
Nama itu memang tidak asing. Dominic sedang diperbantukan sebagai tenaga medis di kota itu. Dia lebih sering bertemu dokter Vanessa dan menghabiskan waktu bersama dengan sang dokter. Bahkan sebelum kejadian di dermaga, kedua dokter ini sedang menghabiskan waktu di restoran kecil tak jauh dari bendungan.
“Maaf, aku terlambat.” Dokter Vanessa menarik kursi. Rambut ikalnya sudah digulung rapi dan dandanan sederhananya masih bertahan meski malam telah menjelang.
“Terjebak macet?” Di seberangnya, dokter Dominic menyisihkan tablet PC yang tadi sedang dibacanya. Dia mengambil gelas anggur Vanessa dan mengisinya hingga cukup. “Aku tidak tahu tempat ini menyajikan anggur yang canape yang lezat. Kita harus menghabiskan waktu lebih banyak bersama.”
Vanessa tak terkesan. Wanita itu hanya mengangkat bahu. Dia membereskan tasnya agar bisa duduk dengan nyaman. Seorang pelayan datang membawakan menu. Tanpa perlu melihat menu, Vanessa tahu apa yang dia inginkan. Hanya makanan ringan.
Restoran itu menyajikan anggur murah dengan makanan yang biasa pula. Namun, suasananya memang terasa nyaman. Sofa empuk, cahaya lampu remang, juga alunan musik lembut. Cocok untuk ngobrol santai. Alih-alih makan malam di sana, Vanessa lebih suka ke sana setelah jam makan lewat. Pengunjung telah berkurang jauh. Meja di ujung, tempat favoritnya, juga selalu kosong.
Berbeda dengan meja lainnya, meja ini hanya dilengkapi sofa pendek. Ukurannya tanggung untuk digunakan duduk bersebelahan dan cukup lenggang untuk digunakan sendirian. Vanessa yakin Dominic juga menyukai tempat itu seperti dirinya. Ini sudah kesekian kalinya mereka menghabiskan waktu bersama di sana.
“Berapa nyawa yang kamu selesaikan hari ini?” Vanessa balas bertanya.
Dominic terkekeh. “Selesaikan? Aku menyelamatkan nyawa bukan menyelesaikannya. Hari ini aku memberi tujuh jahitan pada agen yang teledor, mengomeli seorang petugas back office, juga menolong kucing yang tak bisa dari pohon.”
“Kamu harus belajar berbohong lebih baik dari itu.”
“Tidak perlu,” kata Dominic sambil memulas senyum tipis, “karena aku tidak berniat membohongimu.”
Giliran Vanessa tersenyum geli. “Kamu pasti sudah melatih rayuan seperti itu bertahun-tahun.”
__ADS_1
“Benar. Aku berlatih untuk saat ini.”
Vanessa sekarang mengernyit. Dia tidak suka arah percakapan tersebut dan segera menggantinya. Mereka ngobrol berbagai macam hal. Mulai dari hal sepele seperti cuaca dingin yang membuat meriang, mengeluhkan sistem ICPA yang terkadang terlalu berbelit-belit, juga varian obat baru. Pembicaraan itu hampir selalu berakhir pada Sonic.
“Dia yang jadi sumber kemacetan hari ini?” Dominic bertanya kembali soal hal yang sama. Baik dirinya maupun dokter Vanessa sama-sama menyetir mobil dari ICPA. Mobil itu dilengkapi navigasi canggih yang terhubung ke kantor utama. Dengan bantuan operator, mereka tidak akan terjebak kemacetan.
Vanessa menggeleng. “Hanya insiden kecil.”
“Kamu tahu ini hanya masalah waktu, ‘kan.”
Vanessa mendesah. Dia telah banyak mendapat pertanyaan dari sesama rekannya di ICPA. Sejak berita serta video Damon berubah jadi monster — entah bagaimana caranya — bisa menyebar ke ICPA seluruh dunia, berbagai kemungkinan terasa sedikit lebih nyata. Sonic juga bisa berubah jadi monster. Selagi mereka tak tahu alasan Alex bertahan sementara Damon tidak, ketakutan itu akan selalu ada.
Apalagi Vanessa baru saja melihat bagaimana Alex sedikit kelepasan dalam latih tanding beberapa waktu lalu. Itu memang membuatnya takut. Pasti pikiran itu tercermin di wajahnya karena Dominic kembali bertanya.
“Siapa? Sonic?” Vanessa menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Dia… pasienku. Aku lebih takut pada kekuasaan yang ada di sekitarnya.”
“Nadira?”
“Sejauh ini, aku melihat Nadira melakukan apa pun untuk Sonic. Banyak hal. Fasilitas, pikirannya, waktu. Dia sangat sibuk, ingat? Tapi, Nadira selalu menyempatkan bila ada masalah dengan Special Force. Sebenarnya itu wajar. Special Force ada di bawah kendalinya langsung bukan Fergus.”
“Itu membuatmu takut?” lanjut Dominic.
__ADS_1
“Kalau Nadira mau mencurahkan segalanya agar Sonic bisa melakukan banyak hal, aku sekarang khawatir Nadira akan melakukan banyak hal juga agar Sonic tetap terkendali. Termasuk…” Vanessa berhenti. Dia tak ingin melanjutkan. Nadira punya banyak tangan di luar sana. Wanita itu bisa melakukan banyak hal.
“Baiklan,” lanjut Dominic, “sebelum kamu bilang aku hanya mendekatimu soal Sonic, kupikir lebih baik kita ganti pembicaraannya.” Dominic menarik dirinya mendekati meja. Dia menuangkan anggur lagi ke gelasnya yang kosong dan gelas Vanessa. Kemudian, dia mengangkat gelasnya hendak bersulang. “Kita dokter. Kita menyelamatkan nyawa, bukan menyelesaikannya. Itu bukan bagian kita.”
Vanessa terkekeh mendengarnya. Dia mengangkat pula gelasnya. “Demi dunia yang lebih baik.”
“Demi dunia yang—”
Ucapan Dominic tersela oleh dering telepon Vanessa. Ini membuat wanita itu meletakkan gelasnya kembali. Dengan tangan yang lain, dia memberi isyarat agar Dominic menunggu. Lagi-lagi, raut wajahnya berubah drastis setelah melihat pesan di ponselnya.
“Berita buruk?” tebak Dominic.
“Sangat,” jawab Vanessa dengan lirih. “Sonic sedang dikejar oleh… Kloster?” Kata di akhir kalimat Vanessa terdengar ragu. “Ini gila. Mereka juga ada di sini? Aku harus segera kembali ke markas.” Dia pun membereskan ponselnya ke dalam tas lalu mengambil dompet.
Saat itu, Dominic berdiri. Tubuhnya menyeberangi meja dan tangannya buru-buru memegangi tangan Vanessa, menghentikannya mengambil uang atau pun kartu. “Untuk mempersiapkan yang terburuk?”
Pertanyaan itu membuat Vanessa berhenti. Dia mengernyit pada lawan bicaranya. “Tidak akan ada yang terluka. Mereka hanya… membutuhkanku.” Vanessa terdengar ragu lagi.
“Memang. Mereka membutuhkanmu. Mereka membutuhkan dokter terbaik yang yakin dengan semua tindakannya.” Dominic tersenyum. “Kamu brilian. Percayalah pada dirimu sendiri seperti kamu percaya Sonic tidak akan berubah jadi monster.”
Senyuman itu jelas menular. “Terima kasih.” Suaranya melembut. Vanessa bangkit dan memberikan pelukan ringan. “Mungkin kita memang harus lebih sering menghabiskan waktu bersama.”
__ADS_1
Dominic mengantar Vanessa keluar dari restoran dan bergegas kembali ke mejanya setelah wanita itu masuk ke mobil. Sama seperti Vanessa, Dominic juga mendapat pesan di ponselnya. Sambil menggerutu, dia menekan tombol untuk menelepon balik si pengirim pesan.
“Kamu tahu, kamu baru saja mengacaukan kencanku,” katanya sebagai pembukaan. “Sekarang, jelaskan kenapa kamu membiarkan Kloster berkeliaran di sini, Mark!”