
Ancaman itu membuat Jayden yang ngeri, bukan Alex.
Alex sendiri tak langsung menjawab. Tubuhnya masih bergetar. Ketika Tiger hendak mengambil langkah lagi, Alex bergerak pelan, bangun, dan mulai berjalan. Jalannya oleng, tapi dia berjalan ke arah yang benar. Tiger memicingkan mata agar bisa melihat wajah anak itu dalam keremangan. Wajahnya memerah. Matanya bergerak perlahan pada dirinya.
Tiger pun menurunkan senapannya. “Ayo!”
Tiger berlari ke ujung gang, menuju mobil mereka yang diparkir dekat. Alex mengikuti secepat yang dia bisa. Ada dua hal bertentangan dalam dirinya. Di satu sisi, ketegangan masih memenuhi benaknya. Di sisi lain, dirinya merasa sangat bersemangat. Kedua hal ini membuatnya sangat gelisah. Begitu masuk ke mobil, dirinya mengambil tissue, menghapus semua riasan dari wajahnya yang basah.
“Pakai ini!” Tiger melemparkan botol mungil padanya sebelum memacu mobil. “Caitlin bilang, tuangkan itu di tissue baru usapkan di wajah.”
Alex tak bicara, dia bisa membaca tulisan di botolnya ‘Make Up Remover’.
Selagi Alex membersihkan riasan, Tiger menghubungi kembali rekan-rekannya. “Kami sudah keluar. Di mana orang-orang itu?”
[Mereka menuju casino De Penguin. Letaknya sekitar empat kilometer dari sana.] Suara Jayden keluar dari speaker mobil, bukan dari earphone mereka.
Tiger menekan pedal gas, membuat mobil SUV tersebut meraung. Kecepatannya masih kalah dibandingkan sedan, tapi cukup untuk menyalip mobil-mobil di jalan utama. Cara menyetir Tiger dan Jayden berbeda jauh. Kalau seandainya mereka sedang merampok bank, maka Tiger adalah sopir yang tepat.
[Alex. Kamu di sana?]
“Ya.” Alex berhasil menjawab. Dia menyembunyikan gemetar dalam suaranya dengan baik. “Mereka mengganti tempat transaksi?” Alex balas bertanya.
Tiger langsung mencibir. “Dengan keributan yang kamu buat tadi, mereka langsung kabur. Untung saja Caitlin berjaga di seberang resort. Dia sedang membuntuti mobil mereka sekarang. Kalau dilihat dari rutenya, hanya satu tempat yang mungkin mereka tuju. Casino De Penguin adalah milik Nikola Shah.”
“Nikola Shah!” Sebelumnya, Alex merasa pernah melihat sosok pengusaha berbadan besar yang jadi pembeli tersebut. Setelah mendengar namanya, Alex sadar kalau dia memang pernah bertemu dengan pria ini bersama ayahnya.
__ADS_1
“Kamu tahu siapa dia?” Tiger bertanya, menguji.
“Dia menghiasi tajuk utama beberapa kali. Kalau tidak salah, dia satu dari sepuluh donatur terbesar universitas untuk program studi robotika. Dia juga donatur tetap badan amal. Itu semua ternyata enggak lebih dari kedok, ya.”
Tiger menyeringai. “Banyak hal tak terlihat seperti kelihatannya, Alex.”
Benar. Alex setuju dalam hati. Dia sangat tahu hal tersebut. Bahkan ketika dia bilang kalau Nikola Shah beberapa kali menghiasi tajuk utama, itu sekadar untuk menutupi kalau dia pernah bertemu secara langsung. Kejadiannya tahun lalu. Alex datang ke acara di universitas bersama ayahnya sebagai undangan VIP acara penggalangan dana. Dia ingat bagaimana ayahnya ngobrol soal bisnis bersama pria ini. Mereka membicarakan sesuatu soal kilang minyak dan juga soal robot.
Alex menatap lurus ke depan walau pikirannya melayang-layang. Dia merinding membayangkan kalau ayahnya sungguhan terlibat dengan kriminalitas tingkat dunia seperti ini. Sekalipun saat ini pun, dia juga mulai terlihat dengan hal yang sama.
Suara klakson kencang terdengar dari belakang mereka, sebuah tanda protes dan emosi. Tiger baru saja memotong sebuah city car mungil. Tentu saja Tiger tak ambil pusing soal itu. Dia membiarkan mobilnya melaju kencang tanpa membiarkan seorang pun menyalip dari sisi manapun apalagi menghentikannya. Termasuk lampu merah.
Alex melihat bagaimana Tiger tak mengurangi kecepatan sedikit pun ketika mereka mendekati persimpangan. Tanpa sadar, dirinya mencengkram sabuk pengaman. Mobil itu mungkin dilengkapi alat canggih untuk menghindari tabrakan, pikirnya. Meski begitu, itu tetap bukan alasan untuk menerobos persimpangan padat seperti yang ada di depan mereka.
Lampu merah berkelip, berubah menjadi kuning, lalu hijau. Tiger tidak menerobos lampu merah. Terdengar suara klakson, tapi tak satu pun menyalahkan Tiger. Mobil SUV ini melaju cepat ketika lampu merah sudah berganti hijau. Lebih tepatnya, saat lampu sudah diganti menjadi hijau.
Jayden tertawa. [Penasaran bagaimana cara mengganti lampu di persimpangan sesuka hati, Kill… Kamu enggak perlu khawatir soal itu. Aku akan mengatur semuanya untukmu. Kalian tinggal kejar dia saja.]
Alex tak melanjutkan. Kenyataan bahwa Jayden tak melontarkan panggilan Killer Bee secara sempurna padanya mungkin pertanda bagus.
Alex melepas dasi kupu-kupu, melemparnya ke belakang. Dia tak pernah suka dengan dasi, terlebih dasi kupu-kupu, hanya alasan personal. Dia juga hendak melepas rompinya saat Tiger menghentikan.
“Kamu membuang-buang waktumu, bocah!”
Alex mengernyit. “Kenapa? Apa karena mereka sudah melihat wajahku, jadi aku enggak boleh melepas seragam konyol ini?”
__ADS_1
Tiger terkikik dibuatnya. “Kamu pikir ICPA tidak membawakanmu baju ganti?”
“Sekarang kamu menyuruhku ganti baju di dalam mobil?”
“Aku tidak bicara soal ganti baju di dalam mobil. Buka dasbor. Ambil, tekan, praktis.”
Alex tak sepenuhnya paham ucapan Tiger. Bagaimana pun, dia tetap menurut lalu membuka kompartemen di depannya. Memang dengan satu kali tekan, kompartemennya terbuka. Praktis. Tapi, Alex yakin kalau Tiger tidak membicarakan soal itu.
Di dalam kompartemen tersebut, dia melihat benda segi lima berbintang hijau. Bentuknya serupa emblem polisi. Alex mengamatinya dalam keremangan mobil dan guncangan akibat jalan tak rata. Matanya menemukan kalau bintangnya bisa ditekan. Namun, tak ada yang terjadi ketika bintang tersebut melesak ke dalam. Dia pun membawanya mendekati badan.
Ambil, tekan, praktis.
Begitu mendekati bajunya, emblem tersebut langsung melekat di sana. Saat Alex menekan bintangnya, dia bisa melihat kepingan-kepingan segienam merembet keluar. Gerakannya sangat cepat. Alex bahkan belum sempat mengawasi kemana kepingan itu pergi. Tahu-tahu saja, badannya sudah ditutupi oleh pakaian ketat bernuansa hitam dari kepingan mungil tadi. Bajunya dilengkapi pelindung bahu dan dada. Pelindungnya sendiri terbuat dari bahan keras dengan garis tegas, memberi kesan futuristik.
“Aku merasa baru berpindah ke dunia game!” sahut Alex.
“Sayangnya, profesor Otto belum bisa memasukkan helm, sarung tangan, dan sepatu ke dalamnya. Pakai manual. Ada di belakang.”
Alex menyambar tas jinjing di kursi belakang. Dia segera mengenakan sepatu bot dan sarung tangannya. Keduanya juga bernuansa hitam dengan sedikit garis aksen perak dan hijau. Tak ada helm di sana, hanya sebuah headset hitam dengan bintang mungil pada bagian telinga. Alex bersiap terkejut lagi.
Begitu dia mengenakan headphone, derak pelan terdengar di telinganya. Segera saja headphone tersebut berekspansi. Benda itu membuat lapisan menutupi wajah dan kepala secara menyeluruh. Alex menahan napasnya tanpa sadar. Dia baru bisa bernapas lega setelah derak tersebut lenyap. Pandangannya kini dihiasi garis dan indikator. Telinganya mendengar lebih baik, pendengarannya malah makin tajam. Hidungnya bisa mencium udara segar beraroma mint. Kepalanya terasa dingin, mengejutkan.
“Profesor Otto senang pujian.” Tiger terkekeh.
“Dia akan mendapatkannya nanti. Perlengkapan ini … luar biasa!” Alex tak bisa menyembunyikan semangatnya.
__ADS_1
[Coba kita lihat siapa yang ada di sini. Halo, Zetta Sonic!]