
Tatapan profesor bertemu dengan Alex. Pria tua tersebut tahu jelas kalau mencekiknya adalah hal yang sangat mudah bagi Alex. Dia juga sadar benar kalau Alex bisa menembaknya dengan kekuatan laser yang tidak terkontrol. Seolah menyambut pemikirannya, mata Alex berubah jadi hijau. Terlalu takut dan terpukau di saat bersamaan, profesor hanya bergeming.
“Di mana Jayden?” Pertanyaan kembali terdengar. Kontras dengan rasa panas yang terasa di tangannya, kalimat Alex terasa begitu dingin.
“Mundur, Alex!” pinta Tiger. Pria itu telah menggenggam pistol di tangannya meski belum menodong siapa pun. Semua orang dalam ruangan juga tahu, menembak Alex dalam kondisi seperti itu bukan pemikiran cerdas.
Emil, sebaliknya, menenangkan Alex dengan memberikan jawaban sederhana. “Dia tidak tahu. Profesor mendapat informasi. Cuma itu. Pengirim tidak dikenal. Aku menyelidikinya tapi nihil. Pengirimnya tahu cara menyembunyikan jejak. Profesor hanya memanfaatkan informasi. Tidak lebih. Dia tidak tahu di mana Jayden.”
Alex memicing pada professor. Pria tua itu memelotot. Tangan Alex masih mencekiknya. Beberapa detik setelahnya, Alex akhirnya melepaskan cengkramannya. Profesor pun terbatuk-batuk kasar.
“Kamu beruntung aku enggak membunuhmu.” Alex tidak memberikan ancaman melainkan mengungkap fakta. Dirinya menarik kursi di samping profesor, duduk di sana dengan tatapan masih mengarah pada si profesor. Dirinya jelas tidak berniat sok, tapi tindakan itu cukup menakutkan di mata profesor.
Profesor Otto bergerak pelan. Sosoknya seolah menciut di depan Alex.
Nadira kembali memecahkan ketegangan dengan ketegangan lain. [Profesor Otto, dirumahkan sampai waktu yang belum ditentukan. Akan kukirim dua orang ke rumahmu. Kami akan mengawasimu dua puluh empat jam. Kalau kamu bersikap baik, akan kupertimbangkan segera mengembalikanmu ke Special Force.]
“A— Apa?” Profesor pun kembali protes. “Kamu tidak bisa melakukannya! Aku yang menciptakan Dragon Blood! Aku yang melahirkan Zetta Sonic! Kamu tidak bisa melakukan itu, Nadira.”
[Oh, benarkah? Aku baru saja melakukannya. Seret dia keluar, Tiger! Singkirkan dia dari hadapanku!]
“Dengan senang hati, Bos!” Tiger menyeringai.
Itu pertama kalinya Tiger membuat ekspresi selain geram. Beban di bahunya seolah berkurang. Tangan besarnya menangkap bahu profesor, menarik pria itu beranjak dari kursi, menyeretnya keluar dari ruangan. Tiger bersikap lebih lembut pada Melodiza yang seorang kriminal daripada rekan mereka sendiri. Mungkin masalah gender, mungkin juga masalah kekesalan. Siapa yang tidak kesal dengan musuh dalam selimut?
Profesor Otto masih berusaha berontak meski sia-sia. Mereka melihatnya diusir keluar dari ruangan. Alex penasaran ke mana professor dibawa. Terlebih lagi ketika Tiger kembali lebih cepat dari dugaannya.
“Aku mengurungnya di ruangan kosong sampai petugas datang,” kata Tiger seolah memahami rasa penasaran Alex.
Nadira mengangguk-angguk. [Bagus. Jadi, sampai di mana kita tadi? Oh, kamu, Alex. Kamu menyusup salah satu fasilitas yang kami banggakan. Bukan tindakan terpuji dan mengesankan. Aku bisa saja mengusirmu dari ICPA. Lebih buruk lagi, aku bisa membuatmu lenyap dari dunia ini. Dalam arti sesungguhnya, tentu saja.]
Alex tak berani merespon. Dia paham ancaman Nadira bukan soal membunuhnya. ICPA punya trik tersendiri untuk menyembunyikan identitas para agennya. Baik secara temporer, maupun permanen. Bukan tidak mungkin kalau Nadira melenyapkan Alexander Hill dan memberinya identitas baru. Sekalipun untuk tiba di tahap tersebut, ada banyak halangan.
Sebut saja, seperti ayahnya.
Kalau ayahnya peduli dengan lenyapnya dirinya.
__ADS_1
[Kamu pikir, sebagai Zetta Sonic, kamu bisa berbuat apa pun, ‘kan?] Nadira mencibir.
“Benar,” jawab Alex. “Dulu aku berpikir begitu.”
[Coba ulangi. Dulu, katamu? Apa itu maksudnya?]
“Aku sadar kalau salah. Aku bertindak semauku sendiri. Aku mengambil risiko tanpa memikirkan yang lain, menempatkan Special Force dalam bahaya, juga membuat kalian semua cemas.” Alex menarik napas dalam-dalam. “Dan… aku tahu permintaan maaf tidak akan mengubah apa pun. Tapi… Aku benar-benar menyesal. Maaf.”
Hanya itu yang mampu Alex katakan dengan kepala terangkat. Setelahnya, dia menunduk. Alex tak berani mengecek reaksi orang-orang lain dalam ruangan itu. Perasaan yang paling dominan menguasai hatinya saat itu dikenali sebagai rasa bersalah, sisanya merupakan campuran sedih, lega, juga senang. Setidaknya dia sudah mengatakan apa yang diperlukan.
Emil melempar pandangan pada Tiger. Tiger membalasnya dengan senyum simpul. Nadira butuh sedikit waktu hingga akhirnya tertawa. Tawa itu, anehnya, tidak membuat Alex takut. Itu benar-benar sebuah tawa karena hati gembira.
[Hahaha… Baiklah, baiklah. Aku tidak berpikir kamu akan mengatakan hal seperti itu. Kamu seperti ayahmu. Tunggu! Bukan berarti aku memuji ayahmu, tapi ada beberapa sisi dari Mark yang… memang cukup mengesankan. Dia agen yang lumayan.] Nadira berusaha keras untuk tak memuji Mark Hill.
“Ayahku dulu seorang agen?” tanya Alex sambil mengangkat kepalanya.
“Oh, yeah! Agen yang luar biasa,” sahut Tiger.
Alex tak bisa menahan dirinya dari tersenyum.
“Kamu tahu di mana Jayden?” Alex mengembalikan tatapannya pada Nadira. “Di mana?”
[Belum.] Nadira malah menggeleng. [Emil?]
Ketika namanya disebut, Emil menampilkan jendela baru. Jendela tersebut menutup jendela-jendela yang lain kecuali milik Nadira. Berdampingan dengan video Nadira, ada jendela berisi percakapan yang diterima profesor Otto beberapa waktu lalu.
[Kamu ikannya, Rocky umpannya.] Raut cemberut Nadira menggantikan tawa yang sempat datang. [Profesor Otto tahu di mana pria itu bersembunyi. Ilmuwan gila kita sudah membuat monster dan saat ini sedang dalam pengiriman ke sana. Dan, siapa pun pengirim pesan ini tahu kalau kamu akan segera menemui Rocky.]
“Sialnya, kita tidak tahu di mana posisi monster itu saat ini,” lanjut Tiger.
“Kita tahu posisi Rocky,” imbuh Emil.
Tiger mendengus geli. “Supir malang. Ke mana pun dia berada, monster akan selalu mendatanginya.”
Emil mengangguk.
__ADS_1
“Jadi, aku tidak punya pilihan selain pergi ke sana?” tebak Alex. “Aku hanya perlu menangkap Rocky dan menghancurkan monster itu. Benar, ‘kan?”
Tiger mencibir. “Seandainya saja semudah itu.”
Alex tak suka dengan reaksi Tiger. Ada hal yang telah terjadi dan belum dijelaskan padanya. Alex tahu alasannya dengan cepat. Sebuah jendela video muncul menggantikan jendela pesan di sisi Nadira. Alex mengenali sosok di dalam video bahkan sebelum videonya diputar.
“Jayden!?” Alex spontan berdiri dari kursinya.
“Video ini dikirim beberapa jam lalu. Kita tidak tahu kapan video ini direkam. Atau, di mana lokasinya. Juga siapa wanita itu.” Emil bicara soal wanita yang sedang bicara dengan Jayden dari atas ranjang. “Sekalipun… Mungkin… Aku punya dugaan.”
Video pun mulai diputar. Isi video berdurasi satu menit empat puluh detik itu cukup monoton. Gambarnya hanya menunjukkan bagaimana Jayden ngobrol dengan seorang wanita. Tidak ada perselisihan. Tidak ada baku hantam. Tidak ada todongan pistol. Tidak ada penyiksaan atau pun adegan dewasa. Intinya, tidak ada hal yang menarik perhatian.
Tentu saja, kecuali satu.
__ADS_1