Zetta Sonic

Zetta Sonic
Dawn


__ADS_3

Pukul setengah lima pagi, Gavin River sudah berada di hangar. Tempat itu tak lain adalah ruangan bulat yang punya enam lorong penghubung ke berbagai kolong jembatan di ibu kota. Saat ini, pesawat yang akan mereka naiki telah berada di tengah. Seperti biasa, Tiger akan jadi pilot mereka.


Alex jadi yang terakhir berada di sana. Dia sama sekali tidak berencana terlambat. Dokter Vanessa melakukan pengecekan lagi pada kondisi tubuhnya sebelum membiarkan dia pergi. Seandainya tak ada korban penculikan yang harus diselamatkan, dokter Vanessa pasti akan mengurungnya di kamar. Alex bisa membaca raut sang dokter dengan jelas.


Jam telah menunjukkan pukul lima kurang dua belas menit.


Alex memasuki pesawat. Dia mengenakan kaus, jeans, dan jaket. Emblem Zetta Sonic tersemat di sabuknya. Sama sekali tidak berencana memakai itu di sekarang. Di kabin tengah, Alex menemukan Gavin.


Pria itu berdiri. Dia sedikit lebih tinggi dari Jayden. Rambut ikalnya mengingatkan Alex pada temannya Ivan. Bintik di wajah itu tak lebih dari sekadar hiasan. Wajah Gavin bukan hanya tampak tegas, tapi sedikit menakutkan bila diamati dari dekat. Sorot matanya seperti pemburu, warnanya tak kalah menyesatkan dari malam berkabut.


“Gavin River.” Gavin mengulurkan tangan pada Alex.


Tanpa ragu, Alex menyambut uluran tersebut. “Kamu bisa memanggilku Alex.” Tak satu pun dari keduanya berniat membahas kejadian kemarin apalagi nama belakang Alex. Bisa berbuntut panjang.


Setelah bersalaman, Gavin menarik tangannya ke pinggang. Laki-laki itu telah mengenakan setelan hitam khas seragam ICPA. Pakaian yang juga dipakai Tiger. “Hari ini aku akan jadi asistenmu. Kamu pimpinannya. Berikan perintah. Aku akan melakukannya,” kata Gavin mungkin berusaha merendah, ada ketulusan di balik nadanya.


“Jayden yang akan memandu kita.”


“Bagus. Kalau begitu, aku akan melindungimu dari belakang.”


Jawaban Gavin justru membuat Alex canggung. Dirinya baru saja jadi agen lapangan. Ini pertama kalinya dia bekerja sama dengan agen lain. Tiger tidak masuk hitungan karena tak pernah benar-benar bersamanya sejak awal. Sedangkan Gavin akan terjun dari pesawat langsung ke atas kapal berdua dengannya.


Alex pun meninggalkannya untuk memilih tempat duduk.

__ADS_1


Tempat pukul lima, pesawat pun berangkat. Alex menduga kalau atap dari ruangan bulat tersebut bisa terbuka. Ternyata tidak. Pesawat mengudara vertikal hampir mencapai langit-langit. Mereka berputar ke arah matahari terbit. Di sana, ada pintu besar lain yang mulai terbuka. Pesawat pun memelesat dengan kecepatan tinggi menuju laut lepas.


Setelah beberapa menit terbang, Jayden pun keluar dari kokpit, membiarkan Tiger bertugas seorang diri.


“Alex, akhirnya kamu bisa melepaskan diri dari dokter Vanessa, toh! Kukira kamu terjebak dalam sesi konseling. Terlambat naik pesawat lalu malah ketinggalan.” Jayden menyunggingkan senyum usil. Senyum tersebut terbukti menular.


Bukannya tersinggung, Alex malah ikut tersungging. “Sepertinya bukan cuma aku yang dapat sesi konseling. Setidaknya dia memperlakukanku sebagai manusia bukan agen super atau pahlawan.”


Jayden mengedikkan bahu sembari menutup pintu kokpit. “Kadang aku merasa itu seperti pembicaraan dari hati ke hati seorang ibu pada anaknya.” Jayden melangkah ke tengah kabin. “Baik, biar kujelaskan lagi sedikit soal misi kita.”


Kedua agen itu ditambah Emil duduk bersama untuk mendengarkan. Jayden duduk di samping Alex. Alex bisa melihat sistem kendali Jason dari flipad yang dibawa Jayden. Drone itu siap memandunya. Kalau diingat, drone ini memang senantiasa menemani Alex dalam setiap misi. Tapi, benda itu jelas tak masuk hitungan sebagai kolaborasi agen lapangan.


Selain flipad, Jayden juga membawa tablet PC. Dia meletakkan tablet PC tersebut di atas meja. Dengan satu sentuhan, proyeksi hologram muncul di atasnya. Garis-garis cahaya membuat siluet kapal besar dengan muatan barangnya. Deretan kontainer berjajar di atas dek. Ada pula kru yang berkeliaran di atasnya. Orang-orang itu membawa senjata. Sesuatu yang terasa sedikit berlebihan.


“Mereka tidak disekap dalam peti?” tanya Alex.


Jayden menggeleng. “Tidak. Begitu mereka masuk ke kapal, orang-orang itu dilepaskan dari cangkang robot dan dimasukkan dalam sel. Semacam sel tahanan terpisah. Mereka membuatnya di dalam kontainer.”


Gantian Gavin bertanya. “Kamu yakin dengan informasi ini?”


“Kamu bisa membawa Jason kalau aku salah.” Mendengar jawaban seperti itu, Jayden merasa tertantang. “Semua informasi ini kudapat bersama Emil dari data di pabrik. Keakuratannya hampir sembilan puluh persen. Sepuluh persen sisanya bila mereka bisa mencari cara menyelundupkan orang-orang tanpa ketahuan.”


“Mengingat waktu yang mereka janjikan pada klien, itu mustahil.” Emil angkat bicara. “Klien Filip menantika pesanannya besok. Kalau tidak, hal buruk akan terjadi. Bukan soal uang. Serbuan. Kekacauan. Tragedi yang seperti kecelakaan.”

__ADS_1


Alex bergumam pelan. Berkutat di dunia seperti itu akan selalu mempertemukanmu dengan orang-orang yang sama berbahayanya. Klien Filip sepertinya tak kalah berbahaya dari Filip sendiri. Dia mulai berusaha menerka-nerka orang seperti apa itu, mengingat kalau Filip punya pasukan robot pembunuh.


Itu mengingatkan Alex untuk bertanya soal robot pembunuh terakhir. “Kamu belum menemukan di mana robot pembunuh biru? Seingatku masih ada satu robot lagi yang bisa memainkan angin.”


Gavin langsung menyahut. “Sisa satu? Kamu sudah kalahkan yang lain?”


“Robot merah menyerangku di perkemahan. Sangat enggak keren.”


Emil menahan tawa. Dia ingat Alex pernah sekali menggunakan seragam tempurnya sia-sia. Bukannya menemukan robot pembunuh, dia malah menemukan siswa yang merokok diam-diam.


Jayden malah mendesah. “Sejauh ini, kita tidak menemukan robot itu juga Filip Shah. Ada banyak kemungkinan. Kalian pasti paham. Robot itu bisa sedang mengincar targetnya, bisa juga sedang melindungi Filip dari kedatangan Zetta Sonic, dan tentu saja, bisa berada di atas kapal itu. Berdoalah bukan yang terakhir.”


“Dia merepotkan.” Gavin setuju. Tembakannya di pabrik dibuat memeleset semua oleh hempasan angin robot biru.


Alex menarik dirinya, bersandar di kursi empuk. Tatapannya menerawang ke luar jendela. Pesawat tengah mengudara. Guncangan ketika menabrak awan nyaris tak terasa. ICPA telah mengerjakan pekerjaan mereka dengan sangat baik. Sayangnya, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati. Pesawat mereka mengudara sedikit lebih tinggi dari pesawat komersial. Hanya ada awan, awan, dan awan.


Jayden, Emil, dan Gavin melanjutkan ngobrol soal peralatan. Mereka memberikan beberapa senjata juga pada Gavin. Pistol laser yang dibawa Gavin dari Regis tak lagi bisa digunakan. Dia kehabisan amunisinya. Minta amunisi tambahan akan membuat aksinya ketahuan.


Setelah beberapa saat menarik diri dari pembicaraan, Alex mendekati rekan-rekannya lagi. “Hei, mungkin ini hanya pemikiranku, tapi robot itu disebut robot pembunuh dengan satu alasan, ‘kan. Dia dibuat untuk membunuh. Kalau sampai saat ini kita tidak menemukannya dan tidak menemukan korbannya juga, artinya sedang menunggu.”


Jayden bisa menebak ke mana arah pembicaraan Alex. “Tunggu, kamu mau bilang kalau targetnya adalah …”


“Zetta Sonic.” Alex mengangguk. “Ketiganya diciptakan untukku. Robot biru itu ada di kapal. Aku tahu.”

__ADS_1


__ADS_2