Zetta Sonic

Zetta Sonic
Museum Underground


__ADS_3

Alex tak memiliki kemampuan mempercepat waktu. Dia hanya bisa melakukan aktivitasnya dengan lebih cepat dari biasanya. Makan sarapan dengan cepat dan bergegas ke sekolah. Semakin cepat jam belajarnya berakhir, semakin cepat pula dia bisa ke pesta.


Bicara soal sekolah, belakangan ini, Alex merasa segala sesuatu membuatnya canggung. Mulai dari lenyapnya Jayden, meski sekarang dia lebih bisa bekerja sama dengan Emil. Lalu, soal Willy. Sejak membela Cody beberapa waktu lalu, seolah ada suatu dinding di antara mereka. Keduanya memang masih bekerja dalam kelompok, ngobrol, makan siang bersama. Sayangnya, tetap ada sesuatu yang membuat mereka tak bisa bicara seenak dulu. Terakhir, soal Leta.


Alex sadar bagaimana gadis itu sepertinya berusaha menarik perhatiannya. Alex yang biasa akan makan semua umpan lempar tersebut. Undangan makan malam, misalnya. Namun, Alex justru menolaknya. Dia punya segudang alasan untuk itu. Salahkan kemampuan berbohongnya juga hukuman serta misi ICPA. Namun, hanya Alex yang tahu benar kalau alasan sesungguhnya adalah rasa takut.


Entah kenapa, Alex sekarang ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Leta. Dia takut kalau dia terlalu suka pada gadis itu, begitu pula sebaliknya. Saat ini, dia hanya ingin sendirian. Bergerak sendirian.


Alex mengerjap ketika mendengar suara ledakan. Bukan ledakan sungguhan, hanya dari radio. Sang supir sepertinya sama bingungnya. Supir ini memang biasa menyetel radio. Alex tak keberatan. Mereka suka mendengar berita juga gosip terbaru di kota. Namun, tetap saja. Suara ledakan bukan hal yang biasa terdengar.


“Aku enggak dengar soal teror bom,” ujar Alex lirih.


“Tidak. Memang tidak ada.”


Sang penyiar memberikan informasi lengkapnya pada mereka.


[Hingga saat ini, ledakan di museum seni Morasia belum diketahui penyebabnya. Dugaan terkuat adalah konsleting listrik. Para petugas museum menilai kinerja polisi lambat dalam menghadapi kasus tersebut karena tidak ada korban jiwa. Kepala museum bahkan menyebut kalau polisi seolah mengabaikan insiden tersebut.]


Alex menggelengkan kepala. “Konsleting listrik,” ujarnya, “sangat teledor.”


Meski Alex bicara demikian, dia merasakan jantungnya berdegup kencang. Alasannya mudah. Dia tahu jelas apa yang ada di bawah museum itu. Penjara khusus milik ICPA. Polisi tidak mau bergerak karena polisi terlibat. Alex yakin, dalam hitungan jam, berita ini akan segera lenyap dari peredaran.


Begitu tiba di sekolah, Alex mencari tempat sepi untuk menelepon ke Special Force. Alasan utamanya jelas, dia cemas. Alex sempat berpikir kalau mungkin Zetta Sonic akan ditugaskan ke sana. Itu akan seru. Beraksi di penjara bawah tanah yang tersembunyi di bawah sebuah museum. Tentu saja, kalau saja dia tidak perlu menemui Caitlin. Selain kecemasan, benaknya juga dipenuhi rasa penasaran.

__ADS_1


[Ada masalah, bocah?] Suara Tiger terdengar dari seberang telepon. Ponselnya telah diberi beberapa pengaman tambahan. Hubungan telepon itu tidak akan bisa disadap oleh sembarang orang kecuali dia selevel dengan Jayden.


“Aku dengar berita soal museum.” Alex terdengar gusar.


[Museum apa?]


“Aku tahu apa yang ada di bawahnya. Aku baru ke sana, ingat?]


Tiger tergelak. [Aku tidak mungkin lupa. Itu yang membuatmu kena hukuman. Tapi, aku harus bilang kalau terkesan. Baru kemarin kamu mempelajari misi-misi para agen, sekarang kamu sudah peduli seperti agen sungguhan.]


“Menurutmu, aku enggak serius?”


[Dulu.] Tiger terkekeh. Dia kelihatan sedang menggoda Alex. Sebuah pertanda kalau sepertinya mereka tidak perlu mencemaskan hal tersebut. [Aku enggak bisa membaca pikiran Nadira. Tapi, selama dia diam, Special Force tidak perlu bergerak.]


[Oh, itu serius. Sangat serius. Fergus memegang kendali penuh soal ini. Kamu ingat dia, ‘kan? Pimpinan ICPA baru di kota ini. Dia sudah tahu siapa dalangnya. Dia sudah membentuk tim khusus. Mereka bergerak untuk mencari dan menangkapnya.]


“Ada tahanan yang kabur?”


[Cuma satu. Jadi jangan pikirkan soal itu. Kamu bisa fokus belajar dan mengerjakan hukumanmu. Sementara kami orang dewasa akan fokus mencari Jayden.]


“Hei, aku juga mencarinya. Aku akan bertemu Caitlin malam ini.”


Niat bercanda Tiger langsung lenyap seolah tak pernah ada di sana. [Apa maksudmu?]

__ADS_1


“Ada pesta malam ini. Dia ada hadir di sana. Mungkin kamu bisa ngobrol.”


[Kamu mau menyusup ke sana? Jangan buat masalah.]


“Ayolah, Tiger. Aku tidak perlu menyusup ke pesta semacam itu. Aku punya undangan khusus untuk dua orang.” Alex sengaja menyebutkan berapa jumlah orangnya. Dia ingin balas menggoda Tiger. Dia bisa membayangkan Tiger sedang cemberut ketika dia bicara. “Sayang sekali sepertinya kamu tidak berminat pada pesta ini.”


[Aku baru tertarik kalau kamu berniat buruk pada Caitlin. Dia tidak bersalah.]


“Itu lagi? Kita akan lihat nanti malam.”


[Akan kupantau.]


Alex memutar bola matanya. Dia tahu Tiger akan mencari cara untuk menguping pembicaraannya dengan Caitlin. Mungkin itu sebenarnya bagus. Jadi mereka bisa segera bertindak kalau Caitlin memang terbukti terlibat dalam penculikan Jayden. “Ya, sudah. Sampai nanti.”


[Tunggu! Kamu enggak berniat mengajakku ke sana?] Tiger jelas tak ingin mengakhiri pembicaraan mereka terlalu cepat. Dia cemas pada kedua belah pihak. Cemas kalau Alex akan menyakiti Caitlin juga cemas kalau Alex akan melakukan hal bodoh yang membahayakan keberadaan Special Force mereka.


“Tidak,” jawab Alex singkat.


[Kamu tahu kalau aku akan mencari cara untuk menguntitmu, ‘kan?]


“Apa maumu? Membuatku memakai alat penyadap.”


[Itu memang ide brilian. Akan kukirim kamera mungil seukuran kancing. Mereka akan ada di mejamu sebelum kamu pulang sekolah.]

__ADS_1


Alex hanya bisa menggelengkan kepala. “Ya, ya. Terserah. Apa pun untuk menangkap basah Caitlin.”


__ADS_2