin Willy datang terlambat atau bisa jadi malah tidak datang sama sekali. Mereka baru saja pulang berkemah pagi tadi.
Ketika Alex mulai menaiki tangga, dia menyadari bagaimana Gavin mengedarkan pandangan berkeliling, lalu berjalan cepat menjauhi kerumunan. “Jayden, kamu lihat? Sepertinya dia punya rencana.”
[Aku mengecek tamu yang barusan datang. Seorang pengusaha di bidang minyak. Mereka berselisih di pengadilan soal kenaikan harga sepihak.]
“Berpotensi untuk jadi target.”
[Filip punya banyak musuh.]
“Jadi, apa aku harus mengikuti River atau mencari orang ini?”
[Enggak keduanya. Musuh Filip bukan hanya dia. Daftarnya panjang. Kamu naik saja ke lantai dua. Biar aku dan Jason mengikuti River.]
Alex tahu Jayden telah memperbaiki drone mungil itu. Ketika dia pergi ke balai kota, Jason juga ikut menyusup. “Apa yang membuatmu merasa lebih baik mengikuti seorang agen dari cabang lain daripada pengusaha itu?”
__ADS_1
[Mudah saja. Pengusaha itu kelinci. River pemburunya. Sama seperti kita.]
“Mencuri buruan orang lain itu enggak baik.”