
Alex termenung di ruangan Zetta Sonic seorang diri. Tangannya terkepal erat. Tatapannya kosong ke lantai. Dia sudah membaca berita. Komputer di ruangan itu memberikan informasi terbaru mengenai tragedi yang menimpa sekolahnya pagi tadi.
Situasinya masih kacau balau. Banyak para pegawai dan siswa jadi korban. Jumlahnya korban luka berat sudah mencapai puluhan sementara korban meninggal dunia sudah mencapai angka delapan dan terus bertambah. Para orang tua siswa panik. Kepolisian menggelar konferensi pers meminta warta tetap tenang. Seluruh dunia mengecam pengeboman itu. Kalau tujuan pengeboman itu untuk membuat kotanya murka dan ketakutan, pelakunya berhasil.
Tragedi di Wood Peak begitu menakutkan sampai beberapa sekolah memilih memulangkan siswa mereka sampai polisi menangkap pelaku pengeboman. Siapa yang tahu sesungguhnya alasan di balik tragedi tersebut?
Mendengar reaksi Nadira di rapat tadi juga membuatnya bingung. Nadira memilih bergerak hati-hati. Namun, Alex melihatnya sebagai tindakan pengecut. Kenapa harus menunggu bukti lagi? Bukankah dia dan Jayden sudah melihatnya sendiri? Bukankah Baron jelas-jelas telah mengakui apa yang dia lakukan? Kenapa Nadira, seorang pimpinan ICPA tingkat benua, tertekan oleh kenekatan Baron?
Alex merasa marah dan kecewa sekaligus kesal dan tak berdaya. Benaknya campur aduk. Di satu sisi, dia ingin sekali lari dari semua masalah itu. Di sisi lain, dia juga ingin mendatangi si pelaku untuk menghajarnya. Ada satu sisi lagi yang tak bisa dirinya sendiri pahami.
Sisi itu muncul ketika membaca nama Leta.
Nama Leta tertera di sana. Gadis favoritnya. Gadis cantik yang berusaha menghibur hatinya dan sering mencuri hatinya. Nama Leta ada di sana. Daftar korban meninggal dunia.
Alex tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Hatinya sudah cukup kacau untuk memikirkan apa yang terjadi pada Leta. Dia berada di titik tengah antara kemarahan dan kesedihan. Akan lebih mudah kalau Alex bisa meluapkan emosinya. Sayangnya, dia lelah. Terlalu lelah untuk melakukan apa pun, bahkan untuk menangis atau marah.
Dia membenci kondisi itu.
Keheningan itu membunuhnya perlahan. Alex beranjak kembali ke komputer. Ini sudah kesekian kalinya dia mengecek ulang nama para korban. Dia juga memeriksa berita terbaru lagi. Beritanya bergerak lambat. Kemarahannya terus meningkat lagi. Dan, Alex mengepalkan tangannya. Lagi. Telapaknya telah luka terkena kukunya sendiri tetapi dia tidak peduli.
Dirinya terjebak entah berapa lama dalam situasi itu sampai akhirnya dia mendengar suara dering telepon. Ponselnya berbunyi. Telepon dari ayah. Alex tak paham bagaimana telepon itu bisa masuk ketika dia berada di dalam markas.
[Alex! Di mana kamu?] Pertanyaan ayah lebih mirip bentakan.
“Markas.”
__ADS_1
Ayahnya separuh ingin marah, separuh lega. Dia pun menghela napas panjang. [Apa kamu baik-baik saja?]
“Ya. Jangan khawatir.”
[Mungkin akan lebih baik kamu berada di sana sampai kondisinya lebih tenang atau sampai kita menangkap pelakunya. Aku tidak bisa berbuat banyak di teritorial Nadira, tapi aku akan memastikan para agen Regis membantu kalian.]
Alex menggeleng tak bersemangat. Dia tahu ayahnya tak bisa melihatnya. Alex mendadak merasa situasinya tak begitu berbeda dengan Caitlin. Kenapa semua orang tidak mau percaya begitu saja kalau Caitlin pelakunya?
[Alex? Kamu masih di sana? Bagaimana kondisinya?]
“Hanya menunggu. Membosankan.”
[Bertahanlah dengan itu, setidaknya sampai beberapa jam ke depan. Aku akan lihat apa yang bisa kulakukan di sini. Kalau pelakunya mengincar Zetta Sonic, dia harus berhadapan dengan para agen ICPA, Sinde juga Regis.]
“Baik, ayah.”
Alex menghambur ke luar ruangan. Jayden bisa mengurung Caitlin namun tidak dengan dirinya. Alex mengambil beberapa persenjataan ICPA termasuk pistol laser. Dia memilih mobil SUV hitam yang baru dikirim Fergus kemarin pagi, membawanya keluar dari markas Special Force.
Di ruang komando, rapat belum usai. Namun, itu sudah usai bagi Jayden begitu sebuah pemberitahuan muncul di tablet PC miliknya dan Emil. Pemberitahuan itu tidak lebih dari sekadar peringatan. Jayden tak perlu bicara banyak. Dia cukup menoleh pada Nadira tanpa perlu bicara.
Nadira, seolah paham, langsung mendengus kesal. [Ayolah? Secepat ini? Dia sudah bergerak]
“Dia Zetta Sonic, ingat? Lagipula, ini persis seperti yang kamu perkirakan. Dia akan bergerak sendiri, dengan atau tanpa kita.”
[Aku kadang benci bisa menebak tingkahnya. Bagaimana dia bisa keluar dari sini? Jangan bilang kalau dia membawa pesawat baru kita.]
__ADS_1
Jayden menarik dirinya sedikit menjauh ketika memilih bersandar di kursi. “Soal itu… sedikit rumit.”
[Apa maksudmu?]
Emil akhirnya ikut nimbrung. “Berita baik. Berita buruk.”
Tiger ikut mengernyit. “Apa yang telah kalian lakukan?”
[Jelaskan saja! Apa yang sudah bocah itu lakukan?]
Emil menjawab ketika Jayden hanya diam. “Pesawat Alex butuh izin. Banyak izin. Sejak penerbangan terakhir, ada banyak peraturan tambahan Rumit. Dia tidak bisa menggunakannya. Tanpa izin Jayden. Dan kamu.”
[Langsung saja!]
Jayden tahu Nadira akan meledak lagi. “Ingat soal pembicaraan kita beberapa waktu lalu? Soal mobil? Soal bagaimana Zetta Sonic seharusnya punya kendaraan tersendiri?”
[Jangan bilang kalau kalian sudah mendapatkannya dari Fergus.]
Emil menambah layar baru. Layar itu juga muncul di depan Nadira. Mengabaikan Nadira yang sedang menggeram, Emil malah berbaik hati menjabarkannya. “Anti peluru, anti ledakan, anti api, dan suhu ekstrim. Dilengkapi dengan roket pendorong untuk melompat. Tim mekanik Fergus menolak memberikannya sayap. Punya senjata mesin tunggal dan…” Emil berhenti ketika dia melihat dokter Vanessa. Wanita itu melambai padanya dan tengah memberinya isyarat untuk berhenti bicara.
[Kalian memberikannya mobil baru di saat seperti ini!] Pertanyaan Nadira jelas lebih mirip sebuah bentakan.
“Secara teknis. Dia mencurinya.” bisik Emil lirih.
Tiger malah tertawa. “Bukan mencuri kalau kita memang membuatnya untuk dia.”
__ADS_1
Melihat kerut di wajah Nadira makin bertambah, Jayden langsung menambahkan. “Nadira, kamu bilang kami adalah tim pendukung bagi Zetta Sonic. Jadi, kami hanya melakukan tugas kami. Hanya mengingatkan, mobil ini sudah ada di rencana awal kita sejak Special Force didirikan.”
Nadira memijit pelipisnya dan mendesah untuk kesekian kalinya. Dia akhirnya melambaikan tangan mengusir semua peserta rapat. [Ya, ya, ya. Pergi sana! Bantu dia menangkap Baron!]