
Itu bukan suara Emil.
Alex mengenalinya. Baru saja otaknya berhasil mengenali suara itu, badannya disengat aliran listrik. Rasanya seperti ditusuk jarum di sekujur tubuh. Rasa sakit itu memaksanya melepaskan diri, baik dari Tiger maupun dari Gavin. Alex melompat mundur kesakitan sebelum akhirnya bergulung-gulung di tanah, memohon agar rasa sakit tersebut lenyap. Untungnya itu memang tak berlangsung lama. Segera setelah sengat listrik reda, Alex mendapati dirinya meringkuk di atas tanah. Rasa sakit masih tersisa disertai kelelahan. Dia tak lagi mampu dan berani bergerak.
“Jayden?” Tiger tak yakin dengan suara yang juga didengar.
[Merindukanku?]
“Kali ini… ya. Sangat! Kerja bagus, J.” Tiger buru-buru menolong Gavin yang terbatuk-batuk. “Kamu masih hidup. Tenang, tenang. Itu sudah berlalu” Tiger jelas tak tahu bagaimana cara menenangkan Gavin yang baru merasakan dicekik Zetta Sonic. Sekarang, dia memicing pada Alex tetapi pertanyaannya dia tujukan pada Jayden. “Dia… masih hidup ‘kan?”
[Tentu saja! Periksa dia.]
Untuk sedetik, Tiger bergeming, ragu. “Aku enggak tahu harus bertanya yang mana lebih dulu. Bagaimana caramu melakukannya atau bagaimana kamu bisa ada di sana?”
[Sekadar informasi. Aku masih di rumah sakit.]
“Apa? Bagaimana—”
[Aku tetap anggota resmi Special Force. Seseorang mengirimkanku laptop dan perangkat — ya, kamu tahu — rahasia.]
Tiger berjongkok di depan Alex yang meringkuk di atas tanah. Anak itu tak lagi bergerak. Ini membuat Tiger cukup ragu haru melakukan apa. Dia menanti sesaat dan mendengar Alex merintih kesakitan. “Oke. Dia masih hidup,” katanya.
[Syukurlah.]
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
[Protokol keamanan. Ingat?]
Tiger berdecak kesal. Dia masih ingat memukul Jayden sebelum insiden penyusupan Alex. “Nadira membuatku memukulmu gara-gara perdebatan sengit kalian. Dan, akhirnya kamu kalah? Kamu yang memasang sistem itu di seragam Zetta Sonic. Benar begitu?”
[Kurang lebih. Tapi, Nadira setuju mengganti fitur meledakkan diri dengan sengatan listrik. Lebih aman, bukan?]
__ADS_1
“Tergantung definisi kata aman yang kamu maksud.”
[Alex, kamu bisa dengar suaraku? Alex?]
Tidak ada balasan dari Alex membuat Tiger iba. Dia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Alex yang sedikit sesekali gemetar. “Tetap tenang. Kendalikan dirimu, bocah. Bertahanlah di sana. Jangan memaksa Jayden menyetrum dirimu lagi.”
[Kamu pikir aku mau melakukannya?]
“Ya, ya, ya. Sekarang apa?”
Gavin tengah bangkit sambil mengelus lehernya. Dicekik bukan pengalaman menyenangkan. Dia melihat Tiger berada di dekat Zetta Sonic. Dia juga melihat kobaran api di belakang mereka. Aroma hangus bercampur aroma laut saling melawan. Hawa panas membuat peluhnya bercucuran. Selagi memulihkan diri, Gavin mendapat firasat buruk. Ada deru mesih mobil terdengar mendekat. Suara mesinnya tidak sehalus mobilnya atau mobil ICPA lain. Dia pun berpaling dan mendapati kalau firasatnya benar.
“Tiger. Kita kedatangan tamu.” Gavin berdiri lalu buru-buru berlari mendekati Tiger.
Di tepi dermaga yang luas itu, mereka kedatangan empat jip beratap terbuka. Mereka melewati sisi lain yang tidak terbakar. Keempatnya berhenti membentuk formasi kepungan. Kalau mau pergi, Zetta Sonic harus memilih melawan mereka atau kabur dari laut. Sayangnya, saat ini Alex masih disibukkan oleh rasa sakitnya.
“Kloster?” tebak Tiger.
Jaringan itu pun terputus.
“Jayden? Jayden? J!” Tiger berulang kali memanggil, berharap dia akan kembali mendengar suara si operator di earpiece.
“Percuma,” ujar Gavin. “Kloster punya pengacak sinyal yang cukup menyebalkan. Radiusnya cukup luas dan kekuatannya mampu mengacau sinyal ICPA.”
“Tidak akan lama. Jayden akan memperbaikinya.” Tiger pun berdiri di samping Gavin.
“Itu yang para Kloster incar. Sedikit waktu. Mari berharap Jayden bisa bekerja cepat.”
Gavin melirik ke belakang sekali. Zetta Sonic masih meringkuk di sana. Kemudian, dia kembali melihat ke depan. Orang-orang dari jip itu melompat turun. Setidaknya ada empat orang di setiap mobil. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan membawa senjata laras panjang yang cukup gemuk.
“Mereka seperti tentara bayaran,” bisik Tiger.
__ADS_1
“Mereka memang tentara bayaran atau pembunuh bayaran. Tergantung kamu melihatnya dari sisi mana,” balas Gavin. Matanya mengamati setiap orang. Dia mengenali salah satu di antaranya. Seorang pria tinggi, berpostur tegap, rambut cepak yang sebagian dicat merah. Itu Naray, si pemimpin.
“Kita kalah jumlah. Apa rencananya?”
“Bicara.”
Gavin melangkah ke depan, ke arah sosok yang dia kenal, tanpa menunggu respon dari Tiger. Sikapnya membuat waspada orang-orang itu. Mereka menodongkan senjata selagi Gavin bergerak mendekat sepelan mungkin.
Naray memiliki tubuh yang sangat ideal untuk jadi anggota militer. Meski begitu, berbeda dengan Tiger yang mencekam karena fisiknya, Naray menyebarkan ancaman dari sorot matanya. Mata kecil dan tajam itu seperti sungai es. Tidak ada yang tahu batas kedalamannya. Satu hal yang pasti. Sebuah sikap salah akan memecahkan permukaan es, menarik siapa pun di atasnya.
Menyadari hal tersebut tak membuat Gavin gentar. Dia tahu siapa yang dia hadapi, begitu pula sebaliknya. Naray mengangkat tangannya ke atas. Rekan-rekannya pun menurunkan senjata. Berikutnya, Naray malah melangkah maju. Mereka bertemu di tepi dermaga, di antara kobaran api juga dinginnya laut.
“Dia tidak akan ke mana pun,” ujar Gavin.
Naray terkekeh. Suaranya dalam dan tenang juga sedikit serak. Setiap kata keluar seperti ingin memberi tekanan. “Beberapa menit yang lalu, ada agen yang mengenakan pakaian konyol. Semacam ilusi optik. Itu berhasil mengecoh penghuni rumah. Tidak dengan kami. Aku tidak tahu kamu bekerja sama dengan ICPA di sini.”
“Memang tidak.”
“Kamu mencoba menyembunyikannya dari kami.”
“ICPA Regis mencoba menghentikanmu dan menghentikannya melakukan hal yang salah. Kalau kamu mundur, aku yakin hubungan buruk antara ICPA Regis dan Kloster bisa mulai diperbaiki. Pilihannya ada padamu.”
“Kamu pikir kami akan membunuhnya?” Naray menepuk senjata laras panjang yang tergantung di tubuhnya.
Gavin menatap lekat-lekat lawan bicaranya. Tatapan mereka bertemu langsung karena Gavin tak lagi mengenakan kacamata hitamnya. Naray salah kalau mengira Gavin tak bersenjata. Dia masih memiliki beberapa pisau tersembunyi dan satu pistol tangan. Kalau mau, Gavin bisa mencabutnya sekarang juga. “Kloster mengirim tim terbaiknya ke Sinde hanya untuk Zetta Sonic. Aku enggak bisa memikirkan motif lain selain itu.”
“Kami di sini untuk menghentikan monster.”
“Dia bukan monster.”
“Itu hanya masalah waktu. Dia lebih berbahaya dari yang kalian sadari. Hanya kami yang bisa menghentikannya.”
__ADS_1
“Kalau begitu, kamu harus melewati aku.”