
Malam itu cerah seperti perkiraan cuaca. Udaranya sejuk, cukup dingin. Cocok untuk membuat api unggun dan bernyanyi bersama. Tepat pukul delapan, sang tamu undangan bergabung dengan mereka.
Alex tidak pernah bertemu Honey Lemon secara personal. Dia hanya tahu kalau gadis itu pernah menuntut ilmu di sekolah yang sama dengan mereka meski hanya dua tahun. Alex setuju kalau gadis itu sesuai dengan komentar para penghuni dunia maya. Rambut pirang ikal sebahunya seperti sutra, suaranya merdu, wajahnya cantik, sangat menawan.
Gadis itu membawakan satu lagu di atas panggung sederhana yang dibuat dari potongan pohon besar. Kemudian dia mengajak beberapa siswa naik untuk bernyanyi bersama. Dia juga sempat menceritakan hari-harinya di Wood Peak. Sepanjang Honey Lemon berada di atas panggung, para siswa mengayunkan lightstick di tangan mereka.
Alex tidak. Tangan kanannya menggenggam erat emblem Zetta Sonic.
Dia telah berbincang dengan Tiger sebelumnya. Dia juga sudah membaca habis info terbaru mengenai kasus mereka. Alex tak terkejut sama sekali bagaimana ICPA bisa mengirim semua informasi dengan mudah sekalipun mereka tak berada di kota. Sinyal ponsel saja hanya berkurang satu bar. Tempat itu tak terpencil sama sekali. Itu berita baiknya.
Berita buruknya, Honey Lemon ternyata baru menyelesaikan tur di luar negeri selama satu bulan. Dia baru mendarat sore itu dan langsung pergi ke perkemahan. Di acara sekolah semacam itu, pengawasannya lebih minim. ICPA tahu apa artinya. Kalau si robot ingin membunuh atau menculik Honey Lemon, tak ada kesempatan lebih baik daripada melakukannya di sana.
Sejak mengetahui informasi tersebut, Alex mendapati dirinya jadi uring-uringan. Bagaimana tidak. Dia harus menggunakan kekuatannya kalau sampai si robot pembunuh datang. Bukan hanya untuk menyelamatkan gadis itu tapi juga melindungi teman-teman sekelasnya.
“Alex?” Lagi-lagi Leta membuyarkan lamunannya. Gadis itu masih duduk di sebelahnya. Alih-alih ikut berdiri dan menari bersama teman-teman sekolah mereka di dekat panggung, keduanya memilih agak menyendiri ke belakang. Masih memikirkan soal undangan ke universitas atau pertanyaanku tadi siang?”
“Mungkin, enggak keduanya.” Alex menatap lekat-lekat gadis di sampingnya. Bayang-bayang tak berbentuk menutupi wajahnya, tapi tak mampu menghilangkan pesonanya. “Aku hanya sedang menikmati momen ini.”
Leta tersenyum lalu membuang tatapannya ke depan. Jemarinya merapikan helaian rambut yang jatuh ke wajahnya. Leta sesekali menggerakkan kepalanya mengikuti irama musik. Suara Honey Lemon terdengar jernih. Keramaian pertunjukan itu belum kelihatan ujungnya.
“Kamu seharusnya menari bersama mereka,” ujar Alex.
__ADS_1
“Tidak perlu. Aku malas berdesak-desakan. Lagipula, aku bisa menonton semuanya dari sini.” Leta mengamati ke arah panggung. Tingginya memang hampir sebahu teman-temannya. Mereka memang bisa melihat dengan jelas.
Alex terdiam. Dia tak pernah menyangka bisa berada dekat Leta semudah itu. Matanya tak berhenti lepas dari wajah Leta. Gadis itu seperti menyihirnya. Merasa salah tingkah, Alex menurunkan kedua tangannya ke balok kayu hanya untuk membuat kesalahan lain. Tangannya tak sengaja menempel ke tangan Leta.
Alex buru-buru menarik tangannya. “Maaf--”
Sebaliknya, tangan Leta justru langsung menangkap tangan Alex. “Kamu enggak apa-apa? Tanganmu sedingin es.”
Suasana di sana memang jauh lebih dingin dari ibu kota. Wajar saja kalau Alex masih merasa dingin di balik sweater dan jaket. Tangan Leta juga dingin, meski tak sedingin dirinya. Ini membuat si gadis menarik tangan Alex satunya. Jemari rampingnya membungkus tangan Alex yang lebih besar.
“Kamu bawa sarung tangan? Aku bawa kalau kamu perlu,” kata Leta lagi.
Leta mengamati lawan bicaranya sejenak. “Baiklah.”
“Oh, ya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan sejak lama.”
“Apa itu?” Leta mendekatkan wajahnya.
Alex berusaha tak dramatis ketika dia bertanya, “Apa kamu suka pembohong? Maksudku, apa pendapatmu soal orang yang suka berbohong? Kadang, ada orang yang harus berbohong demi kebaikan.”
“Aku benci pembohong!” Ada keseriusan dalam ucapan Leta. “Bohong tetaplah bohong. Tidak peduli apa pun alasanmu. Lagipula, enggak ada orang yang suka dibohongi.”
__ADS_1
“Benar. Aku setuju.” Alex mengutarakan hal yang tak bisa dia pastikan sendiri kebenarannya. Dia sangat setuju kalau tidak ada orang yang suka dibohongi. Dia juga tidak mau dibohongi. Ironisnya, kalau ada sesuatu yang bisa dia banggakan selain kemampuan meretasnya, itu adalah kemampuan berbohongnya.
“Kenapa kamu tanya begitu? Kamu cukup jujur, menurutku.”
“Wow, terima kasih. Kamu orang pertama yang bilang seperti itu padaku.”
Leta tertawa kecil. “Masa? Kamu tidak pernah menyontek dan mencontoh tugas orang lain. Setahuku malah biasanya kamu memberi contekan ke Willy. Semua orang tahu itu. Kecil memang, tapi itu bentuk kejujuran.”
“Terima kasih.” Alex mendengus geli. Setidaknya itu benar. Alex tak perlu menyontek, tak perlu. Dia dianugerahi otak cerdas. Kalau itu yang dimaksudkan Leta dengan jujur, soal nilai, maka Alex memang bukan pembohong.”
Beberapa saat berikutnya, keheningan melanda di antara mereka berdua. Leta masih menikmati lantunan suara di kejauhan. Namun, musik seolah tak pernah sampai ke telinga Alex. Pikirannya melayang pada berbagai hal. Konsentrasinya terpecah. Apalagi ketika dia melihat gerakan bayangan di tak jauh di belakang mereka, di antara pepohonan.
“Tunggu di sini. Aku ke sana sebentar.” Alex pergi tanpa menunggu jawaban.
Alex meninggalkan keramaian menuju area dipenuhi pepohonan. Bayangan itu melesat di antaranya dengan cepat. Dia mendengar langkah kaki dan denting logam di antaranya. Meski begitu, lokasinya salah. Sosok itu berlari menjauhi kerumunan. Alex sadar dia lebih jauh dari area perkemahan. Suara musik terdengar samar. Cahaya api unggun yang menari tak lagi bisa menjangkau mereka. Alex hanya mengikuti insting.
Di balik batu besar, sosok itu meringkuk. Tak lama setelahnya, Alex melihat percik api. Tangannya menggenggam erat emblem Zetta Sonic. Dia tak perlu berpikir panjang. Tempat itu sepi dan gelap. Dengan satu kali tekan, emblem yang menempel di sabuknya menutupi sekujur tubuhnya dengan seragam tempur.
Alex memicingkan mata. Tampilan layar pada helm menunjukkan kondisi dengan lebih baik. Dia mendapati sosok itu meringkuk di balik batu. Alex mengubah seragamnya ke stealth mode sambil bergerak mendekat. Dia tak pernah menyangka akan menggunakan seragam tempur itu hanya untuk memergoki siswa yang sedang merokok.
Seperti sekolah lainnya, Wood Peak juga melarang para siswanya merokok. Jadi sangat wajar mendapati seorang seperti anak itu. Merokok diam-diam. Alex ingin sekali melaporkannya atau sekadar menyiramnya dengan air. Tapi, di sisi lain, anak itu membuatnya lebih tenang. Tidak ada robot pembunuh. Hanya seorang siswa yang sembunyi untuk merokok. Di sini bukan di sana.
__ADS_1