
Sesuatu datang dari atas. Alex tak perlu diberitahu untuk menghindar. Dia melompat ke depan. Sebuah laba-laba raksasa berada di posisinya berdiri tadi. Tubuhnya lebih besar dibandingkan laba-laba yang biasanya dilawan Alex. Warnanya juga lebih cerah. Biasanya warnanya hitam kebiruan, laba-laba ini berwarna biru tua dengan loreng hijau terang. Kalau bukan karena bantuan dari seragamnya, Alex bahkan akan bilang laba-laba tersebut bercahaya dalam kegelapan.
[Habisi dia!]
Alex sudah mencabut pistol tepat ketika lawannya melemparkan jaring. Tembakan Alex mengenai jaring. Dia buru-buru kabur ketika si laba-laba melompat maju lagi. Gerakan lawannya juga lebih gesit. Dari mulutnya, masih menetes cairan kuning kental.
“Tolong bilang padaku kalau dia tidak beracun.”
[Sejauh ini, para peneliti tidak menemukan racun dalam tubuhnya.]
“Bagus!”
Alex melepaskan tembakan beruntun. Tembakan laser tersebut gagal kembali karena semprotan jaring laba-laba. Lawannya kali ini bukan hanya lebih besar, lebih mencolok, dan gesit tapi juga pintar serta agresif. Lawan jelas tidak menantikan serangan Alex selanjutnya. Makhluk itu berlari cepat pada lawan.
Alex menengadah. Dia menembakkan tali pengait pada balok. Kalau ada hal lain yang dia pelajari selama latihan, itu adalah soal tali pengait. Ketika tali pengaitnya menancap pada sesuatu, gelang akan menarik si penembak pada posisi pengait. Setelah tiba di sana, pengait akan langsung lepas kecuali si penembak menekan terus tombol di gelangnya. Hal ini berfungsi baik dalam pertarungan.
Tubuh Alex terlontar ke atas si laba-laba. Semua tembakan jaring tersebut tak satu pun menyentuhnya. Alex jauh lebih cepat bahkan saat dirinya berada di udara. Ketika matanya melihat kalau tak ada lemparan jaring lagi, Alex mendapatkan kesempatan. Dirinya menembak lagi. Tembakan laser itu menghancurkan lawan dalam sekejap. Seperti balon air tertusuk jarum. Sebelum cairan kuning menghujani dirinya, Alex yang baru mendarat langsung bersalto menjauh. Meski benci mengakui, modul latihan Jayden memberikan banyak dasar teori untuk dipraktikkan di lapangan.
[Itu gerakan bagus.] Jayden memuji. [Tapi, kupikir kamu seharusnya tahu kalau kamu bisa saja lompat ke atasnya tanpa perlu memakai pengait. Dengan Dragon Blood dan seragam tempur itu, lompatanmu bisa sangat tinggi.]
Alex tidak mau mengakui kalau dirinya tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya menjawab, “Hanya ingin mencoba pengait ini lagi. Membiasakan diri.”
[Salah satu tujuan latihan ini memang untuk membiasakan dirimu dengan teknologi ICPA dan monster. Tiger menambahkan, katanya juga baik untuk melatih insting. Kalau menurutku, itu untuk melatih kecepatan berpikir di tengah krisis.]
Alex mengangguk. “Bicara soal krisis, Jayden, aku kedatangan tamu. Dua.”
[Aku melihatnya. Dilihat dari ukuran dan warnanya, sepertinya ini laba-laba yang biasa kamu lawan. Tipe yang ini cukup bodoh, ‘kan?]
“Bodoh? Memang mereka bisa berpikir?”
__ADS_1
Alex mendengus geli. Dia melepaskan dua tembakan beruntun. Satu tembakan mengenai kepala lawan, membuatnya tewas dalam sekejap. Satu tembakan lagi hanya mengenai kaki, membuatnya jatuh. Meski begitu, si laba-laba masih sempat melemparkan jaring. Alex menghindar dengan mudah. Tangannya melepaskan tembakan, menghabisi laba-laba kedua.
[Tiga jatuh, sisa dua. Waktumu baru berjalan beberapa menit. Terlalu mudah?]
“Kamu bisa melihat apa yang kulihat. Laba-laba betina tadi bisa masuk hitungan. Dua ini? Lupakan saja.” Alex menengok ke atas lewat bagian void. Dia bisa mendengar suara gemeretak dekat dalam samar suara hujan. “Ada saran?”
[Ikuti saja instingmu. Kamu sepertinya punya ide.]
“Sebenarnya, aku memang punya ide. Bagaimana kalau kamu pasang roket di seragam ini supaya aku bisa terbang ke atas. Sepertinya itu akan jauh lebih praktis daripada memakai tali pengait. Ribet.”
[Tapi, gara-gara tali pengait, aku punya rekaman video Zetta Sonic lucu yang mendarat darurat di lantai. Nadira bahkan tertawa saat melihatnya.]
“Diam kau!”
Meski Alex tidak suka dengan gelang tali pengaitnya, Alex harus mengapresiasi jarak dan kecepatan tarikannya. Dengan kait itu, dia bahkan bisa mencapai sepuluh lantai sekaligus. Barusan, Alex menggunakannya lagi, melompati lima lantai hingga mencapai lantai lima belas. Alatnya bekerja dengan baik.
Ada beberapa kelip merah di belakangnya. Bukan dari mata, melainkan kedip jam yang terus berkurang dari angka tiga puluh.
“Mereka pakai bom sungguhan!?” tebak Alex.
[Habisi laba-labanya sekarang!]
“Kalau aku meleset, bomnya akan meledak.”
[Bawa dia menjauh!]
Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Alex memang bisa dengan mudah mendapatkan perhatian lawannya. Itu bukan berarti lawannya akan bergerak sesuai kemauannya. Laba-laba ini menembakkan jaring tanpa bergeming dari posisinya. Alex hanya berlari berputar-putar.
Dia pun mengambil satu butir batu cukup besar. Dilemparkannya batu tersebut sekuat tenaga. Waktunya salah. Si laba-laba tepat sedang melemparkan jaring laba-laba. Bukannya kena, batu tersebut malah terbungkus dalam jaring lengket.
__ADS_1
Alex berdecak kesal. “Oke, cukup.” Tangannya mengambil pistol laser.
[Hei, kukira kamu tidak mau menembaknya.]
“Tadinya begitu. Sekarang lain. Aku enggak mau dipermainkan makhluk berkaki delapan seperti dia!” Alex membidik. Dalam sekejap, ketenangannya kembali. Matanya tertuju lurus pada lawan.
Lawannya tak tahu apa yang akan terjadi. Ketika jaringnya kembali meluncur keluar, sebuah sinar hijau datang. Sinar itu mengenai kepala. Si laba-laba hancur bahkan sebelum jaringnya benar-benar keluar. Alex menghela napas panjang. Untuk sesaat, dia mengira serangannya akan meleset, ternyata tidak.
Jayden mendengus. [Melihat tembakanmu seperti itu, aku jadi merasa kamu hanya bersandiwara saat enggak mau menembak karena takut meleset tadi. Katakan, Sonic, apa kamu berlatih di luar modul yang kuberikan padamu?]
Alex tak menyangkal. “Hanya kalau aku punya waktu senggang.”
[Sombong sekali.] Jayden terkikik. [Jangan cemas, setelah ini, kamu enggak akan punya waktu senggang. Nadira baru saja mengirim pesan. Sebuah misi khusus untuk Zetta Sonic. Kamu akan bertemu lawan lama.]
“Hei, bukannya aku masih punya satu laba-laba lagi yang harus dihabisi?”
[Ya, makanya tadi kubilang setelah ini, ‘kan.]
“Oke, oke. Tadi, apa maksudmu dengan kawan lama--”
DUARR!!!
Alex bahkan tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika mendengar suara ledakan kencang. Gedung itu bergetar. Puing-puing berjatuhan dari atas disertai debu berserakan. Alex mengedarkan pandangan. Asap hitam serta bau hangus terbawa angin malam. Ledakan itu tidak berasal dari dekatnya melainkan di atasnya.
“Itu … bukan gara-gara aku, ‘kan?” Alex melirik bom yang masih terus berjalan di dekatnya. “Apa aku boleh menjinakkan bom ini?”
[Menjinakkan bom? Itu bukan tujuan latihan itu. Abaikan saja. Dan … Kalau kulihat dari posisiku, aku melihat ledakan dari bagian atas gedung. Mungkin lantai dua puluh dua atau sekitarnya.] Jayden terdengar ragu. [Apa menurutmu laba-laba terakhir kita meledakkan dirinya sendiri atau apa?]
“Aku pilih yang pertama. Semoga saja memang itu yang terjadi.”
__ADS_1