
“Siapa itu!?” Alex membentak.
Dia mendapatkan jawabannya berupa serangan laser. Sinar itu menembus posisinya duduk tadi. Alex berlari sekencang yang dia bisa menuju dalam asap. Lawannya kali ini punya pistol laser, sesuatu yang tidak dimiliki si robot tadi. Garis hijau tadi serupa pistol miliknya sendiri. Tangannya sudah mengambil pistolnya sendiri. Semakin dia melihatnya, semakin dia yakin kalau pistol itu sama.
Serangannya datang lagi. Kali ini dibarengi suara rendah agak serak. “Dasar robot pembunuh! Kamu pikir bisa lari dariku? Kalian bahkan tidak ada seujung kuku manusia. Akan kuhancurkan kalian semua!”
Alex mengernyit. Dia tak yakin kalau ucapan itu ditujukan padanya. Ucapan itu lebih cocok diberikan Alex pada robot pembunuh yang tadi mengincarnya. Kecuali kalau sosok dalam kegelapan itu mengira Alex robot.
Alex hendak bertanya, namun serangan laser datang kembali. Serangan beruntun itu mengejar kemana pun Alex pergi. Dia pun berguling ke belakang tumpukan barang. Alex mendapati dirinya sendiri sedang bersembunyi di balik peti-peti dalam ruangan kaca tempat robot pembunuh itu dirakit.
“Jayden! Kamu dengar aku?”
[Aku mendengar serangan. Bukankah robot tadi sudah hancur karena ledakan?]
“Justru itu. Hei, aku tahu seharusnya enggak menanyakan ini. Tapi, apa kalian mengirimkan agen ICPA lain ke sini?”
[Enggak. Hanya Zetta Sonic. Kenapa?]
“Siapa pun itu, kupikir dia membawa senjata laser seperti milik kita. Maksudku, kamu tahu, pistol putih dengan garis hijau menyala ini bukan sesuatu yang bisa dibeli di pasaran, ‘kan? Ini dibuat khusus untuk ICPA. Iya, ‘kan?”
[Kalau dia memang membawa senjata ICPA, aku pasti bisa melacak kodenya.]
“Kamu menempatkan kode di sini? Di pistolku?”
[Tentu saja. Itu senjata berbahaya. Kami bisa menonaktifkannya dari jauh.] Jayden mengingatkan bagaimana Alex gagal menembakkan pistol lasernya pada misi pertama. [Nihil, Alex. Aku enggak mendapat apa pun.]
“Dia masuk ke ruanganku.” Alex berbisik sembari memicingkan mata.
[Aku bisa melihat posisimu. Tapi, aku enggak bisa melihat lawanmu.]
“Apa maksudmu?” Alex mengintip dari balik peti. Dia jelas-jelas melihat seorang berpakaian serba hitam lengkap dengan helm dan rompi anti peluru. Pakaiannya mengingatkan Alex pada seragam Tiger, tapi tidak ada logo ICPA di sana. “Dia tidak memakai baju dengan layar hijau sepertiku. Bagaimana kamu enggak melihatnya?” bisik Alex lagi.
[Aku bisa melihatnya dari kameramu sekarang. Tapi, Jason tidak bisa melacak keberadaannya dari radar. Orang itu, entah bagaimana, berhasil menipu sensor kita.]
__ADS_1
“Apa dia anggota ICPA?” Alex memperbesar gambar pistol pada layar helmnya sendiri.
[Aku enggak melihat identitas ICPA darinya, tentu saja kecuali pistolnya.]
“Bisakah kamu bisa memeriksa siapa dia?”
[Dari jarak sejauh ini dan wajah tertutup helm? Negatif.]
“Jadi, bisa aku melawannya?”
[Asalkan kamu enggak membunuhnya, seharusnya tidak apa. Misi ini milik kita. Nadira memeberikan misi ini khusus untukmu. Kamu tahu artinya? Semua yang berusaha menghalangi adalah musuh.]
Alex menggerakkan badannya, mencari kesempatan untuk menyerang. Lawannya kali ini jelas manusia. Bisa berpikir, bisa merasakan sakit, dan bisa menembak. Tapi, dia tidak memiliki seragam tempur Zetta Sonic. Alex tahu bisa mengalahkannya. Seperti biasa, otaknya memberi peringatan. Dia penasaran siapa lawannya dan kenapa dia ada di sini. Ada banyak pertanyaan yang butuh jawaban. Alex akan memaksa orang itu memberikan semua jawaban yang dia inginkan.
Orang itu mengedarkan pandangannya. Alex pun kembali ke balik peti.
“Keluarlah, robot pembunuh!” Orang itu kembali bicara.
“Beri aku ide!” pinta Alex.
[Kamu mau coba pura-pura jadi robot pembunuh? Tempatmu bersembunyi itu sudah sangat mendukung.]
“Sepertinya aku punya ide lebih bagus,” bisik Alex sembari berpindah tempat.
Alex bersembunyi di balik layar komputer yang masih menyala. Meski masih menyala, gambar yang ditampilkan tak lain hanyalah gambar buram ruangan itu sendiri. Alex melemparkan potongan, menarik perhatian lawan.
Orang itu berpaling. “Robot pembunuh tidak diciptakan untuk mengintai, kamu tahu?”
“Aku bisa melihatmu dengan jelas, agen. Apa yang kamu mau?” Alex akhirnya memberikan balasan. Dia membuat lawannya berpikir kalau suaranya keluar dari layar beserta segala komponennya. Itu berhasil. Alex mendengar lawannya berdiri di depan layar sementara dirinya meringkuk. “Kamu mau menghancurkan pabrik ini seperti agen-agen lain?”
“Ayolah. Kita tahu ada lebih dari itu. Robot pembunuhmu bukan urusanku.”
Jawaban orang itu membuat Alex makin tak paham. “Kalau begitu, apa?”
__ADS_1
“Di mana dia?” Lawan bicaranya bertanya dengan menekan setiap kata.
Alex benci mendapati pertanyaannya mendapatkan pertanyaan lain. Dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Yang dia tahu lawannya punya tujuan berbeda. Masalahnya kalau bukan menghancurkan tempat itu, lalu apa? Siapa yang orang cari? Akhirnya, Alex memaksakan tawa rendah. “Hahaha... Kupikir pembicaraan tidak akan berakhir dengan baik. Aku yakin ada kesalahpahaman di sini.”
Jantung Alex hampir melompat ketika dia mendengar suara kencang dari belakangnya. Dia pun memberanikan dirinya mengintip dari celah. Orang itu memukul panel mesin dengan kepala masih tertuju pada layar di atasnya.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku yakin kamu sudah tahu cerita lengkapnya dari anak buahmu yang gagal kukirim ke neraka. Biar kuperingatkan. Kamu bisa sembunyi, tapi kamu tidak akan bisa lari! Aku tidak akan berhenti sampai kamu membebaskannya! Aku akan menemukanmu bahkan kalau harus ke ujung dunia!”
Alex merasakan napasnya tertahan. Orang itu jelas punya dendam pribadi pada Filip. Alex kembali pada Jayden. “Kamu dengar itu? Kamu dapatkan identitasnya?”
[Sedang melakukan pencocokan data, Alex. Sejauh ini, aku cukup yakin dia bukan anggota kita. Tinggal mencari tahu bagaimana dia bisa mendapatkan pistol laser ICPA.]
Alex merasakan gerakan di belakangnya. Dia pun buru-buru berlari ketika orang itu menembak habis layar berikut panel di bawahnya. Meski benci mengakui, Alex harus mengakui orang itu berdedikasi dan hebat.
Orang itu kembali mengulangi kata-kata yang sama. “Kamu bisa sembunyi, tapi kamu tidak akan bisa lari dariku!”
Orang itu benar. Alex mengaktifkan stealth mode tepat ketika lawannya mulai berlari. Alex sudah melompat ke luar ruangan. Dia sendiri perlu keluar dari sana agar bisa meledakkan semua pabrik. Tinggal memastikan para pegawai pabrik selamat, lalu memastikan orang itu mengikutinya keluar, maka tombol peledak bisa ditekan.
[Aku dapat.] Jayden menyela ketegangan.
Alex berhenti, berbalik, sambil menodongkan pistol ke depan. “Dapat apa?”
[Dia bukan anggota ICPA. Aku enggak menemukan kecocokan suaranya.]
“Berarti, dia bukan anggota kita?”
Ada jeda sebentar sebelum Jayden bicara lagi. [Mendengarmu bicara begitu, aku jadi terpikir hal lain. Sebentar.”
Alex mundur perlahan ke arah dermaga bawah tanah. Dia tak lagi mendengar keributan di sana. Semua pegawai pabrik pasti telah melarikan diri, pikirnya. Alex masih melangkah mundur satu demi satu langkah. Langkahnya terhenti ketika kakinya terantuk sesuatu yang empuk.
Matanya menoleh ke belakang. Tepat di bawah kakinya, Alex melihat kaki berdarah. Itu salah seorang pegawai pabrik. Dia ingat menyelamatkan orang itu dari sabetan si robot. Mata Alex mengikuti kaki tersebut, mendapati tubuh, kepala, semuanya utuh. Dia juga mendapati kalau pegawai tersebut bernapas. Masih hidup.
Tak memahami apa yang terjadi, Alex melangkah lagi. Dia tak berani berputar, mendapati masih ada orang asing di depannya. Alex mendapati orang lain lagi. Lalu, lagi. Dan, lagi. Di lorong itu, bergelimpangan para pegawai pabrik. Tak ada keributan karena tak seorang pun sadar. Mereka tak pernah meninggalkan pabrik sama sekali.
__ADS_1