Zetta Sonic

Zetta Sonic
Release


__ADS_3

Cody tak percaya dengan kedatangan Alex malam-malam seperti ini. Anak itu terpaku di posisinya, lebih tepatnya di ujung pintu darurat dari gedung besar di mana penjara ICPA berada di bawahnya.


“Hei!” Alex berusaha menyapa dengan riang.


Cody terdiam. Dia memerlukan beberapa saat sampai akhirnya berlari pada Alex. Wajahnya yang kebingungan berubah jadi riang dengan cepat. Dia berlari begitu cepat menyeberangi lantai marmer pada Alex di pintu masuk. Dia tiba terengah-engah di depan Alex. “Ini bukan mimpi, ‘kan? Benar, ‘kan?”


“Yup.”


“Kupikir kamu sudah melupakanku.”


“Hampir…” Alex tersenyum simpul. “Hanya bercanda. Sudah kubilang ‘kan kalau ICPA punya banyak urusan dan regulasi. Mereka perlu sedikit waktu untuk mengatur semuanya.”


Cody tak bisa tersenyum lebih lebar lagi. “Terima kasih banyak, Alex. Aku akan berubah. Sungguh. Semua pencurian itu, semua lelucon itu. Aku akan berhenti. Aku akan membuat surat permohonan maaf pada Willy bila perlu.”


Alex mengernyit, “Soal surat permohonan maaf itu, kupikir lebih baik jangan.”


Gantian Cody mengernyit. “Tunggu. Apa kalian punya rencana tertentu… untuk… aku?”


“Kujelaskan sambil jalan.”


Cody berlari-lari kecil mengikuti Alex dan pria besar yang baru dia tahu namanya beberapa menit lalu. Keduanya berjalan cepat namun tegap. Sementara dirinya seperti anak kecil yang takut terpeleset di jalanan lembab.


Alex sekali menengadah ke langit tak berbintang. Mendung. Dingin. Aromanya menunjukkan hujan akan segera tiba. Kalau memang akan ada ledakan dan api, mungkin ada baiknya langit mendatangkan hujan. Tapi, tentu saja, akan lebih baik bila tidak ada bom sama sekali.


Ketika memasuki mobil, Cody mendapati tas ransel tergeletak di jok tengah. Dia melihat isinya tak lain adalah pakaian. Pakaian yang mirip dengan yang dia pakaian ketika beraksi beberapa waktu lalu. Jaket bertudung, celana, kaus, juga masker berwarna hitam.


Masker itu adalah benda paling unik. Masker itu awalnya hanya sebuah benda metal persegi tipis. Ketika dibuka, dia memiliki dua bagian yang terbuka ke arah kanan dan kiri. Bentuknya persis seperti lipatan kertas. Tidak ada tali, hanya ada garis hijau di bagian atasnya. Warnanya semakin terang setiap kali diterpa cahaya. Ketika didekatkan ke wajah, maskernya berkembang. Cody baru sadar kalau masker tersebut disusun oleh kepingan-kepingan segiempat yang bergerak menyesuaikan kontur wajahnya.


“Apa ini!?” Cody berteriak panik. Dia mengira masker itu akan memotong suplai oksigen pada tubuhnya, kenyataannya tidak.

__ADS_1


“Selamat datang di ICPA!” Alex menoleh ke belakang sambil melempar senyum. Cody memelototinya sebentar lalu mulai mengedarkan pandangan. Anak itu pasti mulai menyadari teknologi ICPA bukan hanya canggih tapi juga nyaman.


“Apa yang kalian inginkan dariku? Mencari bom itu?”


“Tepat.” Alex melirik ke arah jam di tengah panel mobil. Kenyataannya, ini sudah lewat tengah malam dan belum ada laporan bom meledak.


“Kalian pasti bercanda. Apa yang bisa kulakukan dibandingkan dengan kalian? Kalian punya sistem lengkap. Aku tidak memiliki apa pun. Bahkan para seranggaku pun—“


“Ada di belakang,” sahut Alex, memotong ucapan Cody.


Cody masih belum memahami sepenuhnya. Dia melihat ke jok belakang. Karena gelap, dia masih belum bisa melihat apa pun di sana. Cody pun kembali merogoh di dalam tas. Di sana, dia menemukan kotak kecil lain. Dia bisa menebak apa isinya. Ketika membukanya, dia menemukan lensa kontak yang biasa dia pakai untuk mengendalikan para serangga.


Lensa kontak itu masih menempel dengan baik dan nyaman di wajahnya. Tak lama setelahnya, panel kontrolnya aktif. Kali ini, dia bisa melihat para serangganya berada di belakang. Mereka ditandai seperti bintik-bintik pasir. Cody sekali lagi menoleh. Dia bisa melihat mereka bertumpuk dalam kotak melalui sistemnya.


[Alex.] Suara Jayden menyela dari panel mobil. [Aku punya tugas baru untuk kalian.]


[Belum. Tapi, aku menemukan hal yang lebih menarik. Kami menemukan pabriknya.]


“Pabrik apa?” Alex bertanya meski sesungguhnya dia punya sedikit tebakan. Kenyataannya, tebakan itu memang benar.


[Kamu ingat video yang diberikan Caitlin? Kami menemukan lokasinya.]


Tiger bersiul. “Malam ini sepertinya akan cukup panjang. Bagaimana dengan Caitlin? Apa kamu akan mengirimnya ke sana juga, Jayden?”


[Negatif. Nadira lebih suka di di sini. Berjaga bersama kami kalau kami menemukan bom sungguhan. Nadira ingin kalian yang memeriksanya ke sana lebih dulu. Akan kukirimkan lokasinya agar lebih mudah.]


“Apa menurutmu Baron akan meletakkan bom di sana juga?” tanya Alex. “Dia cukup keras pada anak buahnya. Dia juga tidak sayang membuang beberapa properti miliki pribadinya. Apa mungkin dia akan meletakkan bom di pabriknya sendiri?”


[Kenapa tidak? Kita tidak mengenalnya sebaik Caitlin.] Jayden terkekeh. Alasannya jelas, Caitlin masih berada satu ruangan dengannya. [Hati-hati. Cody dan kamu harus saling berjaga.]

__ADS_1


Cody hanya mengerjap ketika mendengar percakapan tersebut terlintas  begitu saja di depannya. Setelah suara laki-laki di panel layar itu tak berlanjut dan keheningan kembali, serta dia berhasil melepas masker di wajahnya, Cody baru bertanya lagi. “Ada yang mau menjelaskan apa itu barusan?”


Tiger menjawab dalam jawaban yang cukup rancu. “Anggap saja, kita akan berburu monster. Monster bernama Baron.”


Alex pun menambahkan. “Baron adalah orang yang meletakkan bom di seluruh penjuru kota. Beberapa waktu sebelumnya, ada video yang bocor ke kami. Sepertinya dia sedang mengembangkan suatu cairan berbahaya. Mungkin racun. Jayden, operatorku, menemukan di mana lokasi video itu diambil.”


“Dan, kita akan ke sana? Kupikir kalian akan mengantarku pulang.”


Tiger spontan tertawa. “Maaf, bocah. Aku hanya mengantar Alex pulang ke rumah. Itu pun di bawah perintah mutlak seorang pimpinan ICPA tingkat benua.” Dari kaca spion, Tiger bisa melihat anak di belakang itu menciut.


Cody berkata lirih. “Kalian ingin aku bertarung?”


“Aku yang akan bertarung,” sahut Alex. “Kamu cukup menjagaku saja. Jangan khawatir. Lakukan seperti yang kamu lakukan dalam pencurian. Tetaplah tidak terlihat dan kamu akan aman.”


“Sepertinya itu tidak akan mudah.”


“Dan, akan lebih tidak mudah tanpa bantuanmu, Cody. Itu kenapa kami membebaskanmu.” Alex berpaling, menatap wajah lawan bicaranya. “Ini kesempatan terbaikmu. Kamu bisa menggunakan teknologi Bug untuk melakukan kebaikan.”


Cody terdiam sebentar, tidak berani bereaksi.


Tiger tertawa lagi. “Setelah kasus ini selesai, kami akan mengantarmu pulang. ICPA akan menyiapkan cerita yang baik. Kamu tidak perlu repot-repot menyusun kebohongan. Anggap saja ini seperti permainan agen rahasia. Kamu siap?”


Cody masih terdiam. Tak lama setelahnya, dia barulah mengangguk pada Alex. Setelahnya, dia malah bisa melempar pertanyaan. “Apa yang sebenarnya Baron inginkan? Balas dendam? Uang? Dia sepertinya sudah cukup kaya.”


Itu bukan pertanyaan mudah bagi Alex. “Baron dan aku punya sejarah yang cukup tidak baik. Bahkan, sangat tidak baik. Intinya, dia ingin membuktikan kalau dia lebih baik dariku.”


“Menanam bom jelas lebih buruk dari mengambil mainanku di sekolah.”


Gantian Alex tertawa. “Bagus. Sekarang kita resmi berteman, Cody.”

__ADS_1


__ADS_2