
ZETTA SONIC
Second Arc : Brotherhood
Ketukan keras di pintu kamar membuat Rover menyalak keras. Alex tersentak karenanya. Si anjing rottweiler mendatangi pintu sambil menggoyangkan ekor. Dia tahu sarapan telah datang.
“Aku masuk, Alex!” suara melengking Mrs. Bellsey terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. “Kamu tahu sekarang jam berapa!?”
Alex melompat keluar dari ranjang. “Ya, ya. Aku tahu.”
Alex telah mengenakan seragam. Dia juga sadar seharusnya sudah turun untuk makan pagi setengah jam yang lalu. Kini, si pengawas dan seorang pelayan wanita datang membawakan makan paginya dan Rover ke kamar. Mrs. Bellsey dan Preston lebih suka kalau majikan mereka turun ke ruang makan. Alex sendiri juga setuju ide mereka. Dia sama sekali tidak berniat ketiduran saat membaca buku.
Alex memasukkan bukunya dalam nakas sebelum menyambar tas ransel dan menghambur ke ruang satunya. Kamarnya memang terbagi jadi dua bagian, tiga sebenarnya kalau kita hitung kamar mandinya juga. Dua bagian lainnya merupakan ruang untuk tidur dan ruang untuk belajar.
Alex selalu bangga pada komputernya. Bukan hanya karena dia punya layar raksasa dengan dua layar pendukung atau banyak konsol permainan. Dia selalu bangga akan kecanggihannya. Lebih dari itu, dia sendiri yang merakitnya.
Mrs. Bellsey berkacak pinggang di samping meja kopi. Pelayan telah meletakkan makan paginya di sana. “Terlalu banyak bermain Drake and His Land semalam?”
“Eeee… Ya!” Alex menjawab asal. Dia tahu jelas jawaban itu lebih membuat pengawasnya tenang daripada memberi tahu kalau dia begadang membaca buku soal senapan dan cara menggunakannya. “Jangan khawatir, Mrs. Bellsey. Aku sudah mengerjakan semua tugasku. Kujamin padamu, seperti biasa aku juga akan dapat nilai sempurna di kuis hari ini.”
“Semoga itu bukan hanya kebohonganmu belaka, anak muda.”
“Tentu saja tidak. Kamu terlalu pintar untuk kubohongi.” Itu jelas tak lebih dari bualan dan ledekan. Alex berulang kali berbohong dan tak seorang pun tahu. Itu keahlian yang jelas tak perlu diumbar apalagi dibanggakan. Alex menjatuhkan dirinya di sofa. Tangannya siap menyambar roti isi di atas meja.
__ADS_1
“Kamu sudah cuci tangan?”
Pertanyaan Mrs. Bellsey membuatnya tertegun sejenak. “Aku akan segera kembali.”
Alex beranjak cepat ke kamar mandi untuk cuci tangan. Dia melewati pelayan wanita yang sedang menanti Rover menyelesaikan sarapannya. Anjing itu makan dengan lahap dan cepat. Sama seperti sang majikan, makanan Rover pun sudah diatur. Anjing itu harus siap beraksi kapan pun.
Manor tempat Alex tinggal ini memang memiliki lebih dari satu ekor anjing. Seingat Alex setidaknya mereka punya empat Doberman Pinscher dan dua German Shepherd. Rover berbeda. Pada dasarnya, tugas utamanya melindungi Alex bukan melindungi rumah. Itu juga sebabnya kenapa Rover bisa tidur di kamar Alex. Selesai makan, Rover mengikuti Alex kembali ke sofa. Dia duduk tenang, menanti kalau-kalau Alex akan membagi makanannya.
Alex menggeleng. “Tidak, Rover. Lagipula kamu ada pelatihan siang ini.” Alex mulai menikmati makan paginya.
“Dan, kamu punya banyak kursus tambahan,” sahut Mrs. Bellsey.
“Iya, benar. Aku juga.” Alex berkata lirih. Misi dari ICPA membuatnya menghilang berhari-hari dari rumah. Sekarang, Mrs. Bellsey bekerja keras agar dia bisa mengejar semua ketertinggalannya. Termasuk kursus piano yang tidak begitu dia suka.
“Lalu, ada acara camping minggu ini.”
Mrs. Bellsey menggelengkan kepala. “Kamu harus belajar tanggung jawab pada dirimu sendiri, Alex. Kamu enggak mungkin mengandalkan orang lain untuk mengingatkanmu terus. Acara sekolah, jadwal kursus, pekerjaan rumah, kuis, dan banyak lagi. Kamu bukan anak kecil lagi. Kelak kamu akan menyadari betapa kejamnya dunia ini.”
“Aku tahu. Terima kasih sudah mengingatkanku, Mrs. Bellsey.”
Alex sudah pernah mengalaminya langsung. Berulang kali. Minggu lalu. Sebelum pikirannya bergerak lebih jauh, Alex segera menghabiskan makan paginya, dan berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Perbaikan markas rahasia Special Force Zetta Sonic akan makan waktu yang tidak bisa ditentukan. Menurut Jayden, Sonic tidak akan muncul untuk sementara waktu. Ini saatnya menebus waktu yang telah hilang. Alex tak pernah menyangka akan merindukan teman-teman, keseruan mereka bermain bersama, obrolan makan siang, bahkan guru mereka yang menyebalkan dan tak ramah.
Sekolahnya terletak di tengah kota. Hanya ada dua kategori orang yang bisa bersekolah di sana. Satu, anak orang kaya. Dua, anak petinggi negara. Sekolah ini bukan hanya mengunggulkan kurikulum mereka tapi juga keamanan mereka. Tidak sembarang orang bisa keluar masuk seenaknya. Para penjahat akan berpikir dua kali untuk menculik siswa Wood Peak School.
Sebagai sekolah elite, setiap kelas hanya memiliki kurang dari dua puluh siswa dengan guru ahli berbeda di setiap mata pelajarannya. Mereka mengajar anak-anak berusia dua belas sampai delapan belas tahun. Seragam mereka juga buatan perancang ternama. Blazer hitam, celana kain senada, kemeja biru muda, dilengkapi dasi bergaris dan bordir emblem sekolah. Alex tak pernah mempermasalahkan seragamnya. Dia juga tidak pernah mengaguminya.
Ibu Alex, Alicia Remnant, yang biasanya pulang sebulan sekali baru saja membuka butik. Alex ingat bagaimana ibunya pernah memuji seragam sekolah itu. Bagi Alex, asalkan nyaman dipakai, itu cukup. Alex lebih suka mengagumi program sekolahnya.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Wood Peak mengajarkan banyak hal pada siswanya. Terlepas apakah itu sebuah rasa tanggung jawab agar siswanya bisa melindungi sendiri atau alasan untuk meningkatkan uang sekolah. Alex selalu menanti-nantikan kelas Self-Defense yang diadakan seminggu sekali, setiap hari selasa seusai makan siang. Sekalipun namanya Self-Defense, mereka pernah diajari menembak.
Kalau diingat, Alex menembak dengan jitu waktu itu. Sang guru memujinya. Dia tidak tahu kalau Alex sudah pernah mempelajarinya sendiri. Bukan hal sulit. Kalau diingat-ingat lagi, Alex pernah melihat ayahnya berlatih menembak di halaman belakang manor. Waktu itu, dirinya masih kecil. Sepertinya bahkan belum lulus sekolah dasar. Siapa sangka kalau ayahnya sedang berlatih sebagai pimpinan ICPA.
Alex mendesah saat kembali teringat ayah. Setidaknya, kini dia tahu pekerjaan ayahnya. Dia ingin tahu lebih banyak.
“Tuan.”
Alex melirik sopir di mobilnya. Si sopir sedang melihatnya juga. Saat itu, Alex baru sadar kalau telah sampai di sekolah. “Benar. Kita sudah sampai.” Alex turun sambil menenteng tas. Dia mengamati gedung sekolahnya yang megah.
Gedung sekolah itu kelihatan sama seperti sekolah lainnya. Tinggi dan lebar dengan banyak kaca. Kelihatan modern tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan gedung ICPA. Alex mulai bertanya-tanya bagaimana gedung ICPA pusat Sinde. ICPA setidaknya punya satu gedung di ibu kota seperti ini. Seharusnya, pikir Alex.
Sesekali, dia melirik Zet-Arm di tangan. Indikatornya menunjukkan kalau energinya masih penuh. Sekolah tidak akan menghabiskan energi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia juga tidak perlu mengkhawatirkan nilainya. Sering bolos tidak memengaruhi nilainya. Kalau ada yang perlu dikhawatirkan sekarang sepertinya hanya menu makan siang yang tidak enah. Dan, satu lagi, teman sekolah yang berulah.
__ADS_1
Seperti sekolah lagi, Wood Peak juga punya siswa-siswa sok berkuasa dan pembuat masalah. Alex melihat anak laki-laki yang lebih besar darinya sedang mencengkram kerah siswa lain yang lebih kecil.
Alex mendesah sambil mendekat. “Hal begini enggak pernah berubah, ya.”