
Suara ribut itu mencapai pondok. Jayden spontan membuka jendela untuk protes. Namun, begitu mengingat kalau anak-anak kecil pembuat keributan di luar tidak memahami bahasanya, dia menutup kembali jendela sambil mengumpat. Sementara itu, anak yang lain masih terbaring di atas kasur. Ini sudah hari kelima. Alex belum membuka matanya sama sekali.
Pondok tempat mereka berada kini lebih mirip gabungan kamar rumah sakit mewah dengan sedikit sentuhan resort. Pondok ini berada di bagian dalam desa, dekat dengan balairung. Dibuat di atas fondasi bata tinggi, berdinding kayu, beratap tinggi. Ada satu bagian dindingnya yang sepenuhnya merupakan pintu geser menuju jalan ke arah pondok lainnya. Tempat itu memang dibangun untuk menyambut tamu penting.
Dominic bilang kalau pemulihan Alex akan memakan waktu lama. Tiga hari, satu minggu, lima bulan, satu tahun, tidak ada yang tahu. Setiap harinya, kondisi Alex membaik, itu yang terpenting. Tubuh Alex dipasangi beberapa alat untuk memantau keadaannya. Respiratornya baru dilepas kemarin. Sisanya masih menempel namun tak banyak.
Jayden tak lagi terkejut dengan beragamnya fasilitas di dalam desa tersebut. Dia sudah melihat papan yang bisa melayang di udara, seragam prajurit dan topeng mereka, bandul liontin magis, dan banyak lagi. Melihat stok kontak di dalam pondok sama sekali tidak membuatnya terkesan. Dia bahkan tak penasaran bagaimana mereka bisa mendapatkan listriknya.
Pintu pondok terbuka. Dominic masuk membawa sekeranjang buah segar. Dia menyeberangi ruangan, menuju ke arah dapur, lalu meletakkan keranjang buah itu di sana. Kasur Alex berada tepat di seberangnya dipisahkan oleh meja makan sederhana. Setelah meletakkan buah, Dominic beranjak ke sofa kayu dan memungut buku bacaan.
“Kamu selalu kelihatan tegang setiap harinya, agen,” katanya pada Jayden. “Setidaknya, duduklah.”
Jayden melirik kursi kayu yang memang diletakkan di sisi ranjang Alex. Dia bisa duduk di sana bila mau, namun biasanya Jayden lebih suka berdiri dekat jendela lain dekat ranjang. Dari sana, dia bisa melihat kondisi di luar sekaligus menjaga Alex.
“Aku hanya sedikit tidak terbiasa dengan kondisi ini,” jawab Jayden. “Ini terasa terlalu damai.”
Dominic langsung tergelak. “Hahaha…. Benar. Itu masalah kalian. Masalah Mark, Nadira, kamu, bahkan juga Alex.” Dominic mengembalikan bukunya ke atas meja dan beranjak menuju Jayden. “Kalian terlalu terbiasa dengan kriminalitas. Kalian lupa kalau juga berhak memiliki kehidupan yang damai. Nikmati ketenangan yang pendek ini.”
Kicauan burung di luar sana memang merdu. Cahaya mentari pagi terasa hangat. Anginnya lembut bersahabat. Sekalipun makanan desa sedikit asing, rasanya tetap lezat. Ada akses kepada dunia luar termasuk listrik dan internet — terutama internet. Itu memang sebuah ketenangan yang bisa dihitung sebagai liburan.
Dominic menepuk bahu Jayden. “Dia akan bangun.”
__ADS_1
Untuk seseorang yang memahami rahasia Dragon Blood namun tidak bisa memastikan pemulihan Alex, Dominic terlihat terlalu santai. Meski begitu, semua sarannya cukup berpengaruh. Dominic berhasil mengusir Mark Hill kembali ke markas ICPA. Dia lebih diperlukan di sana. Dominic berjanji akan mengabari perkembangan kondisi putranya setiap jam bila diperlukan. Dan, Tesiana berjanji akan memberikan dia akses tercepat ke desa.
“Alex harus bangun,” kata Jayden lebih untuk memberikan harapan pada dirinya sendiri. Kemudian dirinya menghela napas panjang, teringat pada hal lain. “Nadira tidak bicara apa pun. Dia memberikanku izin melakukan semua sendirian. Dia bahkan tidak menuntut koordinat lokasi padanya. Ini hanya ketenangan sebelum badai.”
“Mungkin. Tapi, itu akan berlalu.”
“Badainya bahkan belum datang.” Ucapan itu bukan datang dari Jayden, melainkan datang dari ranjang di samping.
Dominic dan Jayden serentak menoleh. Alex menatap keduanya dengan mata sayu dan senyuman tipis. Wajahnya memang sudah tak lagi pucat, namun terlihat sekali kalau dia masih lemah.
“Aku,” kata Dominic cepat-cepat, “akan menelepon.”
“Kalau kamu berpikir aku diserang ketika meneleponmu. Kamu salah besar.” Jayden mendekati ranjang, menelisik wajah Alex. Keheningan itu tak bertahan lama. Ketika Jayden mulai terkekeh, Alex tertular. Keduanya tertawa rendah dalam kelegaan.
Ayah menyempatkan diri datang di hari itu. Namun, justru Alex meminta dia mengurus kerjaannya. Setelah tahu kalau ayahnya berperan dalam keamanan dunia, Alex menganggap kehadiran ayahnya — meski hanya beberapa jam — begitu berarti.
Alex lebih banyak tidur daripada menjelajah dalam beberapa hari selanjutnya. Dominic meminta dia banyak beristirahat. Alex tidak melawan. Dia sendiri merasa lebih mudah lelah. Tesiana dan Bounura membantu menyediakan semua hal yang dia butuhkan. Tepat dua minggu setelah ujian Alex di hutan, Bounura mengajaknya kembali ke sana. Mereka pun pergi bertiga bersama Jayden.
__ADS_1
Situasinya memang berbeda. Mereka tidak datang melalui celah di tepi tebing. Mereka datang dari arah pulang Alex. Mereka mendaki lembah itu dan masuk ke dalam hutan. Di pagi hari cerah, situasinya memang terasa begitu berbeda. Bounura memimpin lewat jalur berbeda agar mereka tidak perlu melewati sarang lebah. Mereka tak menemukan masalah berarti untuk tiba di bangunan kecil di tengah hutan.
Tempat itu bersih. Tanpa mayat, tanpa darah, tanpa adanya bekas pertempuran. Ketika Alex memejamkan mata, dia masih bisa membayangkan pertarungannya di sana. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan pula. Tesiana sudah berulang kali bilang padanya untuk memaafkan dirinya. Dan, Alex sudah siap.
Alex membawa rangkaian bunga kecil. Dia beranjak ke bangunan kecil dan meletakkan rangkaian bunganya di sana. “Terima kasih,” bisik Alex pada udara.
Berikutnya, dia merasakan hawa dingin datang dari sisi belakang bangunan. Alex menengok lalu menanti. Tak lama kemudian, dia melihat beberapa hewan-hewan kecil berlarian muncul dari sana. Hewan-hewan penjaga yang sama persis, hanya saja lebih kecil.
“Ah, para Seinu muda,” ujar Bounura. “Lihat bagaimana kaki-kaki mereka masih gemuk dan moncong mereka belum tumbuh sepenuhnya. Mereka terlihat seperti kucing-kucing kecil yang menggemaskan.”
Jayden terkekeh. “Ah, seandainya aku diizinkan mengambil gambar selama berada di desa ini—“
“—maka kamu sudah punya satu album penuh,” sahut Bounura.”
“Benar.”
Alex hanya bergeming. Dia membiarkan para Seinu kecil bermain-main dekat kakinya. Mereka tidak takut padanya. Tingkah laku mereka memang mengingatkan Alex pada kucing-kucing kecil. Itu juga mengingatkannya kalau dia merindukan anjingnya di rumah.
Lalu, Alex sadar akan hal lain. Hewan-hewan itu tidak takut padanya atau merasa terancam. Mereka tahu kalau jiwa yang ada dalam diri Alex tidak perlu ditakuti. Bahkan ketika Alex sempat kehilangan diri dan membunuh mereka, para hewan itu tetap berusaha melindunginya dengan cara mencegah dia mencapai bangunan.
Alex sekali lagi memejamkan mata dan menghirup udara Kloster. Dia akan segera kembali ke kota. Ketenangan itu segera menjadi kenangan. Alex tidak gentar. Tidak perlu lagi. Babak barunya akan dimulai. Dia tahu apa yang ada di dalam dirinya. Kini, dia siap menunjukkan pada dunia luar siapa Zetta Sonic. Para penjahat itu sebaiknya bersiap.
__ADS_1