
Rencananya kacau. Kalau mau pabrik itu dihancurkan bom, setidaknya dia harus memindahkan orang-orang tersebut lebih dulu. Mereka tidak sadar akan sesuatu. Sesuatu yang berada di udara. Alex mendapatkan peringatan lain dari sistem ICPA. Sistemnya mendeteksi bahan asing berbahaya di udara. Bukan sembarang bahan beracun, melainkan bahan yang melumpuhkan, sejenis obat bius.
Dia menemukan sumbernya datang dari ventilasi yang ada di bagian atas. Kabut putih tipis di sana menyebar tipis. Kebocoran? Sepertinya bukan. Bagi Alex, ini mungkin ulah Filip Shah. Sistem kebakarannya dilengkapi dengan obat bius. Demi menjaga keamanan rahasianya, dia rela mengorbankan para pekerja. Kalau pabriknya hancur dalam kebakaran, dia akan memastikan tak seorangpun bisa lari dari sana untuk mengumbar apa yang terjadi.
Orang-orang malang itu terjebak di sana. Kalau Alex menekan tombol peledak, mereka semua akan jadi korban. Dia harus menyelamatkan mereka lebih dulu. Bagaimana pun, orang-orang itu sesungguhnya adalah saksi mata dan pelaku kejahatan.
“Jayden? Tiger? Kalian melihat yang kulihat.”
Tiger menyahut lebih dulu. [Kamu tahu rencana awal kita, Alex? Membiarkan para pegawai itu keluar, lalu menangkap mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Nadira sudah menyiapkan agen ICPA menyamar jadi pemadam kebakaran dan petugas medis. Filip sepertinya punya rencana lain.]
“Apa yang harus kita lakukan?”
[Aku sudah memberitahu posisi kita pada Nadira. Sepertinya mau tidak mau, kita harus masuk dari dermaga bawah laut. Akan ada kapal selam menuju ke sana. Tolong pastikan kalau dermaganya masih terbuka.]
“Tunggu! Masih apa?” Alex sadar benar. Kalau Filip Shah rela membiarkan para pegawainya tewas, bukan tidak mungkin kalau dia sudah mengunci rapat-rapat tempat itu. Termasuk dermaga mereka.
Alex hendak berlari ke arah dermaga ketika dia mendapati ada serangan laser lagi melesat dari belakang. Dirinya bisa saja menghindar. Tapi, masalah utama justru terletak bila dia asal menghindar. Lawannya terus menyerang tanpa memedulikan ada orang-orang bergelimpangan di bawah. Seharusnya kalau Alex sekadar berlari lurus, tembakan laser hanya akan mengenai dinding.
“Berhenti menembak!” Alex berseru. “Ada orang-orang--”
“Lalu kenapa?” Lawannya menjawab dengan cepat. Tembakannya terus terlontar selagi dirinya berjalan mendekat. “Mereka kaki tangan Filip Shah. Sama sepertimu. Orang-orang seperti kalian tidak berhak hidup. Orang-orang gila, haus kekuasaan, dipenuhi hawa nafsu, serakah bukan kepalang. Bahkan kematian masih terlalu indah untuk kalian.”
“Kamu yang gila! Aku bukan anak buah Filip Shah!” seru Alex.
__ADS_1
Alex pun maju menyerang. Dia menolak semua tembakan lawan dengan mudah. Kekuatan Dragon Blood bereaksi baik sesuai keinginannya. Gerakan cepat Alex membuat lawannya tersentak. Sebelum orang itu sempat bereaksi, Alex memukulnya jatuh.
“Sudah kubilang, berhenti menembak!” pinta Alex lagi.
Ketika Alex hendak merebut pistol laser darinya, orang ini melompat tinggi ke belakang. “Aku tidak tahu kalau kalian membuat seragam perang seperti itu juga. Sangat menarik! Coba kita lihat kemampuanmu!”
Alex berdecak kesal. Orang di depannya itu masih mengira kalau dirinya satu pihak dengan Filip. Dia masih melepaskan tembakan. Alex pun mendekat. Lawannya mengeluarkan belati tajam. Tanpa ragu, belati tersebut diayunkan ke depan. Alex berhasil menghindar tapi terpaksa membatalkan tinjunya tadi.
Berikutnya, Alex terkesiap. Bagaimana tidak? Lawan menangkap tangannya. Belati itu menghunus ke pahanya. Alex memberontak. Dia berusaha melepaskan diri. Untungnya, Dragon Blood unggul dalam hal kekuatan. Alex menarik tangannya, akibatnya tangan lawan pun terdorong ke arahnya. Alex membenturkannya ke dinding. Lalu, secepat mungkin dia melepaskan diri, menjaga jarak.
Lawannya bergerak perlahan, memulihkan diri dari serangan. Di balik kaca helm lawan, Alex bisa melihat lawannya memicingkan mata. Ketika dia mengangkat wajah, Alex yakin melihatnya membentuk senyum simpul. Lawannya kini membuat kuda-kuda yang kokoh dengan posisi belati menghunus ke bawah. Alex menyadari fakta lain. Lawannya kali ini bukan sembarang orang. Dia bisa bela diri dan mungkin lebih jauh dari itu.
Tanpa sadar, Alex merasakan tangannya gemetar.
Alex mengepalkan tangan. Tiger benar. Dia agen ICPA dengan kemampuan khusus. Dia tidak akan rela dijatuhkan semudah itu oleh seseorang yang sekadar membawa pistol sama sepertinya. Alex mengepalkan tangan. Bersiap menerima semua serangan fisik. Sekalipun dia yakin kalau pertarungan itu tidak akan berlangsung seperti latihannya.
Lawan maju lebih dulu, Alex menyambutnya. Baku hantam tak terelakkan. Selagi Tiger mengamati pertarungan tersebut dengan saksama, Jayden menyelesaikan semua tugasnya. Dia bukan hanya sudah selesai menyalin data pabrik tersebut dan mengirimnya ke markas, dia juga sudah selesai memastikan kecurigaannya.
Alex tadi sempat bertanya bila orang tersebut anggota mereka atau bukan. Mendengar itu, Jayden malah melakukan pemeriksaan anggota menyeluruh. Tadi, dia hanya memeriksa data anggota ICPA Sinde, sekarang dia memeriksa semua anggota ICPA di seluruh dunia.
Sementara itu, Alex berhasil membuat lawannya terjatuh. Lebih tepatnya, lawan sengaja terjatuh. Ketika Alex datang, dia berhasil menyarangkan tendangan, membuat Alex terdorong ke dinding. Belatinya datang menyusul tanpa diduga. Untungnya, itu hanya belati biasa. Belati tersebut tak bisa berbuat banyak selain membuat bekas goresan di seragam.
“Kamu punya bahan yang bagus,” kata lawannya, “apa namanya?”
__ADS_1
Alex mengulurkan tangan, menangkap tangan yang memegang belati itu sebelum kembali membuat kerusakan. “Namanya … Zetta Sonic!”
Mata Alex berkilau hijau lagi. Pandangannya berubah jadi ikut kehijauan. Alex bisa melihat bagaimana mata lawannya terbelalak. Tangan Alex yang menangkap pergelangannya mengencang, mengirimkan sinyal ke otak. Rasa terkejut bercampur rasa panik. Dengan satu kali hempasan, Alex mendorong lawannya hingga menabrak dinding seberang.
“Hei, dengarkan aku baik-baik!” seru Alex. “Aku bukan anak buah Filip Shah. Aku Zetta Sonic! Dan, kamu ditangkap atas nama ICPA!”
Lawannya bergeming di posisi sambil memegangi perut.
Jason melayang di atas Alex. Dia mengirimkan suara Jayden agar bisa didengar semua orang. [Secara teknis, Sonic, itu agak sulit dilakukan. Tamu kita ini tidak lain dan tidak bukan adalah anggota ICPA cabang Regis.]
“Apa maksudmu?” Alex masih tak paham.
[Aku melakukan pencocokan suara ke seluruh agen ICPA di seluruh dunia. Aku mendapatkan satu kecocokan. Orang di depanmu itu juga agen aktif dari ICPA benua lain. Agen rahasia, Gavin River. Aku benar, ‘kan? Kejutan! Tidak kusangka kamu bisa jalan-jalan sejauh ini. Misi rahasia atau rahasia pribadi?]
Lawan Alex, Gavin, malah tertawa. Dia juga menodongkan senjatanya ke depan.
[Aku enggak akan melakukannya kalau jadi kamu, Gavin. Jatuhkan senjatamu! Kamu sedang berhadapan dengan Zetta Sonic. Lagipula, kami punya izin resmi di sini. Kami juga berhak untuk menyingkirkan apa pun yang menghalangi sekalipun nantinya berurusan dengan regulasi.]
Gavin bergeming, begitu pula Alex, hingga mereka mendengar suara ganjil cukup keras.
“Siapa itu!?” Alex membentak dalam keheningan.
Alex mendengar suara lain dari sisi belakangnya. Suara itu datang dari sisi berbeda. Bukan dari lorong mesin, melainkan dari sisi dermaga. Suaranya mengingatkan Alex pada suara robot pembunuh, suara dengung samar. Ditambah dengan suara langkah kaki berat, Alex cukup yakin kalau robot itu digerakkan kaki bukan roda.
__ADS_1