Zetta Sonic

Zetta Sonic
Man with Tattoo


__ADS_3

Keheningan itu membuat Gavin akhirnya berani mengangkat kepala. Dia disambut pemandangan mengerikan. Zetta Sonic tengah mencekik lawannya yang makin tak berdaya. Beberapa anggota suku terlihat telah membidik namun tak satu pun benar-benar melepaskan tembakan. Gavin tahu ada yang harus menghentikan Alex.


Gavin berlari ke bagian belakang perahu di mana tas ranselnya tergeletak. Dia tadi memang telah membuang pistolnya tetapi bukan berarti dia tidak bersenjata. Gavin punya pistol lain yang dia sembunyikan. Salah satunya berada dalam penyamaran berupa kotak cerutu. Sebelum Gavin bahkan sempat menemukannya, dia melihat benda putih memelesat cepat.


Jason, si drone, sudah berada di belakang Alex.


[Jatuhkan dia atau aku terpaksa menembakmu!]


Gavin mengerjap tak percaya. Suara itu terdengar dari si drone. Bukan suara sistem melainkan suara pembuatnya. Jayden. Gavin mengurungkan niatnya mencari pistol dan berlari ke bagian depan kapal lagi.


[Jatuhkan dia! Sekarang!] Jayden memberikan perintah lagi setelah melihat kalau Alex tak merespon.


Kali ini, Alex menoleh ke belakang. Dia menoleh pada Jason, ke arah mata tunggalnya. Ada Jayden di balik sana sedang melihat apa yang dia lakukan saat ini. Laki-laki itu bisa menghentikannya. Separuh diri Alex berharap Jayden segera melakukannya, protokol Barb Wire. Separuh lagi, di bawah rasa kesal dan pengaruh dari Dragon Blood, memilih untuk memberontak.


Alex melepaskan cengkramannya. Dia tidak melakukannya karena menuruti perintah lawan. Dia melakukannya untuk mengatasi pengganggunya lebih dulu. Si Jason!


Entah itu keinginannya atau bukan. Alex menerjang Jason. Dia menarik drone itu masuk ke dalam air bersama dirinya. Segesit apa pun Jason menghindar, manuver tersebut bukan tandingan Zetta Sonic. Jason menembakkan sinar-sinar laser yang melukai seragam Zetta Sonic. Serangannya tak berarti banyak apalagi setelah tubuhnya terbenam di dalam air. Tangan Alex mencengkramnya erat, membuat retakan-retakan besar.

__ADS_1


[Apa yang kamu lakukan?] Jayden berteriak melalui Jason. [Alex! Kendalikan dirimu!]


Alex menjawab dalam geraman yang rendah dan bukan miliknya.


[Alex! Lawan itu! Ini bukan dirimu! Kamu sudah mencapai tempat ini. Jangan menyerah di sini. Suku Kloster akan membantumu. Temui— su— dia— Dragon Blood—] Suara Jayden mulai terputus-putus. Lampu Jason berkedip cepat. Sistemnya mengalami kerusakan di dalam air lebih cepat dari biasanya. [Alex! Kumohon! A— Percaya—]


Geraman rendah itu terdengar lebih jelas.


[Sial! Ayolah, A— Lawan itu!] Jangankan menggunakan protokol Barb Wire, Jayden bahkan tak bisa bicara jelas sekarang. [A— A—]


Alex tenggelam makin dalam bersama si drone putih. Matanya tunggal itu berkedip beberapa kali sebelum meredup hingga akhirnya padam. Tak ada lagi suara dari keduanya sekarang. Tangan Alex akhirnya melepaskan Jason. Drone itu tenggelam sendirian dan Alex hanya menatapnya dalam hening.


Dia teringat video misi itu. Video Jayden dan adiknya, Jason — bukan si drone. Dia belum tahu bagaimana Jason akhirnya tewas. Dia hanya tahu kalau Jason terbunuh. Entah kenapa itu terasa mirip dengan kondisinya saat ini. Dia menghancurkan drone buatan Jayden yang sengaja diberi nama Jason.


Ada dua hal yang disyukuri Alex saat itu. Pertama, dia telah mendapatkan kembali kendali atas dirinya. Kedua, dia tak perlu melakukan apa pun untuk tiba di permukaan. Tubuhnya terdorong naik tanpa perlu usaha. Alex menarik napas dalam-dalam, menggunakan kesunyian itu untuk menenangkan dirinya. Sudah cukup! Dia sudah cukup lari dari semua ini. Dia tak ingin menjatuhkan korban lagi. Dia ingin dihentikan.


Alex menghentakkan kaki ketikan kepalanya muncul di atas air. Dia melompat ke atas sampan si topeng putih. Gerakan itu memicu tembakan dari para anggota suku Kloster. Sama seperti sebelumnya, tak ada kerusakan berarti yang mereka buat pada seragam tempur Alex.

__ADS_1


Si topeng putih mempertahankan tubuhnya tetap rendah agar tak kena peluru nyasar. Kedua tangannya menggenggam senjata. Satu tangan menggenggam pistol tangan, tangan lain menggenggam tongkat panjang. Dia siap untuk menyerang bila Alex bergerak. Tentu saja gerakan Alex tidak sesuai prediksinya.


Bukannya menyerang, Alex malah mengangkat kedua tangannya. Satu per satu anggota suku Kloster menghentikan tembakan. Mereka sama bingungnya dengan si topeng putih dan Gavin. Berikutnya, Alex berlutut pelan-pelan tanpa membuat sampan tersebut berguncang. Itu belum puncaknya. Karena pada akhirnya, Alex menonaktifkan seragam tempurnya.


“Jangan menembak, kumohon,” pinta Alex. Suaranya bergetar. Dia takut. Bukan pada orang-orang itu melainkan dirinya sendiri. “Aku tidak bisa mengontrolnya. Tapi, katanya kalian bisa membantuku. Karena itu…” Alex berhenti. Dia tak tahu harus bicara apa lagi.


Si topeng putih tak lantas menjawab. Dia sendiri sepertinya ragu untuk bicara.


Tiba-tiba saja Alex mendengar suara memelesat di udara hampir berbarengan dengan rasa nyeri di bahu kanannya. Dia melirik untuk melihat ada bulu merah di sana. Bulu merah dari semacam panah pendek yang tengah menancap di bahunya. Alex hendak mencabutnya namun tubuhnya terasa tak bertenaga. Kantuk, pusing, lemas, semua bercampur jadi satu. Dunianya berputar dan berakhir dengan pemandangan lantai sampan. Dia masih bisa melihat bagaimana sepasang kaki melangkah mendekat sebelum semuanya berakhir hitam.


Melihat itu, Gavin hanya bisa bergeming di atas kapalnya sendiri. Jarak mereka terpaut cukup jauh. Dia bisa melihat bagaimana mereka menembak Alex dengan peluru bius. Penembaknya bahkan belum sepenuhnya muncul ketika melakukan serangan itu.


Dari sisi lain sungai yang lebih jauh, muncul sampan hitam lain. Orang yang berdiri di atasnya merupakan pria berotot dengan kulit hitam akibat terbakar matahari. Rambutnya dicukur habis. Kini, ada tato serupa labirin yang memenuhi kepala hingga lehernya. Dia mengenakan selendang tenun merah di atas pakaian hitamnya. Di tangannya, dia membawa semacam seruling panjang dihiasi dua helai bulu merah. Ukiran-ukiran rumit yang ada di sana hampir mirip tato labirinnya. Gavin pernah mendengar kalau kepala suku memiliki penasihat bersuling bambu. Hanya saja, dia tak menyangka kalau penasihat itu menggunakan sulingnya untuk menembak panah bius.


Sampan yang baru datang ini bergerak mendahului sampan-sampan lain hingga tiba di depan kapal Gavin. Tatapan mereka bertemu. Laki-laki bertato mengangguk padanya. “Kepala suku sudah menunggumu di balairung. Dia tahu kalian akan datang cepat atau lambat.”


Gavin mengangguk.

__ADS_1


Si pria bertato itu melanjutkan. “Tapi, kali ini, benar-benar tanpa senjata. Tinggalkan semua barangmu di sini. Kami akan menyediakan semua yang kamu butuhkan.”


__ADS_2