Zetta Sonic

Zetta Sonic
Ducklings


__ADS_3

Alex tak begitu ingat bagaimana dia bisa tiba di rumah. Dia terbangun dalam keadaan seluruh tubuh nyeri. Pikiran yang pertama kali menghampirinya tentu saja soal Special Force. Setelah menjalankan misi berat, dirinya selalu bersama anggotanya. Kalau dia sampai pingsan, dia tak pernah terbangun tanpa Jayden di sisinya.


Alex meraba tubuhnya yang berada di bawah selimut tebal. Dia mengenakan pakaian biasa. Seragam tempurnya entah lenyap ke mana. Kalau dia saja tidak ingat bagaimana bisa sampai rumah, dia jelas tidak ingat bagaimana bajunya berganti. Semoga saja seragam tempur itu kembali ke dalam gelangnya bukan rusak total. Gelang berisi seragam itu masih melingkar di tangan kirinya dekat Zet-Arm.


Dirinya mengeluarkan erangan serak ketika mencoba bangun. Dadanya terasa nyeri. Tangan dan kakinya lemas. Suhu tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang demam. Perlahan, Alex menyingkap lengan baju kanan. Bekas memar membiru terlihat memanjang di sana. Itu ulah si monster.


Dengan sedikit tekad dan lebih banyak perjuangan, Alex berhasil duduk di ranjang. Bagai cawan yang dimiringkan, air matanya mulai menetes keluar. Butiran mungil menuruni pipinya, turun ke dagu, jatuh di atas selimut putih bercorak daun. Hatinya terasa jauh lebih perih dibandingkan fisiknya. Bukan kesedihan. Bukan pula kemarahan. Bukan pula kekesalan pada diri sendiri. Alex mendapati kesepian besar dalam rongga dadanya.


Apa yang salah? Semua.


Rasanya luar biasa aneh terbangun di kamarnya. Dalam kondisi sakit setelah misi. Tanpa seorang pun untuk diajak bicara. Tanpa seorang pun bertanya bagaimana keadaannya. Tanpa alat medis dan obat. Tidak ada kelap kelip ruang generator atau suara mesin. Hanya ada dirinya sendiri dalam keheningan. Satu-satunya suara yang bisa dia dengar saat itu tak lain adalah suaranya sendiri. Isak tangis.


Alex tanpa sadar telah memeluk dirinya sendiri. Itu tidak membantu. Hatinya tak kalah kelam dari ruangannya. Tirai tersingkap menunjukkan kegelapan malam yang belum mau enyah. Suram dan muram.

__ADS_1


Ketika dirinya mulai dapat menguasai diri, Alex melihat sobatnya mendekat. Rover berada di samping ranjang. Duduk diam tanpa berani membuat suara, meski begitu napasnya termasuk berisik dalam kesunyian itu. Alex bergerak lagi. Dia membiarkan dirinya merosot di tepi ranjang. Tangannya meraih si anjing. Sambil mendekapnya, Alex kembali menangis.


Entah berapa lama kejadian itu berlangsung, namun itu membantu. Anjingnya memang tak bisa menggantikan obat maupun perawatan medis. Tapi, hanya dia penolongnya saat ini. Alex lebih baik. Dia mengusap kepala anjingnya sambil tersenyum.


“Kerja bagus,” katanya, lebih kepada diri sendiri.


Setelah terbangun di waktu yang tak dia kenali, Alex bersyukur masih bisa terlelap lagi. Dirinya terbangun lagi di jam biasa. Ada banyak waktu untuk bersiap sebelum ke sekolah. Oh, seandainya saja dia bisa kabur dari sekolah hari ini.


Alex menginginkan waktu. Bukan liburan. Dia hanya butuh waktu tambahan untuk dirinya sendiri demi menyelamatkan Jayden. Suhu tubuhnya sebenarnya bisa jadi alasan. Sayangnya, kalau Preston atau Mrs. Bellsey sampai memanggil dokter keluarga, justru tamat riwayatnya. Belum lagi kalau ibunya sampai dengar soal itu.


Bicara soal kondisi tubuh, dia juga belum menemukan bagaimana dia bisa menembakkan laser dari tangannya baru-baru ini. Itu jelas sebuah kejutan. Sebenarnya kejutan cukup buruk karena dia tak punya siapa pun untuk konsultasi masalah tersebut. Namun, bisa jadi kejutan cukup baik juga kalau dia bisa menguasainya. Sebelum itu, lebih baik kalau laser itu tidak pernah digunakan.


Sambil duduk di tepi ranjang dan Rover bermain dekat kakinya, Alex menghela napas pelan. Dia sadar tak punya petunjuk lagi. Si sopir, Rocky, berhasil kabur darinya. Si monster dinosaurus sudah berubah jadi bekas hangus. Entah apa yang harus dibereskan ICPA seandainya mereka tahu kejadian tersebut. Seandainya Nadira tahu apa yang terjadi malam itu, dia mungkin akan menertawakan Alex lalu mengomelinya habis-habisan. Jadi, Alex jelas tidak akan menghubungi Special Force. Dia akan menunggu Special Force menghubunginya lebih dulu.

__ADS_1


Tentu saja mereka akan menghubunginya  lebih dulu. Alex cukup yakin. Masih ada banyak penjahat berkeliaran. Dirinya diperlukan. Zetta Sonic harus beraksi untuk menyelamatkan dunia, persis seperti pahlawan super. Meski begitu, tanpa Jayden, Alex tak yakin akan bisa melakukan misinya dengan baik. Emil berbeda. Dia tidak sebaik Jayden. Dia tidak bisa menggantikan posisi Jayden. Dia juga tidak akan bisa meretas seperti Jayden.


Kali ini Alex mendesah lebih panjang dan berat. Dirinya benci berada dalam kondisi menunggu. Minta Emil berbagi petunjuk soal Jayden juga bukan pilihan. Alex memilih berdiam diri dulu. Menanti sampai adanya ide cemerlang terlintas di kepalanya. Atau, Special Force memanggilnya untuk suatu misi.


Rover menyalak. Si anjing berlari ke ruang sebelah. Dia seperti mendengar sesuatu. Ketika suara samar itu mencapai Alex, dirinya ikut tersentak.


Alex mendengar suara dari ruang bermain di sebelah, lebih tepatnya dari komputer. Dia buru-buru menghampiri komputernya hanya untuk mendapati banyaknya anak bebek menguasai layar komputer yang tadinya sedang mati. Mereka bergerak liar seperti video yang diputar tanpa henti.


Alex buru-buru menarik kursi, duduk menghadap komputer, menyelamatkan data persis seperti yang pernah dilakukannya dulu. Karena pernah menghadapi virus serupa, Alex bisa melakukan penyelamatannya lebih cepat dibandingkan pertama kali. Selama hidupnya, hanya satu orang yang pernah mengirim virus serupa. Virus yang seperti olok-olok baginya karena meniru game Drake and His Land. Dan, orang itu adalah Jayden.


Senyum terkembang di bibir Alex. Jayden berhasil menghubunginya. Itu pertanda bagus. Artinya, pemuda itu masih hidup. Para penculik tidak membiarkannya tewas.


Sambil menunggu proses pengusiran virus para bebek, Alex memikirkan beberapa tempat yang mungkin dijadikan tempat penyekapan. Gedung terbengkalai, ruang bawah tanah, toko tutup, rumah biasa. Banyak kandidat tempat untuk diteliti ulang.

__ADS_1


Para penculik Jayden beraksi kemarin. Dalam waktu hampir dua puluh empat jam, mereka memang bisa berada di mana pun saat ini. Bukan tidak mungkin kalau mereka berada di benua lain. Namun, Jayden terluka. Mereka tidak akan membawanya terlalu jauh. Lagipula, karena mereka menculik Jayden demi memanfaatkan kemampuannya, mereka perlu tempat dan fasilitas memadai. Komputer canggih, jaringan cepat, dan hal-hal lainnya. Semua itu hanya bisa didapat di kota besar. Tentu saja, kota mereka saat ini memiliki segalanya.


Cukup besar kemungkinan kalau Jayden masih ada di kota ini. Pertanyaannya, di mana?


__ADS_2