
[Alex, menyingkir dari robot itu!] Sambungannya berhenti di sana.
Alex tak ingat apa ada kalimat lagi setelah itu. Si robot yang tadi menerbangkan dirinya kini tak lebih jadi beban yang terus menerus menariknya ke bawah. Alex berusaha meronta lepas namun gagal. Matanya menemukan bagaimana mata si robot berkelip cepat. Dadanya mendadak sesak. Dan, sebelum benar-benar sadar apa yang terjadi, robot itu berubah jadi hentakan besar di dalam air. Tak ada api, hanya hempasan. Tak ada suara, hanya tekanan kuat mendorongnya jauh dalam keheningan. Tak ada lagi robot, hanya ada serpihan. Dunia Alex menggelap. Badannya tak lagi berontak.
Di luar sana, ledakan besar terjadi di dalam air. Mobil sedan biru telah terparkir di samping jembatan. Tanpa pikir panjang, pemiliknya telah melompat ke dalam sungai.
Berenang di malam dan suhu dingin seperti itu bukan olahraga yang baik. Belum lagi tak ada pencahayaan memadai. Ditambah pula adanya ledakan yang cukup tinggi melonjak ke permukaannya. Perenang profesional pun akan berpikir dua kali. Namun, Gavin tahu apa yang dia lakukan. Perlu pelatihan khusus untuk melakukannya. Misalnya, pelatihan sebagai agen ICPA.
Tanpa peralatan agensi, Gavin tak lebih baik dari manusia lainnya. Meski begitu, dia tahu harus menyelamatkan Zetta Sonic. Gavin tak berenang buta di dalam air. Seragam Zetta Sonic punya kilau khusus yang dia cukup yakin bisa dia temukan dalam air. Garis hijau itu merupakan ciri khas ICPA. Ciri khas sama yang juga diimplementasikan pada agen istimewa ICPA Sinde.
Di dalam kegelapan pekat seperti itu, Gavin memang butuh sedikit tambahan waktu untuk menemukan yang dia cari. Dia sadar kalau tengah berkejar-kejaran dengan waktu. Kondisinya tak menguntungkan. Oksigennya habis lebih cepat dari dugaan karena tekanan dan suhu. Kalau begini, Zetta Sonic bisa mencapai dasar lebih dulu.
Untungnya, Zetta Sonic belum tenggelam terlalu jauh. Gavin menemukan garis hijau menyala dari bagian seragam tempur tersebut. Dia mengulurkan tangan, menarik sekuat tenaga sosok itu ke atas. Dinginnya menusuk, tekanannya meyesakkan, beban ganda menariknya ke bawah. Gavin menolak menyerah. Dia terus berenang ke atas hingga kepala mereka berdua menyembul di permukaan.
Gavin menggigil. Giginya bergemeletuk. Hembusan angin dingin di atas menyambutnya tak ramah. Sambil menjaga kepala Zetta Sonic berada di atas, Gavin berenang ke tepi. Sayangnya, tak ada bagian tepi atau tanah cukup landai di sana. Semua tepi sungainya berupa dinding-dinding miring. Hanya ada satu bagian berupa tangga ke atas. Gavin harus membopong badan Zetta Sonic ke atas melewati tangga. Dia mengabaikan rasa lelah, menggendong badan itu di bahu, lalu cepat-cepat membaringkannya di atas tanah menghadap ke atas.
Untuk sejenak, Gavin berhenti. Berusaha mengatur dadanya yang berdebar serta otot-otot yang protes.
Gavin ragu apa yang harus dia lakukan. Sosok terbaring itu lebih mirip robot daripada manusia. Bergeming tanpa suara. Dia pun mulai mencoba mengguncangkan tubuh itu dan memanggil. Tak ada hasil. Gavin berpikir memberikan CPR, tapi juga tak yakin. Dia pun mulai memberikan pijatan di dada, berharap sosok itu akan sadar. Tapi, setiap dorongannya tak memberi dampak. Seragam tempur itu pasti mengurangi semua benturan yang datang.
Kemudian, dia mendengar suara klik samar dari belakang. Mekanisme drone di belakangnya telah terbuka. Sebuah moncong pistol muncul siap menembak. Si drone berhenti di sana, melayang di udara.
__ADS_1
“Kamu bisa mengambil alih dari sini kalau mau,” kata Gavin sambil mengangkat kedua tangannya. Dia tak perlu berbalik karena sudah bisa menebak apa yang menantinya.
Awalnya tak ada suara balasan.
Di markas, Jayden masih sedang berdebat dengan atasannya di ruang komando. Setidaknya dia telah memerintahkan Jason menodongkan pistol pada Gavin, jadi agen itu tidak akan berani kabur. Ada sedikit jeda sampai akhirnya Jayden bisa bicara padanya lewat si drone. [Kami membutuhkan bantuanmu, agen River.]
“Mungkin aku memang bisa membantu kalau kamu tidak menembak.”
[Aku tidak akan menembak. Kita di pihak yang sama.] Jason berputar ke depan. [Kamu harus mematikan dulu seragam tempur Zetta Sonic secara manual. Kami tidak bisa mengaksesnya secara online dari sini.]
“Bagaimana caranya?”
Gavin menurut tanpa bertanya. Tangannya meraba gelang tersebut. Di sana ada banyak menu ditambah layar hologram dengan menu lainnya. Gavin menemukan yang dia cari dengan sedikit bantuan Jayden. Memang tidak sembarang orang bisa mengutak-atik gelang tersebut dengan mudah.
[Sekarang, tekan simbol bintang yang ada di tengah seragam.]
Gavin melakukannya pula tanpa banyak tanya. Setelah emblem pada bagian itu ditekan, kepingan segienam pembentuk seragam pun lenyap masuk ke dalam emblem. Gavin kembali terdiam. Dia menyadari dua hal yang membuat posisinya makin sulit. Satu, ada luka di bagian perut. Dia tak bisa memastikan separah apa lukanya. Baju anak itu basah kuyup oleh darah dan air sungai. Dua, yang lebih parah, dia mengenali wajah itu.
Gavin pernah melihat foto anak itu di kantor atasannya, pimpinan ICPA Regis, Mark Hill. Gavin mengernyit ke arah drone, yakin siapa pun di baliknya bisa menangkap reaksi di wajahnya. Walaupun begitu, tak ada pertanyaan sungguh terlontar dari sana. Gavin memeriksa denyut nadi Alex yang begitu lemah. Dia juga memeriksa apakah Alex masih bernapas. Setelah cukup yakin kalau situasinya memungkinkan, Gavin melakukan CPR.
Jayden menanti dari balik kamera drone.
__ADS_1
“Bangun! Ayolah!” Gavin berseru sambil memberikan CPR.
Setelah beberapa saat tanpa hasil, Alex akhirnya terbatuk. Dia memuntahkan cukup banyak air. Badannya bergetar, takut dan kedinginan di saat bersamaan. Gavin tak sempat ngobrol dengannya. Dari kejauhan, mereka mendengar sirene polisi.
[Kalian harus pergi dari sini! Enggak akan mudah menjelaskan semua kejadian ini pada polisi. Serahkan saja pada ICPA.]
Alex mengerjap. Tak mampu memberikan reaksi lebih dari itu. Dia masih terbatuk. Paru-parunya terasa terbakar sementara tubuhnya kedinginan. Lebih parah lagi, dia tidak lagi punya energi bahkan untuk mengangkat kepala. Alex menyerah, membiarkan kepalanya terjatuh lagi ke tanah lembab.
Gavin setuju. “Dia perlu ke rumah sakit atau tempat yang lebih aman.”
[Ambil mobilmu, akan kupandu.]
“Kamu tidak akan menuntunku ke rumah sakit,” kata Gavin.
[Lebih baik. Perlu kuperingatkan, tempat itu bersenjata.]
Gavin bisa menebak tempat seperti apa yang dimaksudkan lawan bicaranya. Dia menepuk bahu anak di sampingnya, sambil memastikan dadanya masih naik turun, tanda kehidupan. “Tunggu di sini!” pinta Gavin. Sesuatu yang sebenarnya tak perlu dia lakukan.
Alex tak akan mampu ke mana-mana dalam kondisi seperti itu. Dirinya bahkan tidak yakin bisa bertahan tetap sadar. Selagi Gavin pergi Jason melayang di dekat Alex, mengajaknya bicara meski tak mendapat balasan.
Gavin buru-buru kembali berlari ke mobilnya yang terparkir cukup jauh. Matanya menangkap kelebat lampu dari jauh. Gavin menyupir mobilnya ke dekat Alex tanpa berani menyalakan lampu. Dia menggendong Alex masuk ke jok belakang lalu membawa mereka menjauh dari keramaian.
__ADS_1