Zetta Sonic

Zetta Sonic
S18 - (Spring) The Sting


__ADS_3

Mark tahu ada yang tidak beres. Kecemasannya bertambah ketika melihat pondok mereka terang benderang, jauh lebih terang dibandingkan kondisi sekitarnya. Dia melihat ada orang-orang lain di dalam. Dua wanita mengenakan pakaian putih, sepertinya perawat atau semacam itu. Seorang laki-laki tua yang mungkin tabib atau semacamnya. Putranya, Alex, berbaring di atas matras tertutup selimut dan kompres.


“Apa yang terjadi?” Mark bertanya. Dia sadar kalau nadanya cukup tinggi. Dia menjatuhkan barang-barangnya ke bawah dan langsung menghampiri Alex. “Apa yang terjadi?” tanyanya untuk kedua kalinya, kali ini lebih pelan dan sedikit bergetar.


Salah seorang wanita di sebelah Alex berbaring berusaha menjelaskannya. Itu tidak membantu. Laki-laki tua itu mengangkat tangan. Si wanita pun berhenti bicara. Si laki-laki tua menatap Tesiana dan mengangguk. Setelahnya, dia bersama kedua wanita itu pun berdiri dan pergi.


“Dia sakit,” ujar Tesiana cepat. “Tabib dan perawat di sini berusaha menolong, tapi tak ada hasil.”


“Alex kenapa?” Mark bertanya lagi. Dia tak memedulikan para tenaga medis yang sedang membereskan barang-barang mereka. Dia hanya menginginkan jawaban. Putranya bukan hanya pucat tetapi sama sekali tak merespon pada sentuhannya. “Apa yang terjadi?”


“Dia bermain bersama anak-anak di sini setelah makan malam. Mereka terlalu terbawa suasana dan tak memperhatikan kondisi sekeliling. Waktu itu ada—”


“Dia digigit kalajengking?” Mark menebak. Dia menemukan tangan kiri Alex punya bekas bengkak dengan satu titik merah.


“Lebah,” jawab Tesiana. “Dia disengat lebah pembunuh. Awalnya dia hanya merasa gatal. Lalu, tiba-tiba saja dia muntah. Napasnya sesak dan dia pingsan. Kami segera membawanya ke perawat. Dia ditangani dengan cepat tapi kondisinya menurun.”


“Anaphylaxis,” sahut Dominic. Meninggalkan barang-barangnya di sudut ruangan, dia menghampiri Alex. Tangannya menyentuh leher kecil itu. “Ini buruk. Apa Alex punya alergi pada lebah?”


Kali ini Mark gelagapan. “A— Apa? Ba— Bagaimana aku bisa tahu soal itu?”


Dominic mengabaikan reaksi Mark. Dia berbalik pada Tesiana yang sudah berlutut di sampingnya. “Kumohon beri tahu aku kalau orang-orang ini sudah memberinya Epinephrine.”


“Sudah.” Tesiana mengangguk. “Terima kasih pada ICPA, mereka punya obat itu di sini.”


Dominic menoleh, melihat para tenaga medis itu telah meninggalkan pondok saat ini. “Mereka pergi begitu saja? Serius?” Dominic berusaha memanggil orang-orang itu. “Hei! Ada pasien yang harus mereka selamatkan di sini. Bagaimana kalian bisa pergi begitu saja? Hei! Jangan pergi!”

__ADS_1


Tesiana berbisik, “Mereka tidak paham bahasa kita, ingat?”


Mark mengusap wajah putranya tanpa memahami apa yang harus dilakukan. “Apa yang akan terjadi pada Alex?”


“Dia akan baik-baik saja asal kita membawanya ke rumah sakit,” ujar Dominic. “Kupikir  Epinephrine saja tidak cukup. Alex butuh penanganan lebih lanjut. Tesiana, bilang pada ayahmu kalau kita akan pergi dari sini sekarang. Kami butuh kapal yang cepat. Sekarang juga.”


Tesiana tak bisa menghentikan protesnya. “Tu— Tunggu! Kamu bercanda? Ayahku tidak akan membiarkan itu terjadi. Masih ada banyak hal yang harus kalian selesaikan di sini. Lagipula, melewati sungai semalam ini sangat berbahaya. Tidak akan ada yang mau mengantar kalian.”


“Kalau begitu, akan kusetir sendiri kapalnya!” Mark nyaris berteriak. “Alex dalam bahaya. Akan kulakukan apa pun untuk membawanya keluar dari desa ini. Entah itu dengan kapal atau memanggil pesawat tempur ICPA.”


Tesiana langsung mengatupkan bibirnya. Mark bukan mengancam, dia memang bisa melakukannya. Dengan sedikit sinyal darurat, maka ICPA akan mengirimkan bala bantuan ke sana. Mungkin Mark harus menjelaskan aksinya nanti bahkan mungkin akan kena hukuman karena itu, namun dari sorot mata Mark, Tesiana tahu itu risiko yang siap diambil.


Wanita itu mendesah pendek. “Kalau begitu, berkemaslah. Jangan salahkan aku kalau ada buaya di depan kalian.” Sebelum berdiri dan meninggalkan pondok, Tesiana bicara lagi. “Satu hal yang perlu kamu ingat, Mark. Kamu yang membawa putramu ke sini. Kamu yang melibatkannya. Bukan kami.”


Mark bergeming, tak berani menatap lawan bicaranya. Matanya terpaku pada Alex.


“Dia benar. Aku yang membawa Alex dalam bahaya.” Mark menarik putranya perlahan. Dia memeluknya tapi tak berani erat-erat. Alex terasa begitu ringkih. Napas pelan Alex terasa begitu samar menerpa leher Mark. Entah berapa lama lagi Alex bisa bertahan. Mark tak mau membayangkannya namun pikirannya tak bisa dicegah. Setidaknya dia bisa menahan air yang hendak membasahi pipinya.


“Dia akan baik-baik saja,” bisik Dominic nyaris tanpa suara.


“Ini salahku.” Suara Mark bergetar.


“Itu kecelakaan. Risiko pekerjaan. Tidak ada yang menyangka semua bisa jadi seperti ini.”


“Aku yang bekerja. Aku yang seharusnya menerima risikonya, bukan putraku. Aku memaksa agar Alex ikut. Aku mendorongnya terlalu keras untuk membantu. Aku—” Mark berhenti sejenak. “Aku ayah yang egois.”

__ADS_1


“Kamu mendorong Alex untuk membantu?” Dominic mengulang kalimat Mark. “Apa yang kamu lakukan? Bilang pada Alex kalau kalian akan main mata-mata di tengah hutan hujan?”


Mark tak menjawab.


“Oh.” Justru saat itu, Dominic sadar kalau tebakannya benar. “Kamu ingin dia jadi sepertimu? Kamu mempersiapkannya jadi…” Dominic menahan napas lalu bicara tanpa suara sungguhan kali ini, “agen?”


“Alex pintar. Dia bisa menolong lebih banyak orang kalau ada di posisiku.”


“Dia masih empat tahun. Atau, lima tahun. Aku lupa. Kenapa kamu melakukan ini padanya?”


Mark menatap Dominic lekat-lekat. “Aku ayah yang buruk. Sekarang, dia sekarat.”


“Mungkin itu benar. Kamu ayah yang buruk dan putramu sekarang selamat.” Dominic menghela napas panjang. “Tapi, tidak akan lama. Dia akan baik-baik saja.”


“Asal kita tiba di rumah sakit tepat waktu.” Mark mendesah. “Jujurlah padaku. Berapa lama Alex bisa bertahan?” Suara Mark bergetar lagi. “Aku,” tambahnya, “ingin bersiap untuk yang terburuk.”


“Kalau begitu, jujur saja aku tidak tahu. Aku bahkan tidak yakin kita bisa tiba di sana.”


“Ini malam hari. Kita tidak tahu berapa lama bisa sampai di rumah sakit.” Mark membiarkan kecemasannya keluar. Ucapan Dominic membuatnya sadar penuh kemungkinan mereka yang kian tipis seiring berjalannya waktu. “Mungkin seharusnya kita memanggil pesawat dari ICPA. Dengan begitu, kita bisa lebih cepat—”


Dominic melambaikan tangan. Dia melarang tapi tetap dalam bisikan. “Jangan, itu akan membawa kita semua dalam bahaya. Misimu menangkap pengkhianat suku seharusnya rahasia. Kamu membahayakan karirmu sendiri. Kita juga membawa air mereka. Kalau sampai ketahuan—”


“Kamu hanya memikirkan penelitianmu,” sahut Mark. “Seharusnya aku tahu!”


“Apa? Bukan. Aku memikirkan putramu. Aku ini dokter, ingat? Kita akan selesaikan semuanya di kapal.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Mark bertanya, kemudian dia melihat Tesiana mendekati pondok bersama seorang pria lain.


“Percayalah padaku,” kata Dominic lagi, “Alex akan selamat.”


__ADS_2