Zetta Sonic

Zetta Sonic
Narrow Crack


__ADS_3

Kenapa mendadak semuanya jadi terhubung dengan para dewa? Alex memahaminya esok hari ketika fajar merekah.


Bounura mengantar Alex ke atas perbukitan. Mereka hanya berdua. Gavin dilarang ikut dan sepertinya juga tidak berniat ikut. Tak ada seorang pengawal pun bersama mereka. Namun, Bounura membawa senapan panjang tergantung di punggungnya dan sepasang belati di pinggangnya, sementara Alex tak membawa apa pun. Dia bahkan masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin. Jaket itu melindunginya dari suhu tak bersahabat.


Seiring perjalanan mereka yang terus mendaki, Alex melihatnya. Seorang dewi. Lebih tepatnya, seorang patung dewi dipahat pada dinding tebing. Ukurannya sama persis seperti manusia normal. Sedikit lebih pendek dari Bounura, berambut panjan dan memakai tiara pada dahinya. Hal yang menarik bagi Alex adalah patung tersebut mengenakan kain bermotif wajik. Kain sungguhan bukan batu. Kain itu diatur sedemikian rupa hingga menjadi pakaian dari dewi patung. Di bawah kakinya, ada karangan bunga kecil.


“Ini bukan dewi sungguhan,” ujar Bounura seolah bisa membaca pikiran Alex. “Ini adalah salah satu putri dari kepala suku Kloster. Beliau adalah orang yang meminta agar suku ini membuka diri pada dunia luar. Kami memanggilnya dewi karena dia membawa perubahan besar bagi kami.”


Alex mengernyit. Dia menyadari adanya kemiripan. “Ibu Tesiana?”


Bounura menoleh pada Alex, mengamati anak yang masih terpaku pada sosok patung tersebut. “Nenek. Beliau bilang kami bisa membantu dunia luar dan dunia luar mungkin bisa membantu kami. Beliau tidak sepenuhnya salah.”


“Lalu, kalian bertemu ICPA.”


“Kami tidak pernah berniat berurusan dunia kriminalitas di luar sana. Dunia luar itu gelap dan penuh korupsi. Tapi, kalau tidak membantu mengatasinya, bukan tidak mungkin jika kami kena imbasnya.”


Alex terdiam. Dia penasaran bagaimana pada akhirnya suku Kloster berakhir dengan profesi tentara bayaran — kalau tidak mau pakai istilah pembunuh. Lelaki seperti Bounura terlihat begitu lembut untuk jadi pembunuh. Begitu pula Tesiana. Kepala suku wanita itu hanya ingin melindungi sukunya. Namun, Naray terasa berbeda. Alex mengurungkan niatnya bertanya.

__ADS_1


Bounura berbalik. Alex mengikuti. Dari atas bukit tersebut, mereka bisa melihat desa suku Kloster lebih baik. Tempat itu tak kalah memukau di pagi hari. Seperti kata Alex sebelumnya, tempat itu seperti resort penginapan. Bangunan paling menonjol di sana tentu saja adalah balairung tempat Tesiana menemui mereka kemarin. Bentuk atapnya yang mengerucut dan dicat merah kecokelatan bisa ditemukan dengan mudah di antara pepohonan.


“Seperti ICPA ingin melindungi dunia, kami juga ingin melindungi dunia kami,” kata Bounura lagi.


“Aku mengerti. Apa yang harus kulakukan?”


Bounura tak langsung menjawab. Dia mulai berjalan, mengelilingi tebing tempat patungnya berada. Di balik tebing itu, ada sebuah celah sempit. “Kembalilah ke desa sebelum fajar esok hari,” katanya lagi sambil melambai pada celah tersebut.


Alex memicing. Dia tahu celah tersebut cukup sempit. Orang harus memiringkan badan bila ingin lewat. Masalahnya tentu saja bukan itu. Dia tidak bisa melihat apa yang ada di balik celah tersebut. Semuanya nampak hitam legam.


Alex tak menjawab. Dia hendak melangkah ke dalam celah saat Bounura menghentikan.


“Kamu tidak akan ke sana tanpa membawa apapun.” Bounura membuka kantong serut yang tadi dibawanya. Dia mengambil cape bermotif wajik, menyuruh Alex mengenakannya sebagai ganti jaket kelabunya. “Tanah di balik tebing ini dipercaya bisa memurnikan. Kamu harus membawa sesuatu dari Kloster sebagai penghormatan.”


Alex mengangguk sekali. Dia mengarahkan pandangannya ke dalam celah tersebut. Rasa tak nyaman merambati punggungnya. Dia tak suka itu. Tapi, kalau itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya dari Zetta Sonic, itu layak dicoba.


Dia pun mulai melangkah masuk ke dalam. Hal pertama yang Alex sadari adalah aroma yang ganjil. Aromanya menyegarkan seperti embun, namun ada aroma lain yang terasa tajam. Seperti peppermint tapi berbeda. Aroma tersebut mulai bercampur dengan aroma manis seiring dirinya melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


Alex sekali melemparkan pandangan ke pintu masuk. Dia masih bisa melihat garis putih dari cahaya di luar sana. Sementara di sisi lain, dia masih mendapati kegelapan. Alex melangkah lagi. Celahnya makin sempit. Bahunya menggeser tepi tebing. Kasar dan basah seperti lantai yang dia pijak. Setidaknya, itu membantu dirinya agar tak terpeleset.


Ini terasa begitu berbeda dengan desa Kloster. Kalau tempat itu seperti hunian tropis, tempat ini terasa seperti berada di ujung gunung tertentu. Bisa ada banyak hewan liar menantinya di ujung sana. Bahkan, mungkin beberapa ada bersamanya saat ini. Sebut saja seperti ular, kalajengking, lebah. Pikirannya berhenti di sana. Dia tidak ingin bertemu dengan lebah. Itu buruk.


Menepis semua kegelisahannya, Alex berusaha memikirkan hal-hal menyenangkan. Dia berusaha memikirkan teman sekolahnya. Sayangnya, pikiran itu justru membuatnya marah. Willy terluka karena Cody. Bukannya berhasil membalas Cody, Alex sendiri malah berhasil dikerjai.


Alex mengalihkan pikirannya pada ICPA. Dia penasaran apa yang akan dilakukan Nadira. Saat ini, Zetta Sonic lenyap begitu saja. Lalu, Jayden? Hubungannya dengan Jayden terputus. Dia seharusnya khawatir soal itu. Kenyataannya tidak. Sedikit janggal namun menenangkan di saat yang sama. Alex cukup yakin kalau operatornya itu baik-baik saja.


Berikutnya, Alex memikirkan rumahnya. Dia teringat pada Preston. Belum larut dalam pikiran tersebut, mata Alex menangkap garis lain. Ujung pintu keluarnya mulai terlihat. Alex mempercepat langkah meski itu agak susah dilakukan karena harus berjalan menyamping. Akhirnya, Alex berhasil keluar tanpa kesulitan berarti.


Matanya mengerjap cepat. Cahaya mentari terasa begitu menyilaukan. Dia butuh beberapa saat hingga mulai terbiasa. Di balik celah itu, Alex berpikir akan menemukan tebing atau setidaknya jalan menurun. Jadi, dia sedikit terkejut ketika menemukan hutan di sana. Hutan itu memiliki pohon-pohon tinggi seperti pinus. Sejauh matanya memandang, dia bisa melihat rerumputan tinggi setinggi dadanya. Beberapa bunga menyembul di balik rerumputan tersebut. Itu asal dari aroma wanginya.


Alex mengedarkan pandangan. Kalau ada bunga, bisa jadi ada serangga pula. Dan, dia memang benar. Alex melihat kupu-kupu terbang di ujung sana juga sarang lebah pada pohon di sisi lain. Alex menelan ludahnya. Dia cukup yakin kalau dirinya bergerak perlahan, dia tidak akan mengganggu para lebah.


Baru mengambil langkah pertama, Alex sudah berhenti lagi. Alex tahu benar dia tidak sendirian. Ada bagian dari rerumputan yang bergerak. Awalnya cukup jauh,tetapi makin lama pergerakannya makin mendekat. Dari kecepatan dan besar pergerakan itu, Alex berpikir dia akan menemui harimau atau serigala. Ada kelebat kelabu di sana. Mungkin serigala lebih tepat. Alex bergeming, bingung.


Dia tahu kalau telah membuat kesalahan setelah melihat ekor hewan tersebut. Ekor biru dengan ujung tajam bagai kuku elang. Dan, sejak kapan ada serigala bisa menyemburkan es?

__ADS_1


__ADS_2