Zetta Sonic

Zetta Sonic
Fish Tank


__ADS_3

Dibangun di tepi laut, Debura memang membanggakan akuarium mereka. Bangunan itu merupakan akuarium terbesar di kota, mengalahkan akuarium buatan pemerintah. Sekalipun sudah berusia lima tahun, tidak ada tanda-tanda penuaan pada gedung tersebut. Setiap sisinya dirawat dengan baik.


Alex masuk dari pintu belakang dalam kondisi stealth mode. Dia perlu menemukan di mana si monster.


Lorong panjang menyambutnya. Pencahayaan lampu kuning membuat kondisinya temaram. Bagian lantainya dilapisi karet, menghindari licin. Kondisinya memang cukup basah. Lorong itu dihiasi beberapa pintu di sisi kiri juga dua lorong lain di sisi kanan. Ukurannya sama besar dengan lorong itu.


Alex cukup yakin mereka membawa monsternya ke salah satu lorong tersebut. Ukuran truk itu lebih besar dari ukuran truk yang datang ke sekolah Alex. Dia berharap monsternya tak lebih besar pula, meski itu agaknya terlalu indah untuk jadi kenyataan. Ada genangan air lebih besar pada sisi lorong pertama, jadi dia masuk ke sana.


Lorong tersebut berakhir pada ruangan luas. Separuh sisinya berlantai kasar, separuh lagi merupakan air. Ini mengingatkan Alex pada infinity pool. Bedanya, penghuni kolamnya adalah ikan dan dia tidak sedang berada di atas gedung. Kolam itu menyambung pada keseluruhan akuarium.


Saat melihat adanya sebuah kontainer bening raksasa di pinggir kolam, Alex tahu telah terlambat. Lawannya telah  memasukkan apa pun isinya ke dalam akuarium. Dan, apa pun itu, telah memakan korban pertamanya. Ada bercak-bercak darah di lantai, begitu pula bau amis darah pada airnya.


“Jadi, kita berhadapan dengan dinosaurus laut?” bisik Alex. Jantungnya berdegup begitu kencang. Dia tidak pernah berpikir harus bertarung di dalam laut. Sekalipun dilindungi oleh seragam tempur, Alex tak yakin dia bisa memenangkannya. Dadanya terasa sesak bahkan sebelum masuk. Bau ikan ditambah amis darah membuatnya mual.


[Memulai pencarian.] Suara Emil terdengar lagi. [Kita beruntung. Debura memasang banyak kamera pengawas. Di dalam akuarium.]


“Aku akan masuk.” Meski Alex mengatakannya, ada kegelisahan besar dalam hati. Dia ragu. Pengalamannya tenggelam kembali menghantui tanpa diundang. Tanpa dia sadari, tangannya pun gemetar.


[Alex.]


“Ya, ya, aku akan bergerak.”


[Kamu takut?]

__ADS_1


“E-- Enggak.” Alex mendapati dirinya kesulitan berbohong.


Untungnya, Tiger menangkap apa yang salah. [Hei, bocah! Kalau kamu tenggelam, aku akan menyeretmu naik dengan tanganku sendiri. Kami siap memberimu bantuan.]


Alex mendengus. Berusaha menertawakan ketakutannya sendiri. “Di mana kamu?”


[Di pintu masuk dengan seragam konyol. Memaksa menutup akuarium ini dengan alasan pembersihan.]


“Petugas lain bisa menangkap basah aksimu.”


[Ya, di dalam mimpi mereka.]


Alex membayangkan Tiger akan membuat pingsan setiap petugas yang berani menghentikannya. Kalau Tiger bisa mengeluarkan orang-orang di dalam sana, risikonya seharusnya berkurang. Seragam tempur itu juga dilengkapi sistem oksigen yang dibuat untuk menyelam. Ada Tiger dan Emil di belakangnya. Alex menarik napas dalam-dalam lalu melempar dirinya sendiri ke dalam tangki ikan akuarium.


Bagi Alex yang baru pertama kali menyelam ke dalam akuarium semacam itu, dirinya sangat terkesan. Debura memiliki akuarium yang indah. Karang, bebatuan, tanaman, juga setiap ikan yang ada merupakan pilihan. Alex tidak tahu soal izinnya, tapi apa yang ada di dalam sana enak dilihat. Kalau saja dia punya waktu, Alex akan berkunjung ke sana lagi. Mungkin bersama Leta. Sayangnya, dengan kasus seperti ini, dia ragu kalau Debura akan tetap beroperasi.


Menyelam lebih ke bawah membawa Alex mendekat pada lorong pengunjung. Dirinya hanya berbatasan kaca dengan seorang anak kecil. Anak itu seorang diri, tanpa orang dewasa sama sekali. Tebakan Alex, dia tertinggal ketika para pengunjung dipaksa meninggalkan akuarium. Untuk sejenak, Alex ragu harus berbuat apa. Mata bulat anak itu melekat padanya sementara mulutnya menganga lebar. Berikutnya, dia melihat bagaimana ada bayangan besar datang menutupi si anak.


Tentu saja, bayangan yang sama datang dari belakang Alex. Si monster!


Alex berpaling tepat waktu. Seekor monster tengah berenang cepat padanya. Bentuknya sepintas seperti buaya. Tubuh hijau kelabu, dua pasang kaki pendek, ekor gemuk, hanya saja mukanya berbentuk segitiga pendek. Mulutnya terbuka, menunjukkan deretan gerigi kecil dan tajam. Menggunakan tepian karang, Alex menjejaknya untuk kabur.


Seorang pria dewasa berteriak histeris sambil mengangkat si anak kecil. Dia melihat bagaimana seekor monster sepanjang tiga meter menabrak kaca. Tentu saja kacanya langsung retak parah. Pria ini pun lari tunggang langgang.

__ADS_1


[Metoposaurus.] Emil memberikan informasi yang tidak diperlukan.


Sesuai dugaan Alex, bertarung di dalam air dan di darat jelas dua hal berbeda. Dirinya tidak bisa berenang secepat si monster. Alex bisa merasakan tekanan dari berbagai sisi. Si monster tak perlu bergerak jauh untuk menangkap Alex. Ukuran mereka sangat berbeda. Sementara Alex harus berenang di antara karang, berharap salah satunya akan menghalangi si dinosaurus.


[Tembak dia!] Emil memberi perintah.


Alex ingin sekali melakukannya, hanya saja pikirannya dipenuhi oleh rasa panik. Selain itu, dia perlu sedikit jarak untuk menembak dengan akurat. Alex mendapat ide. Dia mulai mendekat ke sisi kaca lorong pengunjung.


[Dia tepat di belakangmu.] Lagi-lagi, Emil memberikan informasi yang tidak diperlukan.


Alex tahu, dia bisa melihatnya tepat di radar. Bahkan dengan kekuatan Zetta Sonic sekalipun, Alex tak bisa bergerak cepat di dalam air. Dia harus membuat si monster menabrak kaca lagi seperti tadi. Jadi, Alex berenang dekat dinding kaca. Si monster mengikuti dengan ganas. Ketika monster itu bersiap menyerang, Alex naik secepat yang dia bisa. Setidaknya kali ini Dragon Blood membantu memberikan dorongan.


Monster itu menabrak kaca lebih kencang daripada pertama. Kaca pun langsung retak parah. Tak perlu menunggu waktu lama, retakan membesar. Dalam sekejap tekanan tersebut membuat kacanya pecah. Semua isi dari akuarium tersedot ke luar. Dimulai dari si monster dinosaurus, disusul ikan, bahkan termasuk Alex.


Ini jelas bukan solusi terbaik, tapi setidaknya itu solusi.


Pandangan Alex kabur. Dia tak tahu bagaimana dirinya bisa terseret keluar. Dia hanya tahu harus menutupi kepalanya. Cara itu ada di buku panduan yang diberikan Jayden lewat Zet-Arm. Teknik ini terbukti ampuh. Alex mengerjap di atas lantai yang tergenang. Setidaknya ada genangan air selutut di sana.


Entah bagaimana, namun ada bagian-bagian tertentu dari akuarium yang tidak tersedot ke luar. Mungkin mereka berasal dari tangki ikan yang berbeda. Alex mendapati isi akuarium berserakan di sekelilingnya. Dia sedikit merasa bersalah pada ikan-ikan itu, kecuali si monster yang juga menggelepar.


[Jangan cuma diam. Habisi dia.]


“Apa?”

__ADS_1


[Metoposaurus adalah dinosaurus amfibi.]


__ADS_2