
Kata babak belur jelas tak menunjukkan kondisi Alex saat itu. Dia merasa baik-baik saja dan itu aneh. Segala sesuatu terekam jelas dalam benaknya. Memilih untuk tak bicara soal itu, Alex berpura-pura tertidur dalam perjalanannya kembali ke markas Special Force. Dia tak berminat membahas soal aktor yang berpura-pura menjadi dia di rumah. Dia lebih tak berminat lagi kalau sampai ada yang membahas kejadian di dermaga.
Dalam perjalanan kembali ke markas, dia mendengar Nadira menelepon. Ada beberapa hal yang dia tangkap meski Tiger berusaha menjawab singkat dan pelan. Hal pertama, Gavin telah menghilang seperti Bompeii. Ini hanya masalah waktu. Entah mana yang lebih dulu, ICPA Sinde menemukan keduanya atau keduanya akan muncul sendiri. Hal kedua, Nadira menyalahkan Jayden. Menurutnya, Jayden terlalu baik dengan membiarkan para Kloster kabur. Akibatnya, mereka juga terpaksa mencari para pembunuh itu. Hal ketiga, soal Caitlin dan berkas rahasia. Sayangnya, gadis itu menghilang bersama kekasihnya. Nadira berharap kalau Catilin bisa membantu mereka soal berkas profesor Otto.
Alex harus mengaku penasaran soal itu.
Hal terakhir, soal dirinya. Dia ada dalam pengawasan penuh Tiger. Ini sebenarnya bukan hal baru kecuali Tiger diizinkan menggunakan senjata bila perlu.
Tiger membangunkannya ketika tiba di markas Special Force. Alex berpura-pura terbangun, memasang muka lelah serta mata sayu, melangkah pelan hingga tiba di kamarnya yang tidak nyaman.
Ruangan Zetta Sonic selalu memberinya kesan tidak nyaman. Tempat itu seperti kamar rumah sakit kelas satu yang dilengkapi komputer canggih. Tidak lebih. Dan memang itu alasan yang membuat Alex bertahan di sana.
Setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter Vanessa —yang lebih seperti formalitas—, Alex berbaring di ranjang dengan tangan mengutak atik ponselnya. Dia butuh bicara dengan seseorang. Jayden.
[Kamu pasti tahu ini jam berapa.] Suara di seberang sana tak terdengar sayu.
“Sejak kapan kamu butuh tidur?” balas Alex sengit.
Menyadari kalau suasana hati Alex sedang buruk, Jayden mendesah. [Baik. Apa yang mau kamu tanyakan?]
“Aku enggak tahu kalau seragam itu dilengkapi fitur penghancuran diri.”
[Hampir.] Jayden mendesah lebih panjang. [Protokol pengaman Barb Wire. Jangan tanya kenapa itu namanya. Nadira ingin ada sistem pengaman kalau seandainya Zetta Sonic berkhianat atau—]
“Jadi monster.” Alex menyahut lirih.
[Lepas kendali.] Jayden meralat. [Aku enggak akan pakai istilahmu tadi. Jangan biarkan omongan Kloster mengacaukan pikiranmu.]
“Bukan Kloster. Aku lihat sendiri. Damon. Ingat?”
__ADS_1
[Sangat jelas. Aku melihatnya di video rekaman. Menurutmu, itu yang akan terjadi padamu?]
Alex tak menjawab. Dia tak punya jawaban juga tak berminat berbohong soal itu. Hatinya berharap itu tidak akan terjadi. Namun, pikirannya juga tahu hal itu bisa saja terjadi. Alex balik bertanya. “Protokol itu sangat ampuh, kan?”
Jayden paham ke mana arah pembicaraan tersebut. [Tidak akan ada yang jadi monster. Kami akan menghentikannya.”
Kami. Alex tersenyum tipis mendengar itu. Dia tidak sendirian. “Apa yang kamu tahu soal Kloster selain kalau mereka pembunuh?”
[Kloster, ya? Ini sedikit rumit. Mereka punya hubungan yang baik dengan ICPA Regis. ICPA di sana tahu kalau suku itu memiliki potensi. Insting mereka tajam, otak cerdas. Intinya, Kloster pemburu yang baik secara alami. Sepertinya ICPA di sana ingin menjadikan Kloster anggota mereka.]
“Tapi?”
[Tapi, situasi berbalik. Sepertinya ada perbedaan pendapat di antara mereka. Hubungan keduanya rusak. Suku ini kembali mengasingkan diri. Beberapa anggotanya bahkan jadi pembunuh bayaran. Mereka bergerak dalam kelompok. Garis bawahi kata-kataku tadi. Beberapa. Bukan semuanya. Sejauh ini belum ada bukti yang menyatakan kalau seluruh suku Kloster adalah pembunuh bayaran. Paham maksudku, ‘kan? Selama tidak ada bukti kuat, ICPA tidak bisa menyerang ke sana.]
“Bagaimana dengan Naray?”
“Mereka menemukanku. Mereka menemukan identitas asli Zetta Sonic.”
[Soal itu sedang kuselidiki. Sepertinya mereka punya banyak sumber informasi yang belum kutemukan.]
Menyadari banyaknya Jayden berkata ‘sepertinya’, Alex pun penasaran. “Semua ini hanya asumsimu?”
[Kalau bicara soal ICPA di benua lain, semua data selalu tertutup rapat. Mereka pasti juga punya jayden-jayden yang lain. Belum lagi kalau kita bicara soal hubungan dingin para pemimpin. Kerja sama bukan hal yang mudah.]
Alex mengangguk tanpa sadar. Dia setuju. Gavin, sekalipun pernah menyelamatkannya, bukan orang yang bisa dia percaya seratus persen. Gavin mungkin agen terlatih tapi bukan berarti bisa dia andalkan. Buktinya, saat ini Gavin menghilang. Dia membiarkan Alex kembali ke markas Special Force padahal ada banyak hal yang perlu dijelaskan.
“Bagaimana dengan profesor Otto?” Alex mengganti topik.
[Profesor? Kenapa dengan dia?]
__ADS_1
“Ada data rahasia yang kalian temukan?”
[Sudah kuduga kamu hanya pura-pura tidur di mobil.] Jayden mendengus. [Sebenarnya bukan rahasia lagi kalau profesor Otto menyembunyikan banyak hal dalam penelitian ini. Entah karena dia belum melaporkan atau sengaja menutup-nutupinya. Setelah dia tewas, Nadira menyuruh orang membereskan berkasnya. Dan, mereka menemukan banyak data rahasia. Emil juga mendapatkannya.]
“Apa isinya?” Alex bangun dari tidurnya.
[Tidak banyak dan tidak begitu penting. Sepertinya dia hanya mendapatkan sekeping potongan puzzle. Tapi, aku curiga kalau…] Jayden berhenti.
“Apa?”
[…dia tidak sendirian. Maksudku, dengan penelitian serumit ini, mustahil profesor mengerjakannya sendiri. Dia butuh asisten. Peneliti lain. Bantuan, maksudku.]
“Kamu menyembunyikan sesuatu.” Alex menyadari bagaimana Jayden mengganti akhir kalimatnya yang sempat terputus tadi. “Apa yang kamu temukan?”
Jayden terkekeh. [Kamu tetap tajam, ya?]
“Aku pembohong yang baik. Kamu bukan.”
[Kuanggap itu pujian.] Jayden malah tertawa. [Baiklah. Nadira sebenarnya tidak pernah memintaku menyelidiki berkas-berkas itu. Aneh? Tentu saja. Aku lebih baik dari sebagian besar anggota ICPA lain soal teknologi. Jadi, aku menyelidikinya diam-diam. Hal pertama yang kutemukan cukup ganjil. Ada perubahan lokasi dan tanggal beberapa kali pada berkas yang sama.]
“Itu masalah besar?” Alex mengernyit.
[Lumayan. Apalagi kalau yang diubah adalah tahunnya. Nadira tahu ada yang aneh dari penelitian profesor Otto tapi tetap memakainya. Artinya, Nadira juga tahu sesuatu dan sengaja menyembunyikannya. Kalau dipikir-pikir, pembentukan Special Force sejak awal cukup cepat. Terlalu cepat. Seolah-olah…]
“Seolah-olah Nadira tidak ingin kedahuluan yang lain.” Giliran Alex mendesah sekarang. “Ini berhubungan dengan ICPA Regis?”
[Kuharap enggak. Tapi, dengan kemunculan Kloster dari Regis, Gavin dari Regis, aku enggak bisa memikirkan kalau semua ini berhubungan.]
Alex terdiam. Dia setuju dengan ucapan Jayden dan itu membuatnya makin takut. Sekarang Alex bukan hanya dihadapkan pada ancaman soal berubah jadi monster. Sekarang Alex juga dihadapkan kalau masalah ini membuatnya bertautan dengan sang ayah. “Ini… enggak akan berakhir baik.”
__ADS_1