
Kalau seandainya itu bukan mobil khusus yang dibuat untuk Zetta Sonic, Alex yakin mobil itu sudah hancur. Mobilnya berguncang hebat. Sesuatu menabraknya keras dari kiri. Bukan bom, bukan bazooka atau semacamnya, melainkan robot. Sepasang tangan besarnya berusaha mengoyak mobil namun terhalang oleh perisai White.
Dokter Vanessa bertanya separuh berteriak. [Apa yang terjadi?]
[Seseorang benar-benar menginginkan Alex mati.] Jayden menjawab singkat. [White, laporan pelindung. Aktifkan senjata dan serang balik robot gorilla itu.]
[Kekuatan perisai delapan puluh persen. Mengaktifkan senjata.]
Dari bagian atap mobil, muncul senapan tunggal berujung runcing. Sinar hijau kuat menyala. Sinar laser itu menyerang apa pun yang sedang berusaha menggulingkan mobil.
Alex tidak tahu apa yang menyerang sampai dia sendiri keluar dari mobil. Sosok itu persis seperti gorilla dengan tangan besar yang lebih panjang dari kakinya. Sikapnya pun mirip. Robot itu mundur ketika sinar laser menyerang. Sinarnya mengenai sedikit tangannya. Seolah marah, si robot memukul dadanya dengan kedua tangan. Tinggi si robot ketika berdiri di atas dua kaki tak lebih tinggi dari Alex. Menurut Alex, robot itu termasuk mungil. Alih-alih menakutkan, robot itu terasa konyol.
Alex berdecak kesal. “Jangan bilang kalau dia suruhan Baron.”
[Dalam kondisi seperti ini, biasanya orang akan bertahan di dalam mobil. Menginjak gas sekencangnya dan kabur.]
“Aku tidak melihat Baron.”
[Sistemnya bilang dia ada di dekat sana. Sekarang, aku tidak bisa memantaunya lagi. Kupikir Baron sudah tahu kalau kita melacak ponselnya.]
“Dan, aku bersusah payah mencari keranjang bayi hanya untuk menemukannya. Seharusnya aku tahu kalau dia akan datang sendiri padaku.” Alex berkata sambil berlari lurus ke arah lawan.
[Jaga jarakmu! Kupikir dia unggul dalam pertarungan jarak dekat.]
“Mari kita lihat!”
Alex jelas tidak menghiraukan apa pun ucapan Jayden. Dia berlari mendekati lawannya. Alex memberikan serangan pertama, serangan kedua, dan selanjutnya. Dia sama sekali tidak memberikan lawannya kesempatan untuk memukul balik.
__ADS_1
Mengingat dia baru saja melawan manusia di dalam ruang pendingin beberapa saat lalu, lawannya kali ini terasa lebih empuk. Pukulannya memang tidak sampai memberikan kerusakan parah, namun muncul penyok pada bagian yang dipukul Alex. Dia memukul bagian perut lalu dada.
Setiap serangannya terlalu cepat. Si robot gorilla baru mengangkat tangan untuk membalas. Datang serangan Alex lagi. Dorongan dari pukulan Alex itu mendorongnya cukup kuat, menggagalkan serangan baliknya.
Di markas Special Force, Jayden sedang melakukan analisis pada musuh Alex. Robot itu punya cukup banyak kemiripan dengan robot pembunuh milik Nikola. Mereka diciptakan untuk menyerang, bukan bertahan. Lapisan si robot gorilla jauh lebih keras, menunjukkan kalau dia memang dibuat untuk pertarungan jarak dekat. Meski begitu, Jayden yakin kalau robot itu punya trik lain.
Bukan hanya itu yang meresahkan dirinya. Ini sebenarnya bukan pertama kalinya bagi Jayden melihat Alex bertarung dengan emosi seperti itu. Itu membuatnya cukup cemas.
[Hati-hati Alex. Jaga jarak aman. Jangan sampai dia memberikan pukulan balasan.]
Alex justru memberikan pukulan lebih keras. Pukulan tepat di dada robot itu dilapisi dengan kekuatan Dragon Blood. Ada aura hijau memancar dari kepalan tangan Alex ketika meninju tadi. Si robot tak punya kesempatan. Dia terlempar ke belakang dan menghantam aspal dengan keras.
Alex kemudian mengedarkan pandangannya. “Kamu melihatnya, Baron? Di mana kamu?” Alex berteriak dalam kesunyian. “Segitu inginnya kamu membunuhku sampai harus mengorbankan orang tak bersalah? Keluar! Jangan sembunyi! Aku di sini!”
[Alex, jangan terbawa emosi. Robotku sedang menuju ke sana.] Jayden mendesah pelan. [Memang kupikir aku sebaiknya segera memberi robot ini nama.]
Alex menghampiri robot gorila yang masih tergeletak di tanah. Di sana, Alex menemukan kejutan.
Alex berlari menghindari setiap tembakan. Senapan itu mengejarnya. Namun, Alex jelas lebih cepat. Dibantu dengan kekuatan Dragon Blood, kecepatannya meningkat berkali lipat. Si robot tak mampu lagi mengikutinya. Tahu-tahu saja Alex sudah berada di atasnya. Alex tengah berada di udara. Sambil mendarat, anak itu memberikan tinju keras pada kepala di robot. Robot pun kembali jatuh. Jatuhnya yang keras kembali membuat retakan baru di atas aspal.
Alex menanti hingga robot itu bangun lagi, namun tidak. Dia pun mengedarkan kembali pandangannya.
“Di mana kamu, Baron? Terlalu takut untuk keluar?” Alex berteriak lagi di tengah keheningan. “Apa kamu tahu berapa banyak orang yang tewas karena ulahmu?”
Tidak ada jawaban.
“Keluar, Baron! Jangan sembunyi!”
__ADS_1
Masih tidak ada jawaban.
Dari sisi langit-langit, muncul sebintik cahaya putih. Ketika dia makin dekat, Alex tahu itu adalah robot milik ICPA. Dia mengharapkan kehadiran Baron, bukan si robot.
“Jayden, lacak Baron? Di mana dia?” Alex berteriak, kali ini pada operatornya.
[Sudah kubilang kalau aku tidak bisa lagi melacaknya. Dia menghilang begitu saja setelah kita melacaknya lewat keranjang bayi.]
“Kamu biasanya memeriksa kamera pengawas, kan?”
[Sabar sedikit, bocah!] Jayden akhirnya ikut kesal. [Kamera pengawas di daerahmu tidak banyak. Banyak titik buta. Sekadar informasi, aku sudah memeriksanya sejak tadi. Semuanya tidak merespon. Sepertinya dia juga membajak sistem kamera pengawas di dekat sana.]
“Tunggu. Apa artinya…”
[Dia tahu ke mana kamu pergi.]
“Kupikir ini mobil baru.”
[Memang. Nadira bahkan belum terima laporan lengkap soal mobil itu. Dia mengomel begitu tahu kamu membawanya pergi.] Jayden ikut berdecak kesal. [Menurutku, Baron mengawasi semua akses menuju markas Special Force lalu mengawasi keluar masuknya kendaraan.]
“Apa maksudmu? Tidak mungkin dia tahu semua pintu—“ Alex berhenti. “Caitlin! Dia memberitahu semua rahasia kalian padanya?”
[Kamu tahu kenapa aku enggak begitu suka padanya, ‘kan? ICPA seharusnya rahasia, bahkan bagi pasangan apalagi pacar. Kalau bukan gara-gara keahlian Caitlin, aku yakin Nadira sudah memecatnya. Apalagi dia asisten kesayangan profesor Otto.]
Robot di samping Alex bergerak. Alex terkejut ketika melihat si robot mengangkat tangan dan menunjukkan moncong pistol di dalamnya. Kemudian, Alex menyadari kalau itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada benda di belakangnya. Si robot gorilla.
Alex buru-buru berbalik. Dia melihat si robot gorilla bergerak-gerak di atas tanah. Kemudian ada hempasan udara keluar dari sela-sela robot. Selanjutnya, robot itu terbuka. Helmnya terbuka ke kanan dan ke kiri seperti pintu, begitu pula bagian dadanya. Alex mendekat perlahan untuk melihat lebih jelas.
__ADS_1
Di dalam robot gorilla itu, nampak wajah seorang pria babak belur. Bola matanya menatap dalam keheningan. Seorang pria tewas di dalam robot dan itu jelas gara-gara siapa. Alex tak mengenalnya. Namun, Jayden tahu.
[Marcel?]