
Hingga hari itu, Alex tahu kalau para anggota Special Force memercayai satu hal. Keberadaan Damon di sana berawal dari sebuah kebetulan. Damon melihat truk supplier samaran dan memeriksa kebenarannya. Dia menemukan eksperimen Dragon Blood lalu berusaha mendapatkannya. Saat itulah, semua terjadi. Alex kini meragukan semuanya.
“Siapa yang mengirimmu ke bendungan?” Alex langsung mengganti pertanyaan.
“Kamu pasti bodoh sekali kalau mengira aku akan memberi tahu.”
“Katakan harganya!”
“Maaf?” Damon mengernyit, tak yakin apa yang dia dengar.
Alex sendiri tertegun akan ucapannya barusan. Dia sadar benar kalau punya kantong tebal. Alex bisa membayar informasi Damon dengan sejumlah uang. Nilai besar pun tidak akan jadi masalah buatnya. Namun, sebagian hatinya merasa ada yang salah. Dia sadar kalau melakukan semuanya sebagai Alexander Hill bukan Zetta Sonic. Lagipula, tujuan awalnya adalah mencari informasi mengenai penculik Jayden bukan bagaimana Damon bisa menemukan markas Special Force.
Alex mengulang ucapannya dengan nada yang tenang. “Katakan harganya! Kamu akan dapat imbalan setimpal atas informasi itu.” Sandiwara dan kebohongan semacam itu sudah biasa dilakukan Alex. Hari ini pun tidak sulit.
Damon tertawa lagi. Kali ini lebih keras. “Hei! Tidak semua hal bisa dihitung dengan uang. Kamu bahkan lebih parah dari orang-orang itu.”
“Siapa?”
“Para penjahat! Tentu saja! Kamu pikir siapa, hah?”
Jawaban Damon membuat pipi Alex memanas. Untung saja wajahnya tersembunyi di balik helm.
Damon melanjutkan. “Apa yang terjadi? Kamu tidak di sini karena dikirim oleh ICPA.”
Mendengar kecurigaan Damon, Alex bisa saja berbohong. Sayangnya, saat ini dia merasa kalau kebohongan tidak akan membawanya ke mana pun. Dia pun berkata, “Ada anggota Special Force yang diculik—”
“Jayden! Rupanya kepalanya masih berharga!”
Alex terbelalak. Tebakan Damon tepat lagi. Alex baru teringat kalau Jayden pernah bekerja pada pria tersebut. Alex kembali bicara dengan tetap berusaha tenang. “Kalau Jayden jatuh pada orang yang salah, dia akan membuat masalah besar bagi kita semua. Mungkin, masalah pula untukmu.”
Ada sedikit perubahan di wajah Damon. “Kenapa bisa begitu?”
Alex tersenyum simpul. Mengingat kepiawaiannya berbohong, Alex tahu reaksi orang ketika mereka berbohong. Dia tahu jelas kalau lawan bicaranya menyembunyikan sesuatu. Sekarang, dia harus mengandalkan keberuntungan untuk membuat tebakan. “Jayden tahu jelas cara kerja termasuk jaringanmu. Tidakkah kamu pikir kamu akan dapat masalah kalau si penculik ini mendapatkan semua datanya?”
__ADS_1
Damon mendengus.
Saat itu, Alex tahu telah membuat tebakan jitu. Tidak ada hal yang lebih ditakutkan saat mereka kehilangan jalur dan koneksi untuk berbuat kejahatan. Setidaknya, Alex sadar benar kalau kadang informasi jauh lebih berharga daripada uang.
“Coba pikirkan ini,” ujar Alex lagi. “Kamu lakukan ini untuk dirimu sendiri, bukan Jayden, bukan pula aku.”
Damon menarik dirinya dari dinding kaca. “Memang,” kata Damon sambil mengusap dagunya. Matanya bergulir menyapu lantai, jelas sekali sedang berpikir. Mungkin dia berpikir bagaimana Alex bisa menebak hal tersebut atau berpikir apa yang harus dilakukan.
Alex melanjutkan, “Cukup beri tahu aku siapa yang menculik Jayden.”
Damon menghela napas panjang, kembali ke ranjangnya. “Kamu meretas sistem keamanan di sini?”
“Tidak seorang pun yang tahu aku bicara denganmu. Mungkin, kecuali Jayden.”
Damon menghela napasnya lagi lalu terdiam sebentar. “Baiklah, seharusnya cukup banyak yang ingin menarik Jayden. Para kriminal menginginkan isi kepala Jayden untuk mengacaukan ICPA sendiri. Sebagian menginginkan dia untuk meretas bank. Perampokan digital, semacam itu. Bahkan… Bahkan, kupikir mungkin dia juga ingin memperkerjakannya.”
Alex tak yakin siapa yang dimaksud Damon, orang lain atau bosnya sendiri — kalau dia memang punya. “Apa ada perempuan di antara orang-orang itu?”
“Oh iya, gadis itu cukup merepotkan. Dia bisa menghipnosis orang-orang dengan suaranya. Membuat mereka seperti boneka. Menyuruh mereka melakukan ini itu.”
“Benar.” Saat itu, Damon terdiam. Dia seakan sadar telah masuk dalam jebakan Alex. Matanya memicing ke sosok hitam tersebut. “Kamu sudah berhadapan dengannya, eh?”
“Ya.” Alex menjawab singkat, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang meningkat. Sejak awal kedatangan guru baru itu, Alex sudah merasa ada yang tidak beres. Ternyata, dugaannya memang benar. Gadis itu tak lain adalah kriminal yang mungkin mengincar pula nyawanya. “Tapi,” lanjut Alex, “kupikir Melodiza tidak tahu siapa aku.”
Damon tertawa terbahak-bahak sambil menepuk lututnya.
Alex terdiam, tak paham di mana lucunya.
Setelah tertawa cukup puas, Damon membuat seringai. “Tentu saja, bocah. Di mana serunya kalau semua orang tahu identitasmu? Para pembunuh tidak akan berbagi informasi semacam itu. Aku sendiri ingin sekali membunuhmu dengan tanganku sendiri. Gadis itu hanya menerka. Kupikir, dia pasti bisa mendapat jalur informasi sendiri dengan kemampuan hipnosisnya.”
Alex bergeming. Dia sudah siap mendengar hal semacam itu dari penjahat macam Damon. “Kamu bukan teman Melodiza. Menurutku, dia juga bukan orang yang menculik Jayden.”
“Tidak, tidak. Lebih masuk akal kalau dia yang menculiknya.”
__ADS_1
“Dia? Bosmu? Orang yang memberimu informasi ke bendungan?”
“Dengar, bocah! Dia bukan bosku! Aku hanya…” Damon memotong ucapannya sendiri. “Begini… Kalau Jayden benar ada di tangannya, artinya dia bisa melihat apa yang terjadi di sini, saat ini. Dia bisa mengirim pembunuh untuk menghabisiku. Aku tidak mungkin mengatakannya padamu. Paham?”
“Siapa pun yang menginginkan Jayden menginginkan kemampuannya bukan nyawanya. Mereka butuh fasilitas lengkap buatnya. Dia ada di kota ini.”
“Bisa jadi.” Damon tersenyum lagi. “Ternyata, kamu bisa pakai otakmu juga.”
“Di mana dia?”
Damon angkat bahu. “Menurutku, dia dekat. Jauh lebih dekat dari yang kamu kira.”
Awalnya Alex mengernyit. Kata ‘dekat’ bisa punya banyak sekali arti. Dekat dengan universitas tempat insiden tersebut, dekat dengan markas Special Force, atau dekat dengan posisi mereka saat ini?
“Hei,” Damon memanggil Alex dari lamunannya. “Katakan, bocah, apa dia diculik di depanmu?”
Menolak menjawab, Alex balas bertanya. “Kenapa?”
“Ah! Seharusnya aku sudah tahu!” Damon terkikik. “Dia lenyap di depanmu, ya?”
Alex tak merespon. Namun, dia lupa kalau tak merespon sesungguhnya juga adalah sebuah respon.
Damon, sebaliknya, paham hal tersebut. “Ya ampun, seharusnya aku tak perlu bicara apa pun padamu. Toh, pada akhirnya dia akan mati.”
“Apa? Kenapa?”
“Sepertinya kamu sama sekali tidak paham. Biar kuberi tahu satu hal. Tujuan utama aksi ini bukan Jayden dan isi kepalanya.” Damon menunjuk pelipisnya sendiri. Lalu, dengan tangan yang sama, dia membuat gesture pistol dan seolah menembak kepalanya sendiri. “Pada akhirnya, Jayden akan dibunuh.”
“Apa maksudmu?”
“Masih belum mengerti? Kamu memang masih bocah! Kasihan sekali ICPA terpaksa memakai agen seperti dirimu.”
Alex paham kalau Damon tak akan bicara lagi selain menghina dirinya. Tanpa bicara apa pun, dirinya pun berbalik.
__ADS_1
“Satu hal lagi!” Damon bicara lagi, membuat Alex cepat-cepat menoleh. Saat mengira kalau Damon akan memberi petunjuk lagi, Alex justru dibuat lebih merinding. “Kalau aku jadi kamu, aku akan segera memindahkan orang-orang dekatku ke tempat yang aman.”