
Apa pun alasan Nadira, sekarang mereka mendapat prioritas untuk menyelamatkan Jayden hidup-hidup. Seringai lebar muncul di wajah Tiger. Emil sendiri mengulas senyum yang belum pernah dilihat Alex sebelumnya. Alex sendiri tersenyum simpul. Meski tak ada seorang pun memberi pose hormat pada sang pimpinan tertinggi, Nadira memberi satu anggukan mantap.
[Satu lagi! Alex, pastikan energimu terisi penuh!]
“Akan kupastikan Zetta Sonic siap beraksi.”
[Ringkus siapa pun dalang aksi ini!]
“Siap!”
Nadira pun memberikan perintah. [Alex, kamu bertugas menghancurkan monster buatan profesor Otto. Lakukan cepat sebelum memakan korban jiwa, karena lokasinya dekat kerumunan. Emil akan memberikan detail misinya padamu nanti. Aku akan minta tim gabungan memeriksa ulang video ini. Siapa pun dalangnya benar-benar ingin mengolok-olok kita.]
Alex tak bisa menyangkal. Dia setuju soal itu. Dalang aksi penculikan Jayden memang memberi kesan ingin menguji kemampuan ICPA, termasuk kemampuan Alex sebagai Zetta Sonic. Orang itu bahkan bisa memanfaatkan profesor Otto. Bukan lawan yang bisa diremehkan.
Seusai pertemuan dengan Nadira, Alex harus mengakui kalau dirinya benar-benar lelah. Secara fisik juga psikis. Dia butuh tidur dan permintaan maaf untuk membuat batinnya lega. Dia menanti ketika tinggal berdua dengan Emil. Tiger meninggalkan mereka untuk mengurus serah terima profesor Otto dengan agen pusat.
Di lorong menuju ruang generator, Alex membuka percakapan. “Kamu tahu, beberapa waktu lalu aku menganggap hanya Jayden yang pantas jadi operator Zetta Sonic. Tapi, apa yang kamu lakukan di sekolah, itu luar biasa.”
“Hanya melakukan seperti yang pernah kupelajari,” balas Emil. “Di buku manual.”
Alex penasaran soal buku manual yang disinggung Emil. Kadang, dirinya kesulitan membedakan kapan Emil bercanda dan serius. Mengesampingkan rasa penasarannya, Alex melanjutkan pembicaraan dengan berterus terang.
“Aku minta maaf. Aku sudah kasar padamu.”
“Aku enggak ingat,” jawab Emil jujur.
“Aku meremehkanmu. Maaf kalau itu melukai perasaanmu.”
“Itu sudah sering terjadi. Aku sudah terbiasa.” Emil bicara tanpa sekalipun menoleh pada lawannya. Mereka berjalan perlahan di lorong sepi. Satu-satunya saksi pembicaraan jelas hanyalah lampu garis hijau yang mengiring perjalanan.
Merasa kalau kurang dianggap serius, Alex berhenti. Gerakan tersebut tak lantas membuat rekannya ikut berhenti.
“Apa yang kulakukan tidak pantas terjadi pada seorang rekan,” kata Alex.
Emil berhenti. Dirinya pun berpaling. “Kita memang rekan. Terjebak dalam lingkungan pekerjaan yang sama.”
Alex menggeleng. Dia menyadari kalau telah belajar dengan cepat. Buktinya, dia bisa mengulang pembicaraan yang dia dapat dari dokter Vanessa. “Kita keluarga. Aku minta maaf sudah berkata kasar padamu. Dan, enggak seorang pun seharusnya membiasakan diri diremehkan seperti itu.”
__ADS_1
“Orang-orang menganggapku aneh. Aku enggak suka ngobrol. Hal-hal yang membuatku tertarik selalu dianggap aneh.”
“Kamu korban bully?”
Emil mengangkat bahu. “Aku mencoba melupakan itu.”
Untuk pertama kalinya, Alex menyadari betapa kuatnya pemuda di depannya. Dia mungkin tidak sepandai Jayden atau sekuat Tiger. Namun, Emil telah berdiri lama seorang diri. Bertahan dari semua cemooh yang dia dapatkan. Entah itu dari teman, rekan ICPA, atau bahkan keluarganya. Mengingat Nadira bicara soal menghapus identitas seseorang, terbersit di benak Alex bila Emil mungkin sedang melakukannya.
Alex mengulurkan tangan.
Emil merespon singkat. Pandangannya turun dari wajah Alex pada tangan kanan yang sedang terulur.
“Ayo, berteman!”
Emil tersenyum. Hal yang jarang terjadi telah terulang kembali hari ini. Emil membalas uluran tangan itu.
Tangan Emil lebih kurus dan dingin dari dugaan Alex. Jemarinya tidak halus, melainkan begitu kasar. Bahkan ada beberapa bekas lecet. Kalau diperhatikan lagi, Alex bahkan menemukan masih ada plester luka pada beberapa jarinya.
“Kenang-kenangan saat memperbaiki Jason?” tebak Alex ketika mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Senjata baru?”
“Jayden membuatkanmu perisai.”
“Oh.” Alex tidak kedengaran kecewa. Dia bisa memanfaatkan penemuan atau teknologi apa pun saat ini.
“Tapi, kupikir kamu membutuhkan yang lain.”
“Kamu meng-upgrade perisai buatan Jayden?”
“Ruanganmu.”
Alex teringat ruangannya yang berada di lantai terbawah fasilitas rahasia tersebut. Seingat Alex, tak ada hal istimewa di sana. Di saat yang sama, Alex tak punya keluhan. Apa pun yang di-upgrade Emil tidak akan mengejutkan. Namun, Alex mendapat firasat bukan ruangan itu yang dimaksud si pemuda.
Alex pun menebak ruangan lain. “Ruang latihan?”
Kali ini Emil mengangguk. “Tidak banyak. Hanya programnya saja. Aku payah soal robotika dan mekanisme. Jayden jauh lebih baik. Tapi, kamu tidak bisa menggunakannya. Tidak saat ini.”
__ADS_1
“Tidak ada waktu untuk berlatih.” Alex sadar benar kondisi mereka. Kalau ada yang membuatnya merasa bersalah, selain pernah bicara buruk pada Emil, itu adalah soal latihan. Dia tidak punya cukup waktu untuk beristirahat dan berlatih mengendalikan kekuatan baru Dragon Blood.
“Jadi, aku membuatkan yang lain.”
“Apa itu senjata?” Ketika tebakan itu keluar, Alex bersumpah melihat senyum usil muncul pada Emil. Pemuda itu kelihatan bangga akan apa pun yang telah dia buat. Besar kemungkinan kalau Alex akan sangat menghargainya pula.
“Aku membuatkanmu pistol. Maksudku, memodifikasi.”
“Pasti bukan pistol biasa.”
“Pistol dengan tenaga Dragon Blood. Ide Jayden. Aku hanya mengembangkannya.”
“Apa maksudmu aku bisa menggunakannya dengan asap hijau atau apa pun yang kadang keluar tanpa bisa kukontrol? Kamu tahu, aku bahkan bisa menembakkan laser dari tanganku. Itu mengesankan dan menakutkan!”
Emil mengangguk. “Dragon Aura. Nama dari Jayden.”
Ucapan Emil membuat Alex terusik. Pertama, Jayden kini mulai terbiasa memberi nama dengan lebih baik. Kedua, Jayden tahu soal kemampuan barunya. “Jayden tahu? Dia tahu kalau akan ada aura seperti itu dariku?”
“Kalkulasi profesor Otto. Tidak meleset. Hanya saja…”
“Apa?”
“Kemunculannya jauh lebih lambat dibanding perkiraannya.”
Alex memutar bola matanya. Apa yang dikatakan Emil menjelaskan kenapa profesor begitu ingin mendorong Alex pada batas kemampuannya. Ilmuwan itu tersiksa oleh rasa penasaran. Dia begitu berhasrat mengetahui bagaimana Alex akan mampu menggunakan kekuatan barunya. “Jadi, kalian tahu aku akan melelehkan sesuatu?”
“Tidak. Profesor Otto hanya berpikir kalau aura itu akan membuatmu lebih cepat. Atau, lebih kuat. Mungkin melompat lebih tinggi. Mungkin sangat tinggi dan jauh. Sampai kami mengira kalau kamu sedang terbang. Cuma itu.”
“Jadi, saat ada insiden kecelakaan truk itu, aku membuat semua orang di Special Force ini terpukau.”
“Tidak semua. Dokter Vanessa tidak tahu.”
“Apa?”
“Nadira bilang agar kita tidak mengganggunya. Dokter Vanessa harus berkonsentrasi di konferensi. Kamu tahu. Nadira ingin menyombongkan diri. Lewat anak buah. Juga teknologi. Nadira menitipkan daftar pencapaian ICPA Sinde. Termasuk sedikit bocoran kasus yang dihadapi Zetta Sonic. Untuk pamer.”
Alex pun terdiam. Dragon Aura. Nama itu masih melekat pada pikiran Alex. Pertanyaan yang berikutnya mengambang ke permukaan adalah mengenai dokter Vanessa. Bagaimana dokter wanita itu bisa tahu semuanya?
__ADS_1