Zetta Sonic

Zetta Sonic
Huge Tent


__ADS_3

Jayden dan Alex sama-sama setuju kalau itu cara uji coba yang praktis. Hewan buas, tak ada saksi mata, tempat lengang. Namun, keduanya tak membahas hal tersebut hingga mereka tiba di tempat. Lokasinya berupa tanah kosong luas dekat tengah kota. Tidak persis di tengah kota, melainkan agak ke pinggir. Tanah tersebut memang disiapkan pemerintah ibu kota untuk dipergunakan acara-acara khusus.


Salah satunya untuk sirkus keliling internasional ini. Setiap tahun, sirkus bernama Heron tersebut selalu datang ke ibu kota. Alex tak pernah sekalipun hadir di sana. Karena itu, dia benar-benar terpukau ketika melihat tenda besar di tengah lapangan. Tenda tersebut jauh lebih besar daripada bayangan Alex. Selama ini, dia hanya melihat gambarnya.


“Pawang hewan menyadari kalau hewannya hilang ketika hendak memberi makan. Itu sekitar pukul enam pagi. Setelah itu, dia langsung melapor ke pimpinan. Pimpinan pun menyuruh mengunci lokasi ini dan mengusir semua penjaganya keluar,” kata Jayden seraya melepas sabuk pengaman setelah memarkir mobil di luar pagar.


“Mereka sendiri yang memasang pagar ini?” Alex melompat keluar dari mobil sambil mengaitkan jarinya ke pagar besi tersebut. Pemerintah kota tidak pernah memagari tanah kosong tersebut, jadi pasti kelompok sirkus yang membawanya. “Ini pasti bukan pertama kalinya harimau itu kabur.”


“Mau taruhan? Itu pasti sudah berulang kali terjadi.”


“Kenapa Tiger tidak ikut?”


“Kenapa kamu mau dia ikut?” Jayden balas bertanya. “Dia tidak bisa bahasa kucing.”


Alex tersenyum geli. Itu memang maksudnya. Jayden menangkapnya dengan tepat. Tiger pasti memilih nama itu sebagai nama panggung dengan suatu alasan. Mungkin dia akan menanyakannya nanti setelah hubungan mereka lebih baik atau setelah Tiger tidak membawakan sarapannya dengan cemberut.


“Jadi, bagaimana kita akan masuk?” tanya Alex sembari memicingkan mata. Sejauh pengamatannya, dia bisa melihat deretan kereta berwarna warni, beberapa kontainer besar, juga kios penjual tiket dan camilan. Bendera dan dekorasi lainnya tersebar hampir di seluruh tempat, membuat suasananya sangat meriah.


“Kita?”


“Tunggu! Kamu tidak ikut masuk?”


Si pemuda pun tersenyum simpul. “Tentu saja tidak. Aku bukan agen lapangan. Aku di sini sebagai operator pribadimu. Tugasmu mendukung aksimu di lapangan dengan tidak berada langsung di lapangan.” Jayden memainkan alat pembuka gembok di tangannya.


“Apa ICPA mengajarkan anggotanya untuk jadi pencuri?” Alex bertanya setelah melihat kepiawaian Jayden menggunakan rangkaian alat mungil ramping tersebut. Tidak sampai semenit, gembok telah terbuka. Tinggal membuka rangkaian rantainya dan mereka bisa masuk. Ralat, maksudnya Alex, bukan mereka.


“Tidak. Aku belajar ini sebelum bergabung dengan ICPA. Mau dengar ceritanya?”


“Mungkin nanti. Enggak sekarang.”


“Aku akan mematikan CCTV di sekitar sini supaya tidak ada rekaman aksimu bermain dengan kucing besar.”


“Bagaimana dengan orang lewat?” Alex mengedarkan pandangan. Lokasi mereka berada di jalan besar. Sedari tadi, dirinya memang tidak melihat mobil atau pejalan kaki lewat namun itu bukan artinya tak akan ada orang yang datang. Belum lagi dengan adanya gedung pencakar langit yang berada dekat sekalipun tidak persis di samping.

__ADS_1


“Tiger memasang tanda perbaikan jalan. Tak akan ada mobil lewat dekat sini. Serahkan sisanya pada kami. Tugasmu hanya satu, mencari kucing besar itu. Membiusnya, bukan membunuhnya.”


Jayden mengambil koper yang tadi diletakkan di jok tengah. Dia mengambil dua bluetooth earphone, satu diserahkan pada Alex, satu lagi dipakainya sendiri. Dia juga menyerahkan dua buah pistol padanya.


“Ini pistol bius. Pelurunya hanya ada dua. Gunakan dengan bijak,” ujar Jayden menunjuk pada pistol mungil warna putih seperti pistol air mainan. “Nah, yang Ini pistol sungguhan. Peluru 9mm dengan sedikit modifikasi. Jangan digunakan.” Jayden menunjuk pada pistol tangan berwarna hitam, bentuknya persis seperti yang dia bawa ke waduk.


“Ini pistolku. Kamu memodifikasinya tanpa izin!?”


“Sekarang aku mengembalikannya padamu. Enggak masalah, ‘kan?” Jayden masih memasang senyum simpul bahkan saat Alex menodongkan pistol tersebut pada Jayden. “Kamu enggak akan menembakku. Kamu enggak punya alasan untuk itu.”


“Benarkah? Aku ragu.”


“Ayolah, Alex. Berhentilah bermain-main. Kucingmu sudah menunggu di dalam! Semakin cepat selesai, semakin cepat kita bisa sarapan.”


“Aku lebih memilih anjing daripada kucing.” Alex mendesah seraya membuka rantai dan masuk ke dalam. Dia melangkah lebih jauh dan tiba di tenda besar. Tidak ada kerusakan, tidak ada tanda-tanda kucing di sana.


[Kamu bisa mendengar suaraku dengan jelas?] Suara Jayden terdengar jernih.


Dirinya teringat akan ucapan Jayden sebelumnya. Pawan menemukannya ketika hendak memberi makan, berarti seharusnya hewan itu sedang kelaparan sekarang. Kecuali kalau dia menemukan hewan lain untuk dimangsa. Tentu saja ada hewan selain harimau di sana. Mungkin mereka punya monyet atau hewan malang lainnya.


[Terlalu sepi.] Suara Jayden terdengar lirih.


“Aku belum lihat kekacauan apa pun. Semua seperti ditinggalkan begitu saja.”


[Aku juga.]


“Jayden, kamu bisa melihat apa yang kulihat?”


[Tentu saja. Aku harus memastikan kamu tidak dapat kejutan, Alex.]


Alex mengitari area permainan dan tiba di bagian belakang. Area ini sepertinya tempat para anggota sirkusnya bersenang-senang. Ada beberapa tenda kecil didirikan mengelilingi sebuah tanah yang tadinya dijadikan api unggun. Ada pula meja kursi di sana dan sebuah tenda terbuka untuk memasak.


“Sekarang kita menemukan petunjuk.” Alex mengernyitkan. Beberapa peti styrofoam berserakan di tanah. Apa pun yang ada di dalamnya telah lenyap digantikan air dan bau amis. “Kucing suka ikan, eh?”

__ADS_1


[Dan, dia masih lapar.]


Alex melompat. Dia tahu! Bahkan sebelum Jayden selesai bicara, dia bisa merasakan tatapan pemburu di belakangnya. Untung saja dirinya sempat menghindar. Harimau tersebut mencabik tanah tempatnya berdiri tadi. Matanya menatap Alex lekat-lekat. Badannya merendah ke tanah, siap melompat lagi.


Tanpa perlu disuruh, Alex sudah bersiap dengan pistol biusnya. Entah bagaimana, Alex tahu kalau dia akan menembaknya dengan tepat. Ketika harimau tersebut hendak melompat, Alex telah menanamkan peluru bius ke dekat lehernya. Si kucing besar tumbang setelah raungan pelan.


Alex paham kalau tembakannya cukup jitu. Dia mengambil kelas khusus untuk keahlian satu ini selain menonton video tutorialnya di internet. Tapi, dia tidak paham bagaimana dirinya bisa begitu tenang menghadapi hewan buas tersebut. Sangat tenang, malah. Seharusnya dia ketakutan, mengingat ukuran hewan itu lebih besar darinya.


“Jayden, apa Sonic mempengaruhi kemampuanku?”


[Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa kami membuat Dragon Blood.]


“Apa itu termasuk membuatku tetap tenang menghadapi hewan buas?”


[Seharusnya... tidak. Kenapa?]


“Aku merasa tidak merasa takut sama sekali. Apa itu normal?” Alex belum merasakan keuntungan Dragon Blood berada dalam dirinya. Bukan tidak mungkin kalau eksperimen mereka memengaruhi kejiwaannya. Selain rasa tenang itu, dia merasa biasa-biasa saja.


[Mungkin secara tidak sadar, kamu tenang karena ada Dragon Blood dalam dirimu. Kamu Zetta Sonic, sekarang. Alam bawah sadarmu bilang kalau kamu bisa menangani masalah ini tanpa terluka. Ini hanya dugaanku, sih.]


Alex tersenyum. Benar atau tidak, ucapan Jayden terasa tepat. “Ya, sudah. Aku akan kembali sekarang. Kamu masih di pintu masuk, ‘kan?”


[Hei, tugasmu belum selesai!]


“Tugas apa lagi?”


[Kamu belum menangkap harimau satunya. Kucingnya ada dua, Alex!]


Alex langsung protes. “Apa!? Kenapa kamu enggak bilang--”


[Peluru pistol biusnya ada dua, ‘kan?]


“Kamu pikir aku bisa menebaknya dari jumlah peluru!?”

__ADS_1


__ADS_2