Zetta Sonic

Zetta Sonic
Below Zero


__ADS_3

[Tidak! Incar jantungnya!] Dokter Vanessa menimpali. [Dragon Blood mungkin bisa memperkuat tubuh seseorang bahkan membuatnya regenerasi. Tapi, kurasa dia tidak mampu mengubah organ penting dalam tubuh seseorang.] Ada jeda sebentar sampai dokter Vanessa menambahkan. [Mungkin. Maksudku, itu hanya pemikiranku.]


“Layak dicoba,” sahut Alex.


Dia sendiri tidak tahu sejak kapan sang dokter jadi tertarik dengan pertarungan seperti itu. Ditambah lagi dengan saran mengincar jantung seseorang. Alex tidak tahu dengan dokter yang lain, tapi sepertinya dokter di ICPA memilih membunuh monster daripada membiarkannya melukai orang tak bersalah.


Drone yang tersisa berusaha memburu lawan. Tembakan menyakitkan dari moncong itu berulang kali memelesat di udara. Salah satunya berhasil mengenai ujung sayap Damon lagi. Meski penerbangan Damon belum sempurna, dia berhasil menghindari serangan fatal drone tersebut. Di antara satu tembakan dengan tembakan selanjutnya, Damon telah mengulurkan tangannya. Tangan itu meraih si drone, menghancurkannya jadi berkeping-keping.


Melihat itu, Alex merasa ngeri. Ketika Jason bergerak mendekat untuk ikut menyerang, Alex buru-buru memberikannya perintah untuk menjauh. Dia tidak membutuhkan bantuan serangan dari Jason. Serangannya jauh lebih rendah daripada drone milik ICPA. Dia membutuhkan Jason untuk memberinya pandangan luas.


Damon tertawa seiring jatuhnya mesin tak berawak itu. Dia pun mengedarkan pandangan, mencari di mana lawannya berada. Dengan cepat, matanya menemukan sosok Alex dalam seragam hitam. Alex sedang menuju dirinya. Damon menyeringai. Dia juga menginginkannya. Pertemuan di udara pun tak terelakkan.


Alex menembakkan laser dari pistolnya. Damon menghindar dengan mudah. Sayapnya nyaris sempurna saat ini. Dia bisa meliuk-liuk di udara dengan baik. Semakin mereka dekat, semakin susah Alex menembak lawannya. Menghindari tabrakan, Alex pun naik. Damon terbang dekat di belakangnya. Tangan monster itu terus menerus berusaha menggapai Alex. Tak peduli berapa cepatnya roketnya mendorong, dia tak bisa melepaskan diri dari Damon.


Alex pun terbang rendah kali ini. Dia mendekati permukaan tanah bersalju yang terus menurun di bawahnya. Lereng itu memiliki bagian kaki yang ditutupi oleh pohon cemara dan bebatuan besar. Dia berharap bisa membuat lawannya kesulitan. Lawannya paham benar hal tersebut.

__ADS_1


Damon mengepakkan sayap besarnya. Dia tak lagi mengincar kaki atau tangan lawan, kali ini dia mengincar salah satu sayap pada roket itu. Alex sudah bergerak cepat tetapi lawan lebih cepat. Tangan Damon mencabik sayap kirinya.


Goresan besar dan dalam itu menunjukkan bagian dalam yang terdiri oleh mesin serta jalinan kabel rumit. Dalam sekejap, sayap tersebut memunculkan percikan api. Apa yang diketahui Alex selanjutnya adalah ledakan besar yang membuatnya miring. Dia pun melepaskan roketnya dan menjatuhkan diri. Tubuhnya menggelinding di atas tanah menurun dan berbatu. Kalau tidak ada seragam tempur dan perisai, dia pasti sudah cedera.


Sistem di dalam seragam Zetta Sonic meraung memberi peringatan. Alex berusaha sekuat tenaga untuk tak memejamkan mata. Dia butuh petunjuk. Pandangannya saat ini kabur, hanya ada kelabu dan hijau serta garis-garis merah peringatan. Saat akhirnya berhasil berhenti, Alex sadar telah berada di ujung jurang.


Tangan Alex menggenggam tepi jurang yang agak menjorok. Badannya menggantung pada jurang itu sendiri. Pepohonan telah lama meninggalkannya. Di sekelilingnya hanya ada udara dingin. Jauh di bawahnya, sungai beku membentang. Matahari ada di sisi lain. Sinarnya menembus awan kelabu, memberi secercah kehangatan di antara kehampaan. Pemandangan itu mencuri nafasnya. Sayangnya, Alex tak punya waktu untuk menikmatinya.


Damon dekat. Sistem navigasi memberitahunya. Dia hanya punya satu kesempatan baik sebelum Damon muncul dari atas.


Wajah itu memang bukan lagi wajah manusia. Gigi-gigi taring yang terbuka serta raungan kesakitan itu juga bukan milik manusia. Bahkan darah yang mengalir itu tak lagi merah seperti darah manusia. Entah bagian manusia apa yang tersisa dari Damon ketika pedang Alex menembus tubuh monsternya.


Damon menggeliat tak berdaya. Dia tak mampu mengepak lagi. Badannya terasa berat. Gravitasi menariknya turun. Tangannya hanya bisa menggapai satu hal. Lawan yang ingin dia habisi. Damon mendekap sosok Zetta Sonic erat-erat, membawanya jatuh.


Alex mendengar berbagai macam seruan dari seberang sana. Suara panik dokter Vanessa, teriakan Fergus, juga instruksi Tiger yang lebih mirip protes. Tanpa roket, dirinya tak bisa melepaskan diri. Alex tahu kalau terjatuh dari ketinggian. Dia tahu punggungnya merusak lapisan beku sungai es. Seragam itu juga tahu kalau ikut terbenam dalam air es.

__ADS_1


Kalau ada hal yang diperbaiki oleh Fergus serta tim ICPA, itu pastilah soal celah seragam Zetta Sonic. Air dingin itu tak sampai menyentuh kulit Alex sekalipun dinginnya terasa begitu menusuk. Ada oksigen yang masih bisa didapatkan Alex meski sangat minimum. Setidaknya persediaan oksigennya cukup untuk melepaskan diri.


Alex menolak menyerah apalagi dikalahkan oleh sosok monster seperti Damon. Tangannya mendorong lawan menjauh. Kakinya menendang sekuat tenaga, membawanya kembali ke permukaan. Alex berenang meninggalkan Damon yang terus tenggelam dalam kegelapan.


Mencapai permukaan adalah satu hal tapi menemukan permukaan yang berlubang adalah hal lain. Alex melihat es tebal di depan wajahnya. Tebalnya tidak main-main. Ini mengingatkan Alex pada dinding kaca pada gedung pencakar langit. Alex memukulnya sekali. Lalu, sekali lagi. Tidak ada hasil. Untungnya, Zetta Sonic punya cara sendiri.


Kedua telapak tangannya menyentuh permukaan beku itu. Alex memejamkan mata seiring kekuatan dari Dragon Blood membuncah dalam dirinya. Kilau hijau memenuhi matanya yang tengah tertutup. Hawa panas menyembur dari telapak tangannya. Kekuatan itu menguat, menghancurkan apa pun yang disentuh Alex. Begitu aliran udara samar terasa, Alex mendorong dirinya naik. Kepalanya menyembul di permukaan air es sementara tangannya mencari permukaan es yang bisa dinaiki. Dengan sedikit usaha dan banyak dorongan dari seberang sana, Alex berhasil menjatuhkan dirinya ke atas tanah bersalju.


Alex menggigil. Dia mengangkat kepalanya, menengok permukaan sungai es, melihat berapa jauh dia berhasil renang ke permukaan lalu berjalan hingga ke tepi. “A— A— Apa aku— me— melaku— kan— itu— ba— barusan…” Suaranya bergetar oleh dingin.


[Kerja yang luar biasa, bocah.] Pujian Tiger terdengar disambut oleh tepuk tangan Fergus. [Sekarang kembali ke sini dan akan kuambilkan cokelat hangat untukmu.]


Alex berusaha tersenyum dengan bibir yang masih bergetar.


Tiger menambahkan. [Pesawatmu sedang menuju tempatmu. Kali ini, kamu bisa tidur dalam perjalanan.]

__ADS_1


__ADS_2