
Emil melihat profesor Otto. Sang profesor tersebut seolah telah menunggunya di dalam ruang komando. Tiger melewati si profesor, langsung menempati kursi dekat meja besar berhadapan dengan layar raksasa. Dalam sekejap, layar tersebut menampilkan apa yang terjadi di ruang training. Gambar di mana Alex sendirian ditodong dengan banyak senapan yang tertanam pada dinding. Emil mengabaikan tontonan tersebut lalu bergerak ke arah profesor. Profesor duduk menempati posisinya di sisi kanan.
“Ikuti aku!” ujar profesor sambil berdiri.
“Itu bukan sebuah permintaan.” Emil tahu.
Profesor tersenyum. “Mungkin kita akan cocok.”
Profesor Otto bergerak keluar, Emil mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara. Dia sempat mengira kalau profesor akan mengajaknya ke ruang generator, bahkan berharap akan diajak ke area di tengah bedungan. Nyatanya, profesor hanya terus berjalan melintasi lorong kelabu, turun ke lantai lebih rendah, masuk ke kamarnya sendiri. Perjalanan mereka dinaungi keheningan, hanya suara tongkat profesor yang membuat suara.
Kamar profesor punya besar yang sama seperti kamar yang lain. Begitu masuk, cahaya putih membanjiri seisi ruangan. Ada ranjang di satu sisi ruangan. Meja besar tapi kosong di sisi lain serta sederet lemari besi yang terkunci oleh sidik jari. Kalau diperhatikan, lemari itu tidak memiliki pegangan, hanya ada celah di antara satu pintu dengan pintu lainnya. Total empat pintu.
Kamar itu tak memiliki barang yang menunjukkan barang pribadi profesor. Rupanya seperti kamar tak berpenghuni. Aromanya pun bukan seperti penghuni melainkan campuran dari bau cat dinding dan aroma bahan kimia asing.
Profesor Otto, seperti dokter Vanessa, jarang menginap di markas Special Force. Sekalipun dikhususkan untuk Special Force, mereka masih mendapat beberapa tugas lain di bahwa perintah Nadira.
“Duduklah!” pinta profesor. Tangannya melambai pada kursi yang berada dekat meja. Dia sendiri duduk di kursi lain di samping ranjang. “Sebelum aku mulai, aku perlu mengingatkanmu, kamu adalah anak buahku.”
Emil mengangguk. Secara organisasi, dia memang merupakan asisten profesor Otto. Dia menggantikan posisi Caitlin.
“Aku ingin kamu selalu bicara jujur padaku!” pinta profesor lagi.
__ADS_1
Emil pun memberi anggukan kedua.
“Sekarang beri tahu aku. Tempat ini tidak berada dalam pengawasan Jayden, ‘kan?”
Emil tak mengangguk meski apa yang diucapkan profesor benar. Tidak ada satu pun kamar di Special Force memiliki kamera pengawas. Kamera pengawas dalam kamar jelas melanggar privasi seseorang. “Tidak, prof.”
“Bagus. Sekarang aku ingin kamu mendengarkanku baik-baik. Apa yang akan kukatakan padamu adalah hal rahasia. Tidak seorang pun boleh tahu. Tidak Jayden, tidak Tiger, apalagi Alex. Hanya Nadira dan kita yang mengetahui hal ini.”
Emil sudah terbiasa untuk tidak melibatkan emosinya dalam pekerjaan. Mendengar profesor berkata demikian hanya membuatnya menarik badan maju agar bisa menyimak lebih baik. Tidak ada perubahan berarti pada wajah. Matanya juga tetap menatap sayu.
Profesor menarik napas dalam-dalam kemudian berkata, “Aku berhasil membuat formula Dragon Blood lagi. Komposisi yang sama. Tiga agen pilihan sebagai relawan uji coba. Mereka semua tewas.”
Kali ini, Emil bereaksi. Matanya melebar tanpa disuruh. Bahunya melorot seolah digantungi beban berat. Meskipun mulutnya terkatup rapat, keterkejutannya tak bisa disembunyikan.
“Bagaimana—”
“Bagaimana itu bisa terjadi?” Profesor melanjutkan pertanyaan yang hendak dilemparkan Emil. “Aku juga ingin tahu jawabannya! Aku membuat formulanya sama persis! Bagaimana bisa formula itu gagal sekarang?” Nada suara profesor meninggi. Dia menghentakkan tongkatnya ke lantai.
Emil menatap lekat-lekat. Dia berhasil menyimpan berbagai pertanyaan yang berjejalan dalam hati. Dia tahu jelas kalau profesor tidak akan suka dengan pertanyaan. Tidak saat ini. Lebih baik dia menanti profesor melanjutkan ceritanya.
Profesor mendesah panjang setelah berhenti cukup lama. Nadanya kembali setenang biasa. “Bagi seorang peneliti seperti aku, ini memalukan. Mungkin malah sangat memalukan. Alex, bocah itu, malah bisa bertahan melalui transfusi kecelakaan. Sementara ini… Aku mengulang pembuatannya tanpa perubahan sedikit pun. Para relawan juga lebih baik dari Alex. Mereka orang-orang terlatih dan kompeten. Semua sudah melalui uji kesehatan. Penelitiannya malah gagal.”
__ADS_1
Emil bergeming. Dia tidak tahu harus bicara apa saat ini. Dia pernah mendengar kalau ada empat orang relawan yang dijadwalkan menerima donor Dragon Blood. Salah satunya, Caitlin. Setelah asisten profesor ini keluar, sisa tiga orang. Ketiganya memang merupakan agen-agen terlatih dari ICPA. Mereka punya rekam jejak baik juga kondisi prima. Kabarnya, sebelum eksperimen dijadwalkan, keempatnya telah berlatih setiap hari untuk mempersiapkan diri. Emil sangat paham kenapa profesor begitu kesal.
“Aku sudah melihat rekaman CCTV saat kecelakaan itu terjadi. Aku mengamati semuanya dengan seksama. Aku menerka apa saja yang mungkin menyebabkan perbedaan. Tapi, tidak ada. Semua yang kuperhitungkan meleset. Ini benar-benar tidak bisa diterima!” Profesor menghentakkan tongkat ke lantai lagi.
Berikutnya, profesor berjalan menuju satu dinding yang tertutupi lemari. Ketika tangannya menyentuh permukaan lemari kelabu tersebut, terdengar suara klik pelan dan kelap hijau cepat. Pintu lemari yang disentuh profesor pun sedikit mencuat keluar. Profesor membukanya.
Emil mengintip. Dia bisa melihat kalau isinya bukan baju seperti yang ada di kamarnya. Bagian dalamnya dipenuhi kotak-kotak hitam atau kelabu beraneka ukuran. Kepala profesor bergerak-gerak, mencari sesuatu. Tangannya merogoh ke tepi, menarik kotak kecil. Dibawanya kotak itu ke depan Emil.
“Periksa ini!” pintanya. “Jangan sampai seorang pun tahu.”
“Apa ini?” Akhirnya Emil bicara.
“Kamu akan tahu setelah melihatnya nanti. Ini tugas pertamamu sebagai asistenku. Jangan kecewakan aku dan Nadira. Kita membutuhkan Zetta Sonic. Ah, bukan. Kita membutuhkan agen lain yang lebih kuat dari Alex. Dia hanya bocah. Sementara dunia ini butuh agen sungguhan.”
Emil menurunkan pandangannya ke kotak yang telah berpindah ke tangannya. Ukurannya sedikit lebih besar dari telapak tangannya. Sangat tipis dan sangat dingin. Logam pelapisnya memantulkan rupanya sendiri. Dia pernah melihat kotak itu sebelumnya. Kotak itu adalah storage drive buatan ICPA untuk menyimpan data rahasia.
Tak perlu waktu lama baginya untuk menemukan garis-garis pada tepi kanan atas. Awalnya, dia mengira kalau itu goresan. Setelah diperhatikan lagi, dia mendapati kalau garis tersebut membentuk segitiga dengan bintang di dalamnya.
“Apa namanya?” Emil menanyakan lagi.
Profesor tersenyum kali ini. “Aku suka kamu menanyakan itu. Kalau proyek ini berhasil, Nadira dan aku sepakat menyebutnya Zetta Nitro.”
__ADS_1
Nitro. Emil tidak suka nama tersebut. Nama itu selalu berhubungan dengan ledakan dan — biasanya — kematian. “Menurutmu, Alex tidak bisa melawan para penjahat itu sendirian?” tanya Emil lagi.
Profesor membuat seringai yang lebih tidak disukai Emil. Matanya membesar dan mulutnya melebar dibarengi suara kekeh serak. “Kenapa kamu bertanya begitu, Emil? Memang kamu pikir berapa lama Alex akan bertahan? Kalau bukan para penjahat yang membunuh Alex, Dragon Blood yang akan membunuhnya.”