Zetta Sonic

Zetta Sonic
Black Coupe


__ADS_3

Alex mendapati dirinya melayang menembus lift yang telah hancur. Bukan itu saja, dia menembus lapisan lantai sebelum akhirnya mendapatkan udara bebas. 


Ada banyak hal yang dia sukai dari seragam barunya. Selain punya beragam fitur dan tambahan pengaman, seragam itu punya sistem lebih baru. Sistemnya bukan hanya untuk mengaktifkan seragam saat ada bahaya, sistemnya juga bisa membantunya mencari tempat aman. 


Begitu keluar dari kumpulan asap dan kekacauan di bawah tanah, seluruh jaringan komunikasi dan radarnya pulih seutuhnya. Sistem itu memetakan sekitar dengan baik, juga membantu Alex terbang dalam kegelapan. Alex melihat lorong gedung bergeser di depan matanya sebelum akhirnya dia keluar lewat salah satu jendela berlubang.


[…lex. Alex. Alex!] Suara Jayden juga kembali terdengar.


“Hei…” Alex tak tahu harus bicara apa. Kemudian, dia teringat kalau tidak sendirian. “Di mana Cody?” tanya Alex. Napasnya memburu oleh kecemasan.


[Dia sudah keluar lebih dulu. Tenang saja. Jason memandunya.]


Alex menghela napas lega. Dirinya telah mendarat di atas landai. Gedung itu ada di belakangnya. Kepulan asap dan bau busuk tercium darinya. Tinggal tunggu waktu sampai pemadam kebakaran datang ke sana. Alex berbaring sebentar.


Sistemnya masih aktif. Peringatan itu masih terus muncul. Garis-garis merah menunjukkan kalau seragamnya mengalami kerusakan pada beberapa bagian. Semua penyebabnya tak lain adalah cairan hitam yang berada dalam tangki tersebut.


Cairan itu seharusnya tidak mencapai dirinya. Seharusnya. Namun, Alex merasa kulitnya terasa terbakar. Dia baru menyadari kalau suhu tubuhnya meningkat dengan cepat. Selain itu, ada konsentrasi racun yang terus meningkat. Kepalanya mulai didera pusing dan dia merasa sesak. 


Alex buru-buru mematikan seragamnya. Dia langsung terbatuk-batuk. Paru-parunya butuh udara segar. Sayangnya, udara di sekelilingnya tidak bisa dibilang yang terbaik. Mereka telah tercampur oleh asap. Alex juga merasa kulitnya perih dan panas. Alex mengangkat tangannya di depan wajah. Tangan itu merah seperti terkena luka bakar.


Dia ingat sensasi tersebut. Ledakan, asap, basah, lalu rasa sakit itu yang menekannya. Tahu-tahu dirinya sudah meringkuk di atas tanah dengan tangan mencengkram pakaiannya di bagian dada.


[Alex! Alex, kamu baik-baik saja?] Jayden juga bisa memantau kondisi fisik Alex yang turun drastis.


“Semuanya… sakit.”


[Cairan itu meracunimu. Bertahanlah.]


“Aku… Aku ingat…” Alex mencoba bicara namun bibirnya gemetaran. Dia ingat pernah beberapa kali berada dekat dengan kematian. Namun, lebih dari itu, dia ingat sensasi pertama ketika berada dekat kematian itu. “Cairan ini… Cairan ini….”


[Simpan tenagamu. Bantuan sedang dalam perjalanan. Bertahanlah di sana. Dokter Vanessa akan membuatkan penawar racunnya. Kamu akan baik-baik.]

__ADS_1


“Bukan. Ini… bukan racun.” Alex berusaha menenangkan dirinya.


[Tenanglah. Simpan tenagamu.]


“Aku ingat. Aku ingat,” katanya lagi. 


[Ingat apa?]


Alex tak menyangka akan merasakannya lagi. Dia ingat jelas rasanya. Rasanya ketika tersiram oleh cairan buatan profesor Otto. “Ini… Ini Dragon Blood.”


[Tunggu… Apa?]


Alex menarik napas dalam-dalam. Dia menarik napas berulang kali untuk menenangkan hatinya. Saat Alex terkena Dragon Blood, dia mengira dirinya akan mati. Rasa sakit saat itu terjadi lagi, rasa takutnya kembali. Sensasinya sama. Hanya saja buatan profesor Otto jauh lebih kuat.


[Apa maksudmu, Alex?]


Alex mendekatkan tangannya ke wajah. Dia bisa melihat Zet-Arm di tangannya tak lagi mulus. Ada bercak-bercak merah kasar tak wajar di sana seolah berkarat.


[Kamu yakin?]


“Ya. Kita harus segera menemukannya.”


[Sebenarnya dia sudah di sini.] 


Di sisi lain gedung, Cody berhasil keluar. Jason melayang di dekatnya selagi anak itu memandangi gedung yang terbakar. Alisnya bertautan, tangannya gemetar. Rasa takutnya masih membekas. Dia kira akan tewas di dalam sana. Kini, dia khawatir pada keselamatan Alex. 


Cody menoleh ke berbagai arah. Dia mencari mobil yang mengantar mereka sekaligus si supir yang berbadan besar. Sejauh matanya memandang, dia hanya menemukan gedung terbakar dan hamparan tanah kosong.


Kakinya yang lemas membuatnya terduduk di tanah. Dia memandangi gedung itu sambil berharap Alex akan segera keluar. Kebanyakan serangganya telah lenyap di dalam sana akibat serangan si gorila merah besar.


Kenangan akan robot gorila itu membuatnya bergidik ngeri. Dia tidak bisa berada di sana terus. Robot itu bisa kembali datang. Cody memaksa dirinya bangun. Kakinya masih gemetar. Ketika berpaling, dia melihat kedatangan mobil sedan hitam.

__ADS_1


“Oh, syukurlah!”


Tanpa pikir panjang, Cody berlari ke arah mobil itu. Jason yang ada di atasnya bergeming di posisi, sama sekali tidak berniat mendekat.


Mobil itu berhenti cukup jauh. Dari dalam mobil, muncul seorang pria berjas dan mengenakan dasi. Dia berdiri di samping mobil, menanti Cody mendekat.


“To— Tolong. A— Alex masih ada di dalam…” Cody bicara, terengah-engah. Kedua tangan menumpu di atas lutut. “Ka— Kamu harus segera… meminta bantuan. Ta— Tadi ada ledakan… Alex… Dia… Dia bisa saja terkena ledakan itu.”


“Jadi, Alex masih ada di dalam sana?”


“Iya. Ce— Cepatlah…”


“Kamu temannya?”


“Ya! Aku Cody, temannya.”


Alih-alih segera membantu, pria itu justru mengambil pistol dari dalam jas. “Tak kusangka kalau ICPA sekarang suka mempekerjakan anak kecil sebagai agennya. Mereka pasti sangat putus asa.”


Cody terbelalak. Untuk sejenak, dia mematung. Matanya bolak balik mengamati pistol tangan itu dan wajah si pria yang tertutup oleh bayang-bayang. “Kamu… bukan agen ICPA,” bisiknya. “Kamu Baron?” tebaknya.


“Halo, Cody. Salam kenal.” 


Baron melangkah maju. Sinar lampu mobil kini ikut menerangi wajahnya. Dia tampak rapi, seperti biasanya. Juga berbau wangi maskulin dari parfum mahal. Wajah tirus itu tidak memiliki bekas luka sama sekali. Senyum tipisnya selalu terasa menenangkan seandainya dia tidak menggenggam pistol.


Cody bergeming. Dia tidak pernah berpikir akan benar-benar sedekat itu dengan pistol sungguhan. Matanya sama sekali tidak bisa beralih dari senjata tersebut.


Baron tersenyum lebih lebar. “Beritahu aku lebih banyak soal dirimu,” pinta Baron. “Supaya aku tahu kamu teman atau musuh.”


Cody masih tak berani bergerak. Ketakutan membuatnya mematung. Saat itu, dia mendengar suara dari masker yang tersambung langsung ke telinganya.


[Cody, ini Jayden. Tenang saja, aku di sini untuk membantumu.]

__ADS_1


__ADS_2