Zetta Sonic

Zetta Sonic
Lights Out


__ADS_3

“Hai, Alex.” Gadis itu, Caitlin, menyapa lembut tanpa senyuman sedikit pun.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” balas Alex dengan nada sedatar mungkin. Dia tidak ingin terlihat kesal apalagi setelah perdebatan mereka. “Menyusup seperti yang dilakukan Rando?”


Caitlin mengangkat bahu. “Entahlah. Kupikir, aku hanya sedang melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Membela apa yang benar. Membantu orang yang lemah. Membuktikan yang tak bersalah.” Tangannya dengan sengaja memindahkan senapan dari tangan kanan ke kiri agar Alex bisa melihatnya dengan jelas. “Tolong jangan tersinggung,” imbuhnya meniru ucapan Tiger.


“Dia salah satu penembak jitu terbaik yang dimiliki ICPA,” ujar Fergus. “Menurutku, sebuah kebetulan kalau dia bisa terlibat kembali dengan kita. Dia datang di saat yang tepat dan menawarkan bantuan. Kupikir tidak ada salahnya.”


Alex mendengus. “Terlalu tepat.”


“Hei. Aku hanya ingin membersihkan kecurigaan terhadap Baron dan aku. Lalu, aku melihat kalau kalian dapat sedikit masalah. Kurasa tidak ada salahnya memberikan bantuan tambahan,” tambah Caitlin. “Dimulai dengan menangkap Rando lalu menemukan Jayden.”


“Itu jelas dua hal berbeda. Membantu menangkap Rando enggak membuatmu baik di mataku.” Alex mengucapkannya dengan santai. “Lebih mudah kalau kamu langsung bilang di mana kamu menyembunyikan Jayden.”


“Kamu masih enggak percaya padaku? Itu urusanmu,” balas Caitlin sengit, “bukan aku. Aku hanya perlu menunjukkan kalau Baron tidak terlibat seperti tuduhanmu.”


Tiger mengernyit. Dia berusaha menurunkan ketegangan dengan pertanyaan lebih mendasar. “Hei, aku enggak suka memotong perdebatan kalian, tapi tolong jawab ini lebih dulu. Rando di sini? Di markas ICPA ini? Untuk apa? Memang dia mau meracuni sumber air kita? Lebih masuk akal kalau dia memasukkan cairannya ke bendungan. Dia bisa menghancurkan markas Special Force dan meracuni persediaan air kota.”


Jawabannya sebenarnya sudah jelas. Tiger sendiri tahu. Dia hanya membiarkan Alex menjawabnya. “Dia mencari Zetta Sonic.”


Pada dasarnya, Rando tetaplah pembunuh bayaran. Sekalipun dia berulang kali jadi kurir atau melakukan hal selain membunuh, Rando tetap pembunuh. Dia tahu nilai Zetta Sonic. Menghabisi Zetta Sonic bukan hanya akan memberikan banyak uang untuknya tapi juga ketenaran, bahkan lebih dari itu. Kesenangan.


“Jadi, apa rencananya?” tanya Alex, berpaling pada Fergus.


“Menangkap Rando hidup-hidup.” Fergus bicara dengan mantap. “Aku serius,” katanya lagi sebelum ada pertanyaan susulan. “Kita harus menangkap Rando agar tidak ada pembunuhan yang bisa dia lakukan. Kita juga membutuhkannya hidup-hidup.”


Tiger adalah yang pertama menentang ide tersebut. “Fergus, kamu juga pasti mengerti. Rando tidak akan bicara. Dia suka pertarungan. Lebih dari uang. Menangkapnya enggak akan memberi kita keuntungan apa pun.”

__ADS_1


Fergus melirik Alex. “Zetta Sonic bisa membuatnya bicara. Nanti. Sekarang, kita harus menangkapnya hidup-hidup sebelum dia meledakkan markas ini.”


Dokter Vanessa akhirnya ikut bicara. “Alex butuh bantuan. Bukan hanya Caitlin.”


“Aku tahu. Seluruh persenjataan dan perangkap sudah diaktifkan. Begitu kami melihat kalau dia dekat, semua agen waspada. Saat kita bicara, mereka juga pasti sedang menghadapinya. Aku hanya berharap mereka bisa menahannya.”


Alex menangkap arti ucapan tersebut. Menahan, bukan menghentikan. Mereka belum pernah menahan Rando. Saat ini, hanya dia satu-satunya yang punya kemungkinan untuk memenangkan pertarungan. Tiger serta dokter Vanessa juga benar dalam hal ini. Dia butuh bantuan sebanyak mungkin yang bisa dia dapatkan. Daripada terus bersitegang dengan rekan-rekannya, Alex menelan semua protesnya.


“Di mana dia?” tanya Alex.


“Seharusnya masih di lantai dasar,” jawab Fergus.


Baru selesai bicara, mereka mendapati lampu dalam ruangan itu berkedip. Begitu pula peralatan yang sedang dipakai oleh Emil. Layar komputernya tetap menyala tapi suara dari prosesor di sampingnya menunjukkan adanya perubahan meski hanya sesaat.


“Apa itu lampu mati?” tebak Tiger sambil mengedarkan pandangannya.


“Tempat ini ada di bawah tanah. Tempat paling aman. Sistem keamanan tersendiri. Persediaan listrik tersendiri.” Emil menjelaskan tanpa diminta. “Kalau listrik di gedung utama mati, seharusnya kita tidak terpengaruh. Kecuali…”


“Ada yang merusak sistem utama. Kita tidak terpisah sepenuhnya dari gedung utama. Kalau sistem di sana lumpuh total, ada kemungkinan tempat ini akan terpengaruh,” jawab Fergus. “Seperti—”


“Ledakan besar.” Alex berkata lirih.


“Benar.” Fergus menoleh, hendak memuji kecepatan Alex menimpali ucapannya namun mengurungkan niat.


Alex terpaku pada layar yang sedang dibelakangi oleh Emil. Semua orang dalam ruangan pun ikut berpaling. Layar itu menunjukkan gambar gedung utama ICPA yang sedang membara. Ledakan disertai kepulan asap hitam telah membubung. Kalau Emil tidak mematikan suara dari speaker kamera pengawas, mereka pasti mendengar ledakannya. Kini layar itu dipenuhi peringatan berwarna merah.


Rando pasti ada hubungannya dengan itu.

__ADS_1


Dokter Vanessa terperangah. “Bagaimana dia melakukannya?”


“Bom dalam mobil. Tanpa pengemudi. Kendali jarak jauh.” Emil memutar balik rekaman kamera pengawas.


Mereka bisa melihat bagaimana sebuah mobil SUV melaju kencang, menabrak pagar pengaman gedung, terus melaju hingga menabrak dinding. Mobil tersebut pun meledak, menghancurkan apa pun yang berada dekat, serta membutakan kamera pengawas dengan api dan asap ledakan.


Fergus mengernyit. “Tapi, Rando sudah ada di sini sebelumnya. Siapa—”


“Dia tidak sendirian.” Caitlin mengangkat kembali senapannya lalu mengulurkan tangan untuk memeriksa peluru yang tersimpan rapi dalam kantong-kantong pada sabuknya. “Rando biasa bergerak sendirian. Orang yang membayarnya mungkin lain. Mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Zetta Sonic.”


“Mereka gila,” bisik dokter Vanessa.


Lampu kembali berkedip. Setiap orang mengedarkan pandangannya ke langit-langit termasuk Fergus. Pimpinan ICPA itu mengambil ponselnya dan mengumpat.


“Ada ledakan lain di beberapa titik. Mereka mematikan listrik dan jaringan utama.” Fergus mengembalikan ponsel. Sebagai gantinya, dia mengambil pistol. “Persenjatai diri kalian. Kita tidak tahu dari mana mereka akan datang.”


Senjata jelas bukan bidang si dokter. Dokter Vanessa menarik napas dalam-dalam, bertukar pandang dengan Emil. Tiger melirik Alex. Matanya menangkap bagaimana Alex mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


“Kamu takut?” bisik Tiger padanya.


“Kita hanya perlu menangkap jendralnya dan pasukan itu akan menyerah,” balas Alex lirih.


“Kamu belum siap—”


“Tidak akan pernah. Aku bahkan tidak siap saat jadi Zetta Sonic.” Alex tersenyum tanpa sadar. “Satu hal yang pasti. Aku tidak siap mati hari ini. Aku akan mengalahkan Rando apa pun risikonya.”


Caitlin mendengus. “Jangan sok jadi pahlawan, ya. Rando berbahaya.”

__ADS_1


Alex suka pesta dan jadi pusat perhatian. Tapi, pahlawan sedikit berbeda dengan apa yang dia inginkan. Mendengar komentar Caitlin, Alex tahu harus memberi balasan sengit. “Aku enggak perlu jadi pahlawan. Aku hanya perlu rekan yang bekerja dengan benar. Jangan jadi beban dan menghalangi jalan. Aku bisa enggak sengaja menyerangmu!”


“Harusnya aku yang bicara begitu. Aku bisa saja salah tembak.”


__ADS_2