
Menurut Alex, Caitlin punya alasan yang tepat. Begitu pula dirinya. Dia juga punya cukup alasan untuk mencurigai kehadiran Baron di sana. Meski demikian, dirinya tak punya tenaga untuk berdebat. Alex langsung kembali ke ruangannya setelah mereka kembali ke markas.
Badannya meriang, kepalanya pusing, perutnya mual. Belum lagi tangannya sakit. Dia butuh istirahat. Namun, pikirannya terjaga. Terjebak antara rasa syukur karena dirinya masih hidup dan rasa kesal karena tak bisa menyelesaikan misi dengan baik. Bagi Alex, misi ini berakhir tidak dengan skor yang dia inginkan.
Alex membuka mata. Cahaya dalam ruangannya sudah diatur minimal. Jayden juga berbaik hati membuatnya agar berubah jadi warna oranye. Warna itu terasa hangat, seperti warna lampu kamarnya. Semua dilakukan dengan harapan agar dia bisa lebih cepat terlelap. Kenyataan berkata lain. Alex mengerjap. Matanya basah.
Pikirannya mengulang kejadian yang baru dia alami. Setiap kali ingatan itu datang, kenangannya selalu berhenti pada kedua orang yang berhasil dia hentikan. Dia ingat bagaimana ekspresi mereka sebelum tewas. Dia ingat jelas warna darah yang mengenai salju. Dia ingat aroma darah bercampur aroma amis. Semuanya bukan kenangan buruk tapi kenangan mengerikan. Badannya bergetar. Bukan karena sekadar kedinginan. Dia takut.
Alex teringat kembali ayahnya. Kalau bukan karena ayah, dia tidak akan terjebak dalam kondisi seperti itu. Dia pasti sedang berada di rumah, bermain bersama teman atau menonton, bukan terdampar di ruangan bawah tanah.
Menolak menangis, Alex malah bangun. Tangannya meraba luka. Satu minggu belum berlalu, tangannya sudah terluka lagi. Hari ini tangannya, mungkin lain waktu bagian tubuhnya yang lain. Untungnya pikirannya belum mengembara terlalu jauh. Pintu kamarnya bergeser terbuka.
“Hai, Alex. Aku tahu kamu masih terjaga.” Dokter Vanessa melangkah masuk bersama Jayden yang menguap. “Nadira ingin bicara denganmu. Sepertinya ICPA menggelar rapat darurat sekarang. Karena aku doktermu, aku yang bisa memutuskan apakah kamu mampu ikut atau tidak. Secara pribadi, aku mau kamu istirahat. Bagaimana denganmu?”
Jayden berdiri di samping dokter Vanessa, menguap lagi, lalu berkata, “Kalau kamu merasa tidak enak badan, dokter Vanessa bisa melindungimu dari Nadira.”
“Aku enggak bisa tidur. Kupikir tidak ada salahnya bicara dengan dia sekarang.” Alex mengedikkan bahu, mengingat kalau dia tidak punya banyak kesempatan untuk bicara dengan pimpinan mereka.
Dokter Vanessa meletakkan tangannya pada dahi Alex. “Demammu belum turun. Aku juga cukup yakin kalau pengalaman dimarahi Nadira bukan pengalaman menyenangkan. Kamu masih ingin bertemu dengannya?”
Alex mengangguk sekali.
“Jangan khawatir, dok,” sahut Jayden. “Aku akan mendampingi Alex.”
Dokter Vanessa melirik Jayden seakan meragukannya, bukan keseriusannya tapi kemampuannya. Kalau ada yang bisa membuat Nadira meledak berkali-kali, Jayden jelas orangnya. Meski begitu, sang dokter tetap tersenyum. “Jangan buat kondisi pasienku lebih buruk. Aku serius soal itu.”
__ADS_1
Jayden dan Alex berpindah ke ruangannya. Alex bergerak lunglai, mengabaikan semua perasaan gelisah dan badannya yang tidak enak. Terlebih lagi ketika mereka sampai di sana dan Jayden memintanya mengenakan seragam Zetta Sonic. Dia bukan hanya sedikit curiga, dia tahu akan ada sesuatu yang terjadi. Mari berharap itu bukan sesuatu yang buruk.
Alex berhenti sebelum mengenakan helm yang masih berbentuk headphone. Dia mengamati bagaimana Jayden juga berganti pakaian. Jayden mengenakan setelan putih lengan panjang lengkap dengan sepatu bot. Bagian atasnya serupa jaket motor berleher tinggi. Keempat kancingnya berbaris diagonal mengikuti model jaketnya. Bagian lengannya punya bagian yang ditekuk keluar. Ada beberapa aksen hijau pada bagian tepi dan bahu. Ukurannya begitu pas di tubuh, membuat Jayden kelihatan rapi dan gagah. Pemuda itu juga menyisir rapi rambutnya sebelum menyalakan komputer.
“Apa ini pertanda buruk?” tanya Alex. Helm Zetta Sonic masih ada dalam genggamannya.
“Jangan hiraukan aku. Aku hanya memakai seragam kalau diperintah saja.”
“Kita akan rapat dengan Nadira?”
“Jadi, tempat ini akan ramai, eh?”
“Aku enggak yakin mengingat Nadira hanya menugaskan beberapa orang untuk memulai operasi Zetta Sonic ini. Kita bisa mengharapkan dua atau tiga orang anggota baru. Lebih dari itu? Aku enggak yakin. Lagipula, dia minta kamu ikut rapat sambil mengenakan seragam. Nadira tidak mau ada yang melihat wajahmu atau mengenalimu.”
“Benar. Kupikir lebih baik begitu.”
Hal terpenting saat ini justru mencari pengganti Caitlin. Tidak semua orang punya kemampuan paket lengkap seperti dirinya. Dan, yang paling sulit, jelas mencari orang yang bisa tahan dengan profesor Otto.”
Alex mengernyit. “Caitlin? Keluar?”
“Kamu mengira dia enggak serius dengan ucapannya?”
__ADS_1
Alex tak menjawab. Dia cukup yakin jadi salah satu alasan bagi gadis itu keluar. Walaupun begitu, Alex tidak berniat mencabut ucapan berikut kecurigaannya pada Caitlin. Menurutnya, Baron terlibat. Kalau itu benar, mereka semua sedang berada dalam bahaya. Kalau pun belum, mereka akan segera berada dalam bahaya.
Jayden beranjak ke depan Alex. “Jangan pikirkan soal dia.”
“Aku enggak berpikir soal Catilin. Aku lebih kepikiran soal Baron.”
“Kalau begitu, sama.”
“Bukannya kamu bilang dia enggak bersalah?”
Jayden tersenyum simpul sambil melipat tangannya ke depan dada. “Aku enggak pernah bilang kalau dia enggak bersalah. Kita hanya tidak punya bukti yang menyatakan dia bersalah. Menurutku, dia mencurigakan sekalipun aku tidak yakin apa motifnya. Aku akan menyelidikinya sesegera mungkin.”
Alex mengangguk. “Apa yang harus kulakukan?”
“Soal ini? Enggak ada!” Jayden mendengus geli. Dia mengambil sarung tangan putih dan mulai mengenakannya. “Tugasmu sebagai Zetta Sonic adalah menangkap para penjahat berbahaya yang berkeliaran. Tugasmu adalah menemukan penjahat untuk kamu hentikan. Jadi, selama tidak ada bukti konkret soal Baron, lebih baik kamu khawatirkan yang lain saja.”
Alex terdiam.
Jayden menanti kalau anak di depannya akan menyahut. Namun, tampaknya Alex tak bersemangat untuk membuat lelucon apa pun. Pasti masalah fisiknya yang sedang tidak karuan. “Baiklah, kalau sudah siap, akan kumulai jalur komunikasinya.”
Jayden kembali ke kursinya. Alex mengenakan headset. Dalam sekejap, kepalanya tertutupi helm Zetta Sonic. Dia mulai terbiasa dengan layar yang kini jadi pengganti penglihatannya. Alex bergerak ke samping Jayden yang duduk di kursi, sementara dia sendiri berdiri di tempatnya.
“Kita akan masuk setelah mereka mengizinkan kita masuk.”
Layar besar di depan Jayden menunjukkan lambang ICPA berupa perisai dan bintang. Ada garis melingkar sedang berputar di sekelilingnya. Di bagian bawahnya ada keterangan kalau rapat sedang berjalan dan mereka akan segera diizinkan bergabung. Tak perlu menunggu waktu lama, mereka pun diizinkan dalam rapat tersebut. Alex langsung menyadari rapat seperti apa yang sedang mereka hadiri.
__ADS_1