
Alex mengurungkan niatnya bertemu dengan ayah dan ibunya. Tidak ada gunanya menyela perdebatan ayah dan ibu. Untuk sejenak, dia berpikir apakah itu juga adalah bentuk ketidakpeduliannya juga. Menyingkirkan semua benak tak nyaman, Alex memutuskan kergi ke kamarnya sendiri.
Roger menyalak girang melihat Alex memasuki kamar. Namun, itu hanya sejenak. Roger sadar kalau Alex sama sekali tidak menggubrisnya. Alex menuju langsung ke tempat tidurnya. Tak diketahui banyak orang kalau Alex memiliki brankas dekat nakas tempat tidur. Terdapat laci rahasia kecil di dalam laci tersebut. Laci di dalam laci itu memang tidak punya banyak ruang untuk menyembunyikan sesuatu. Lagipula, itu memang tidak begitu diperlukan. Barang-barang berharga keluarga ada dalam brankas lain atau deposit box di bank.
Alex memang tidak membeli perhiasan atau barang berharga untuk dirinya sendiri. Dia hanya pernah memberi satu barang saja yang berhak berada di sana. Setelah memungut kotak putih mungil di dalam laci tersebut, Alex menuju pintu. Roger meringkuk di dekat pintu. Melihat itu, Alex berhenti sesaat.
“Mungkin hanya kamu yang merindukan kepulanganku, Roger. Kalau sesuatu sampai terjadi…” Alex berhenti. Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Satu, Roger tidak memahami ucapannya. Dua, Alex tidak mau membayangkan hal buruk terjadi, baik pada dirinya atau pada orang rumahnya.
Alex meninggalkan kamar tanpa tahu kalau Roger berjaga di balik pintu itu, selalu setia menanti kepulangannya.
Dalam perjalanannya menuju ke pintu luar, Alex menemukan Preston sudah menunggunya di pintu keluar. Pria tua itu memandangnya dengan sayu. Alex tak berniat ngobrol. Dia sejalan begitu saja melewati kepala pelayannya.
“Kalau kamu pulang nanti,” ujar Preston yang membuat Alex berhenti, “aku akan membuatkanmu roti kismis yang lezat.”
Alex ingin sekali berpaling tetapi mengurungkan niatnya. Dia tahu kalau sampai melakukannya, dia akan mengurungkan niatnya pergi dari sana malam itu. Alex pergi begitu saja. Ya, begitu saya. Sejak kapan dia bahkan mempertanyakan aksinya meninggalkan rumah? Alex berhenti di depan pagar. Sekali lagi berpaling ke belakang. Tidak satu pun penjaga rumah repot-repot bertanya padanya. Kalau tuan mudanya bisa keluar dari rumah, maka itu artinya dia sudah melewati izin kepala pelayan.
Alex tak pernah memperhatikan kemegahan mansion tempat tinggalnya sendiri. Deretan pohon-pohon besar yang berjajar bagaikan prajurit, jalan masuk dikelilingi taman indah, gemerlap lampu rumah, juga aroma lembut dari bunga-bunga yang ditanam. Sekali lagi, ada keraguan dalam hatinya untuk pergi dari sana. Rumah itu sebaiknya tetap akan.
Alex, untuk pertama kalinya berkomunikasi lebih dulu pada para penjaga rumah di pos depan. “Jaga rumah baik-baik, ya. Jangan biarkan orang asing masuk apa pun alasan mereka.”
Penjaga pos itu saling berpandangan satu sama lain. Namun, sebelum mereka sempat merespons apa pun, sebuah mobil hitam telah mendekat. Alex masuk ke kursi sopir dan tidak seorang pun berani bertanya lagi.
[Halo, Alex! Aku sudah mengatur tujuan kita ke markas Special Force. Apa ada tujuan tempat lain yang ingin kamu datangi?]
Alex menggeleng pelan.
__ADS_1
[Apa kamu ingin menyetir sendiri atau biarkan aku yang mengantarkanmu ke sana?]
“Kamu saja.”
Alex tidak berminat melakukan apa pun. Dunianya terasa erat akan dan makin berantakan. Pertama, dia mengetahui ibunya menghiasi tajuk utama dengan skandal perselingkuhan. Kemudian, dia melihat bagaimana ayah dan ibunya berusaha menunjukkan keluarga yang harmonis di gala dinner. Lalu, sekolahnya meledak tepat ketika dia berada di dalamnya.
Baron mengincar dirinya. Teman-teman dan orang di sekitarnya tidak seharusnya jadi korban. Tidak ada yang menyalahkan dirinya. Meski begitu, rasanya tidak berlebihan kalau Alex merasa bersalah. Bahkan, Leta tewas karena dirinya. Alex merasa berantakan dan tidak punya cara untuk memperbaikinya.
Alex mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya. Dia memainkan kotak kecil itu di tangannya dan White pun bereaksi.
[Aku menemukan kamu membawa substansi berbahaya, Alex.]
“Apa kamu memeriksaku?” Alex spontan protes. “Jangan lakukan itu lagi, White.”
[Ini adalah standar pengamanan dari ICPA. Aku melakukan pemeriksaan terhadap siapa pun yang memasuki mobil dan memberikan peringatan. Hanya itu. Apakah kamu ingin aku menjadikanmu pengeculaian?]
[Dimengerti.]
Alex tidak memperhatikan jalan. Dia tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tahu-tahu saja, dia sudah berada kembali di dalam markas. Di landasan tengah itu, tidak ada seorang pun menyapanya. Tidak ada Emil, tidak ada Tiger, juga tidak ada Jayden. Semuanya sibuk mencari tahu apakah Baron serius soal ancaman bom tersebut atau tidak. Alex berjalan gontai ke dalam markas lalu masuk ke ruangannya.
Dia sendirian dan kotak putih itu masih ada dalam genggamannya. Tak lama setelahnya, Alex membuka kotak itu. Di dalamnya ada bungkusan serbuk putih. Seperti kata White, itu adalah substansi berbahaya dan tidak seharusnya dia miliki. Sesuatu yang tidak seharusnya dia beli dari pasar gelap. Alex menggenggamnya erat-erat. Dia tahu serbuk itu tidak ada yang bisa mengeluarkannya dari masalah itu. Matanya basah dan tenggorokannya sakit. Dia tahu kesalahan yang akan dia buat semakin parah dengan menggunakannya.
Tidak! Sudah cukup banyak kesalahan yang dia buat. Alex tidak mau menambahnya lagi. Alex memutuskan keluar dari ruangannya. Dia menjumpai dokter Vanessa berada di ruang tengah. Ruangan itu seperti ruang makan dengan meja dan kursi tinggi. Dokter Vanessa terlelap di sana dengan menggunakan tangannya sebagai bantal.
Alex duduk di sampingnya tanpa berniat membangunkan. Dokter Vanessa terlihat begitu lelap. Alex bergeming sambil memandangi wanita itu. Perlahan mata Dokter Vanessa bergerak. Dia membuka mata dan melihat Alex di sampingnya.
__ADS_1
“Alex? Oh! Aku pasti tertidur.” Dokter Vanessa bangun lalu mengusap matanya. “Bagaimana keadaan rumahmu? Semua baik-baik saja?”
Alex tak menjawab.
Dokter Vanessa akhirnya menyadari ekspresi ganjil dari Alex. Wajah anak itu kusut, bibirnya tegang, dan matanya merah. “Alex? Apa semuanya baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Kemudian, dia melihat serbuk putih di tangan Alex. “Apa itu? Dari mana kamu mendapatkannya?”
Alex hanya bisa mengatakan satu kata. “Tolong…”
Dokter Vanessa meraih kantong berisi serbuk putih dari Alex dan membuangnya jauh-jauh. Sebagai gantinya, dia merentangkan tangan lalu menarik anak itu dalam pelukannya. Alex bergetar, menangis. Dia hanya bisa mendekapnya erat sambil menepuk punggungnya. “Aku tahu semua terlihat kacau, tapi percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku… membuat mereka… dalam bahaya. Semua gara-gara… aku.” Alex berusaha agar suaranya tetap jelas. “Aku benar-benar berantakan.”
“Bukan, Alex. Kamu tidak berantakan. Itu bukan salahmu. Itu salah Baron. Dia berusaha mendapatkan cinta Caitlin dengan cara yang salah. Dia punya hidup berantakan dan berusaha membuat kita semua mengalami hal yang sama.”
“Aku juga berusaha… mendapatkan cinta dari… orang tuaku.”
“Orang tuamu selalu mencintaimu.”
“Tidak. Mereka bertengkar… gara-gara aku. Aku membuat… hidup semua orang berantakan.”
“Tidak. Itu tidak benar. Kamu membuat perubahan. Kamu membuat ayah dan ibumu menghadapi permasalahan bukan malah lari. Dan, masalah Baron ini. Kita akan mengatasinya bersama-sama. Kamu lebih baik darinya. Benar ‘kan?”
“Tidak. Aku… tidak tahu. Aku merasa… begitu kacau.”
“Kamu tahu semua akan baik-baik saja.”
__ADS_1
“Tidak.”
“Tentu saja kamu tahu. Kalau tidak, kamu tidak akan ada di sini.”