
Alex mengerjap. Ada cahaya membutakan datang dari belakang dirinya. Cahaya tersebut memang tidak bisa dibandingkan dengan penglihatan tadi. Cahaya itu membuat siluetnya pada si monster dinosaurus. Ada pantulan bayangan tubuh Alex dalam balutan seragam pula pada mata bulat si monster. Bukan kekuatan Zetta Sonic yang bekerja. Sesuatu yang lain. Divisi yang lain. Bala bantuan dari ICPA.
Ada perubahan tekanan datang dari belakang Alex. Bersama dengan itu, gelembung-gelembung air pun tercipta. Tak perlu menunggu waktu lama, deretan rudal memelesat dalam air. Ukurannya lebih kecil dari rudal bermoncong kuning. Rudal ini putih dengan moncong hijau. Simbol lingkaran dan bintang ICPA ada di sana.
Alex berusaha menghitung berapa banyak rudal yang meluncur tapi gagal. Mereka datang begitu cepat. Salah satunya bahkan telah mengenai bagian bahu si monster. Alex tak menyadari kalau ada rudal yang mengarah ke sana sebelumnya. Setelah ledakan pertama, ada ledakan-ledakan selanjutnya. Mereka membuat gelombang tak karuan.
Alex memejamkan mata, menghindari segala pemandangan yang mungkin tidak akan dia lupakan. Dalam kondisi seperti itu, dirinya seperti mati rasa. Seragam tempur mengurangi semua dampak pada tubuhnya. Gelombang, hempasan, suara, rasa panasnya, semua.
Ketika matanya kembali terbuka, hanya ada kegelapan. Sesuatu yang terlalu pekat ditembus oleh lampu sorot kapal selam. Butuh beberapa saat bagi dirinya untuk menyadari. Dia berada di tengah cairan berbau busuk. Serpihan si monster berenang di sekeliling. Bukan mustahil kalau ada bagian dari sana uang telah meleleh dan tercampur dalam air. Dia membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Dirinya sudah cukup tersiksa.
Sesuatu bergerak di belakangnya. Sebuah penjepit. Penjepit itu datang padanya. Rupanya penjepit pertama telah lepas akibat guncangan hebat tadi. Alih-alih membiarkan dirinya dijepit lagi, Alex mengulurkan tangan. Dia masih punya sedikit tenaga. Tangannya menggapai mekanisme tersebut.
Cahaya lain menyambutnya. Cahaya hangat. Dia mengerjap, melihat pintu kapal selam yang tengah terbuka. Bukan pintu yang familiar. Jelas juga bukan pintu keluarnya tadi. Pintu berbeda. Pintu yang lebih besar dan lebar.
Alex bergerak melalui pintu. Ketika jalan di depannya buntu, Alex tahu saatnya mengangkat dirinya ke atas. Kepalanya menyembul dari permukaan air. Udara segar mengalir masuk melalui celah-celah helm. Entah bagaimana, seragam itu selalu bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di sekelilingnya.
Di sana, dia tidak menemukan Emil atau pun Jayden. Hanya ada beberapa orang berseragam hitam, seragam lapangan ICPA. Beberapa di antaranya membawa senapan, tapi tidak dalam kondisi siap menembak. Beberapa lagi sedang menyiapkan semacam tandu beroda. Itu kapal selam berbeda.
Alex mengedarkan kepala. Sebelum dirinya sempat bertanya apa pun, dia melihat sosok mengenakan celana kain dan kemeja lembayung lengkap dengan jas putih dokter. Dr. Vanessa berlari padanya. Seolah menyambut, Alex berenang ke tepi. Berikutnya, dia sudah berada di dalam pelukan sang dokter.
Sepertinya Alex tertidur setelahnya. Saat dirinya membuka mata lagi, Alex sudah berada di dalam ruang medis. Bukan kamar seperti milik Special Force. Kamar ini lebih menyengat oleh bau antiseptik. Peralatannya tergolong lengkap dan banyak. Mereka menjejali setiap sudut ruang, membuatnya terasa sesak dan berdesakan.
__ADS_1
Dia sedang terbaring di ranjang empuk dan panas. Rasanya begitu nyaman dan melegakan, hingga dia teringat benar apa yang seharusnya dikerjakan.
“Kita harus memeriksa ke dalam.” Suaranya keluar serak, agak terputus-putus.
Sebelum Alex sempat bergerak, tangan lembut sang dokter telah menekan bahunya ke ranjang. “Tenang, Alex. Kita akan ke sana, segera setelah kamu membaik.”
“Aku…” Alex berhenti bicara. Dia menyadari dua hal. Satu, dokter Vanessa telah kembali dari Golden Brain Conference jauh lebih cepat dari perkiraan. Dua, ada selang menancap pada punggung tangannya, mengalirkan cairan biru yang sepertinya obat. Sebagai tambahan, dia masih mengenakan seragamnya. Lengkap. Berikut dengan helm hitam.
Dokter Vanessa beranjak lebih dekat. Dia berbisik tepat ke telinga Alex. “Itu hanya lima menit. Percayalah. Setelah itu, kamu akan bisa bergerak bebas lagi.”
“Apa yang…”
“Bukan berarti kalau kamu tidak akan perlu ke ruang generator, tapi setidaknya ini akan memberikanmu sedikit tambahan kekuatan untuk bisa memeriksa ke fasilitas tersebut. Percayalah padaku.”
“Dia kan siap untuk transfer,” kata dokter Vanessa penuh ketenangan.
“Aku bisa lihat itu, dok. Akan kuminta anak buahku menyiapkan terowongan.” Suara pria itu tenang dan jauh lebih ringan dari dugaan Alex. “Kami akan menanti di luar selagi kalian masuk.”
“Itu kedengaran menenangkan. Terima kasih… Ehm…”
“Fergus.” Si pria mengulurkan tangan, membuat senyum yang terlalu indah untuk berada di wajah menyeramkan tersebut.
__ADS_1
“Fergus. Benar.” Dokter Vanessa pun menjabat tangan itu.
“Jangan khawatir, dok. Kamu bukan orang pertama yang menanyakan namaku lagi. Bukan nama yang sulit dihafal. Hanya saja, pergantian itu terlalu cepat. Tak ada yang menyangka. Aku paham.”
Alex menahan diri untuk berkomentar.
Untungnya, pria itu justru mendatangi Alex. “Aku Fergus,” katanya tanpa menyebutkan nama belakang atau embel-embel lain. “Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik, Zetta Sonic. Aku dengar sepak terjangmu yang gemilang. Aku siap memberikan back up kapan pun diperlukan. Tinggal bilang saja.”
Kini Alex mengernyit. Untungnya, dia selalu bisa menemukan kata-kata manis untuk diucapkan. “Senang punya teman baru, Fergus.” Alex bicara sambil merendahkan nada suaranya, berharap bisa menyamarkan suara aslinya. Dia tidak ingin terdengar seperti bocah lima belas tahun.
Vanessa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Fergus tak membuang-buang waktu. Dia pun menangguk, berpamitan, dan pergi untuk menyiapkan terowongan apa pun yang tidak dipahami Alex. Setelah memastikan kalau Fergus pergi, Vanessa pun gantian mengisi Alex dengan informasi yang dia perlu ketahui.
“Jadi, Fergus adalah pimpinan ICPA baru di kota kita ini. Kamu tahu, pimpinan ICPA yang lama digeser karena gagal mencegah penculikan Jayden.” Vanessa mengulas senyum tipis. “Kamu lihat? Nadira peduli pada Jayden. Dia ingin Jayden kembali. Nadira bahkan memberiku izin pulang lebih cepat. Lalu, aku langsung kemari bersama bala bantuan. Kami datang tepat waktu. Aku sangat lega bisa melihat kalian baik-baik saja.”
“Kita semua ingin Jayden kembali.” Alex menarik napas dalam-dalam dan mengganti topik. “Aku enggak suka dengannya.”
“Siapa? Fergus? Kenapa? Dia agen yang baik.”
“Kupikir dia tertarik padamu.”
__ADS_1
Vanessa menggelengkan kepala, mendengus geli. Dia beranjak ke mekanisme di sisi kanan dan mengutak-atik sesuatu di sana yang menghentikan aliran cairan biru. “Baik, seharusnya itu sudah cukup. Sekarang, saatnya memeriksa apa yang ada dalam fasilitas itu.