
Gavin kembali memimpin jalan. Mereka melewati lorong-lorong sepi lainnya hingga mencapai ruangan tempat para gadis itu disekap. Pintunya sedikit berbeda dari pintu yang telah mereka lewati. Bukan soal ukuran, tapi soal keamanannya. Pintu itu punya roda pemutar di bagian tengahnya. Bahannya pun lebih tebal. Saat ini, pintunya telah ternganga seolah sebuah undangan masuk.
Gavin sempat saling lempar pandangan dengan Alex. Sekalipun keduanya sama-sama mengenakan helm dan tak bisa melihat wajah seorang dengan yang lain, mereka siap. Gavin mengangguk, Alex membalasnya. Barulah dia berjalan seorang diri melewati pintu tersebut dengan stealth mode.
Di balik pintu, ada sebuah ruangan luas. Tempat Alex berdiri merupakan balkon dengan tangga ke bawah di sisi kanan dan kiri. Di bawahnya, dia bisa melihat tiga kontainer yang sudah dimodifikasi. Satu sisinya diganti dengan jeruji, semacam sel penjara portable. Bentuknya mengingatkan Alex pada kurungan hewan sirkus.
Alex tak menyukai kondisi itu, terlebih ketika dia melihat setiap gadis di dalamnya. Mereka mungkin mendapatkan makanan yang layak, tempat tidur, dan pakaian nyaman. Namun, tetap saja mereka berada di dalam penjara dan hendak dibawa ke tempat asing. Belum lagi adanya pria-pria berotot yang senantiasa berdiri di luar jeruji, menggoda dan memberikan kata-kata kotor.
Alex merasa jijik pada orang-orang itu. Tanpa basa-basi, Alex mematikan mode lenyapnya. Begitu sosoknya nampak, kru terdekat yang juga berada di balkon berteriak histeris disusul dengan tembakan beruntun.
Tak ada peluru biasa yang mampu benar-benar menembus seragam tempur Alex. Rentetan peluru itu hanya membuat goresan-goresan di seragamnya. Alex maju tanpa menunggu lagi. Dia mengincar bagian rahang, melakukan gerakan yang sempat dia pelajari dari Tiger. Tinjunya membuat kru tersebut langsung terkapar. Alex mengingat serangan itu dengan jelas. Terlebih setelah melihat Gavin mempraktikannya di depannya tadi.
Dua kru lagi yang juga ada di balkon berlari mendekat. Setelah Alex masuk dalam zona tembak mereka, tembakan kembali dilepaskan. Sepertinya orang-orang tak cukup pandai untuk belajar dari kesalahan teman mereka. Alex melompat pada keduanya, menghadiahkan pukulan lain, membuatnya keduanya terkapar dengan cepat.
Berikutnya, Alex melompat turun dari balkon langsung ke lantai dasar. Suara mendaratnya memancing suara keras, seperti menjatuhkan benda berat ke atas logam. Setidaknya saat ini ada lima orang di bawah sana. Sama seperti kedua orang di balkon atas, orang-orang ini pun menyerang Alex dengan senapan.
Alex sempat melemparkan pandangannya pada setiap gadis. Mereka menatap Alex lekat-lekat. Ada rasa bingung bercampur ngeri di sana. Aksi Zetta Sonic memang bukan sesuatu yang bisa ditonton setiap hari. Dibantu Dragon Blood, Alex pun maju. Orang yang jadi incarannya mengumpat ketika sosok Zetta Sonic itu mendadak berada di depannya. Belum sempat bicara yang lain, Alex meninjunya hingga terpental ke belakang.
__ADS_1
Lawan berikutnya datang. Dia memberikan dengan tinjuan lain. Alex menunduk hanya untuk mendapat ada lawan lain yang datang. Dia pun berputar. Kakinya menendang lawan pertama hingga terjatuh. Alex menyambut kedatangan lawan keduanya. Orang ini telah meninggalkan senapannya. Sebagai ganti, dia menghunuskan belati besar pada Alex.
Sekalipun belati itu tak akan menembus seragamnya juga, Alex tetap menghindar. Gerakan cepatnya membuat lawan terbelalak. Kecepatannya membuat dirinya seolah lenyap dari pandangan. Alex menangkap tangan lawannya lalu menghentakkannya sampai belati terlepas. Berlatih dengan Tiger membuat Alex bisa melakukan hal-hal semacam itu. Sebelum lawan melakukan serangan lain, Alex sudah menendangnya hingga menabrak dinding.
Serangan padanya tak berhenti sampai di sana. Masih ada dua orang lain yang datang padanya, bergiliran. Alex bersalto mundur jauh hingga mendapati dinding di belakangnya. Dia memasang kuda-kuda, bersiap menghajar lawan-lawannya. Dia tak perlu menggunakan senjata apalagi roket yang sudah berada di punggung. Orang-orang itu tak lebih dari sekadar bawahan. Sama sekali bukan kesulitan berarti.
Alex mengincar laki-laki terbesar yang ada di ujung. Dibantu kekuatan Dragon Blood, Alex menarik lengan laki-laki itu lalu melemparkannya pada rekan di sampingnya. Keduanya jatuh dengan mudah.
Seorang lagi menghunuskan belati. Alex tak sempat menghindar. Belatinya mengenai bahunya. Namun, bukannya memberi kerusakan, ujung belati itu malah patah. Lawannya tak langsung menyerah. Dibuangnya belati itu. Dengan percaya diri, laki-laki itu memukulkan dahinya sendiri ke helm Zetta Sonic. Lawan di depan Alex terjatuh pingsan dengan memar di kepala.
“Diam, kamu!” Alex mengomel pada Jayden.
[Maaf, maaf. Anggap saja itu hiburan. Banyak hal yang bisa terjadi di luar rencana. Ini salah satunya. Bukan begitu, Gavin?] Jayden ingat percakapan Gavin dengan Alex di ruangan sebelumnya.
Gavin pun menyahut. [Hei, aku bukan dirimu yang bisa melihat apa yang dilihat Zetta Sonic saat ini. Aku enggak tahu apa yang terjadi di dalam sana.]
[Ups. Maaf. Biar kujabarkan apa yang sedang terjadi.]
__ADS_1
Selagi Jayden menceritakan dengan detail apa yang sempat terjadi, Alex melanjutkan menghajar para kru. Jayden menjadi mata bagi Gavin. Dia menjelaskan apa yang selanjutnya terjadi. Bagaimana Alex membuat tendangan berputar yang membuat Tiger bangga dan bagaimana dia merebut belati lawan.
[Dia punya potensi. Belum matang. Tapi, dia punya potensi.] Gavin mengulang hal yang sama. [Ngomong-ngomong, kenapa memilih agen semuda ini untuk jadi Zetta Sonic? Punya waktu hidup lebih panjang?]
Pertanyaan Gavin membuat Jayden bergumam. [Sebenarnya, enggak juga, sih. Lebih tepatnya, seolah kami tidak punya pilihan lain.]
“Hei! Aku bisa mendengar semua pembicaraan kalian, tahu!” Alex akhirnya bisa ikut bicara. Napasnya masih tersengal-sengal setelah menghajar kru keenam di lantai dasar. Dia sempat salah menghitung di awal. “Dengar, ya. Aku terpilih karena memang orang terpilih. Satu di antara sejuta.”
[Aku hanya tanya, sedikit penasaran.] Gavin membela diri. [Kamu sudah selesai di dalam sana? Aku akan masuk.]
“Tunggu! Jangan!” sahut Alex cepat-cepat. “Biar kubebaskan para sandera dulu. Bala bantuan dari pihak mereka akan segera datang. Kamu paham, ‘kan? Saat itu, kamu baru ke sini untuk membantu meeka kabur.”
Alex melangkah cepat, menghampiri satu per satu jeruji. Dia merusak kuncinya dengan mudah. Sebelum si gadis keluar, Alex minta dia bertahan sebentar di sana sampai dia memberikan aba-aba. Dia minta agar ketiga gadis itu tetap berada di dalam sel mereka. Dia juga berjanji kalau sudah ada rekannya yang bersiap menolong di luar asalkan mereka mau menanti sebentar.
[Alex, kamu dapat tamu.] Suara Jayden terdengar jernih dalam helm. Nadanya tidak seringan ketika bicara dengan Gavin tadi.
“Bagus, dia tepat waktu!”
__ADS_1