Zetta Sonic

Zetta Sonic
Broken Pillars


__ADS_3

Alex sudah berlari ketika hewan itu menyergap tempatnya berdiri. Suaranya hentakannya di atas tanah memberi tahu bobot hewan itu. Ada suara geraman tak ramah yang ikut terbawa angin. Namun, hawa dingin yang menyebar cepat menunjukkan dia bukan hewan seperti yang ada di buku pelajaran. Alex berlari dan berlari.


Badannya menerobos rerumputan tinggi. Kadang rerumputan itu bahkan lebih tinggi darinya. Embun yang terperangkap di dalamnya memercik ke wajah Alex. Segar dan dingin. Ujung rerumputan menusuk dengan lembut. Tanahnya juga lembut dan cenderung licin sekarang. Suara bergesekan antara baju dan rerumputan itu terasa renyah. Berbeda sekali dengan apa yang ada di belakangnya.


Hewan itu masih mengejar. Alex tak berani menoleh ke belakang. Hewan itu bergerak lincah. Suaranya menerobos rerumputan tak kalah lembut dengan milik Alex. Ini mengingatkan Alex pada kucing yang bisa bergerak lincah. Namun, sekali lagi, kucing tidak menyemburkan es.


Alex baru saja melihat sinar kebiruan memelesat dekatnya. Sinar yang disertai gelombang dingin itu menerpa rerumputan di sampingnya. Segera saja rerumputan itu membeku seperti ujung pohon di musim dingin. Ah, bukan. Lebih mirip tetesan es di tepi jendela. Es bening dengan ujung-ujung tajam. Rerumputan tinggi tersebut kini berdiri tegak tak bergeming.


Sebenarnya menerobos rerumputan tinggi tanpa tahu apa yang ada di dalam sana juga bukan hal bijak. Tapi, bagi Alex saat ini, dia lebih takut kalau hewan itu menyergapnya dari belakang daripada tersesat dalam rerumputan.


Tak awas, Alex terjerembab ketika kakinya menjumpai genangan air. Beruntung karena tangannya mendarat duluan. Alex berhasil melindungi wajahnya. Dia pun buru-buru berbalik, bersiap melihat pengejarnya.


Hewan itu punya badan seperti serigala. Keempat kakinya ramping dengan telapak yang juga ramping. Ada ujung cakar tajam di sana yang siap mencabik lawan. Tubuhnya ditutupi bulu putih kebiruan sementara ada bulu lebih tebal pada bagian dadanya. Bagian ini berwarna biru muda. Warna bulu tubuhnya berangsur gelap ketika menuju bagian ekor. Matanya hitam legam seperti langit tak berbintang.


Baiklah. Alex harus mengakui kalau dia terpukau lebih dulu sebelum merasa terancam. Alex buru-buru berguling. Lagi-lagi hewan itu menyergap tanah tempatnya berada. Tentu saja itu membuat lawan kesal. Kepalanya menoleh pada si anak. Tanpa bergerak, ekornya datang. Ekor itu menghunus pada Alex.


Alex berhasil menghindari titik vital. Serangan itu merobek kain tenun suku Kloster lalu menggores tangan kanannya hingga berdarah. Tak mau kena serang lebih lanjut, Alex berdiri. Dia menangkap adanya potongan dahan kayu di tanah. Tepat ketika hewan itu kembali menyerang, Alex mengambilnya. Dia memukulkan keras-keras potongan dahan tersebut pada lawan. Dahannya patah dan si hewan terlempar cukup jauh.

__ADS_1


“Maaf,” ujar Alex, spontan. Itu bukan keinginan Alex. Dia tak yakin apa itu memang kekuatannya atau ada kekuatan lain di dalam dirinya yang membantu. Intinya, itu bukan keinginannya.


Tanpa menunggu si hewan kembali bangun, Alex berlari meninggalkan semuanya. Dia harus menemukan jalan menuju kembali ke desa. Sejauh matanya memandang, dia hanya melihat hal yang sama. Rerumputan tinggi dan pohon-pohon yang tak kalah tinggi. Alex merasa makin kecil setiap kali dia masuk lebih dalam ke hutan.


Alex tahu dia belum berlari terlalu jauh. Mungkin jaraknya baru beberapa puluh meter dari posisinya tadi. Namun, dia merasa lelah. Sangat lelah. Jantungnya berdegup kencang. Terlalu kencang, mungkin, sampai Alex berpikir kalau jantungnya bisa melompat keluar. Pandangannya kabur dan segera saja semua menggelap.


 


 


Ketika bangun, rasa lelahnya makin menjadi. Tak ada tempat bersandar di sana. Alex membiarkan dirinya membungkuk ke depan selagi matanya mengamati sekeliling. Sepertinya, dia juga belum lama terlelap. Kondisinya tidak berbeda jauh dengan yang tadi. Sinar mataharinya masih sama, malu-malu. Keheningannya juga sama, mencekat. Selain itu, dia melihat hewan-hewan kecil. Tidak ada lebah. Pertanda baik.


Alex memeriksa dirinya sendiri. Masih utuh meski sedikit pusing dan lecet di tangan. Dirinya terdiam sejenak. Kenangan buruk menyiksanya setiap kali dia diam. Dia ingat bagaimana Naray berhenti bergerak di tangannya. Tatapan mata itu, suara bahkan aromanya, terasa begitu dekat. Saat ini, Alex bahkan berada di desa tempat Naray berasal. Bagaimana kalau Tesiana ingin membalas dendam atas apa yang dia lakukan pada Naray? Bagaimana kalau itu semua hanya sandiwara? Bagaimana kalau ternyata dia memang dikirim ke hutan untuk dibiarkan mati?


“Apa yang kulakukan?” bisik Alex pada dirinya sendiri.


Dia tak bersama dengan timnya. Dia merusak Jason dengan tangannya sendiri. Dia sendirian. Tanpa teman, tanpa keluarga, tanpa ponsel, tanpa teknologi apapun. Hanya pakaian saja yang menempel pada dirinya. Tanpa dia sadari, tangannya gemetar. Alex memeluk lututnya, bibirnya bergetar, pipinya basah. Dia membiarkan dirinya merasakan emosi itu meski hanya sesaat.

__ADS_1


“Apa yang telah kulakukan?” bisiknya lagi, suaranya tak jelas.


Dia berada ribuan kilometer jauhnya dari rumah tanpa diketahui siapa pun. Dia hanya ada di sana bahkan tanpa harapan yang jelas. Dia berharap suku Kloster akan membantunya mengetahui rahasia di balik Zetta Sonic. Dia sebenarnya berharap lebih. Dia berharap Tesiana punya jawaban akan dirinya yang mulai dikuasai Dragon Blood.


Namun.


Namun, itu semua tidak jelas. Tidak ada yang bisa memastikan kalau Gavin berada di pihaknya apalagi Tesiana. Tidak ada kepastian kalau Kloster akan membantunya. Bahkan, mungkin, tidak ada harapan baginya untuk lepas dari kekuatan itu.


Alex mencengkram lengannya sendiri. “Enggak,” bisiknya. “Aku enggak mau berakhir di sini. Enggak. Enggak…”


Entah berapa lama Alex berada dalam kondisi itu. Sedih. Kesepian. Keheningan itu membelenggunya sampai Alex menyadari ada sesuatu di dalamnya. Alex mengangkat kepalanya. Dia mengedarkan pandangannya perlahan-lahan.


Situasinya terasa berbeda. Dia kini menyadari adanya kabut tipis di sekeliling dirinya. Udaranya terasa lebih dingin. Hembusan anginnya terasa lebih kencang. Meski begitu, inderanya justru menajam. Di balik rerumputan dan pepohonan itu, matanya menangkap bayangan kelabu tinggi tak jauh dari posisinya berada. Sebuah arca.


Alex mengusap wajahnya dan bangkit. Didorong rasa penasaran, dia mulai melangkah mendekati bayangan tersebut. Semakin dekat, Alex bisa melihat bentuknya lebih jelas. Itu bukan arca, lebih mirip sebuah potongan dari pilar. Ukurannya begitu lebar sampai Alex tak bisa memeluknya. Ada ukiran pada setiap sisinya disertai motif garis dan wajik. Semuanya terlihat acak namun Alex yakin ada pola di baliknya.


Alex berputar, mengamati bagaimana ada sebuah satu garis yang menghubungkan semua bagiannya, baik itu tulisan maupun wajik. Matanya mengamati garis tersebut dan menemukan sumbernya dengan cepat. Sumbernya berupa sebuah lingkaran yang dikelilingi sebuah lingkaran lain. Tingginya pas dengan matanya saat ini. Sesuatu mengatakan dalam dirinya untuk tidak menyentuhnya. Sayang, tangannya lebih cepat.

__ADS_1


__ADS_2