
Gavin mendapatkan kamar kosong untuk istirahat malam itu di lantai tiga bawah tanah atau X-03, seperti para agen yang lain. Emil yang mengantarkan Gavin ke kamarnya. Kemudian, dia sendiri kembali ke lantai paling bawah untuk menemui Jayden. Baik Jayden maupun Tiger telah berkumpul di ruangan Zetta Sonic.
Ruangan itu mungkin satu-satunya yang paling banyak berubah. Dindingnya ditutupi panel-panel hitam. Ada lampu berupa garis hijau membentang di sana, membagi sisi bawah dan atas secara asimetris. Lampu di bagian atasnya sendiri berupa garis bersilangan satu sama lain, membagi langit-langitnya jadi empat sama bagian. Lampu yang ini berwarna putih. Intensitas cahaya di sana bisa diatur. Saat ini, kondisinya dibiarkan cukup redup.
Ranjang Alex berada di sudut, diapit mekanisme rumit pada sisi kanan dan kiri. Ranjangnya sendiri punya bingkai putih pada tepinya. Bila diperlukan, ranjang itu bisa menutup seperti kapsul. Alex terbaring di sana, masih menggunakan respirator. Matanya terpejam, dirinya terlelap, kondisinya stabil.
Dokter Vanessa ada di sisi lain ruangan. Di sana, ada meja tinggi lengkap dengan kursi-kursinya. Mereka mempertahankan bagian ini untuk ngobrol. Tiger duduk di seberang sang dokter wanita yang menikmati cokelat hangat. Jayden berdiri di samping ranjang. Matanya bergulir dari Alex ke layar-layar indikator.
Dokter Vanessa bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Luka Alex tidak parah. Dia juga sudah mengisi kembali tenaga Dragon Blood. Kondisinya pulih dengan cepat. Dragon Blood itu berperan besar pada penyembuhan itu.
Emil bergerak pelan di belakangnya. “Kamu menyalahkannya?”
“Nadira?” tebak Jayden, berpaling pada juniornya.
“Dia menarik Tiger di saat-saat terakhir. Membuat Alex sendirian. Robot itu datang di luar dugaan. Alex membutuhkan bantuan. Dia tidak mendapatkannya. Tidak di waktu yang tepat. Dia sendirian.”
Jayden menggeleng. “Mungkin itu benar di satu sisi. Di sisi lain, Alex harus bersiap menghadapi semua bahaya sendirian. Dia adalah Zetta Sonic. Agen yang memang dirancang untuk menghadapi hal di luar batas kemampuan manusia.”
Jayden tak menyangkal kalau dia kesal. Awalnya, Tiger berada dekat balai kota. Dia bersiap untuk hal-hal di luar rencana. Sayangnya, hal di luar rencana justru datang dari pimpinan mereka sendiri. ICPA mendapatkan buronan internasional. Nadira minta Tiger bantu menghadang. Tiger hanya pergi empat puluh lima menit. Kekacauan terjadi. Terlepas dari fakta bila Nadira menyuruh Tiger pergi, Alex harus mempersiapkan dirinya sendiri. Justru di sana terletak masalah sesungguhnya.
Alex tak pernah dipersiapkan sebagai agen ICPA.
Emil beranjak pergi. Disusul Tiger. Lalu, dokter Vanessa.
Hari baru saja berganti. Jayden duduk di kursi tepat di samping ranjang. Meski matanya terpejam, dia sama sekali tak terlelap. Bukan karena tugasnya menjaga Alex. Alex tak perlu dijaga. Mereka bisa menyerahkan kondisinya pada mesin-mesin itu. Bila ada sesuatu yang terjadi, dokter Vanessa dan Jayden akan mendapat notifikasi.
__ADS_1
Jayden di sana untuk menenangkan dirinya. Dia ingin membantu semua orang, dimulai dari dirinya sendiri. Dia ingin jadi operator yang bisa diandalkan Zetta Sonic di lapangan. Mungkin dirinya tak hadir secara fisik di sana. Setidaknya, ada Jason si drone sebagai penggantinya. Bersama Alex, mereka seharusnya jadi pasangan untuk menghentikan kejahatan.
“J? Apa ini ruangan baru untukku?”
Suara pelan Alex membuat Jayden langsung berdiri dari kursinya. Anak itu telah bangun, dia malah sedang melepas alat yang menutupi hidung dan mulutnya. Jayden tak bisa menahan senyum. Alex kelihatan seperti Alex yang biasanya.
“Ini ruangan baru Zetta Sonic,” jawab Jayden. “Ruangan ini memang dibuat untukmu.”
“Kamu seharusnya membuat pesta penyambutan atau semacamnya. Kenanganku ke markas baru enggak pernah dimulai dengan manis.” Alex mengingat ketika pertama kali dia tersadar di kamar itu. Meski interiornya sedikit berubah, kesamaan pada langit-langit membantu Alex mengingatnya.
“Bagaimana perasaanmu? Kamu hampir tenggelam dan …” Jayden berhenti, tak ingin melanjutkan kalimatnya.
Alex mengalihkan pandangannya dari Jayden ke langit-langit. “Aku enggak tahu.” Sama seperti Jayden, Alex sendiri tak ingin membahas soal itu. Dia mengenali rasa takut tersebut. Dia tak mau mengingatnya. Dia tak mau merasakannya lagi. Meski di sisi lain, dia tahu kalau rasa itu bisa kembali sewaktu-waktu ketika dia melawan robot pembunuh yang lain.
“Gavin di sini.”
“Enggak juga. Situasi saat ini cukup menguntungkan buat kita.” Jayden telah menjelaskan sedikit rencananya soal membuat Gavin sedikit berpihak. Dia juga telah menjabarkan penemuan terbarunya tentang penyelundupan manusia itu. Alex tak perlu merasa berhutang budi kalau dia berhasil menolong kekasih Gavin. Dan, itu memang harus terjadi. Orang-orang yang diculik itu harus diselamatkan.
“Kamu menemukan di mana mereka?”
Jayden mengangguk sekali. “Di atas kapal.”
Alex bergerak. Badannya terasa berat. Perutnya terasa perih. Setidaknya dia bisa memaksa tubuhnya duduk tanpa perlu dibantu. “Kita akan mengejar dan menyelamatkan mereka, ‘kan?”
“Sebenarnya dokter Vanessa bilang kalau kamu tidak boleh duduk dulu.” Peringatan Jayden datang terlambat. Dia menghela napas pendek. “Dengar Alex, Zetta Sonic adalah kartu AS kita. Kamu sedang terluka. Jangan memaksakan diri. Nadira akan mengirim kelompok yang lain juga. Sekalipun aku tak yakin kalau mereka bisa datang tepat waktu.”
__ADS_1
“Hei, aku bisa beraksi. Aku Zetta Sonic.” Alex menyilangkan tangan di depan dada, melempar senyum simpul.
“Sejak kapan kamu jadi bersemangat menyelamatkan orang-orang itu. Kupikir kamu sama seperti Nadira, lebih suka mencari robot pembunuh daripada para korban penculikan.” Jayden memicing. “Apa kamu lihat sesuatu di balai kota?”
“Tidak ada. Aku hanya berpikir kalau mereka seharusnya jadi prioritas utama.”
Alex tak bisa mengatakannya dan memang tak mau mengungkapkannya. Dia tak mau Jayden tahu sampai tahu kalau dia melihat ibunya sendiri tapi tak bisa menyapanya. Ibunya sama sekali tak bilang kalau sedang pulang ke ibu kota. Kejadian itu membuat Alex sedikit merasa seperti korban penculikan. Mereka sama-sama ingin berteriak agar diperhatikan tetapi tidak bisa.
“Kapan kita akan berangkat?” Alex melempar pertanyaan.
“Aku bahkan belum tidur.” Jayden mengernyit lalu malah tertawa kecil. “Aku suka melihat kamu bersemangat begitu. Pukul lima pagi, kita akan berangkat. Lima belas menit sebelumnya, kita harus sudah berada di titik kumpul. Pesawatnya sedang disiapkan sekarang. Begitu pula roketmu.”
Alex mendengus. “Aku enggak bisa bilang kalau roket itu menyenangkan.”
“Kamu memilih turun ke atas kapal dengan parasut?”
“Tentu saja tidak!” Alex mengusap dagunya.
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Menurutmu Gavin bisa diandalkan?”
“Tiger dan aku harus mengakui kalau dia agen yang sangat baik. Menurut data, dia beberapa kali menyelesaikan misi rumit seorang diri. Enggak sembarang agen bisa mendapat libur selama sebulan penuh. Itu salah satu buktinya.”
“Baiklah kalau kalian berpikir begitu.”
__ADS_1
“Satu catatan, Alex. Diandalkan bukan berarti bisa dipercaya.”