
Tiger dan Jayden punya rangkaian kegiatan baru. Mereka selalu berlatih bersama belakangan ini. Tiger berperan jadi guru sementara Jayden muridnya. Tiger tidak ragu-ragu membuat Jayden cedera sungguhan dalam masa latihan. Agaknya, itu justru membuat Jayden lebih cepat berkembang. Bagaimana tidak? Itu artinya dia harus berlatih bertahan sungguhan dari mantan si petarung bebas.
Tiger dulu beberapa kali memenangkan pertarungan bebas internasional sebelum akhirnya direkrut menjadi bagian ICPA. Dia punya beberapa luka yang menunjukkan kepiawaiannya sekaligus kebrutalannya. Ketika dalam arena tersebut, dirinya benar-benar seperti hewan buas. Seperti macan besar bukan manusia. Jayden membuktikannya beberapa kali. Dia selalu diingatkan keahlian Tiger setiap kali terbanting ke tanah.
Jayden merasakan punggungnya nyeri. Dia melihat kedatangan Tiger. Tanpa sempat mengumpat, Jayden pun terpaksa berguling. Tidak ada waktu untuk apa pun selain bertahan.
“Pakai otakmu!” seru Tiger.
Jayden berdecak kesal. Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Otaknya bekerja lebih cepat ketika berada di balik layar bukan di depan pria sebesar Tiger. Otaknya juga mendapat solusi lebih baik di atas kursi putar bukan di atas arena bertarung seperti itu. Kalaupun otaknya bisa bekerja, kadang badannya tak bisa bereaksi secepat keinginannya.
Emil di luar arena hanya menatap pertarungan dengan mata sayu. Tak ada banyak perubahan ekspresi di wajahnya. Dia tidak perlu takut kalau Tiger kebablasan dan membunuh Jayden. Dia juga tidak perlu menunggu keluarnya pemenang karena sudah jelas. Latihan mereka hanya untuk mengembangkan keahlian Jayden.
Pertanyaannya hanya satu. Untuk apa?
__ADS_1
Sebagai operator yang membantu agen menjalankan misi, keahlian Jayden sudah lebih dari cukup. Dia bisa bela diri, menembak, dan kemampuan meretasnya di atas rata-rata. Kemampuannya mendampingi Zetta Sonic tak perlu diragukan. Kemungkinan baginya turun di lapangan untuk membantu Zetta Sonic menghadapi musuh nyaris nol. Apalagi mengingat kalau penjahat yang dihadapi bukanlah penjahat biasa.
Emil menguap.
Jayden barusan terjatuh lagi. Tubuhnya bisa dipastikan dapat luka memar yang baru. Jayden buru-buru bangun. Dia mengayunkan tinju yang ditangkap mudah oleh lawannya. Tak berhenti di sana, kakinya pun menendang ke arah belakang lutut. Dengan kekuatan yang cukup, lawan akan kehilangan keseimbangan. Dengan kekuatan lemah, itu hanya akan membuat lawan tersenyum.
Tiger bukan hanya tersenyum, tapi mendengus geli. Dia harus mengakui setidaknya ada variasi dalam serangan Jayden. Ini jauh lebih baik daripada pertama kali mereka berlatih. Meski begitu, serangannya belum cukup menjatuhkan Tiger. “Seharusnya kamu bisa lebih baik.”
Tiger mendorong lawannya menjauh ketika terdengar sebuah raungan alarm. Jayden mengibaskan tangannya yang sakit. Emil menoleh ke arah pengeras suara yang ditanam pada langit-langit. Alarm itu bukan alarm kebakaran, melainkan alarm penyusup.
Ini kedua kalinya Alex menyusup ke markasnya sendiri. Jayden menyebutnya bagian dari latihan. Tiger menyebutnya permainan. Emil menganggapnya hal tak berguna. Alex sendiri jelas menikmatinya. Peraturannya sederhana. Dia harus bisa menyusup ke ruang komando tanpa diketahui. Dia boleh datang kapan pun yang dia mau.
Aksi latihan itu punya dua tujuan. Satu, meningkatkan kemampuan Alex dalam menyusup. Dua, memastikan kalau sistem keamanan mereka bekerja dengan baik. Penyusupan hari itu membuktikan sekali lagi sistem keamanan mereka menang. Alex bisa saja menggunakan kekerasan, maksudnya Dragon Blood. Namun, tentu saja dia tidak mau dapat omelan panjang dari Nadira. Menggunakan kekuatan Zetta Sonic untuk melawan Special Force yang menaunginya bukan hanya terkesan berlebihan, tapi juga pengkhianatan.
__ADS_1
Emil meninggalkan Jayden dan Tiger di arena latihan. Arena ini dibuat seperti arena pertarungan bebas seperti umumnya dengan tambahan dinding kaca tinggi dan tebal tanpa lampu sorot. Beberapa sisi dinding menyembunyikan panel rahasia berisi kejutan yang bisa digunakan Alex untuk berlatih. Pada dasarnya, ruangan itu memang ruang latihan bagi mereka semua.
Jayden sendiri yang memasang beberapa fitur khusus agar bisa digunakan Alex. Anak itu butuh tambahan mengingat dia adalah agen utama di Special Force. Bahkan mugnkin bisa dibilang kalau dia satu-satunya agen di sana. Agen lain, seperti Tiger, hanya bertugas mendukung misi utama Zetta Sonic. Wajar saja kalau mereka perlu memberikan sarana tambahan di sana.
Menyusuri lorong kelabu yang semuanya nampak sama tak membuat Emil kesulitan. Di hari pertamanya menjadi anggota Special Force, dia juga perlu susah menghafal denah markasnya sendiri. Total enam lantai dengan fungsi khusus pada setiap lantai. Lantai satu hingga tiga bawah tanah merupakan area yang bebas diakses siapa pun. Sementara lantai yang lebih dalam, lantai empat hingga enak merupakan area lebih terlarang.
Sebagai anggota baru, Emil tak repot-repot menanyakan di mana letak perbedaannya. Karena pada kenyataannya, semua anggota Special Force saat ini bebas berlalu lalang. Kalau ada satu-satunya area yang sungguhan terlarang hanyalah area di tengah bendungan.
Emil berhenti sebentar ketika melewati sebuah lorong dengan deretan kaca besar di sisi kiri. Dia tahu di balik kaca itu, ada area terakhir yang belum pernah dia kunjungi. Area di tengah bendungan yang senantiasa berada dalam kegelapan. Area tersebut berbentuk kubah kaca yang terhubung oleh sebuah lorong kaca pula. Tanpa lampu sorot, dia tak bisa melihat kubah tersebut. Sementara pintu penghubung lorong selalu terkunci. Jayden bilang mereka baru saja menambah satu lapis pintu lain. Area tersebut tak lain adalah area tempat penyimpanan Dragon Blood.
[Hei, sampai kapan mau berdiri di sana?] Suara Alex terdengar melalui earpiece yang terpasang di telinga Emil. Alex tahu di mana keberadaan Jayden dan Emil dari Zet-Arm. Ada suatu fitur untuk menemukan lokasi operatornya. Hal tersebut akan sangat berguna di tengah misi. Alex setuju. Hal itu sudah berguna di saat dia gagal menyelesaikan tugas yang diberikan.
“Aku sedang jalan.” Emil menjawab datar.
__ADS_1
Kakinya kembali melangkah namun pikirannya tak bisa menyingkir dari ruangan tersebut.
Rasanya janggal. Area tersebut bahkan lebih rahasia dari ruang generator di lantai lima bawah tanah dan ruang Alex yang ada di lantai terendah. Kenapa mereka tetap merahasiakan ruang tersebut padahal Dragon Blood telah berpindah ke dalam tubuh Alex? Mengapa Nadira bahkan menambahkan pintu pengaman tambahan di sana? Apa yang membuat profesor Otto melarangnya ke sana, padahal dia juga bertugas sebagai asistennya?