Zetta Sonic

Zetta Sonic
The First


__ADS_3

Alex bukannya melangkah maju lagi, dia mulai terhuyung mundur ke belakang. Robot di samping Alex tak lantas menurunkan senjatanya, masih bersiaga bila ada serangan mendadak. Meski begitu, Jayden tahu kalau sosok di dalam robot itu tidak akan menyerang. Sosok itu kini tak lebih dari mayat.


“Si— siapa dia?”


[Orang yang menculikku. Kupikir dia sudah tewas dalam kecelakaan pesawat, ternyata dia berhasil lolos.] Itu jawaban Jayden.


Selain itu, ada jawaban lain datang dari seberang jalan. Seorang pria berjas keluar dari mobil bersama dua orang bersenjata. Mobil itu datang dengan tenang sampai Alex tak menyadari kedatangannya.


“Dia korban kesekian darimu, Zetta Sonic.” Baron memberikan jawaban berbeda dari Jayden.


“Kupikir dia anak buahmu?” Alex bertanya, tak percaya dengan apa yang dia lihat dan apa yang baru saja dia dengar dari Jayden. Kalau penculik Jayden benar adalah Baron, maka pria di dalam robot gorila itu adalah anak buahnya.


“Mantan.” Baron terkekeh. “Ngomong-ngomong, maaf aku datang terlambat. Aku tidak mendengar teriakan putus asamu. Aku terlalu sibuk menikmati berita kehancuran sekolah kesayanganmu.”


Alex makin geram mendengar ucapan Baron. Dia mulai berlari. Lawannya bergeming di posisi, sama sekali tidak takut akan kedatangan Alex. Dua penjaga di samping kanan dan kirinya mulai menembak. Alex tak perlu menghindari. Peluru itu sama sekali tidak mampu merusak seragamnya.


Walau begitu, senyum Baron membuatnya gusar. Alex melakukan hal yang benar dengan melambat. Dia bisa melihat kedatangan robot gorila lain dari belakang Baron. Itu membuat Alex berhenti mendadak.


“Kenapa diam, Zetta Sonic?” Baron bertanya.


Di dalam helmnya, Alex mendengar peringatan Jayden. [Aku tidak bisa memeriksa bagian dalam robot itu, Alex. Kalau di dalam robot itu juga ada orang, maka…] Jayden berhenti sejenak. [Jangan gegabah, Alex.]


“Apa kamu takut pada peliharaanku?” Baron bertanya lagi. “Lucu sekali. Dia bahkan tidak bisa melukaimu sedikitpun. Kenapa kamu takut?”


“Apa yang sudah kamu lakukan, Baron?“ Alex berteriak. “Kamu membiarkan orang tewas.”


Baron mengangkat tangan, melambaikannya. “Tidak, tidak. Aku tidak membunuh mereka. Kamulah pelakunya. Aku hanya memberikan anak buahku fasilitas untuk melawanmu. Ternyata masih kurang kuat juga? Kenapa? Karena kamu monster!”


Alex mengepalkan tangan. Dia bisa melakukannya, menyerang para bodyguard Baron lalu Baron sendiri. Namun, dia tidak bisa mengambil risiko melukai orang tak bersalah lagi.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Caitlin?” tanya Alex. “Dia percaya padamu.”


“Dunia ini butuh kedamaian dan ICPA tidak bisa memberikannya.”

__ADS_1


“Kamu membuat orang-orang ketakutan—“


“Agar mereka sadar kalau kedamaian itu butuh harga,” sahut Baron. “Kamu menyia-nyiakan kekuatanmu. Dragon Blood akan jauh lebih berguna diberikan pada orang yang tepat.”


“Seperti dirimu? Jangan bercanda!” Alex sudah melangkah maju lagi kemudian berhenti. Dia melihat robot gorila itu bergerak maju pula. Kini, posisinya berada di antara dirinya dan Baron.


Baron tersenyum. “Bagaimana kalau kita bermain saja?”


“Aku muak bermain denganmu!”


“Sayangnya, aku bukan orang yang bisa ditolak.” Baron terkekeh. “Biar kuberi tahu. Aku sudah memasang bom di beberapa penjuru kota ini. Mereka akan meledak di waktu yang kutentukan. Dimulai dari tengah malam. Berapa jumlahnya dan kapan semuanya akan meledak? Siapa yang tahu? Kalau aku jadi kamu, aku akan bergegas menemukannya.”


“Apa—“


“Ini akan jadi ujian bagi ICPA dan bagimu. Apakah kalian memang mampu menjaga kota ini atau tidak.” Baron pun berbalik. “Sampai nanti, Zetta Sonic!”


“Tunggu!” Alex berteriak.


Seiring dengan pergerakannya, si robot gorila ikut maju. Dia menjumpai Alex di tengah jalan sebelum Alex bisa menggapai Baron. Sementara itu Baron masuk ke mobil bersama dengan kedua pengawalnya.


Si robot gorila mengangkat kedua tangannya, hendak menggapai Alex. Namun, Alex telah memelesat jauh di atasnya. Kini, dia juga punya pendorong pada seragamnya. Roket yang ditanam pada seragam itu mungkin tidak sempurna, namun lebih dari cukup bagi Alex untuk mengejar Baron.


Dari dalam mobil, salah seorang pengawal membuka kaca. Dia menembakkan senjatanya lagi pada Alex. Tentu saja serangan itu tidak ada artinya bagi Alex. Serangan itu bahkan tak mampu membuat lecet pada seragamnya.


“Jangan pikir kamu bisa kabur, Baron!”


Alex hampir mencapai mobil baron ketika, lagi-lagi, dia dikejutkan oleh hal lain. Ada ledakan di dekat sana. Api langsung membumbung tinggi. Asap hitamnya naik mengatasi langit malam. Itu membuat Alex langsung berhenti.


Bukan hanya dirinya, mobil itu juga berhenti. Baron turun, dia melenggang santai ke depan Alex yang masih melayang di udara. “Kalau kamu pikir aku bercanda, sebaiknya pikir ulang. Kota ini adalah sanderaku. Sebaiknya kamu ikuti saja permainannya.”


“Kamu sudah keterlaluan!”


Baron mendekatkan jari telunjuknya ke bibir lalu meniupnya seolah-olah itu adalah pistol.

__ADS_1


Alex akhirnya bergeming di sana. Akhirnya dia membiarkan mobil Baron menjauh darinya. Dia tak bisa mengejarnya kalaupun mau. Baron serius. Dia menyandera ibu kota tempatnya tinggal.


[Alex.]


“Butuh bantuan?” tebak Alex.


[Ya dan tidak.]


“Apa artinya itu?” Alex menoleh ke belakang. Dia tak sadar kalau sudah berada cukup jauh dari tempat pertarungannya semula. Dari posisinya sekarang, Alex tak bisa melihat apa yang terjadi pada Jayden atau si robot gorila.


[Dia kabur.]


“Aku tahu.” Alex mendesah. “Kamu mau aku mengejarnya? Dia bisa saja meledakkan seisi kota sebelum waktunya.”


[Sebenarnya bukan Baron yang kumaksud.]


Alex akhirnya paham maksud Jayden. Dia melihat robot Jayden berdiri di tepi jalan dekat mobilnya. Salah satu tangan si robot telah lenyap entah di mana.


[Robot gorila itu pergi membawa sedikit souvenir.]


“Kalah? Kamu pasti bercanda.”


[Hei, robot gorila itu punya manusia sebagai sumber energinya. Sama seperti kamu, tapi jumlah energinya jelas berbeda banyak. Marcel, dan siapapun itu yang ada di dalam robot gorila barusan, tidak punya Dragon Blood.]


“Lalu, sekarang apa?”


[Aku harus membawa robot ini pulang. Masalahnya, kontrol roket robot ini ada di tangan yang hilang itu. Aku perlu kamu bantuanmu menyalakan manual roket dari panel di punggungnya.]


“Terus?”


[Terus kita semua akan lembur untuk mencari tahu di mana saja bom itu ditanam. Berani taruhan, ada satu di balai kota.]


Alex mendengus kesal. Dia menuruti instruksi Jayden untuk menyalakan roket si robot. Robot itu sempat mengangguk padanya dan berterima kasih sebelum akhirnya melayang di tengah langit malam.

__ADS_1


Dari Zet-Arm, Alex tahu waktu mereka tidak banyak. Ini hampir tengah malam. Tinggal beberapa jam lagi lalu bom yang ditanam Baron akan mulai meledak. Alex setuju dengan Jayden. Untuk menebarkan ketakutan, Baron pasti meletakkan bom di tempat-tempat yang ikonik. Balai kota salah satu kandidat terkuatnya. Selain itu, ada beberapa tempat lagi yang mungkin disasar Baron.


Rumahnya.


__ADS_2