
Kalau kondisinya tadi bisa lebih buruk, Alex tidak bisa memikirkan skenario lebih buruk dari ini. Dia melihat seekor dinosaurus yang dia kenali sebagai Tyranosaurus Rex atau T-Rex. Tentu saja, ada banyak keanehan di sana. Satu, dinosaurus sudah punah. Dua, warnanya terlalu muda seperti milk tea bukan predator. Tiga, kulitnya bersisik seperti ikan. Empat, ukurannya setinggi dua meter, tidak lebih.
Makhluk itu tak perlu menggunakan tangga. Sepasang kaki besar berotot membawanya ke bawah dengan satu lompatan. Ketika mendarat, retakan yang dibuatnya jauh lebih besar daripada retakan yang tanpa sengaja dibuat Alex.
Ada beberapa hal yang jelas perlu disorot di sana. Melawan musuh dari zaman prasejarah tidak pernah jadi mimpi Alex. Tidak juga saat ini. Apa pun yang ada di depannya saat ini hanya ada dalam film sampai dia berhadapan sungguhan. Rocky pasti memikirkan hal yang sama. Pria itu gemetar di bawah tekanan tangan Alex.
Ketika si dinosaurus itu mengerang, Alex dan Rocky bisa merasakan kengeriannya. Suaranya bukan hanya begitu kencang dan kasar. Lebih dari itu, suaranya membuat keduanya bergidik ngeri. Aroma amis dan busuk menyebar cepat. Alex menduga itu berasal dari mulutnya. Apa pun yang disantap si dinosaurus pasti bukan berita baik. Saat itu, Rocky menggunakan kesempatannya untuk berontak dan lari.
Alex tak punya waktu untuk menahan kepergian Rocky. Matanya tengah terpaku pada kedatangan si dinosaurus. Ralat. Si monster. Alex yakin itu bukan dinosaurus sungguhan. Berada bersama para anggota Special Force beberapa saat belakangan ini menyadarkannya pada banyak kemungkinan percobaan ilmiah. Tampaknya, membuat monster serupa dinosaurus pun juga bukan hal mustahil.
Mencoba peruntungan, Alex menembak dari pistolnya. Tanpa pistol laser, peluru 9mm itu hanya membuat luka gores kecil pada kulit monster yang keras sebelum terpelanting.
“Sial!” Alex mengumpat, berlari pada sisi lain.
Seperti T-Rex yang pernah Alex baca di buku, monster itu menerjang maju dengan kepalanya. Ketika Alex menghindar, si monster pun menabrak dinding. Retakan dan suara keras terdengar. Seolah tak merasakan apa pun, monster ini berpaling mencari mangsanya. Sementara Alex sendiri baru saja mampu berdiri.
“Itu hanya dinosaurus mini.” Alex memberi komentar pada dirinya sendiri. Belum sehari berpisah dari Jayden dan dirinya sudah rindu mendengar suara dari speaker helm. Dia sadar membutuhkan petunjuk dari Jayden pada saat seperti ini. Tanpa itu, Alex tahu dirinya akan terlibat pertarungan biasa.
__ADS_1
Si monster kembali berlari padanya. Alex menyambut. Dia mengulurkan kedua tangan ke depan. Dengan perhitungan waktu yang tepat, dia berhasil menggunakan kepala dinosaurus itu sebagai pegangan lalu bersalto di atasnya. Setelahnya, dia berlari menuju pintu keluar. Alex hanya ingin lari dari monster itu.
Belum benar-benar keluar dari sana, Alex berbalik lagi. Itu bukan hal yang tepat. Dia seorang agen dengan kekuatan istimewa. Ini bukan soal omongan ICPA bila tahu agen mereka melarikan diri. Ini masalah integritas dan harga diri. Alex tidak akan lari dari pertarungan. Dia harus mengalahkan monster tersebut sebelum melukai orang lain.
Alex tak yakin kekuatannya akan cukup membuat kerusakan, namun itu patut dicoba. Dia tidak membawa senjata lasernya saat ini. Hanya ada dirinya. Itu harus cukup.
Lawannya kembali lagi setelah membuat retakan parah pada sisi dinding lain. Alex mengepalkan tangan, bersiap menyarangkan tinju. Pertama, dia menghindari dulu serangan lawan. Sayangnya, perhitungan Alex tidak sepenuhnya tepat. Alih-alih lawannya menerjang dengan kepala keras, dia malah membuka mulut. Deretan gigi taring dengan lidah hitam terekspos keluar.
Alex berjingkat. Hidung dan matanya sangat terganggu dengan kemunculan fenomena tersebut -- terutama hidungnya. Alex mengganti serangan. Dia mengulurkan kaki, menendang perut lawan sekencang mungkin. Kalau Jayden di sana, dia bisa memperhitungkan kerasnya kulit lawan. Alex tahu dirinya beruntung ketika tendangannya berhasil membuat lawan terjatuh. Perutnya kenyal seperti karet lunak.
Seragam tempurnya tidak rusak. Meski begitu, di bawah seragam itu, ada rasa pedas dan panas. Lengannya akan memar. Alex terlalu sibuk memperhatikan seragamnya, dia tak sempat lagi ketika kepala monster datang. Alex mengulurkan tangan, berusaha menahan serangan. Namun, kepala itu bergerak terlalu cepat.
Alex tak tahu bagian dadanya sebelah mana yang terkena kepala itu. Dia tersadar ketika sudah terjatuh di tanah dengan dada juga dagu yang nyeri. Kalau Jayden di sana, dia akan berteriak panik. Karena dia tidak akan di sana, Alex sempat mengira dirinya gila saat mendengar seruan lain.
Dari kata-katanya, dia sadar kalau tidak pernah mengenali bahasa itu. Dari nadanya, dia mengenali kegentingannya. Alex merasa lebih aneh lagi karena tubuhnya seolah paham. Tangan kirinya terulur ke depan. Bukan kepalan, melainkan tangan terbuka. Alex menghadapi mulut terbuka si monster dengan tangan kiri terbuka. Jayden tidak akan menyarankan itu. Dia juga tidak akan berpikir seperti itu.
Semua jadi sedikit masuk akal ketika Alex mendapati pemandangannya berkilat hijau.
__ADS_1
Sensasi yang sama telah kembali. Sensasi ketika dia pertama kali terbangun di ruang generator setelah transfusi Dragon Blood. Sensasi ketika dia selesai mengalahkan para robot pembunuh. Sensasi ketika dia menghentikan truk yang hampir menabrak mobil mereka pagi tadi. Sensasi aneh saat cairan asing itu mengambil alih dirinya.
Alex melihatnya jelas.
Dari tangannya yang terbuka, Alex melihat asap hijau mengepul keluar. Jumlahnya tak kalah dari air mendidih, hanya saja warnanya hijau. Tangannya tak terasa panas tapi asap tersebut jelas bersuhu tinggi. Dalam sekejap, asap tersebut berlipat ganda. Begitu banyak bagai kabut. Berikutnya, mereka memadat dengan cepat. Secepat mereka muncul, secepat itu pula mereka memadat jadi seperti sinar laser.
Setahu Alex, diameter sinar laser selalu kecil. Sinar yang muncul dari tangannya adalah laser terbesar yang Alex tahu. Ukurannya persis seperti ukuran tangannya. Kemunculannya tak diprediksi siapa pun. Kepala si monster hancur dalam sekejap. Alex sendiri merasakan rasa tajam di kepalanya disertai denging tak ramah. Refleks, dirinya memejamkan mata.
Kejadian itu berlangsung beberapa detik. Ketika denging itu mulai mereda, Alex membuka mata. Dia melihat sosok monster tergeletak dekatnya. Tak ada darah, tak ada daging, tak ada tulang. Sosok monster lenyap digantikan gumpalan hitam seperti lumpur padat berbentuk T-Rex tanpa kepala. Sementara jauh di belakangnya, ada bekas hitam memanjang serta bau hangus kuat.
Alex mengerjap, masih tak percaya kalau itu semua benar-benar perbuatannya.
Dia melirik tangannya. Seragam tempurnya pada bagian telapak tangan kiri telah lenyap entah mana. Di baliknya, dia bisa melihat telapak tangannya merah. Kemudian, dia melirik Zet-Arm. Indikatornya jelas. Kekuatan dirinya hampir terkuras semua. Ada peringatan detak jantung tak normal, angkanya jelas di atas seratus. Juga peringatan suhu tubuhnya yang naik drastis. Alex harus pulang dengan sisa tenaga yang ada.
Awalnya, dia mengira kalau tanpa Jayden, pertarungannya hanya akan jadi pertarungan biasa. Pertarungan tinju bodoh bukan pertarungan agen dengan monster. Tampaknya, bukan Jayden penentu jalannya pertarungan. Tapi, dirinya sendiri.
Zetta Sonic mungkin adalah bagian dari Alex. Hari ini, dia justru menyadari kebalikannya.
__ADS_1