Zetta Sonic

Zetta Sonic
Bridge


__ADS_3

Ledakan itu bukan kembang api. Dahsyatnya jauh berbeda. Bom milik ICPA memang punya daya ledak lumayan sekalipun bentuknya mungil. Ketika dia ditempelkan pada peti kemas berisi tepung berkualitas tinggi, ledakannya jadi berlipat ganda. Alex tak perlu mendapatkan bubuk mesiu untuk menjalankan idenya. Tepung yang mudah terbakar sudah cukup membantunya.


Kapal pun berguncang hebat karenanya. Alex sempat merasa bersalah. Dirinya berharap kalau kapal tidak akan tenggelam dan tak ada korban jiwa di sana. Tentu saja, selain si robot biru. Alex masih melayang di sana, menanti.


Asap tebal membumbung tinggi. Pra kru berlarian panik. Sepertinya mereka lebih tak ingin kapal itu tenggelam. Selain itu, mereka juga tak ingin barang semua bawaan mereka hancur. Sebagian dari orang-orang itu berusaha memadamkan api. Setelah beberapa menit berdiam di sana mengamati, Alex mendapati tak ada tanda-tanda dari si robot. Dia pun terbang ke arah pesawat ICPA.


Pertarungan masih terjadi. Gavin sudah tak lagi sendirian. Tiger bersamanya. Alex sempat bertanya-tanya siapa yang mengemudikan pesawat hingga dia teringat pada kecanggihan sistem pesawat ICPA. Selain Tiger, ada Jason. Si drone mungil berpegangan pada selusur pengaman sambil melepaskan tembakan.


Pesawat mereka sendiri punya beberapa lubang pada dindingnya. Orang-orang itu jelas mencoba melubangi pesawat mereka. Untung saja ICPA sudah mengembangkan semacam pelindung plasma yang bisa menahan serangan. Mereka juga punya senjata yang bisa diputar. Alex melihat empat moncong pistol mengarah ke kapal.  Tak heran kalau Gavin bisa melindungi gadis-gadis itu. Dia tidak sendirian.


Alex langsung bergabung dalam pertempuran yang sudah di ujung. Setidaknya hanya tersisa tiga atau empat orang. Satu baru saja jatuh mendapat pukulan telak di perutnya. Sementara sisanya mulai bergerak mundur ketika melihat kehadiran sosok Zetta Sonic. Saat Alex mencabut pedangnya, ketiganya langsung lari tunggang langgang.


“Dasar Sok!” gerutu Gavin. Meski begitu, ada senyum di wajahnya.


“Masuk ke pesawat!” Tiger tidak memberikan mereka waktu sedikit pun untuk bersantai.


Pesawat pun perlahan berputar. Kini bagian belakangnya menghadap ke kapal. Sebenarnya, mereka juga bisa saja menembak para kru dengan posisi ini. Sayangnya, bagian belakang pesawat ini lebih rentan ditembak juga meledak. Kalau pelindung plasma gagal muncul sedikit saja, tembakan bisa mengenai pendorong. Tidak akan ada yang mau hal itu sampai terjadi.


Dengan posisi ini, Alex menyadari dorongan jet dari pesawat mreka membawa hawa panas yang sangat tidak bersahabat. Sayangnya, mereka tak punya banyak pilihan. Hanya pintu bagian belakang yang punya ukuran luas disertai jembatan panjang. Wajar saja karena bagian ini memang pintu keluar masuk barang-barang dan kendaraan.


Ketika pintu terbuka, Emil terlihat berada di ujung sana. Dia mengaktifkan jembatan yang terus memanjang hingga mencapai ke kapal. Setelah jembatannya mencapai ujung, Emil berlari sambil membawa sabuk dengan tali pengait. Sabuk yang sama persis dengan yang sedang dia kenakan saat itu.

__ADS_1


“Pakai ini! Satu per satu!” Emil berteriak, mengatasi semua kegaduhan.


Tiger memakai sabuknya sendiri. Emil membantu salah seorang gadis mengenakannya. Bersama Tiger, gadis itu menyeberangi laut di atas jembatan logam buatan ICPA. Tali pengaman memastikan mereka tak akan terhempas angin laut. Meski demikian, gadis pertama itu ketakutan. Dia bahkan tak berani melangkah. Tiger tak banyak bicara. Dia mengangkat si gadis, menggendongnya masuk ke pesawat.


Sementara itu yang lain menunggu di luar. Pesawat mereka hanya punya tiga tali pengaman semacam itu. Selagi menanti, Gavin berpaling ke arah kapal, dia bersiap dengan senapan milik kru. Dia berhasil merebut satu dari mereka. Dia bisa juga merebut yang lain kalau diperlukan. Ada beberapa kru pingsan di sekeliling mereka. Masih bersenjata tapi jelas tak akan bangun dalam waktu singkat.


Alex mendekati Gavin. Dia mendapati berjalan jauh lebih sulit daripada terbang di sana. Ombak tinggi membuat kapalnya bergoyang-goyang. “Kamu tertembak.” Ucapan Alex lebih mirip seperti pertanyaan.


“Terserempet peluru. Aku enggak akan bisa berdiri kalau sampai kena tembak sungguhan,” balas Gavin.


“Bagaimana kamu melakukannya?” Alex melemparkan pertanyaan persis seperti pertanyaan Gavin padanya.


Meski pertanyaan mereka saling tumpuk, Gavin memberikan jawaban lebih dulu. “Secara teori, kamu bisa menghindari tembakan bila fokus pada moncong pistol. Lagipula, kapal itu bergerak. Orang-orang itu tidak bisa membidik dengan tepat.” Gavin pun balik bertanya. “Bagaimana kamu melakukannya? Maksudku, bagaimana kamu bisa tahu?”


Kemudian, Gavin menyingkap fakta lain. “Silvy tak ada di sini.”


“Apa!? Bagaimana bisa? Data itu berasal dari pabrik ‘kan?”


Jayden menjawab mereka. [Mungkin ada perubahan rencana atau apa. Tapi, pegang kata-kataku. Kita akan menemukannya, Gavin.]


“Kutagih janjimu segera setelah kita keluar dari sini.”

__ADS_1


[Bicara soal urgensi, seharusnya Alex bisa menggendong salah satunya seperti Tiger tadi. Itu jauh lebih cepat dan praktis.] Jayden masih bicara melalui jaringan komunikasi. Semua orang kecuali para gadis bisa mendengarnya dengan jelas. [Emil, jangan lupa bawa Jason masuk bersamamu!]


“Siap, senior.” Emil melirik si drone yang bergeming pada posisinya. Dia seperti laba-laba ketakutan di atas kapal. Ketika Emil mengulurkan tangannya, si drone pun berpindah lalu menekukkan kaki-kakinya di telapak tangannya.


Tiger masih ada di ujung pintu, tengah membantu si gadis melepaskan tali pengamannya. Dia kelihatan sedikit kesulitan. Setelah beberapa menit berjuang dengan tali, Tiger kembali ke ujung pesawat untuk menjemput yang lain. Gadis kedua ini lebih mudah diajak berjalan, tidak setakut yang pertama, malah terlihat sudah biasa.


Namun, kali ini mereka tak menunggu Tiger kembali. Kapal berguncang hebat. Semuanya menoleh ke arah yang sama. Ke arah deretan peti kemas di belakang mereka. Tanpa bisa dijelaskan, Alex merasakan bahaya. Tidak ada ledakan, tidak ada kobaran api lebih dahsyat, hanya guncangan. Pemandangan di depan Alex berkilat hijau. Hanya sesaat. Seperti kilat tapi ini warna hijau. Kekuatan dalam dirinya bergejolak. Dragon Blood bereaksi tanpa dia minta. Ini bukan insting. Lebih seperti macan yang terbangun dari tidur.


“Pergi! Sekarang!” Alex berteriak.


Emil tak sempat bertanya apa alasannya, Alex telah mendorongnya. Dia bahkan menyuruh si gadis memeluk Emil sepanjang jalan di jembatan agar tak terhempas oleh angin. Gavin juga tak sempat bereaksi.


Guncangan pertama membuat kapal tak bisa berlayar dengan tenang. Ditambah hempasan ombak, kapal bergoyang tak menentu. Bahkan ada satu waktu ketika jembatan pesawat tertabrak oleh badan kapal.


“Gavin, pergi! Cepat!” Alex meminta lagi.


“Apa yang--” Gavin berhenti, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Di belakang Alex, ada pemandangan menakjubkan dan menakutkan di waktu yang sama. Sebuah angin ****** beliung muncul dari dalam asap kelam. Perpaduannya seperti jin yang keluar dari botol. Hanya saja itu bukan jin dan bukan dari botol. Apa pun itu bukan berita baik.


Untuk pertama kalinya, Alex melihat bagaimana Emil terbelalak. Sambil merangkul si gadis, dia buru-buru berjalan. Lebih baik kembali ke pesawat mereka daripada menghadapi fenomena tersebut dari dekat.

__ADS_1


Gavin sendiri mundur selangkah demi selangkah. Dia berpaling, melihat jembatan yang terlihat jauh lebih stabil daripada kondisi kapal. Untuk sesaat, matanya bolak balik melihat pusaran angin ke kapal. Akhirnya, dia memutuskan untuk berlari ke pesawat. Kalau dia fokus dan cukup cepat, angin juga tak akan mampu menjatuhkannya.


Baru hendak berlari, Gavin mendapati Alex malah terbang ke arah pusaran angin. “Sonic! Alex!” Gavin berteriak dalam keributan. Dia berusaha memanggil tapi yang dipanggil sama sekali tak berpaling. Gavin pun berbalik, berlari mencari keselamatannya sendiri, di dalam pesawat ICPA.


__ADS_2