Zetta Sonic

Zetta Sonic
Right People


__ADS_3

Bandara itu pernah membuat Alex menangis. Ketika pertama kali ibunya pergi ke luar negeri selama beberapa minggu, Alex mendapati dirinya terisak di mobil. Saat itu, Preston bersamanya, membuat segala sesuatunya terasa lebih ringan. Kali ini, dia sendirian. Dia juga tidak berniat menangis apalagi kalah.


Lagipula, kapan lagi dia bisa memarkir kendaraannya di tengah landasan pacu seperti itu. Alex sudah tak lagi mempertanyakan bagaimana mobilnya yang tidak memiliki plat nomor bisa berkendara bebas di jalan raya atau bagaimana tidak ada lagi orang-orang yang berkeliaran di tempat kejadian seperti itu. ICPA selalu punya cara mereka sendiri. Zetta Sonic adalah salah satunya.


Salah satu hal yang dia pelajari setelah beberapa saat menjadi agen adalah soal sepinya lokasi misi. Semakin sepi tempatnya, semakin banyak izin yang akan didapat. Alex tahu izin menembaknya telah turun termasuk pistol lasernya. ICPA agaknya ingin menghentikan Damon lebih dari menyelamatkan para sandera.


Damon sedang duduk di atas potongan sayap pesawat yang patah. Tidak jauh dari posisinya, ada mobil-mobil polisi yang nyaris tak berbentuk lagi. Beberapa dari mereka tengah terbakar atau malah sudah menghitam. Ada aroma memuakkan yang mengudara. Perut Alex terasa mual membayangkan apa saja yang bisa jadi penyebab aroma tersebut.


Ketika Alex melompat turun dari mobil SUV, Damon merentangkan tangannya ke angkasa. “Akhirnya! Kenapa membuatku menunggu terlalu lama? Polisi yang kalian kirimkan tak bisa bertahan lebih lama dari sepuluh menit. Membosankan!”


Alex mengedarkan bola matanya tanpa menggerakkan kepala. Dia tidak mau Damon berpikir telah membuatnya gusar. Selalu ada hal bisa disembunyikan di balik helm Zetta Sonic. Dia berusaha melangkah santai mendekati Damon.


“Kenapa harus berbuat sejauh ini?” balas Alex. “Kamu bisa mengirim email saja.”


Damon langsung tertawa dibuatnya. “Lelucon yang bagus!” sambutnya sambil bertepuk tangan. “Mari kita tentukan siapa yang lebih kuat di antara kita.”


Mata Damon berkedut. Seringai membuat urat-urat tak wajar yang lain ikut berkedut pula. Beberapa bagian wajahnya nampak lebih gelap. Selain tubuhnya yang besar dan berotot, wajahnya memang membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri. Damon memang terlihat lebih menakutkan. Terlebih ketika dia melompat tanpa aba-aba pada Alex.


Sayangnya, Alex sudah belajar banyak. Dia tahu apa pertaruhannya di sini. Dia tahu dia tidak punya pilihan lain. Tinju Damon tertahan oleh perisai baru Alex.

__ADS_1


Damon mengerjap. “Mainan baru?”


“Aku setuju,” kata Alex. “Mari kita lihat siapa yang lebih baik.”


Alex mendorong dirinya. Damon pun mundur teratur. Kaki telanjangnya melangkah lincah di atas landasan pacu yang panas. Kaki itu terlihat besar, jauh lebih besar dari ukuran sesungguhnya. Seluruh badan Damon memang terlihat makin besar terutama bagian atas. Alex mulai berpikir apakah lawan yang saat ini dihadapinya masih bisa digolongkan manusia atau bukan.


Ketika Alex mengibaskan tangannya, perisai hijau transparan itu lenyap. Dia baru belajar menggunakan perisai pertamanya. Semua bisa diatur dengan pikirannya, semudah membalik telapak tangan. Kekuatan perisainya hadir dalam satu ukuran dan variasi durasi berbeda. Ukurannya tersedia dalam tiga pilihan, kecil, sedang, dan besar. Ukuran kecil hanya mampu melindungi bagian dadanya. Ukuran sedang bisa melindungi separuh badannya, persis seperti yang tadi dia gunakan. Ukuran besar mampu menghalangi segala bentuk serangan sebesar dirinya. Itu mengorbankan cukup banyak energi. Perisai barunya datang dengan cadangan energi tersendiri, bukan Dragon Blood.


“ICPA selalu membuatkanmu mainan baru, dengan atau tanpa Jayden, eh?” tanya Damon yang tengah menggerakkan kakinya lincah bak petinju di atas ring. “Sepertinya kalian tidak lagi membutuhkan Jayden.”


“Kamu mendapat poin yang salah, Damon.”


Alex hanya mampu menolak sedikit. Meski begitu, serangan tersebut berhasil mengenai tepi wajah dan membuatnya oleng. Alex buru-buru menjaga jarak. Serangan Damon datang bertubi-tubi. Dia pun menahan serangan tersebut dengan tangan dan sesekali juga perisainya. Sebenarnya, lebih dari itu. Alex sedang menanti.


Waktu yang pas akan datang kalau dia memperhatikan dengan benar. Alex mempelajari hal ini dari banyak video yang ditontonnya sebagai hukuman dari Nadira. Dia bukan hanya mendapati kalau ada banyak penjahat dan monster di luar sana. ICPA telah menyembunyikannya dengan baik dari publik. Dia juga belajar kalau para penjahat dan monster itu bisa dikalahkan dengan cara yang benar. Waktu yang tepat. Orang yang seusai.


Alex menunduk, membuat kesempatannya sendiri. Tangan Damon lolos melewati kepalanya. Sementara Alex berhasil membuat tinju keras pada perut lawan. Ditambah kekuatan Dragon Blood, serangan itu jadi jauh lebih mematikan. Damon terpelanting cukup jauh. Di atas punggungnya yang sakit dan debu berterbangan, Damon hanya bisa melongo.


Di kejauhan, para penumpang pesawat melompat kegirangan. Suara mereka memang tidak bisa mencapai Damon, tapi dia mengenali kegembiraan yang terpancar. Damon segera bangun. Sembari membersihkan badannya, dia menoleh pada para penumpang lagi. Salah satu anak kecil penumpang menunjukkan jempol yang mengarah ke bawah padanya.

__ADS_1


Damon mengumpat, membuang ludah. “Jangan pikir kalau serangan itu membuatmu lebih baik dariku!”


Alex mendengus geli. “Ayolah, aku masih punya banyak serangan lebih keras dari itu. Jangan tumbang sebelum menerimanya.”


Damon berlari pada Alex. Kali ini, Alex bersiap. Serangan Damon datang mengenai perisai Alex. Saat itu, dia justru menggunakan perisainya untuk melompat ke atas. Alex mendarat tepat di belakang Damon, menendang punggung lawan, membuatnya terjatuh lagi. Damon menggapai bongkahan batu di dekatnya. Dilemparkannya batu tersebut sekuat tenaga pada Alex. Serangan itu seharusnya sampai. Seharusnya. Ada hal lain yang membuatnya gagal. Tembakan laser dari udara menghancurkannya jadi serpihan sebelum mengenai Alex.


“Kamu bersembunyi di belakang mainan!” seru Damon. Dia telah bangun dan berbalik, menghadapi Alex yang sedang menjaga jarak. Sebuah drone yang tadinya terbang rendah kini mulai menjauh. “Terlalu takut bermain denganku?”


Alex tidak perlu membuktikan dirinya pada Damon. Tidak ada alasan baginya merasa tersinggung sampai melepaskan fasilitas ICPA. Dia pun tersenyum. “Kamu tahu poin apa yang salah kamu tangkap?”


Damon mengangkat alisnya tanpa bertanya apa pun.


“Tanpa Jayden, ICPA memang akan tetap bertahan. Itu bukan bukti kalau kami enggak membutuhkannya. Dia teman dan rekan. Kami akan merebutnya kembali.” Alex pun tertawa. “Coba pikir baik-baik, Damon. Kupikir mengalahkanmu tanpa Jayden cukup membuktikan kalau aku lebih baik darimu. Tapi, kalau kupikir lagi, bersama Jayden aku akan menghajarmu lebih keras.”


“Bocah sial!” Damon menggeram. Tangannya terkepal erat.


“Poin utamanya,” kata Alex, “aku akan mengalahkanmu dengan atau tanpa Jayden.”


Sekarang Alex mulai yakin kalau dia memang orang yang sesuai untuk mengalahkan Damon.

__ADS_1


__ADS_2