
Ledakan tak terhindarkan. Suaranya memekakkan telinga. Asapnya bukan banya membutakan tapi juga membuat pedih. Caitlin mengumpat menyadari benar kalau bukan dia penyebab ledakan tersebut. Seharusnya itu Alex atau orang di balik layar. Sebut saja seperti Emil atau sistem pertahanan yang telah kembali aktif. Seingat dirinya, gedung ICPA tersebut menyembunyikan banyak kejutan menyebalkan.
Dalam kepulan asap, Alex menerjang Rando. Dia sudah hafal benar di mana posisi lawan. Tentu saja, karena dialah yang melemparkan peledak tersebut. Alex mengira akan melihat raut terkejut di wajah lawan. Harap itu pupus ketika dia melihat Rando tersenyum. Lawannya seolah telah menanti-nantikan datangnya momen tersebut. Rando menyambut Alex.
Pertarungan tangan kosong pun terjadi.
Alex mengarahkan tinjunya pada wajah lawan. Tentu saja itu tidak terjadi sesulit bayangannya. Rando menangkap kepalan tangannya jauh sebelum mendekat. Tidak menyerah, Alex pun menendang. Rando mundur sebelum tendangan berputar itu mengenainya. Pertarungan jarak dekat tersebut terlihat seimbang untuk saat ini.
Seiring lenyapnya asap, Caitlin sudah bersiap di posisi dengan senapan. Dia berusaha membidik lagi. Gadis itu bukan satu-satunya yang berniat membantu Alex. Pertahanan gedung ICPA sudah pulih sedia kala.
Ada bagian-bagian tertentu yang terbuka dari langit. Mereka berderet rapi seperti prajurit. Pintu-pintu ini, yang tadinya tak nampak, kini telah menunjukkan isinya. Senapan mesin bulat berputar ke arah yang sama, ke arah Rando. Pria itu tak sedang berada di dekat Alex. Ini kesempatan bagi sistem pertahanan ICPA. Sistem itu bisa menembak tanpa takut salah sasaran. Sementara itu, Rando si sasaran, tak terlihat gentar malah tersenyum.
Tanpa aba-aba, deretan senapan itu memuntahkan peluru. Suara mereka begitu kencang. Percikan api samar dibarengi asap membuat suasananya makin kacau. Namun, itu tak berlangsung lama.
Di sisi lain, Alex terperangah. Dia melihat bagaimana Rando bisa melompat tinggi ke langit-langit dan menghancurkan satu per satu senapan. Sebagai catatan, Rando tidak benar-benar bersenjata. Rando memang memiliki belati panjang, namun dia tidak menggunakannya. Belati itu telah tersarung kembali dekat sabuknya. Rando menggunakan tangan besinya.
Alex sadar benar alasan sistem ICPA memberikan peringatan setiap kali bertemu dengan Rando. Pembunuh itu berbahaya. Dia seperti robot pembunuh milik Filip dan Nikola. Lebih parahnya, Rando punya pikiran.
__ADS_1
Caitlin ikut menembak sebelum Rando selesai menghancurkan semua senjata yang ada pada lorong tersebut. Rando tahu harus menghabisi Caitlin lebih dulu sebelum Zetta Sonic bahkan senapan itu. Seolah lupa kalau sedang ditembaki, Rando melompat ke arah Caitlin dan mulai berlari.
Caitlin terkesiap. Sistem pertahanan ICPA pun berhenti di sana. Mereka mengenali adanya agen atau orang tak bersalah dekat dengan target. Alih-alih terus membidik, mereka pun mematikan diri mereka sendiri. Rando mendapatkan keamanan yang dia inginkan.
Itu skenario yang cukup buruk bagi ICPA. Caitlin masih berusaha menembak. Rando bersikeras maju meski harus menggunakan tangannya sebagai tameng. Sial bagi Caitlin, pelurunya habis ketika Rando tepat berada di depannya. Mau tak mau, Caitlin menggunakan senapan panjangnya sebagai pertahanan.
Rando menangkap senapan itu dengan mudah. “Lemah!” Hanya itu kata Rando sebelum dia menghancurkan senapan itu jadi dua.
Bagi Caitlin, dia tak tahu mana yang lebih menyakitkan. Melihat kalau tembakannya gagal, senapannya dihancurkan, atau dihina seperti itu. Mengabaikan semua perasaannya, Caitlin mencoba memukul. Rando juga menangkap tangannya dengan mudah. Rasa sakit melompat pada tangannya. Tak lama setelahnya, Caitlin mendapati lantai. Rando melemparnya cukup jauh hingga menabrak dinding. Punggungnya sakit, matanya berair, tangannya memar, dan dia kesal karena tak bisa berbuat banyak.
Rando berpaling dan terbelalak. Alex bersenjata. Dia memiliki pedang dari laser yang mematikan. Rando tahu apa pun yang dia lakukan tidak akan bisa mencegah laser semacam itu. Pedang telah terayun. Rando mundur tapi menyadari kalau telah terlambat. Jari manis dan kelingking tangan kirinya terpotong oleh pedang tersebut. Itu jelas ancaman baginya. Alex melihat reaksi lawannya berubah.
“Hebat,” puji Rando. “Kamu akan menyesali ini.” Rando mengambil belati panjangnya. “Hanya akan ada satu pemenang dari pertempuran ini.
“Biar kuberi tahu biasanya tuan rumah lebih baik dari tamu.” Alex biasanya akan melempar senyum simpul saat menyombongkan diri. Kali ini tidak. Pertarungannya tidak akan berlangsung mudah. Dia tahu itu.
Rando maju lebih dulu, mengabaikan Caitlin yang bingung mencari senjata. Dia menemui Alex di tengah lorong. Keduanya kembali berkelahi. Rando lebih banyak memberikan pukulan. Alex sempat terkecoh. Pukulan itu mengenai bahu dan membuatnya terhuyung ke belakang. Setidaknya dirinya masih siap oleh serangan susulan. Dia berhasil mempertahankan dirinya.
__ADS_1
Alex melihat Rando menghunuskan belati. Sebelum belati beracun itu mengenai dirinya, Alex berputar dan menunduk. Kakinya menjegal Rando. Bukannya berhasil menjatuhkan lawan, Alex malah meringis. Kini dia ingat kalau kaki lawannya juga terbuat dari besi. Rando sendiri memang tidak kesakitan tapi dia oleng dibuatnya.
Sebuah sinar laser memelesat di udara. Alex mengerjap. Matanya mencari tahu siapa yang berani melawan perintah Fergus untuk menggunakan laser di dalam markas. Dia mendapati Jason pelakunya. Lebih tepatnya, Emil yang membawa Jason ke lorong tersebut. Si drone menembaki tangan Rando dengan sinar laser panas warna hijau. Serangan itu membuat lubang dengan bekas leleh pada sekitar tangannya.
Pegangan Rando pada belati pun mengendur. Alex memanfaatkan kesempatan menyerang balik. Dia menendang sekuat tenaga. Belati tersebut akhirnya terlempar di udara. Rando mengulurkan tangan untuk menangkap. Itu membuat Rando tidak awas pada serangan yang telah menanti.
Momen itu pun datang. Momen pertama kalinya bagi Alex berhasil memberikan pukulan telak ke wajah Rando. Lawannya mundur, tak percaya itu terjadi. Alex tak menyia-nyiakan kesempatannya. Dia merangsek maju dan terus menerus menyerang. Kini, posisi pun terbalik. Alex lebih banyak menyerang sementara Rando lebih banyak bertahan. Alex, sekali lagi, memberikan tendangan dan membuat Rando terpaksa menjaga jarak.
“Mengesankan.” Rando memberikan pujian lagi. “Kamu bertumbuh.”
“Aku manusia, beda denganmu!” Alex membalas. Dia berlari lagi.
Rando mengedarkan pandangan berkeliling. Dia melihat si agen wanita sudah memegang pistol lain bersiap menembak. Dia melihat drone melayang mendekat. Dia juga melihat pemuda dengan tablet PC sedang berlari dari ujung lorong. Menurut pengalamannya sebagai pembunuh bayaran, operator macam pemuda itu harus diawasi ketika turun di lapangan. Biasanya mereka menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang membuat mereka terpaksa berada satu lantai dengan bahaya.
Rando melompat, menghindari Alex. Dia mendatangi Caitlin. Kali ini, dia tidak berminat menghentikan atau menyakiti agen wanita tersebut. Dia tertarik pada senjata si agen. Dia bahkan tak perlu merebutnya, dia hanya perlu menangkap tangan wanita itu dan mengarahkannya pada tujuan.
Caitlin hanya bisa berteriak. Pistol di tangannya meletus. “Awas, Emil!”
__ADS_1