Zetta Sonic

Zetta Sonic
Some Guests


__ADS_3

Jayden tidak benci ketinggian atau pesawat. Dia hanya benci bila harus beroper-oper pesawat berulang kali. Dia sudah tak bisa menghitung ini pesawat yang ke berapa. Dia hanya ingat kalau pesawat pertamanya bersama Camellia. Dan, dia sudah kembali ke pesawat pertamanya lagi. Itu pun jika mereka memindahkannya ke pesawat dalam urutan tertentu.


Pesawat Marcel adalah yang paling nyaman. Kursi empuk tapi rekan-rekanya menyebalkan.  Pesawat Camellia termasuk jelek. Tapi, Jayden cukup nyaman di sana sekalipun dia belum bisa mempercayai gadis itu seratus persen.


Ketika tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri, Jayden menyadari kalau pesawatnya sedikit berbeda. Dia mengenali manuver yang tengah terjadi ini adalah ketika dia hendak berpindah pesawat lagi. Dia cukup yakin akan hal tersebut. Dia juga cukup yakin kalau baru saja berada di pesawat tersebut. Agaknya terlalu cepat kalau dia memang harus berpindah lagi.


Jayden menanti. Tak begitu lama setelahnya, pintu kabinnya terbuka. Dua orang bersenjata masuk sambil membawa laras panjang. Dia tak memperhatikan bila itu pengawal yang biasa bersama Camellia. Bila keduanya adalah petugas yang sama, maka mereka terlihat cukup berbeda kali ini. Ada aura tak menyenangkan dan cukup mencekam. Sesuatu telah terjadi dan itu bukan hal baik. Bukan tidak mungkin kalau ini saatnya dilempar keluar dari pesawat.


Jayden mulai menapaki lorong membosankan sambil mengusir jauh-jauh semua pikiran buruk. Dia mencoba memikirkan hal-hal baik seperti Special Force telah menemukannya atau Roban menyerah tanpa syarat. Itu agaknya sedikit terlalu indah. Jayden mengedarkan pandangan, berusaha mengawasi sekitar. Mereka membawanya menuju ke ruang cukup lebar yang berseberangan dengan pintu. Dia biasa menanti di sana hingga pintu dibuka untuk berpindah pesawat.


“Jayden, oh, Jayden.”


Jayden menoleh pada sosok laki-laki di tepi pintu. Itu Marcel. Mantan agen ICPA itu sedang memainkan pistol di tangannya. Dua orang penjaga berdiri tak jauh darinya, masing-masing di sisi pintu pesawat. Camellia sendiri berdiri di depan pintu tersebut. Dua orang laki-laki berdiri rapat dengannya. Jayden tahu kedua orang itu adalah yang biasa bersama Camellia. Tangan ketiga orang itu terborgol erat dan diikat satu sama lain.


“Hei, Marcel! kita kedatangan tamu rupanya. Sayang sekali tanganku sedang diborgol jadi aku enggak bisa mengambilkanmu minum.” Jayden membuat senyum simpul. Dia berusaha menyembunyikan rasa gelisahnya. “Jadi, ke mana kalian akan memindahkanku kali ini? Pesawat hewan ternak?”


Marcel mengernyit. “Hewan ternak? Itu menjijikan.” Wajahnya yang membuat raut jijik bertahan beberapa detik sebelum digantikan seringai. “Jangan cemas. Aku tidak akan lama. Kamu juga tidak akan ke mana-mana. Maksudku, belum. Aku di sini hanya untuk menyingkirkan tikus penyusup.” Marcel melirik Camellia. “Aku sudah pernah bilang pada Roban kalau tidak semua mantan anggota ICPA bisa dipercaya.”

__ADS_1


“Sepertimu?” Camellia mencibir. “Aku tidak tahu dari mana Roban mendapatkan informasi bodoh itu, tapi aku tidak berkhianat apalagi mencuri data dari kalian. Ide bodoh dari mana itu? Aku tidak tahu bagaimana cara meretas sistem. Aku bukan Jayden.”


Marcel mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Harus diakui, itu terlalu sulit buatmu. Tapi, apa peduliku? Aku hanya menjalankan tugas. Roban ingin kamu disingkirkan. Jadi, jangan dendam padaku. Oke?”


Camellia tak sempat bicara. Pistol di tangan Marcel sudah meletus. Camellia terjatuh dalam genangan darah. Kedua orang yang ada di sampingnya berteriak panik. Segera saja, pistol kembali meletus. Jayden memalingkan wajah ketika Marcel menembak. Dia tak perlu melihat kejadiannya dengan jelas. Dia tahu kalau Marcel telah menembak dalam jarak dekat pada rekan kerjanya.


Pintu pesawat pun terbuka. Dua orang di dekat pintu menyeret ketiganya tanpa mengecek bila mereka masih hidup atau sudah tewas. Jayden juga tak perlu melihat apa yang akan mereka lakukan. Dia tahu kalau Camellia bersama kedua orang itu telah keluar dari pesawat. Hanya tersisa noda darah segar di atas lantai.


Hempasan angin dingin menampar wajah Jayden. Aroma amis darah terasa menyengat. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Dadanya berdegup kencang, berharap kalau itu semua hanya mimpi buruk. Kalau bisa, dia ingin terbangun di dalam kamarnya, sehari sebelum pergi ke universitas bersama Alex. Kondisi terbaik sebelum rangkaian mimpi buruknya jadi kenyataan.


“Kamu tahu, Jayden? Hal yang sama bisa terjadi padamu.” Marcel melangkah mendekati Jayden. Dia menghindari genangan darah itu hingga berdiri tepat di depannya. Aroma parfumnya tercium memuakkan. “Aku bisa membunuhmu kapan pun aku mau.”


“Aku benci berurusan dengan orang sok pintar. Tapi, ya, ini Jayden yang terkenal itu.” Marcel tertawa mendengarnya. “Ngomong-ngomong, pernah dengar nama Damon?”


Jayden tak menjawab. Otaknya bisa menerka apa yang terjadi. Sebelum hari penculikannya, dia sempat bicara dengan Nadira. Keduanya sepakat kalau profesor Otto bisa saja menghubungi Damon mengingat kalau laki-laki itu juga selamat dari insiden di bendungan. Saat nama itu dibawa dalam pesawat kali ini, Jayden tahu kalau Damon terlibat.


Marcel menjelaskan pada Jayden. Sebagian besar dugaannya benar. “Kalau Camellia mau menyalahkan orang, dia bisa menyalahkan Damon.” Marcel tertawa di akhir cerita. “Apa kamu tahu di mana Damon sekarang? Dia ada di markas lamanya. Di mana Zetta Sonic? Bersembunyi! Dia takut setelah menyadari ada Zetta Sonic lain.”

__ADS_1


“Hanya ada satu Zetta Sonic!” sahut Jayden. Dia jelas tidak suka kalau Marcel menyebut Damon sebagai Zetta Sonic pula.


“Benarkah? Apa kamu tidak tahu rencana Damon selanjutnya? Oh, tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terjebak di sini. Hahaha… Damon berencana menyerang gedung walikota. Dia akan menunggu kehadiran Sonic di sana. Satu jam. Kalau dia tidak hadir, Damon akan menghancurkan gedungnya serta membunuh semua orang yang ada di sana.”


“Itu tidak akan terjadi. Fergus—”


“Apa yang bisa dia lakukan? Tidak seorang pun anggota ICPA bisa menang atas Damon. Zetta Sonic sendiri kalah, bukan? Apa yang kamu harapkan? Camellia juga sudah lenyap. Tidak seorang pun bisa membantumu keluar dari sini.” Marcel tertawa puas.


Jayden terkekeh.


“Apa yang lucu?” Marcel jelas tak suka ketika orang yang dia takuti masih bisa tertawa kecil seperti itu. “Kamu paham situasinya, ‘kan?”


“Aku hanya membayangkan bagaimana Zetta Sonic akan menghajar Damon.”


“Jangan berkhayal! Itu mustahil!”


“Kenapa? Karena dia sudah kalah sekali maka dia tidak akan pernah menang?” Jayden tersenyum simpul. “Mau bertaruh?”

__ADS_1


“Kalau Damon menang, kamu akan menjilat sepatuku!”


“Kalau Zetta Sonic menang, kalian semua akan ditangkap. Dan, kamu. Aku akan memeriksa semua riwayat kejahatanmu. Bersiaplah untuk mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Atau, mungkin lebih buruk, di kandang hewan ternak.”


__ADS_2