Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Bugs


__ADS_3

Alex mengerjap tak percaya. Sosok itu tampak terlalu nyata untuk jadi sekadar ilusi. Dia mengenakan setelan jas hitam dengan dasi biru muda. Entah hanya perasaan Alex atau ayahnya kini lebih besar dan berotot. Tatapan ayah menyapu ruangan sekali lalu berhenti pada Alex yang masih melongo. Kemudian, dia malah mendengus pada petugas.


“Kalian sebaiknya punya alasan yang kuat untuk menahan putraku di sini.”


“Ini hanya sedikit kesalahpahaman,” ujar si petugas. “Kami memanggil Alex untuk memberikan keterangan karena dia adalah saksi penting—”


“Kamu mengancam kalau dia bisa jadi tersangka.”


“Tolong maafkan mereka. Aku yakin tadi itu hanya gertakan,” kata pria lain yang baru datang. “Benar ‘kan?”


Itu penyelenggara pameran yang dilihat Alex sebelumnya. Di samping sosok ayah yang gagah juga para petugas keamanan, si penyelenggara pameran tampak ringkih dan tua. Pria tua itu mengusap dahinya yang berpeluh dengan saputangan. Selain ringkih, dia juga terlihat sedikit gugup.


“Benar ‘kan?” tanya pria itu sekali lagi pada para petugas keamanannya.


“Benar.” Petugas di depan Alex akhirnya menjawab. “Yang tadi aku bicarakan hanyalah kemungkinan saja.”


“Kalau memang sudah selesai,” kata ayah, “aku ingin Alex ikut bersamaku.”


“Tentu. Silahkan.”


Alex tak memperhatikan lagi siapa yang memberikan dia izin untuk keluar atau bagaimana dia bisa keluar. Dia telah berjalan menjauhi gedung pameran dalam temaram lampu jalan. Jantungnya berdegup kencang, tangannya terkepal, bibirnya terkatup rapat.


“Kamu marah?” Pria di samping Alex bertanya.


Alex membiarkan emosinya keluar. “Apa yang kamu lakukan? Kamu pikir tadi itu sandiwara yang baik? Akting murahanmu menjijikan, Tiger!” Alex membentak, meski begitu dia berhasil mengontrol volume suaranya.


“Maaf. Aku memang bukan aktris seperti ibumu.”


Alex mendengus kesal. Perlahan-lahan, wajah ayahnya lenyap digantikan wajah Tiger lengkap dengan bekas luka dan kepalanya yang dicukur gundul. Seiring perubahan itu, Alex mempercepat langkah berusaha meninggalkan Tiger.


“Teknologi ini sempurna,” kata Tiger lagi sembari menekan tombol kecil pada kerah kemejanya. Dia ikut mempercepat langkah. “ICPA sudah lama mengembangkan proyektor 3D semacam ini. Kalau kamu penasaran bagaimana ada Alex lain di rumah, makan ini jawabanmu.”

__ADS_1


“Aku enggak tanya!” Alex mempercepat langkahnya.


“Dari mana kamu tahu?” tanya Tiger lagi.


“Soal apa?”


“Kalau aku bukan ayahmu?”


“Aku ini anak—” Alex mendadak berhenti. Ucapannya dan langkahnya terhenti seolah sadar akan jawaban yang hampir keluar. Sejauh ini dia yakin kalau kamera ponsel dan foto di rumah punya memori lebih jelas pada orang tuanya. Kenyataannya mungkin tidak demikian. Ketika melihat sosok ayah tadi, sesuatu dalam dirinya bergetar. Dia tahu kalau itu bukan ayahnya sekalipun tak bisa menjelaskannya. “Aku hanya… tahu begitu saja,” kata Alex lirih.


“Kamu marah?”


“Enggak. Itu hanya lelucon, ‘kan?”


Tiger sudah berdiri di depan Alex. Tangannya menepuk bahu anak itu. “Jayden bilang ini lelucon yang buruk. Bukan hal yang ingin kamu lihat.”


Tidak. Justru sebaliknya. Itu hal yang ingin dilihat Alex. Dia ingin mendapat pembelaan dari ayahnya. Dia ingin mendapat bantuan dari ayahnya. Dia ingin melihat ayahnya. Sayangnya, dia tidak pernah mampu mengungkapkannya pada siapa pun. Alex merasakan matanya basah. Semakin keras dia menahan air mengalir keluar dari matanya, tenggorokannya semakin sakit. Dia bisa merasakan bahunya bergetar.


[Kita bisa bahas akting Tiger lain waktu. Sekarang, aku punya berita baik dan buruk. Berita baiknya, aku menemukan Bug. Dia memakai kostum seperti yang terekam di kamera pengawas kapan hari. Berita buruknya, dia mendapat batu opalnya.]


“Apa? Bagaimana?” Tiger bertanya separuh protes. “Aku sendiri menemani penyelenggara itu menyimpan batunya di brankas.”


[Sepertinya brankas enggak ada bedanya dengan etalase kaca buat teman kita satu ini.]


“Bagaimana kamu tahu dia punya batunya?” sahut Alex.


[Yakin ingin tahu? Dia melambaikan batu itu ke kamera pengawas. Sekarang, dia masuk ke dalam mobil—]


“Aku melihatnya!”


Tanpa perintah, Alex mengaktifkan seragam tempurnya. Di kejauhan, dia bisa melihat sedan hitam sedang melintas keluar dari kompleks balai kota. Dibantu sensor helm tempurnya, Alex dapat penglihatan lebih jelas. Dia bisa melihat sosok yang sedang menyetir mobil itu. Sistem segera mencocokannya dengan data. Itu memang Cody.

__ADS_1


Menggunakan kekuatannya, Alex melompat tinggi. Begitu tinggi dan jauh sampai dia bisa tiba di jalur yang akan dilalui mobil. Melihat ada penghalang, Cody berusaha berbelok. Alex lebih cepat. Dia mengulurkan tangannya ke depan. Dragon Aura memancar dalam garis lurus. Kekuatan itu menghancurkan ban depan mobil, memaksanya berhenti setelah beberapa kali berputar. Mobil itu kini berada beberapa meter dari posisi Alex yang tengah bergeming.


[Apa kamu baru saja menggunakan kekuatanmu untuk menghentikan temanmu sendiri!?] Kali ini pertanyaan Jayden yang berubah jadi protes. [Kamu bisa menangkapnya tanpa perlu menyakitinya, Alex.]


Alex menghiraukan omelan Jayden. Suasana hatinya sedang buruk dan jadi lebih buruk lagi ketika melihat Cody keluar dari mobil. Anak itu keluar sempoyongan, hanya sebentar. Berikutnya, dia melihat Zetta Sonic dan malah tertawa kencang.


“Zetta Sonic! Kamu sungguhan! Ini membuktikan riset tentang polisi rahasia bernama ICPA sama nyatanya seperti teori-teori konspirasi itu. Luar biasa!” Cody menunjukkan batu opal hitam dan memainkannya. Dilemparkannya batu itu ke udara lalu ditangkapnya lagi. “Kamu pasti berpikir aku penjahat, bukan?”


“Memang!” Alex berteriak. Dia berlari, hendak merebut batu itu. “Kamu Bug si pencuri.”


Belum sempat mendekat, Cody sudah melayang ke udara. Sesungguhnya, dia hanya melompat. Namun, lompatannya begitu mulus seolah ada yang menariknya ke udara lalu membantunya mendarat di atas mobil. “Tunggu! Jangan buru-buru. Ayo bersenang-senang sebentar. Aku ingin tahu apa Zetta Sonic sehebat rumornya.”


Alex berhenti. Dia benci harus menengadah ke atas. Itu membuatnya merasa lebih rendah. Tangannya terkepal tetapi siap untuk menembak bila diperlukan.


[Alex, buat dia terus bicara.].


“Untuk apa?” balas Alex lirih.


[Lakukan saja. Kupikir aku hampir menemukan rahasia si Bug.]


Menuruti kemauan Jayden, Alex pun mengajaknya ngobrol. “Kupikir bukan uang tujuan utamamu, ‘kan? Kamu putra pemilik perusahaan game ternama. Kamu bisa saja membeli permata itu.”


“Oh? Kalian sudah tahu identitasku tapi enggak menangkapku? Lemah sekali!”


“Beri tahu kami apa maumu!”


“Kamu tahu? Aku biasa membiarkan diriku dipermainkan di sekolah, di rumah, di mana pun. Lalu aku tersadar ketika berhadapan dengan maut. Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup, bukan? Jadi, kenapa harus diam saja? Ini saatnya membuktikan diri!” Cody tertawa lagi. “Membuktikan diri kalau aku juga bisa. Tapi, apa serunya jadi pahlawan tersembunyi seperti Zetta Sonic? Ini lebih menyenangkan!”


Kepalan tangan Alex mengencang. Layar dalam helmnya mulai bergerak-gerak. “Dia gila!” katanya lebih kepada Jayden daripada Cody sendiri.


[Kamu lihat yang kulihat?]

__ADS_1


“Ya,” jawab Alex lirih, “para serangga.”


__ADS_2