
Alex sukses melewatkan pestanya. Setidaknya, dia sudah datang mewakili ayahnya. Setidaknya, dia juga sudah bicara dengan Caitlin. Setidaknya, dia mengenali kalau CEO yang bersama ibunya kemarin memang suka menggoda perempuan. Bisa jadi, ibunya hanya korban rayuan tidak benar-benar berniat selingkuh dari ayahnya.
“Aaaaah!” Alex berteriak di kamarnya sambil mengacak-acak rambutnya yang masih tertutupi handuk.
Pikirannya kacau. Dia telah terdistraksi. Ini bukan saatnya memikirkan ibu atau ayahnya. Ini saatnya mencari di mana keberadaan Jayden.
Komputernya yang ada di ruangan sebelah sedang memeriksa rangkaian data yang tadi masuk. Data itu terenkripsi dengan baik. Terlalu baik. Sebuah virus. Virus bebek. Lagi. Jayden jelas yang mengirim virus itu padanya lagi. Kalau nanti mereka bertemu, Alex akan protes. Ada banyak cara untuk mengirimkan data rahasia selain melalui virus.
Alex akhirnya meninggalkan ranjangnya. Dia melempar handuknya ke kursi dan mengenakan sweater hitam. Mandi air hangat setelah pertarungan seharusnya menyenangkan kalau saja dia berhasil meringkus Damon, bukan malah pulang berlumuran nitrogen cair. Emil punya tugas baru untuk memperbaiki seragamnya.
Rover menyalak dari ujung ruangan. Alex melirik anjing hitamnya. Mata memelas si anjing membuatnya merasa bersalah. Sejak mengurus lenyapnya Jayden, dia tak lagi sering bermain bersama Rover.
Alex berjongkok. “Sini.”
Rover menyalak riang dan berlari pada pelukan majikannya. Ekornya mengibas bersemangat. Alex membelai punggung si anjing. Dulu dia bisa bermain kapan pun dia mau. Masa-masa yang menyenangkan. Anehnya, kalau dia ditawarkan untuk kembali ke masa-masa tersebut, dia yakin akan menolaknya.
Denting samar terdengar dari ruang sebelah. Alex pun berdiri, berjalan ke ruang tersebut ditemani Rover. Alex mengambil cangkir berisi cokelat hangat yang tadi disiapkan Preston untuknya. Rasanya lucu setiap membayangkan kalau Preston tahu apa yang dia butuhkan. Seperti malam ini, misalnya. Preston membuatkannya minuman hangat setelah hampir beku.
Alex duduk tenang di kursinya. Tak perlu banyak waktu buatnya untuk tenggelam dalam data tersebut. Sebuah titik koordinat, nomor rekening, sejumlah uang, nomor telepon, dan kode yang tidak dia pahami. Tapi, cukup dari titik koordinat tersebut, Alex tahu kalau Jayden ada di dalam pesawat. Dia pun segera menghubungi Special Force.
“Aku tahu di mana Jayden. Aku sudah mengirim koordinatnya pada Emil.” Alex merasakan ucapannya memburu. Dia bersemangat serta resah di saat bersamaan. Data yang dikirim Jayden sesungguhnya terlambat dia buka. Salahkan Damon karena ini. “Aku akan ke sana sekarang.”
[Wow! Tunggu dulu, bocah!] Tiger, sebaliknya, terdengar sedikit sangsi. [Bagaimana kamu bisa dapat koordinat atau data apa itu? Kamu yakin kalau memang Jayden yang mengirimkannya padamu?]
“Ya, ya, ya! Jayden mengirimkannya padaku.”
__ADS_1
[Kamu yakin?]
“Dia mengirimkannya lewat virus. Itu pasti dia! Virus bebek yang sama.”
[Sekarang kita bicara soal koordinat. Kamu bilang kalau kamu mau ke sana? Ke titik itu? Itu bisa saja jebakan. Lagipula, bagaimana caramu ke sana?]
“Aku perlu pesawat untuk ke sana.” Alex sudah berdiri dari kursinya. Rasa lelah yang tadi ada, kini sudah lenyap entah ke mana. Dia begitu bersemangat untuk memeriksa titik koordinat yang didapatkan Jayden,
[Alex.] Suara Emil terdengar pula. Sepertinya Tiger telah menyalakan loudspeaker di ponselnya agar mereka bisa bicara bertiga dengan leluasa. [Aku memeriksa data yang kamu kirim. Nomor rekening itu milik mantan agen ICPA. Namanya Marcel. Sudah dipecat secara tidak terhormat beberapa waktu lalu. Operator yang buruk. Ada uang yang ditransfer ke sana baru-baru ini. Dari perusahaan ayahmu.]
“Tunggu. Apa?”
Emil meralat, mengingat kalau ayah Alex tidak benar-benar memiliki perusahaan. Dia hanya memiliki banyak saham dari aneka perusahaan di dunia. [Maksudku, ayahmu punya saham di perusahaan ini.]
Tiger pun tertawa. [Sepertinya Jayden ingin memaksa ICPA Regis membantu kita. Pimpinan ICPA tidak akan membiarkan dirampok seperti ini, ‘kan?]
“Jayden pasti ada di koordinat ponsel itu.”
[Menurutku, juga begitu. Masalahnya. Koordinat itu punya ketinggian. Dia ada di dalam pesawat. Sedang mengudara. Sementara, ini hanya koordinat statis. Posisinya pasti sudah berubah saat ini.]
“Tidak masalah,” sahut Alex menghibur dirinya sendiri. “Koordinat itu lumayan dekat. Kita bisa memeriksanya sekarang.
[Tanpa izin dari Nadira, kamu hanya akan dapat hukuman lain.]
[Tiger benar. Kita serahkan ini pada Fergus.]
__ADS_1
“Apa?” Alex tak percaya kalau kedua rekannya lebih memilih mengirim data tersebut pada ICPA pusat. “Aku bisa ke sana lebih cepat.”
[Hei, bocah. Kadang itu bukan soal kecepatan tapi ketepatan. Kamu tahu berapa banyak kasus penculikan yang gagal diselesaikan? Lawan kita punya orang dalam di ICPA. Salah bertindak, Jayden bisa dibunuh. Mungkin lebih parah. Mungkin kita yang bisa terbunuh.] Meski kata-kata Tiger berkesan dingin, ada kelembutan pada suaranya. [Lagipula, aku tidak yakin kalau kamu siap beraksi lagi.]
“Aku baik-baik saja.”
[Benarkah? Zet-Arm bicara lain.]
Alex terdiam. Perlahan, dia melirik Zet-Arm di tangannya. Detak jantungnya meningkat tinggi, begitu pula suhu tubuhnya. Entah bagaimana, Alex mulai merasakan kalau badannya gemetar lagi karena lelah. Semangat hanya sempat menutupinya sesaat.
Tiger bicara lagi. [Malam ini, kami meloloskanmu hanya karena kamu bilang ada pesan dari Jayden. Kalau tidak, kami pasti menyerahkanmu untuk diperiksa.]
“Tapi, aku baik-baik saja.” Alex mengatakan kebohongannya dengan mudah meski dia akhirnya malah duduk kembali di kursi putarnya.
Emil ikut menenangkan. [Aku sudah mengirim koordinatnya pada Fergus. Dua-duanya. Dia akan segera mengirim orang untuk memeriksa.]
“Penculik Jayden punya orang dalam.”
Tiger langsung menyambungnya. [Kamu bilang itu Caitlin.]
“Aku memang masih curiga padanya.”
[Kalau begitu, kamu bisa lanjut penyelidikanmu padanya. Menurutku, kita seharusnya cemas kalau Fergus salah memilih agen. Akan gawat kalau Fergus memilih agen yang ternyata orang dalam penculik Jayden ini. Sementara itu, lebih baik kamu istirahat. Karena aku yakin, Damon akan kembali untukmu. Bukannya tidak mungkin kalau dia datang sungguhan ke rumahmu. Ucapanmu padanya tadi seperti tantangan.]
Emil setuju. [Bukankah itu memang tantangan?]
__ADS_1
“Itu bukan tantangan.” Alex tak berniat menyangkal. Dia hanya tak mengira kalau Damon akan lolos dari genggamannya. Sebelum percakapan mereka kembali berlangsung, Alex mendengar suara aneh dan sumpah serapah Tiger. “Hei, apa yang terjadi di sana? Tiger? Emil?”
Tidak ada jawaban yang datang melainkan suara-suara aneh. Dengung rendah serta suara benda menghantam pintu disusul derap langkah berat. Semuanya diakhiri dengan suara kaca pecah serta hubungan komunikasi yang terputus. Alex tak bisa menahan dirinya untuk cemas. Sesuatu telah terjadi di markasnya sendiri.