Zetta Sonic

Zetta Sonic
Open


__ADS_3

Alex terkesiap. Kalau bukan peluru yang akan keluar dari sana, maka sinar laser atau bom juga bukan berita baik. Beruntung ada Dragon Blood dalam dirinya. Alex bisa menghindari serangan tersebut. Tembakan Rando menghanguskan tempat Alex berdiri tadi. Tak berhenti di sana, Rando menembak lagi dari satu tangan lainnya. Alex berlari menapaki tangga.


Rando tak lantas mengejarnya. Dia menarik salah satu selusur tangga hingga lepas. Besi panjang itu dilemparkannya bak bumerang. Alex berhasil menghindar meski tidak sempurna.  Ujung besinya mengenai bahu. Alex hampir terpeleset karenanya, tapi dia masih bisa berlari ke atas.


“Percuma lari, Zetta Sonic! Kepalamu akan jadi milikku!”


Alex tak menggubrisnya. Selama pembunuh bayaran itu memanggilnya dengan Zetta Sonic, hidupnya masih aman. Alex lebih takut kalau tahu-tahu Rando memanggilnya dengan nama asli. Setidaknya, dia setuju satu hal dari ucapan Rando tadi. Dia tidak bisa lari. Karena itu, dia memang tidak akan lari.


Dirinya juga tahu tidak bisa berlari keluar sekarang. Pertarungan mereka tidak boleh sampai melibatkan yang lain. Alex tak punya pilihan selain menggiring Rando ke tempat terbuka. Dengan fitur dalam helmnya, Alex menemukan tempat kosong dan terbuka di lantai dua. Tempatnya serupa anjungan kapal. Area terbuka dengan pagar pengaman mengelilingi setiap sudutnya. Pemandangannya menakjubkan.


Gunung-gunung putih di kejauhan dan laut es di bawah memancarkan cahaya keemasan. Mereka memantulkan cahaya senja yang tercampur oleh kobaran api. Hembusan anginnya cukup kencang. Alex tak suka ini. Lokasinya saat ini hampir seperti helipad tanpa landasan dan tanpa helikopter.


Alex berpaling melihat Rando sudah tiba juga di sana. Rando tak menembak lagi. Dia mengeluarkan sebilah pisau bergerigi dan maju merenyerang. Alex mundur, berusaha menjaga jarak. Lawannya terlihat sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat. Ketika Rando menghunuskan pisau, Alex menghindar. Dia menghentakkan tangan Rando, berusaha menjatuhkan pisau. Karena tangan Rando merupakan mesin berlapis besi, Alex malah mendapati tangannya sendiri sakit. Pisau itu tidak jatuh. Rando berhasil mempertahankan pisaunya, bahkan menariknya kembali dan menggores perut Alex.


Ada suara menyayat serta percikan api. Alex tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia buru-buru mundur. Tangannya meraba bagian yang terkena pisau. Tidak ada kerusakan berarti di sana hanya garis tipis putih.


“Terkejut?” Rando menyeringai. Dia mengambil pisau serupa, memainkan keduanya bak badut sirkus memainkan bola. “Kamu tidak berpikir kalau baju seragammu bisa menahan semua serangan, ‘kan?”


Alex mengernyit. Dia harus mencari cara. Dia tidak sendirian. Maksudnya, tidak benar-benar sendirian. Secara fisik, dia memang seorang diri bersama Dragon Blood, seragam khusus, persenjataan, dan otaknya. Sebelum bisa menggunakan Dragon Blood secara maksimal, dia harus menggunakan otaknya lebih dulu. Sejauh ini, otaknya tak pernah mengecewakannya.

__ADS_1


“Kenapa kamu mau meledakkan tempat ini, Rando?” Alex bertanya, mengulur waktu.


Rando tak terkejut saat Alex tahu identitasnya. “Aku tidak tahu soal itu. Tanyakan saja pada orang yang menaruh nilai pada kepalamu.”


“Apa!?” Alex tak begitu paham maksudnya. “Kamu membunuh suruhan yang menyebarkan bom di sini. Kalau bukan pelaku sebenarnya, kamu enggak perlu membunuh orang itu.”


“Sebab dia berisik.”


Jawaban yang keluar dari Rando membuat Alex makin sadar dunia seperti apa yang akan dia hadapi bersama dengan ICPA. Penjahat berteknologi tinggi, orang kaya ambisius, juga para maniak haus darah. Dunia bobrok itu memang membutuhkan Zetta Sonic.


Alex menarik napas dalam-dalam, memberitahu dirinya kalau dia bisa menang. Dia punya alasan untuk memberi pelajaran si pembunuh tersebut juga potensi besar. Saatnya mencoba kekuatan Dragon Blood. Melalui beberapa kejadian yang terjadi kemarin, setidaknya dia tahu kalau Dragon Blood memberikannya kemampuan di atas rata-rata seperti kecepatan dan kekuatan. Sekarang saatnya memadukan keduanya.


Rando berhenti bermain-main. Dia berlari lagi. Alex memicingkan mata, berkonsentrasi. Dia bisa merasakan Dragon Blood dalam dirinya bereaksi. Dunianya berkilat hijau. Setelahnya, Alex berlari cepat pada lawan, jauh lebih cepat dari Rando. Lawannya terbelalak, tak menyangka akan kedatangannya.


Begitu sadar kalau tangannya tak menggenggam pisau lagi, Rando membuka telapak tangan. Kepala Alex menolak, menjauhi tangan tersebut. Sebaliknya, Alex malah menggunakan kakinya, memberikan tendangan telak ke lawan. Tembakan Rando meleset ke udara. Pria itu jatuh ke belakang.


Alex mengira berhasil menjatuhkan lawan. Ternyata tidak. Rando menangkap sebelah kakinya, membanting dirinya lagi ke lantai. Rasa sakit yang sama melompat dari punggung ke kepalanya. Dia harus berhenti jauh seperti ini.


Tangan Alex menyentuh sesuatu di permukaan lantai yang licin dan dingin. Sebuah pisau. Itu pisau Rando yang terjatuh. Alex sadar Rando tengah berlari padanya. Itu kesalahan besar buatnya. Alex menghunuskan pisau. Rando sekali lagi terkejut oleh serangan tersebut. Laki-laki itu berhasil menghindari titik vital, meski begitu pisaunya menancap di bahu.

__ADS_1


Alex melompat di atas kedua kakinya lagi. Sebelum lawan melakukan serangan lagi, Alex memberikan tendangan lagi. Rando pun jatuh ke tanah. Hanya sebentar. Dia bangun dengan cepat. Tanpa ragu, dicabutnya pisau tersebut. Darah merah merembes keluar, membasahi kemeja. Alex bisa melihat bagian tubuh Rando yang berlapis besi dan tidak. Sebagian perut kirinya berlapis besi, sisanya sama seperti manusia lain.


Rando bergeming. Dia sadar kalau Alex tengah menodongkan pistol padanya. Bukan pistol biasa melainkan pistol laser.


“Jatuhkan senjatamu!” pinta Alex.


Rando masih bergeming. Senyum di wajahnya perlahan berubah digantikan tawa.


“Berlutut dan jatuhkan senjatamu!” Alex mengulangi perintahnya.


Rando melangkah mundur, satu langkah demi satu langkah. “Zetta Sonic, sepertinya aku terlalu meremehkanmu. Pertarungan ini sangat menyenangkan. Sangat menghibur. Aku penasaran sekuat apa kamu bisa berkembang nantinya.”


Seringai dan tawa Rando membuat Alex merinding. Walaupun begitu, dirinya tetap melangkah maju. “Jatuhkan senjatamu atau kutembak!”


“Kamu tidak akan menembak, bocah! Kamu tidak punya keberanian.”


Alex merasakan jantungnya berdebar. Rando memanggilnya bocah, seolah dia sadar kalau lawannya memang bukan orang dewasa. Namun, di balik helm, Alex yakin Rando tidak sungguh-sungguh tahu siapa dirinya. Mungkin dari fisiknya, gelagatnya, cara bicara, atau cara bertarungnya. Banyak cara, pikir Alex menenangkan diri.


“Sampai jumpa, bocah!” Rando sudah berada di ujung. Dia menjatuhkan dirinya sendiri ke belakang, membiarkan gravitasi menarik dirinya.

__ADS_1


Alex terkesiap. Dirinya buru-buru berlari ke ujung untuk memeriksa. Alex melihat ke bawah dan sekitar. Pandangan kekacauan masih sama. Para pekerja berlarian ke sana ke mari mencari perlindungan kalau ada ledakan susulan, tapi Alex tak menemukan Rando di mana pun. Alex tahu, lawannya selamat. Mereka akan bertemu lagi di lain waktu.


Sekarang, dia punya tim untuk diselamatkan.


__ADS_2