Zetta Sonic

Zetta Sonic
White Stuff


__ADS_3

Tiger menyetir ke arah perkantoran. Seperti biasa, tempat itu memang dipenuhi orang-orang dalam balutan kemeja dan dasi, tak sedikit pula yang mengenakan jas. Tiger memarkir mobil cukup di tepi jalan, cukup jauh dari cafe Hummingbird sendiri. Cafe kecil itu hanya bisa terlihat bila dia menggunakan teropong.


Emil dan Jayden telah menghubungi Nadira. Wanita itu tidak ambil pusing. Dia ingin membantu Caitlin kalau memang mantan agennya dalam masalah. Dia juga tak ingin Special Force masuk jebakan mentah-mentah. Intinya, Nadira ingin Tiger sekadar memeriksa tanpa benar-benar menampakkan wajah. Mereka telah mengetahui rahasia Baron. Menangkapnya itu cerita lain.


Waktu telah menunjukkan pukul sebelas.


[Dapat sesuatu?] Suara Jayden terdengar dalam pengeras suara mobil.


“Belum.”


[Pastikan posisimu aman.]


“Yup. Jangan khawatir.”


Tiger sedang meneropong cafe itu sejak dia datang. Sejauh ini, dia tidak melihat orang yang dia kenal. Lagipula, Caitlin bilang akan mengenakan jaket kulit. Itu sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Jadi, seharusnya cukup mudah mengenalinya. Sebaliknya, Caitlin tidak akan mudah mengenali Tiger. Pria itu datang dengan mobil hasil sitaan. Fergus meminjamkannya. Sebuah sedan hitam keluaran terbaru dengan baret pada beberapa bagian, itu hasil perjuangan sopir terdahulunya lolos dari kejaran polisi.


“Tunggu, aku melihatnya.”


[Tepat waktu. Seperti biasa.]


Tiger melihat Caitlin. Gadis itu masih seperti biasanya. Badan ideal, rambut diikat ekor kuda, melenggang dengan percaya diri, dan pandangan lurus ke depan. Seperti ucapannya di telepon, dia mengenakan jaket kulit. Dia juga mengenakan sepatu bot kulit dan kacamata hitam.


Caitlin berjalan sambil membawa kantong kertas dan kopi panas keluar cafe. Dia duduk di meja paling ujung yang ada di luar. Dari sana, posisinya bisa terlihat lebih jelas dari orang-orang di luar gedung. Kepalanya bergerak, mengedarkan pandangan ke segala sisi. Namun, Caitlin tidak sedang terlihat mencari seseorang. Dai tidak terus menerus mengedarkan pandangan. Gadis itu berhenti sesekali pada satu titik. Caitlin lebih seperti sedang bosan atau mencari inspirasi.


“Apa yang dia lakukan?”


Jayden juga bisa melihat hal yang sama. Teropong yang digunakan Tiger terhubung dengan sistemnya. [Dia seperti sedang mengulur waktu atau mencari sesuatu.]


“Kamu pikir aku harus ke sana?”


[Mari kita tunggu beberapa menit lagi. Ngomong-ngomong, aku enggak melihat Baron.]

__ADS_1


“Dia memang sendirian.” Tiger melihat melalui mata telanjang. Dia cukup yakin tidak melihat Baron di sana. Caitlin sendirian. “Mungkin aku harus menyapanya.”


[Jangan. Kita tunggu dulu sebentar. Kita tidak bisa memastikan apa ada anak buah Baron tidak di dekat sana. Dia tahu kalau rahasianya telah terungkap, sebaiknya kita tidak gegabah.]


“Hei, dia bergerak.”


Caitlin bangkit dari kursinya. Dia berjalan santai meninggalkan area gedung. Kondisinya tidak begitu ramai, justru cenderung sepi. Itu belum jam makan siang. Kebanyakan pekerja kantor masih berkutat dengan pekerjaannya. Caitlin melangkah di trotoar lalu akhirnya memilih kursi kosong dan duduk.


[Dia meninggalkan Hummingbird? Kenapa?]


“Apa menurutmu aku harus ke sana sekarang sebelum dia pergi?”


[Tunggu dulu. Ada yang mendekat.]


Mereka melihat seorang laki-laki lain membawa tas kertas besar menghampiri Caitlin. Caitlin berdiri, mengambil tas kantong tersebut. Mereka ngobrol sebentar, saling mengangguk, lalu si pria pergi. Caitlin kembali duduk menikmati kopi dan kuenya di dalam kantong kertas dari cafe.


[Perbesar tas kertas itu.]


[Untuk mengecoh Baron?] Emil akhirnya bersuara.


Jayden setuju. [Di telepon, Caitlin bilang akan bertemu temannya dan belanja tas. Dia tidak ingin ketahuan sudah meneleponku. Jadi, dia membeli tas itu dengan bantuan kurir. Apa yang sebenarnya terjadi.]


“Dia pergi.”


Caitlin akhirnya berdiri ketika trotoar benar-benar sepi. Dia berjalan santai. Tangannya membuang gelas kertas kopi dan kantong kertas kosong ke tong sampah. Lalu, dia melakukan gerakan pelan ke arah tanaman di belakang tong sampah tersebut.


“Dia membuang sesuatu ke pot bunga itu.”


[Biar kuputar ulang.]


Tiger menurunkan teropongnya. Mereka membiarkan Caitlin melenggang. Tiger kini mengambil ponsel. Di sana, Jayden memutar ulang semua yang mereka lihat dari teropong. Sistem telah merekam semuanya, jadi dia bisa mengirimkannya untuk dilihat ulang.

__ADS_1


Seperti kata Tiger sebelumnya, Caitlin memang melempar sesuatu pada pot tanaman di belakang tong sampah. Bentuknya tidak terlihat jelas, namun warnanya putih.


Tiger menunggu beberapa menit sebelum akhirnya dia turun dari mobil. Berbeda dari biasanya, Tiger mengenakan setelah hitam. Kalau dia menyetir sedan hitam mewah itu, dia juga harus mengenakan pakaian  yang cocok. Alih-alih menjadi seorang pekerja profesional, Tiger lebih suka memakai pakaian supir. Dia bahkan juga mengenakan topi senada.


Setelah lima menit berlalu, Tiger pun turun. Dia berjalan cepat ke arah tong sampah. Tangannya mengambil rokok dan mulai menghisap. Dari earpiece di telinganya, dia mendengar Jayden berkomentar.


[Merokok demi mengambil barang? Sungguh totalitas!]


“Diam.” Tiger bicara tanpa hampir menggerakkan mulut.


Matanya mengawasi sekitar lalu melirik ke arah tanaman di belakang dirinya. Dia tidak perlu menghabiskan rokoknya. Begitu setelah dia mengepulkan asap tebal, Tiger membuang rokok, dan mengambil benda putih dari antara tanaman tersebut.


Tiger kembali ke mobil lalu menyalakan mesin. Di dalam bungkusan putih tersebut, dia melihat sebuah chip. Kalau ada Emil atau Jayden di sana, mereka akan bisa langsung memeriksanya. Sayangnya, saat ini keduanya sedang berada di markas.


“Apa katamu? Haruskah aku membawanya ke markas Special Force atau ke markas ICPA?” tanya Tiger sambil memacu mobil.


[Kamu bercanda? Bawa pulang ke markas. Tidak ada tempat yang lebih aman dari markas kita sendiri saat ini.]


Tiger menyetir cepat seperti biasa. Setibanya di markas, Jayden dan Emil melakukan pemeriksaan. Untuk sekadar jaga-jaga, mereka memeriksa isi chip tersebut menggunakan Flip Board bukan komputer yang terhubung ke seluruh jaringan markas Special Force.


Layar mulai menampilkan angka-angka aneh dan berbagai berkas. Ada pula gambar benda transparan seperti ubur-ubur berwarna ungu. Bedanya, benda itu memiliki tentakel pula pada bagian kepala atasnya. Kemudian, muncul video. Beberapa orang mengenakan pakaian tebal seperti astronot menuangkan cairan ke dalam baskom besar. Selanjutnya, orang-orang itu memasukkan tikus putih ke dalamnya. Dalam hitungan detik, si tikus mengambang dengan tubuh pucat kehitaman.


“Apa itu?” Tiger mengernyit. “Apa itu racun?”


Emil angkat bahu. “Kalau itu Dragon Blood. Cairannya gagal total. Tidak ada monster. Hanya ada mayat.”


Muncul berkas-berkas lagi, peta dunia, jalur kereta bawah tanah, pembangkit listrik, juga sungai yang mengalir ke laut termasuk waduk tempat mereka berada saat ini. Berkas-berkas itu lengkap dengan gambar dan detail informasi.


Jayden menarik napas dalam-dalam. “Teman-teman, kupikir Caitlin baru saja memberikan kita bocoran rencana jahat Baron selanjutnya.”


Tiger masih mengernyit. “Dan, itu adalah?”

__ADS_1


“Meracuni semua air di ibu kota.”


__ADS_2