
Alex tidak melewatkan dua nama yang diusulkan dokter Vanessa padanya. Oscar Robin dan Greg Arson. Entah sejak kapan, dirinya sekarang punya kecenderungan untuk membandingkan dirinya pada agen yang sedang dia pelajari. Dia penasaran kalau bisa menyelesaikan misi lebih baik dari mereka. Bisakah dia memutuskan mana yang lebih baik, menembak tangki bahan bakar ketimbang ban mobil buronan atau memilih mana sandera untuk diselamatkan lebih dulu.
Gonggongan Rover membawanya kembali tersadar. Dia tidak sedang berada di markas ICPA. Dia sedang berada di rumah. Matahari sudah bersinar lembut. Cuaca cerah, sedikit berawan. Waktu yang cocok untuk berenang. Guru olahraga mereka memilih waktu yang tepat sekali. Sekali lagi, dirinya dibuat kembali tersadar ketika Preston masuk sambil membawa nampan berisi teko dan cangkir.
“Aku tidak mengira kamu sudah bangun, Alex,” ujar sang kepala pelayan.
“Ada tugas sekolah yang ingin kusempurnakan.” Alex spontan menguap. Rover yang sedang memperhatikan majikannya pun jadi ikut menguap. Sambil menutup semua berkas ICPA pada tablet PC di pangkuannya, Alex berpindah dari bean bag ke sofa oranye, tepat di seberang meja kopi. “Kamu sering membawakanku teh di pagi hari sekarang,” ujar Alex lagi.
“Mungkin karena kamu tidak pernah menolaknya.” Preston menuangkan teh hangat untuk majikannya. Dia melirik bagaimana Alex kembali menguap. “Kuda itu sudah menunggu untuk perjalanan pertamanya.”
“Kuda? Oh, kuda.” Alex tahu belum sempat menguji robot kuda pemberian ayahnya. Sebuah keisengan yang menarik. Dia sendiri sebenarnya telah menantikan kesempatan untuk mencobanya. “Akan kuatur jadwal untuk itu.”
Preston mengerutkan dahi. “Kupikir Alex yang sekarang sedang sangat sibuk seperti ayah ibunya.” Preston menangkap kegelisahan Alex namun memilih tak bicara. Tuannya itu mengabaikan tatapannya.
“Untuk ujian,” sahut Alex cepat. Dia tak begitu senang dibandingkan dengan ayahnya apalagi ibunya. Untuk saat ini.
“Satu lagi, Alex. Soal pesta. Aku sudah mengirim konfirmasi ulang pada penyelenggara. Kamu akan datang mewakili Mark Hill dan Alicia Remnant. Besok malam. Benar, ‘kan?” Preston menuangkan teh dan memberikannya pada Alex.
“Tentu.”
__ADS_1
Alex ingat pesta itu. Pesta yang sama seperti pesta-pesta sebelumnya. Meriah, dihiasi dekorasi indah, bau wangi, dipenuhi orang-orang ternama seperti para pejabat, jajaran artis dan influencer bersama keluarga mereka. Akan ada liputan live serta wartawan yang haus akan rasa ingin tahu. Sisi baiknya, sajiannya selalu lezat.
Seolah bisa membaca pikiran Alex, Preston malah terkekeh. “Mulai bosan menghadiri pesta, eh? Seingatku, kamu makin sering menggantikan ayahmu datang ke pesta sekarang. Ah, bukan. Biar kuralat. Bukan menggantikan melainkan mewakili.”
“Aku enggak lihat bedanya.” Alex ikut terkekeh.
Alex tak selalu suka pesta. Memang dia lebih banyak suka pesta daripada tidak. Kecuali kalau pesta itu diadakan di malam hari, di city hall, juga membutuhkan tuxedo sebagai dress code. Kenangan akan robot pembunuh dan bagaimana dia terjatuh ke sungai sama sekali bukan kenangan indah. Seandainya undangan itu tidak dikirim jauh-jauh hari dan dia telah berjanji menggantikan ayah serta ibu, Alex pasti sudah mengarang alasan.
Kadang dia tak bisa menggunakan kemampuan berbohongnya karena tak ingin memberi kesan buruk. Biasanya, dia berjanji pada dirinya sendiri kalau akan menemukan hal menarik di sana. Seperti makanan lezat atau atraksi unik sebab bertemu artis tak lagi membuatnya bersemangat, apalagi kalau teman-temannya memang berasal dari kalangan artis.
“Aku selalu bisa mencoba mencari teman,” ujar Alex pada dirinya sendiri.
“Cobalah tidak membuat teman dengan orang yang salah.”
“Kamu bisa belajar dari ikan yang lain di kolam berbeda. Lingkungan berbeda, orang berbeda, pemikiran berbeda, nilai berbeda pula. Ada banyak hal yang tidak bisa dipelajari di sekolah.”
Alex cukup yakin, bahkan terlalu yakin, kalau Preston bicara karena tahu dia telah berada di kolam berbeda belakangan ini. Kolam yang bernama ICPA. Alex tidak punya lingkungan lain yang bisa membuat pola pikirnya berubah begitu cepat. Dia tidak mengikuti klub atau komunitas tertentu. Dia ikut semua acara yang dia suka selama dia punya waktu.
Preston membalas tatapan Alex dengan ramah. “Ada yang salah dengan wajahku?”
__ADS_1
Alex menggeleng. “Enggak. Aku barusan cuma berpikir apa yang harus kupakai nanti malam.”
“Aku sudah menyiapkannya untukmu. Kamu hanya perlu memastikan kalau tugas-tugasmu sudah selesai.”
Alex sekali lagi mengernyit. Pembicaraan mengenai tugas tidak membuatnya teringat pada tugas sekolah. Dia langsung saja teringat pada hukuman ICPA di mana harus menyelesaikan tugas menonton hampir seribu jam misi para agen ICPA yang lain. Melakukannya sedikit demi sedikit tidak berarti bisa diabaikan. Justru itu berarti kalau dia harus membagi waktunya dengan baik.
Preston melanjutkan. “Beberapa rekan ayahmu akan datang.”
“Aku tahu,” sahut Alex. “Mungkin mereka akan membuatku bosan.”
Preston tersenyum lagi. Alex menyelesaikan tehnya. Si kepala pelayan itu membereskan cangkirnya beserta teko dan keluar dari ruangan. Preston akan menyiapkan sarapan untuknya dan Alex akan bergabung dengannya di bawah. Namun, sebelum itu, Alex terpikir akan hal lain. Rekan ayahnya.
Didorong rasa penasaran, Alex beranjak ke kursi komputer. Seperti biasa, layar besar di hadapannya berkilat dan menunjukkan simbol lebah di bagian bawah. Dia hanya sedikit penasaran mengenai rekan ayahnya.
Rekan kerja ayah. Gara-gara pembicaraan tadi, Alex jadi mendapat firasat kalau Preston tahu sesuatu soal ICPA. Suatu hal yang tidak mungkin. Rasa penasaran itu membuatnya memeriksa daftar tamu undangan pesta nanti malam.
Entah apa yang diharapkannya. Ketika deretan nama itu muncul, Alex melakukan pemeriksaan silang pada daftar video dan laporan misi yang dia miliki. Ada banyak nama agen pada laporan misi tersebut. Alex memilih beberapa nama pada daftar undangan secara acak. Berharap akan menemukan kesamaan pada daftar nama agen. Tentu saja, tidak ada nama yang sesuai dengan daftar tersebut.
Alex mendengus geli, menertawakan dirinya sendiri. Dia mulai berpikir kalaupun ada rekan ICPA ayahnya yang datang, tidak mungkin orang itu akan memakai nama asli. Ah, bukan. Alex bahkan mungkin tidak akan tahu mana yang nama asli. Nama di daftar undangan atau nama yang terdaftar di ICPA.
__ADS_1
Saat kursornya bergerak untuk menutup deretan nama undangan, matanya terpaku pada sebuah nama. Nama yang jelas tidak asing. Caitlin Daniels. Dia mendengar nama itu kemarin ketika Emil membacakan nama-nama anggota Special Force. Kalau Alex mau mencari tahu soal Caitlin, itu akan jadi saat yang sangat tepat.
Alex menyadari dirinya salah. Pesta yang awalnya terasa membosankan itu, kini membuatnya tak sabar.