Zetta Sonic

Zetta Sonic
Open Fire


__ADS_3

Jawaban datang dengan cepat. Satu per satu orang muncul dari balik dedaunan. Mereka seperti bunglon. Alex yakin melihat mereka muncul begitu saja. Bukan dari balik semak, bukan dari balik batang pohon. Seolah ada selaput yang luruh sebelum orang-orang itu menampakkan diri.


Orang-orang di hadapan Alex tidak mengenakan pakaian dari daun dan membawa tombak seperti suku pedalaman dalam benaknya. Mereka mengenakan pakaian ketat serba hitam, sepatu bot, sarung tangan, lengkap dengan topeng hitam. Ada sepasang garis merah di bagian pipi topeng tersebut. Bukannya membawa tombak, mereka membawa senapan laras panjang. Ada lampu biru berkedip pada badan senapan tersebut. Ini membuat Alex berpikir kalau mereka bisa saja berhadapan dengan pasukan bersenjata laser.


“Kami tidak lagi menerima orang luar. Tidak peduli dari mana dia berasal, bahkan bila dia dari ICPA sekaligus.”


Suara itu terdengar lebih dulu sebelum sosoknya terlihat. Datangnya dari seberang mereka. Awalnya terlihat garis di atas permukaan air lalu perlahan badannya mulai terlihat. Bukan sosok orang melainkan sebuah perahu. Bukan, bukan perahu. Itu adalah sejenis sampan hitam legam. Bahannya sepertinya berbeda dengan sampan pada umumnya karena sampai ini mengilap dan punya ujung tajam. Penumpang tunggalnya juga pakaian hitam pula. Bedanya topeng sosok ini berwarna putih.


Sosok itu melanjutkan, “Tapi, karena mengingat kalau kami pernah memiliki hubungan baik dengan ICPA, kami akan memberimu waktu untuk pergi. Lima menit. Putar balik perahu kalian dan kami tak akan menyakiti.” Sampan itu bergerak mulus di atas air. Terus mendekati kapal Alex perlahan namun pasti.


Gavin menggeleng. “Kami tidak membutuhkan lima menitmu. Kami butuh bantuan Tesiana. Anak yang bersamaku ini—”


“Simpan alasanmu, agen. Pergi dari sini!”


Alex menyadari kemunculan sampan-sampan lain di belakang sosok ini. Empat sampan dengan penumpang bersenjata pula. Setiap orang menodongkan senjata mereka.


Gavin bertukar pandang dengan Alex sekali. Ketika menoleh ke belakang, Gavin berbisik tanpa suara. “Ganti rencana.”


“Apa—” Alex belum sempat merespon.


“Bagaimana kalau kubilang aku membawa yang kalian inginkan?” Gavin berteriak pada si topeng putih.


“Kami tidak menginginkan apa pun.”


“Tentu saja kalian mau. Aku membawakan kalian pembunuh Naray.”


Hati Alex mencelos mendengarnya. Gavin menyatakan kenangan yang hendak dia ingkari lalu lupakan. Sesungguhnya Alex tak bisa mengingatnya dengan jelas tetapi tatapan kosong Naray masih melekat erat.Genggaman Alex pada Jason mengencang. Alisnya bertautan dan tatapannya bergiliran menatap punggung Gavin kepada si topeng putih.

__ADS_1


“Naray… tewas?” Si topeng putih berhenti sejenak. Seiring dengan itu, terdengar kasak kusuk dari anggota suku lainnya. Si topeng putih mengedarkan pandangan seolah memastikan kalau rekan-rekannya sama terkejutnya. “Kamu bilang Naray terbunuh?”


“Benar. Aku membawakanmu Zetta Sonic, pembunuh Naray.”


“Gavin!” Alex berusaha memanggil namun tak berani bersuara keras. “Apa yang kamu lakukan?”


Gavin tak menjawab. Alex merasa lututnya lemas. Dia takut sekaligus penasaran. Apakah mereka akan menangkapnya lalu membunuhnya?


“Baiklah,” kata si topeng putih, “kalau begitu lemparkan senjata kalian ke air dan ikut dengan kami.”


Tanpa banyak bicara, Gavin menurut. Dia mengambil pistol lalu melemparkannya ke air. Selanjutnya, dia menoleh pada Alex. Ada keheningan di antara keduanya. Alex bergeming dengan Jason dalam pelukannya.


Gavin kembali pada si topeng putih. “Dia tidak membawa senjata. Drone itu—”


“Buang ke air!”


“Kami akan membawa kalian kepada kepala suku untuk menimbang perkara ini. Kalian harus bersih. Kami tidak akan menolerir ancaman apa pun. Kamu dengar permintaanku? Lakukan seperti yang kami minta atau kami terpaksa menembaknya!”


Gavin mendesah. Dia menoleh ke belakang lagi. Setelah memastikan kalau si topeng putih tidak bisa melihat wajahnya, Gavin bicara tanpa suara. “Lakukan perintahnya. Dia akan bertahan, ‘kan?” Gavin berharap Alex bisa membaca gerak bibirnya. Dia juga berharap Jason bisa bertahan dalam air.


Alex masih bergeming. “Apa yang kamu lakukan, Gavin?”


“Jangan manja. Lakukan saja,” bisik Gavin. “Percayalah padaku.”


Alex menelan ludah sambil mendekap satu-satunya barang yang dia kenal dari lingkungannya. “Tidak.”


“Alex,” kata Gavin pada akhirnya, “lakukan saja perintahnya, kumohon. Ini satu-satunya kesempatan kita.”

__ADS_1


Si topeng putih juga meminta lagi. “Hei! Buang barang itu!”


Para anggota suku menegakkan badan mereka. Senapan mereka terangkat lebih tinggi. Di balik topeng, mata para anggota suku telah siap membidik Alex atau beda putih tersebut. Sementara itu, Jason sendiri bergetar. Mata tunggalnya mendeteksi bahaya. Otak buatannya telah mencerna keadaan sekeliling dan siap menyerang.


Bukannya membuang Jason, Alex malah mengerutkan dahinya. “Tidak! Kenapa aku harus menurut?” Nada Alex meninggi. Dia memelototi Gavin. “Kamu menyerahkanku pada mereka? Seharusnya aku tahu! Kamu menjebakku!”


“Tidak. Aku—”


“Kamu berharap bisa memperbaiki hubungan ICPA Regis dengan menyerahkan Zetta Sonic. Kamu benar-benar memuakkan. Kalau kamu pikir bisa menekanku, kamu salah besar, Gavin. Kenapa? Karena aku memang Zetta Sonic!”


Alex melepaskan Jason. Drone putih itu tidak jatuh ke tanah melainkan melayang di udara. Dari bagian bawah, muncul sepasang moncong mungil. Dari sanalah, Jason mulai melepaskan tembakan.


“Alex! Hentikan dia!” Gavin berteriak. Dia menarik dirinya ke bawah kapal, bersembunyi di bawah kemudi selagi baku tembak terjadi. “Alex!”


Para anggota suku tak ragu menembak ancaman. Peluru-peluru berterbangan menuju Alex dan Jason. Beberapa mengenai badan kapal, membuat goresan dan lubang tanpa ampun. Jason sendiri cukup terlindungi oleh perisai buatan Jayden. Begitu pula dengan Alex. Seragam tempur Alex telah kembali aktif dan itu pertanda buruk.


“Semuanya! Hentikan tembakan kalian! Jangan buat dia lepas kendali!” Gavin berteriak dalam keputusasaan. Dia tidak bisa melihat apa yang terjadi. Mendongak sedikit saja, dia bisa tewas. Aneka skenario terburuk melintas dalam pikirannya.


Gavin memang benar.


Pandangan Alex sepenuhnya telah tertutup oleh cahaya hijau. Kekuatan Dragon Blood dalam dirinya terpanggil oleh amarah. Setiap tembakan dari suku Kloster tak mampu menyentuhnya. Mereka tak ubahnya seperti dorongan-dorongan lembut bagi Alex. Tanpa gangguan, Alex melompat di atas sampan si topeng putih.


Sampan biasa jelas akan oleng atau bahkan tenggelam. Berbeda dengan milik Kloster. Sampan itu hanya bergoyang sebentar di atas air. Alex berada di bagian depan sampan. Posisinya lebih tinggi dari si topeng putih. Beberapa anggota suku berusaha menembak dengan berhati-hati agar tak mengenai rekan mereka. Semua tembakan itu tak berarti bagi Alex.


Si topeng putih memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia menodongkan moncong senapannya ke perut Alex. Tembakan itu mengeluarkan suara kencang dan rendah. Namun, tak ada bekas luka apalagi darah di sana, hanya asap kelabu samar. Menyadari serangannya tak berarti, si topeng putih mengambil pisau. Sayangnya, tangan Alex berhasil menangkapnya. Dengan tangan yang lain, Alex menyarangkan satu pukulan telak. Si topeng putih menggelepar kesakitan di atas lantai sampannya.


Para anggota suku lain kembali meluncurkan tembakan. Itu tak berlangsung lama. Ketika Alex mengangkat si topeng putih dengan cara mencengkram lehernya, para anggota suku hanya bisa terdiam.

__ADS_1


Alex akan melakukan kesalahannya lagi.


__ADS_2